Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelesaikan Kasus Besar
"Kau.... Kalian, bagaimana bisa?" pria tua itu berusaha untuk bangun, melihat aura ungu keemasan. Yang mengelilingi Ghaffar, membuatnya ciut. Lawannya kali ini , benar-benar bisa menghabisinya. Ingin lari, tapi itu pun tak mungkin.
"PERGI ATAU TIDAK, AKU AKAN TETAP MATI. JADI, AKU AKAN MELAWAN KALIAN SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN." teriak dukun tersebut
Ia menengadahkan tangan kanannya, muncullah sebuah pedang kayu. Ia menggigit jari telunjuk, tangan kirinya. Dengan membaca mantra, yang entah apa. Dukun itu menulis mantra dengan darahnya, di seluruh permukaan pedang. Seketika itu juga, pedangnya langsung di kelilingi kabut hitam.
Mingyu dan Ghaffar mundur satu langkah, saat melihat ada perubahan pada wajah dukun itu. Kedua mata dan bibirnya, menjadi warna hitam pekat. Bahkan saat ia tersenyum menyeringai, giginya juga ikut menjadi hitam.
'KALIAN BERANI SEKALI, MEMBUAT ANAK BUAHKU SAMPAI SEPERTI INI. AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESAL, KARENA TELAH SALAH MENCARI LAWAN.' ucap dukun, yang kini tubuhnya sudah di rasuki sosok lain.
"Akhirnya, kamu muncul juga." ucap Mingyu, ia bersiap dengan pedang koinnya di depan wajah.
'Kau... bukankah kau anak dari manusia yang bernama Fang Yin? Rupanya kau masih hidup? Hahahahaha.... kau kira, kau lebih hebat dari ibumu? Ibumu saja tak sanggup melawanku, apalagi anak seperti mu.' Mingyu menatap marah padanya
"Kau berlaku curang, kau sudah menjebak ibuku. Kau yang membuat pecah jiwa dan roh ibuku, lalu kau ambil salah satunya. Sehingga membuat ibuku lemah, di saat itu... kau memanfaatkan kelemahan ibu, lalu kau menusuknya dari belakang. KAUU..." kedua tangan Mingyu mengepal erat, bahkan tangan kanan yang memegang pedang sampai mengeluarkan darah. Karena terkena gesekan cukup kuat, sehingga melukai telapak tangannya.
'Rupanya kau tau itu, tapi sayang... ibu takkan pernah bisa reinkarnasi. Karena salah satu pecahan jiwanya, ada padaku. HAHAHAHAHA...'
"Maksudmu..... ini?" Ghaffar mengangkat dompet hitam kecil itu, membuat sosok itu membulatkan kedua matanya.
'BAGAIMANA MUNGKIN BENDA ITU ADA PADAMU, KEMBALIKAN!!' teriakan sosok itu, membuat semua burung yang bertengger di pohon. Langsung kabur beterbangan, meninggalkan sarang mereka.
"Salahkan anak buahmu yang bodoh itu, sudah tau barang berharga untuknya. Kenapa malah di jatuhkan, aku hanya memungutnya." ucap Ghaffar
"Jangan lukai tanganmu, ingat apa kata ibumu." ucap Ghaffar pelan, ia memindahkan pedang koin ke tangan kiri Mingyu. Lalu ia mengambil sapu tangan di saku celananya, ia balut kan pada telapak tangan kanan Mingyu. Mingyu menggigit bibir bawahnya, agar tangisannya tidak sampai pecah. Sudah lama tak ada yang peduli padanya, setelah sang ibu pergi setahun yang lalu.
"Kalahkan dia, aku akan membantu dari belakang." Mingyu sedikit menengadah, karena memang Ghaffar lebih tinggi darinya. Mingyu mengangguk, ia menghirup banyak udara. Lalu ia pejamkan mata, setelahnya... kini, ia sudah siap melawan sosok itu.
"Kita mulai" ucap Mingyu, Ghaffar mundur. Ia duduk sila di belakang Mingyu, dengan jarak sekitar 2 langkah.
'Kau hanya anak ingusan, berani sekali menantang ku.' ucap sosok itu, ia berdiri tegak. Menatap remeh Mingyu, karena ia merasa sudah bisa mengalahkan ibunya Mingyu.
"Aku tak pernah meremehkan lawanku, tapi kini di belakang ku. Ada orang hebat, membuat aku menjadi lebih berani." ucap Mingyu, ia melemparkan pedang koinnya ke depan.
Kini pedang itu melayang, tepat di depan wajahnya. Mingyu memejamkan kedua matanya, dengan kedua tangan berada di depan dadanya. Kedua tangan itu, membentuk beberapa simbol. Yang hanya di pahami, oleh pemilik spiritual dari klan mereka. Tetapi, Ghaffar tentu saja paham dengan arti dari semua simbol itu.
