satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Selasa Kliwon
Kaki Satria melesat secepat kilat, bergerak diantara rimbunnya pohon coklat . Tanpa beban pemberat yang biasanya ia gunakan untuk latihan, tubuhnya terasa sangat ringan seakan-akan tidak tersentuh.
Auuuummmmm!
Kini sebuah Auman Harimau dari arah hutan, hampir terjatuh mendengar Auman Harimau itu, ia mengerahkan tenaga dalam ke arah kaki dan melesat semakin cepat
Ternyata, babi hutan besar yang tadi akan menyerangnya sudah tahu jika gerengan yang pertama ia dengar itu gerengan Harimau, makanya ia melarikan diri .
"Sial... Babi kabur malah Harimau yang datang" batin Satria sambil terus memacu larinya. Ia tidak berani menoleh ke belakang.
Auuuuuuum
Auman itu terdengar lagi, kali ini lebih disusul suara gemerisik dedaunan yang rusak seolah ada makhluk besar yang sedang bergerak cepat menerobos semak belukar. Satria makin mempercepat langkahnya. meskipun ia memiliki kemampuan bela diri, ia belum yakin bisa menang melawan Harimau karena beladirinya juga baru beberapa bulan ia pelajari
setelah beberapa saat berlari dengan kecepatan tinggi, akhirnya bayangan pondok kayu miliknya terlihat Napas Satria sedikit memburu, karena adrenalin yang memuncak.
Begitu sampai di depan anak tangga ia langsung melompat keatas, ia membuka pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia mengintip ke luar jika Harimau mengejarnya, namun setelah beberapa lama tak terlihat bayangan Harimau itu. Merasa aman, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan berantai ke Niken, Rani, Hadi, dan Bimo.
" Kalian jangan keluar dari Villa malam ini, ada Harimau turun gunung" pesan Satria pada mereka berempat
Pesan itu dikirim beruntun ke nomor-nomor mereka. Tidak lama kemudian, ponsel Satria bergetar, balasan masuk dari Niken.
" Harimau!? kamu ga apa apa sayang?" balas niken yang sepertinya mengkhawatirkan Satria
" Aku tak apa apa, sekarang sudah di pondok, besok aku ke villa" balas Satria
" Syukurlah, Kami tak akan keluar dan akan mengunci pintu. Kamu hati-hati ya di sana," balas Niken
" Iya" balas Satria singkat, ia menaruh hpnya dan membuka bajunya yang basah oleh keringat
" Raja hutan memang luar biasa, aumannya saja membuat lututku lemas" gumam Satria saat mengingat auman harimau tadi nyaris membuatnya terjatuh saat berlari, jika tidak mengerahkan tenaga dalamnya sudah pasti ia jatuh
Tepat malam selasa Kliwon, Malam Anggara Kasih, yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat, malam di mana batas antara alam manusia dan alam gaib menjadi sangat tipis. Baron dari sore sudah menanti di kamar khusus dengan perasaan tak menentu, takut tetapi mengharapkan kedatangan Nyai Mayang, Ratu siluman Babi
Sementara itu, di kediaman Baron yang megah namun kini terasa mencekam, waktu terus berjalan menuju saat yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakutinya. Malam itu adalah Malam Selasa Kliwon. Malam yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat, malam di mana batas antara alam manusia dan alam gaib menjadi sangat tipis.
Teng
Jam dinding di kamar Baron berdentang pelan menandakan pukul 12 tengah malam.
Udara di rasa Baron seakan berhenti, semerbak harum kembang kemuning tercium samar dan semakin jelas memenuhi kamar khusus itu
Baron yang sejak tadi duduk gelisah di tepi tempat tidur besar itu, langsung berdiri tegak. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa takut, penasaran, dan hasrat yang membara.
Dari sudut kamar khusus itu, keluar kabut tipis berwarna putih kebiruan . Kabut itu berputar-putar membentuk pusaran kecil di atas ranjang yang ada di kamar itu, lalu perlahan menghilang, menyisakan sosok wanita yang sangat cantik jelita namun dengan pakaian tipis menggoda, lekuk tubuhnya terlihat jelas, ia berpose yang sangat menggoda dan menantang. Kakinya disilangkan sedikit, tangannya bertumpu di kasur, menopang tubuhnya yang baligh. Gaun kebaya berwarna kuning keemasan yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin mempesona, berpadu dengan rambut panjangnya yang hitam legam terurai indah di bahu. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang merah merona, namun matanya yang tajam menatap lurus ke arah Baron seolah bisa menembus pikiran terdalamnya.
"Suamiku... kau sudah menungguku rupanya," ucap Nyai Mayang dengan suara yang lembut namun berat, menggema di seluruh ruangan seolah berasal dari segala arah.
Baron terpaku di tempatnya. Melihat kecantikan Nyai Mayang yang tiada tara itu, rasa takutnya, rasa gatal, dan rasa khawatirnya tentang bulu-bulu aneh di punggungnya tadi seketika lenyap ditelan hasrat yang membara. Ia lupa segalanya. Ia hanya melihat sosok wanita cantik di hadapannya yang memberikan segalanya untuknya.
