Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Matahari siang itu bersinar terik, memantul di aspal jalanan Jakarta yang padat. Ziva duduk di kursi penumpang mobil SUV putih milik Zain, salah satu teman kuliahnya yang memang sudah lama menaruh hati padanya. Alunan musik indie mengisi kabin mobil, namun pikiran Ziva tetap tertuju pada rentetan email penolakan kerja yang ia terima pagi tadi.
"Santai aja, Ziv. Paling HRD-nya lagi pada error. Nanti di basecamp kita bahas bareng anak-anak, siapa tahu ada info loker di perusahaan bokap gue," hibur Zain sambil memutar setir dengan gaya yang sok keren.
Ziva hanya tersenyum tipis. "Mungkin ya, Zain. Gue cuma ngerasa aneh aja, masa nggak ada satu pun yang nyangkut."
Mobil mereka terus melaju hingga tiba di sebuah titik persimpangan besar. Di kejauhan, terlihat kerucut lalu lintas berwarna oranye dan beberapa petugas kepolisian yang sedang melakukan razia rutin. Ziva mendengus. "Apes banget, ada razia siang-siang gini."
Zain memperlambat laju mobilnya saat seorang petugas dengan seragam dinas lengkap dan rompi hijau neon melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka menepi. Begitu mobil berhenti dan Zain menurunkan kaca jendela, jantung Ziva seolah berhenti berdetak.
Sosok yang berdiri di sana, dengan kacamata hitam dan wajah kaku yang sangat ia kenali, adalah Baskara.
"Selamat siang. Bisa tunjukkan surat-surat dan SIM Anda?" tanya Baskara dengan suara bariton yang tegas dan dingin.
Zain merogoh dompetnya dengan santai. "Siang, Pak. Ini STNK-nya, tapi... aduh, SIM saya ketinggalan di dompet satu lagi, Pak. Ketinggalan di rumah."
Baskara tidak langsung merespons Zain. Matanya yang tajam kini beralih ke arah kursi penumpang. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Ziva yang sedang memalingkan wajah ke arah jendela kiri. Baskara tidak tampak terkejut, namun ada kilatan kemarahan yang tertahan di matanya.
Baskara memutari moncong mobil dan mengetuk kaca jendela di samping Ziva dengan keras. Tok! Tok! Tok!
"Apaan sih!" rutuk Ziva kesal sambil menurunkan kaca mobilnya setengah. "Kenapa lagi sih, Om?!"
"Keluar," ucap Baskara pendek. Nada suaranya bukan lagi seperti polisi yang sedang bertugas, melainkan seperti seorang suami yang sedang menuntut penjelasan.
"Apa sih? Gue mau jalan sama temen gue. Urusin aja tuh tilangannya Zain, jangan ganggu gue," balas Ziva ketus.
Baskara mendekatkan wajahnya ke arah jendela. "Aku bilang keluar, Ziva! Sekarang."
"Woi, Pak! Ada apa ya sama temen saya? Dia nggak salah apa-apa," Zain mencoba membela diri dari kursi pengemudi.
Baskara melirik Zain dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Diam kamu. Urusan kamu dengan saya belum selesai karena kamu tidak membawa SIM. Tapi sekarang, istri saya harus ikut saya."
Zain tertegun. "Istri?"
Ziva menghela napas panjang karena malu dan jengkel. Ia tahu jika ia terus membantah di pinggir jalan seperti ini, Baskara yang keras kepala tidak akan melepaskannya. "Iya, iya! Bawel banget jadi orang!"
Ziva membuka pintu mobil dan keluar dengan kasar, membantingnya hingga Zain sedikit terlonjak. Ia berdiri di depan Baskara dengan tangan bersedekap. "Ada apa? Puas lo bikin malu gue di depan temen gue?"
"Ikut aku. Kita pulang sekarang," jawab Baskara sambil menarik pergelangan tangan Ziva menuju mobil patrolinya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Loh nggak bisa gitu—Zain gimana?!"