"Pemilik Langit dan Bumi, juga semua alam semesta. Penguasa seluruh kegelapan, bertekuk lutut pada penguasa cahaya. Aku memintamu membantuku, untuk memusnahkan iblis yang sudah banyak membunuh orang-orang. HAAAAA" pedang koin itu melesat cepat ke arah sosok di depannya.
Namun ternyata, sosok itu menahan pedang dan kekuatan yang di keluarkan oleh Mingyu. Terlihat gesekan di udara, antara cahaya emas dan hitam.
"AAARRGGGHHHTT..." Mingyu berteriak, saat ia merasakan sakit pada dadanya. Namun ia tak berpindah posisi, karena sedikit saja ia bergerak. Maka akan berakibat fatal, selain menjadi celah sosok di depannya untuk melarikan diri. Akibat lainnya adalah, bisa membuat dirinya terluka lebih parah dari ini.
Ghaffar yang sudah tau, bila saat ini adalah waktunya. Ia segera berdiri, meletakkan kedua tangan di punggung Mingyu. Dengan sendirinya, tubuh Mingyu menyerap energi yang dimiliki Ghaffar. Kini kekuatan yang mendorong pedang koin semakin besar, bukan hanya cahaya keemasan. Tetapi bertambah, dengan adanya cahaya berwarna ungu.
'Tidak tidak... aku tak boleh kalah, aku tak ingin kerja kerasku selama ini sia-sia. Tidak... TIIII DAAAAAAAAKKKK'
BLAAARR
BRUGH
"Hah hah hah" tubuh Mingyu jatuh berlutut di atas lantai, di saat lawan nya hancur.
"Akhirnya... akhirnya... aku bisa mengalahkannya ibu.. hiks.... " dengan tenaga terakhirnya, ia duduk sila. Kembali memejamkan kedua matanya, dompet hitam yang di berikan olah Ghaffar. Melayang di depan Mingyu, dompet itu terbuka. Dan mengeluarkan seberkas cahaya putih, Mingyu merapal kan mantra.
Cahaya putih itu mengelilingi Mingyu, setelahnya...
'Terima kasih sayang...'
SPLASHH
Cahaya itu hilang, bersamaan dengan tubuh Mingyu yang sudah tak sanggup. Ia pun ambruk, membuat Ghaffar panik.
"MINGYU... MINGYU..." Ghaffar memeriksa denyut nadinya, ia pun menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah, hanya pingsan." Ghaffar mengambil ponsel, ai menghubungi kakak angkatnya.
"Assalamu'alaikum bang"
'Wa'alaikum salam, kenapa Ghaff?' jawab Abraham, seraya bertanya
"Bang, apa abang tau proyek vila di jalan xxx?"
'Tentu saja, abang sedang menyelidiki proyek tersebut. Karena ada beberapa keluarga yang melaporkan, bila anggota keluarganya tak pulang sampai saat ini. Apa kamu tau sesuatu?'
"Ya, Ghaffar sedang ada di lantai paling atas proyek. Pembangunan di sini, menggunakan tumbal. Sepertinya yang melapor adalah keluarga korban, yang di jadikan tumbal. Saat ini, jenazah mereka di kubur pada dinding bangunan lantai ini. Di jadikan pondasi, oleh si pemilik proyek." jawab Ghaffar, tentu saja hal ini mengejutkan Abraham
'Kamu serius? Tapi... bagaimana bisa kamu ada di sana?' tanya Abraham
"Kakak dari sahabat guru Ghaffar, merupakan salah satu korban tumbalnya bang. Guru Ghaffar meminta bantuan, jadi Ghaffar..." Ghaffar menceritakan semuanya, Abraham diam tak menyela.
'Ghaff, kamu adalah keberuntungan abang. Kamu telah membantu abang, menyelesaikan kasus besar. Abang akan membuat surat penangkapan, juga ijin membongkar bangunan. Agar kita bisa melepaskan jenazah korban, lalu di kembalikan pada keluarganya.' ucap Abraham, setelah Ghaffar selesai bercerita
"Iya bang... oya bang..."
'Kenapa?' tanya Abraham
"Ghaffar... Ghaffar berniat mengangkat seorang adik" jawab Ghaffar
'Siapa? orang mana? Apa dia baik? Dimana kamu menemukannya? Ck... kita bicarakan ini dengan ayah dan ibu, kita bertemu di rumah malam nanti.' Ghaffar mengiyakan ucapan Abraham, panggilan pun terputus. Ghaffar menghubungi Akbar, agar ia membantunya membawa Mingyu. Ghaffar akan membawanya ke rumah saja, ia akan meminta bantuan kakak angkatnya yang lain. Arimbi, tak peduli apa pun spesialis nya. Yang penting, dia adalah seorang dokter.
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