"Nyai... kau akhirnya datang," gumam Baron dengan suara parau. Ia berjalan mendekati tempat tidur itu dengan langkah yang tidak sabar.
"Tentu saja aku datang. Aku tidak pernah mengingkari janji, bukan?" jawab Nyai Mayang sambil tertawa kecil, suara tawanya renyah namun terdengar misterius.
Begitu berada di tepi kasur, Baron tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung memeluk tubuh Nyai Mayang yang terasa dingin namun lembut. Kulit Nyai Mayang terasa sangat halus seperti sutra. Baron mencium bibir, pipi, dan leher Nyai Mayang dengan penuh nafsu, melampiaskan segala hasrat yang tertahan dan rasa rindu yang mendalam. Nyai Mayang membalas ciuman itu dengan penuh kemesraan, tangannya membelai rambut dan punggung Baron.
"Kau sangat cantik, Nyai... lebih cantik dari yang aku bayangkan," bisik Baron di sela-sela ciumannya.
"Dan kau makin gagah, Suamiku. Kekuatan yang kuberikan padamu ternyata cocok sekali dengan tubuhmu," jawab Nyai Mayang sambil tersenyum penuh arti.
Malam itu, di kamar yang tertutup rapat itu, suasana menjadi sangat panas. Aroma bunga Kemuning makin menyengat bercampur dengan aroma keringat. Baron melampiaskan segala hasratnya, melupakan dunia luar.
Baron terbaring lemas namun terasa sangat bertenaga di atas kasur yang berantakan. Nyai Mayang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur, menatap keluar jendela dengan tatapan puas.
Baron merasakan aliran tenaga di dalam tubuhnya berkali-kali lipat lebih kuat daripada kemarin. Rasanya ia bisa menghancurkan batu karang hanya dengan satu pukulan. Kekuatannya meningkat drastis seiring dengan malam panas yang mereka lewati.
Saat nafsunya telah tersalurkan, Baron baru teringat jika ia ingin bertanya tentang bulu halus yang tumbuh di punggungnya
"Nyai... kenapa ada bulu tumbuh di punggungku?" tanya Baron sambil menunjuk ke arah punggungnya yang kini dipenuhi bulu-bulu kasar itu.
Nyai Mayang menoleh perlahan, menatap wajah Baron yang panik itu dengan wajah tenang. Ia tersenyum tipis, senyum yang terasa penuh teka-teki.
" itu wadah kekuatan yang kau miliki suamiku, semakin banyak engkau menerima kekuatan dariku bulu itu akan semakin banyak" jawab Nyai Mayang sambil tersenyum
memang semenjak mempunyai kekuatan , Ia merasa tubuhnya makin aneh. Selain bulu itu, ia juga merasa giginya tiba-tiba terasa ngilu, dan nafsu makan menjadi sangat besar,seakan tak perah kenyang
Nyai Mayang bangkit dari tempat tidurnya, berjalan mendekati Baron dengan langkah yang gemulai dan mempesona.
"Jangan takut, Suamiku. bulu itu hanya kau yang bisa melihatnya. Tubuhmu sedang beradaptasi dengan kekuatan yang kuberikan padamu," ucap Nyai Mayang lembut
"Karena aku Ratu di alamku. Kekuatan yang kau dapatkan adalah kekuatan dari diriku sendiri. Dan sebagai imbalannya, sebagai suamiku, kau harus berbagi takdir denganku. Itulah perjanjian yang kau setujui saat kau datang ke istanaku bersama Eyang Sugandi " lanjut Nyai Mayang menjelaskan
Wajah Baron memucat seketika. Ia teringat ucapan Eyang Sugandi tentang "resiko" dan "ikatan jiwa". Dulu ia mengira itu hanya kiasan atau hal mistis biasa, ternyata ini maksudnya. Ia perlahan berubah wujud menjadi makhluk yang sama dengan Nyai Mayang, atau setidaknya berbagi sifat fisik dengannya.
"Jadi... selama aku mendapatkan kekuatan ini, aku akan terus tumbuh bulu seperti ini? Apa nanti wajahku juga akan berubah?" tanya Baron dengan nada putus asa. Ia memegang wajahnya sendiri, takut tiba-tiba hidungnya berubah menjadi moncong babi.
Nyai Mayang membalikkan tubuh Baron agar berhadapan dengannya. Ia menatap mata Baron lekat-lekat.
" Hanya tubuhmu, dan itu tak akan terlihat oleh orang lain kau jangan khawatir" Ucap Nyai Mayang menenangkan Baron
"Baiklah, Nyai. Aku mengerti. Apa pun yang terjadi, aku akan gunakan kekuatan ini sebaik-baiknya," ucap Baron dengan nada dingin dan tegas, meskipun di lubuk hatinya ia merasa ada sesuatu yang mati di dalam dirinya.
Sebelum azan Subuh berkumandang Nyai Mayang menghilang kembali seperti awal dia datang menjadi kabut