Baskara menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Ziva dengan intensitas yang membuat Ziva terdiam. "Ikut atau aku gendong kamu ke mobil sekarang juga di depan semua orang ini?"
Ziva membelalakkan matanya. Ia tahu "Om-om pemaksa" ini benar-benar gila dan mungkin saja melakukan ancamannya. "Hihh... dasar om-om pemaksa! Gila lo ya!"
Ziva akhirnya masuk ke mobil patroli Baskara dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil sangat hening. Baskara fokus mengemudi dengan wajah kaku tanpa ekspresi, sementara Ziva hanya menatap keluar jendela dengan napas yang memburu karena marah.
Begitu mobil sampai di depan rumah mereka, Ziva langsung keluar dan hendak berlari masuk ke dalam rumah. Namun, tepat saat ia akan membuka pintu rumah, sebuah tangan besar menahan pundaknya dan membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Kita perlu bicara," ucap Baskara pelan namun menekan.
"Apalagi? Mau ceramah soal keselamatan jalan raya? Atau mau pamer kalau lo punya kuasa buat nilang temen gue?" semprot Ziva.
"Aku belum ngajuin syarat buat kamu, kan?" tanya Baskara tiba-tiba.
Ziva mengernyitkan dahi. "Emang penting ya? Bukannya lo udah dapet semua yang lo mau dengan maksa gue nikah?"
"Penting. Karena tempo hari kamu juga ngajuin syarat ke aku, dan aku setuju. Sekarang giliran aku," Baskara menatap mata Ziva dalam-dalam. "Aku cuma mau satu aja. Jangan pernah dekat sama cowok lain atau keluar bareng mereka tanpa seizin aku. Itu aja."
Ziva tertawa sinis. "Lo pikir lo siapa? Pengawas asrama gue? Gue punya kehidupan, Baskara!"
"Aku suamimu, Ziva. Secara hukum dan agama," balas Baskara dingin. "Satu tahun ini, aku ingin kamu menghargai itu. Sekarang masuk kamar, kunci pintu. Jangan keluar lagi sampai aku pulang."
Ziva ternganga melihat Baskara yang langsung berbalik, masuk ke mobilnya, dan melajukan kendaraan itu kembali menuju tempat patroli tanpa menoleh sedikit pun.
"Tuh om-om kenapa sih? Aneh banget! Tadi malem sakit sampai ngerintih-ngerintih, sekarang galaknya minta ampun," gerutu Ziva sambil masuk ke rumah dan membanting pintu.
Baskara memarkirkan mobilnya kembali di titik razia. Napasnya masih terasa berat. Teman sesama polisinya yang tadi menggantikan posisinya sebentar, Rio, mendekat sambil tersenyum miring.
"Gimana, Bas? Selesai urusan lo sama 'istri kecil' lo itu?" tanya Rio sambil menawarkan botol air mineral. "Galak juga ya dia kalau di jalanan."
Baskara menerima botol itu dan meminumnya hingga separuh. Ia mengusap wajahnya yang lelah. "Susah, Yo. Temboknya tinggi banget. Gue nggak tahu gimana caranya biar dia nggak ngeliat gue sebagai 'pembunuh' terus."
"Sabar, Bas. Pelan-pelan. Lo polisi, biasanya kan pinter negosiasi sama orang yang paling keras kepala sekalipun," Rio menepuk bahu sahabatnya itu.
Baskara hanya menatap aspal jalanan yang panas. Ia tahu, syarat yang ia berikan tadi mungkin membuat Ziva makin membencinya. Tapi baginya, rasa posesif itu muncul bukan karena cinta yang tumbuh, melainkan ketakutan yang mendalam jika Ziva juga akan pergi meninggalkannya sebelum ia sempat menebus semua kesalahannya pada Kirana.
Ia kembali memasang kacamata hitamnya, kembali menjadi sosok polisi yang kaku dan dingin di mata dunia, sementara hatinya tetap tertinggal di rumah, di kamar yang pintunya baru saja dikunci oleh gadis yang paling membencinya sekaligus ia jaga.