Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Aula besar The Dorchester malam itu berkilauan oleh ribuan lampu kristal, namun bagi Ezzvaro Manafe, cahaya itu terasa membutakan dan mual. Udara dipenuhi aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa basa-basi para elite London.
Ini adalah Gala Dinner pertama setelah pengumuman merger keluarga Manafe dan Batistuta, sebuah panggung sandiwara di mana semua orang harus memakai topeng terbaik mereka.
Ezzvaro berdiri di sudut balkon yang agak gelap, jauh dari kerumunan. Ia mengenakan tuxedo hitam custom-made yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Tangannya yang besar mencengkeram gelas berisi scotch murni, sementara matanya yang tajam bak elang tidak pernah lepas dari satu titik di tengah aula.
Gabriel.
Wanita itu tampil menghancurkan kewarasan. Ia mengenakan gaun berwarna Putih dengan punggung terbuka, memamerkan kulit porselennya yang berkilau di bawah lampu. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Ia tidak lagi tampak seperti gadis kampus yang dulu sering menangis di pelukan Ezzvaro; ia adalah seorang femme fatale yang siap menaklukkan dunia.
Dan malam ini, dunia itu bernama Nicolas.
Nicolas Van Der Berg (30), putra dari konglomerat baja asal Belanda, kolega terpenting Fank Manafe. Nicolas tidak menyembunyikan ketertarikannya.
Sejak awal acara, pria itu selalu berada di dekat Gabriel, mengajaknya bicara, membisikkan sesuatu yang membuat Gabriel tersenyum tipis—senyuman yang Ezzvaro tahu adalah senyum palsu, namun tetap saja rasanya seperti pisau yang mengiris dadanya.
"Mereka terlihat serasi, bukan?" Suara Tharzeo terdengar di samping Ezzvaro. Kakaknya itu berdiri dengan ketenangan yang mengintimidasi, matanya ikut memperhatikan Gabriel. "Nicolas adalah aset penting. Jika mereka dekat, posisi Manafe di Eropa Utara akan tak tergoyahkan."
Ezzvaro tidak menjawab. Ia hanya meneguk scotch-nya hingga tandas, merasakan panas alkohol itu membakar kerongkongannya.
"Jangan lakukan hal bodoh, Ez," peringat Tharzeo tanpa menoleh, seolah bisa membaca badai yang sedang berkecamuk di balik mata adiknya.
"Dia saudarimu sekarang. Jaga batasanmu."
Tharzeo melangkah pergi, meninggalkan Ezzvaro dalam kesendirian yang menyesakkan.
Di tengah lantai dansa, alunan waltz mulai mengalun. Nicolas membungkuk hormat, mengulurkan tangannya pada Gabriel. Gabriel sempat melirik ke arah sudut balkon—tempat Ezzvaro berdiri—selama sepersekian detik sebelum akhirnya meletakkan tangannya di telapak tangan Nicolas.
Mereka mulai berdansa.
Ezzvaro memperhatikan setiap gerakan mereka. Bagaimana tangan Nicolas melingkar di pinggang ramping Gabriel. Bagaimana tubuh mereka berdekatan.
Setiap putaran dansa itu terasa seperti putaran jarum jam menuju kehancuran mental Ezzvaro. Ia ingin turun ke sana, merobek tangan Nicolas dari tubuh Gabriel, dan mengumumkan pada semua orang bahwa wanita itu adalah miliknya.
Namun, ia teringat status mereka. Kakak dan Adik. Sebuah lelucon yang diciptakan neraka.
Lagu berakhir.
Nicolas tidak segera melepaskan Gabriel. Mereka berdiri di dekat pilar besar, tersembunyi dari pandangan Fank dan Renata, namun terlihat jelas dari posisi Ezzvaro di balkon atas.
Nicolas tampak mengatakan sesuatu yang intens. Gabriel tampak tertegun, matanya membelalak kecil. Dan sebelum Gabriel sempat menghindar, Nicolas mencondongkan tubuhnya.
Bibir Nicolas mendarat di bibir Gabriel.
Dunia Ezzvaro runtuh saat itu juga. Ia melihat adegan itu seolah-olah waktu melambat.
Ciuman itu terjadi. Gabriel tampak sangat terkejut, tubuhnya kaku, tangannya terkepal di sisi gaunnya. Dia tidak membalas, tapi dia juga tidak langsung mendorong—terlalu syok untuk bereaksi dalam satu detik yang menentukan.
Tapi Ezzvaro tidak menunggu untuk melihat reaksi selanjutnya.
Rasa mual yang hebat menghantam perutnya. Ia memalingkan muka dengan kasar, mencengkeram pagar balkon hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.
Kecewa? Itu kata yang terlalu sederhana. Yang ia rasakan adalah pembusukan jiwa.
Ia tidak melihat saat Gabriel akhirnya mendorong Nicolas dengan wajah pucat. Ia tidak melihat saat Gabriel mencari sosoknya di balkon dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa bersalah yang tak masuk akal.
Ezzvaro memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia berbisik pada dirinya sendiri, pada bayangan Gabriel yang dulu ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
"Benci, trauma, kecewa, dan dendam... seluruh yang hilang telah aku ikhlaskan, Gaby," batin Ezzvaro.
Suara batinnya terdengar seperti nisan yang dijatuhkan di atas kuburan.
"Segala yang rusak sudah ku relakan. Segala yang membebani sudah aku lepaskan. Segala yang ingin pergi tidak akan aku tahan lagi."
Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang dingin, mencoba membuang sisa aroma mawar yang seolah masih mengejarnya.
"Lalu takdir mana lagi yang harus aku perdebatkan? Jika kau memilih untuk menjadi bagian dari dunia yang busuk ini, jika kau memilih untuk membiarkan bibir lain menyentuh apa yang dulu menjadi tempat suciku... maka selesailah sudah."
Ezzvaro berbalik, meninggalkan balkon itu. Ia tidak kembali ke aula. Ia berjalan menuju pintu keluar samping, melewati para pelayan yang kebingungan melihat sang pewaris Manafe pergi di tengah acara penting.
Ia masuk ke dalam mobil Aston Martin hitamnya yang terparkir di valet.
Ia menghidupkan mesin, suaranya menggeram seperti binatang buas yang terluka. Ia tidak butuh supir. Ia butuh kecepatan. Ia butuh pelarian.
Sambil memacu mobilnya membelah jalanan London yang basah, Ezzvaro merasa hatinya telah benar-benar mati.
Tidak ada lagi Vavo yang merindukan Gaby. Tidak ada lagi pria yang menyimpan folder tersembunyi di laptopnya. Yang tersisa hanyalah Ezzvaro Manafe—seorang pria tanpa hati yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya, termasuk wanita yang baru saja membunuh sisa-sisa kemanusiaannya.
"Kau ingin bebas, Gabriel?" gumamnya sambil menatap jalanan yang kabur oleh kecepatan tinggi. "Akan kuberikan kebebasan itu. Tapi jangan pernah memohon padaku saat kau menyadari bahwa dunia di luar sana jauh lebih dingin daripada neraka yang kita bangun bersama."
Malam itu, Ezzvaro tidak pulang ke Mayfair Mansion. Ia menghilang ke dalam kegelapan kota, meninggalkan Gabriel yang berdiri di tengah aula, gemetar ketakutan karena ia tahu, saat Ezzvaro memalingkan muka tadi, pria itu tidak hanya berpaling dari sebuah pemandangan—ia berpaling dari jiwa Gabriel untuk selamanya.
🌷🌷🌷🌷
Tinggalkan Komentar jika suka cerita ini 😍