Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ubah taktik
Ikhsan membantu sang istri berjalan perlahan kemudian duduk di sofa. Ekspresinya terlihat sangat serius. Sama seperti sang istri, dia juga mendengar ucapan Aliya dengan cukup jelas.
"Cepat jelaskan! Apa maksud kamu, Aliya?" desak Saraswati.
"Bun... ta-tadi aku cuma bercanda. Nggak ada maksud apa-apa."
Aliya berusaha tersenyum senatural mungkin untuk mendukung kebohongannya. Saat ini, kondisi sang Ibu mertua masih belum stabil. Perempuan paruh baya itu tak boleh menerima stimulus yang terlalu berat atau sakit jantungnya akan kembali kambuh.
"Bercanda?" Saraswati menggeleng pelan. "Al, hal kayak gini nggak boleh dijadikan bahan bercandaan."
"Maaf, Bun," lirih Aliya sambil menundukkan kepalanya.
Perasaan bersalah menjalar memenuhi seluruh hati dan pikirannya. Namun, semua ia lakukan semata-mata demi kesehatan Ibu mertuanya juga.
Setidaknya, sampai kondisi Saraswati membaik, dia harus tetap bertahan di sana meski statusnya sudah berbeda.
"Bun, aku yang salah," celetuk Ibas. "Aku yang bikin Aliya kesal duluan makanya dia marah dan nggak mau ngakuin aku sebagai suaminya."
"Memangnya, kamu bikin kesal Aliya pake cara apa, Bas?"
"Aku..." Ibas mencoba berpikir cepat. "... aku bilang ke cewek pas live di tok-tok kalau aku masih jomblo. Iya," lanjutnya dengan wajah yang terlihat agak tegang.
"Bas... Kamu memang keterlaluan!" ucap Saraswati dengan nada lemah. "Kamu itu sudah punya istri. Bisa-bisanya, kamu masih main-main sama perempuan lain diluar sana."
"Cuma bercanda, Bun," ujar Ibas sambil tertawa cengengesan.
Namun, yang dia dapatkan justru pelototan menyeramkan dari sang Ibu dan juga sang Ayah.
Mulut Ibas pun langsung terkatup rapat kembali.
"Maaf, Bun," ucap Ibas dengan kepala menunduk dan dua tangan yang saling bertaut didepan tubuhnya. "Maaf, Al!"
Pria itu menatap Aliya sambil tersenyum kecil. Dalam hati, dia benar-benar berterima kasih karena Aliya sudah bersedia membantunya didepan kedua orangtuanya.
"Kondisi Bunda gimana?" tanya Aliya seraya menghampiri Saraswati. "Kata Mas Ibas, Bunda sakit. Sakit apa?"
Ya, Aliya pura-pura tidak tahu jika sang Ibu mertua terkena serangan jantung dan nyaris kehilangan nyawa. Semua karena permintaan Ibas.
Ibas bilang jika Saraswati tak mau jika Aliya sampai tahu bahwa dirinya sedang sakit keras. Namun, tetap saja Ibas terpaksa mengatakannya karena dia butuh bantuan Aliya demi menjaga kondisi sang Ibu.
"Cuma sakit biasa, Al. Maklum, orang tua," jawab Saraswati. "Kamu sendiri, gimana? Sudah sehat, Nak?" lanjut perempuan paruh baya itu bertanya sambil mengusap puncak kepala Aliya.
"Alhamdulillah, sudah, Bunda," jawab Aliya.
"Gimana Ibas? Apa dia masih suka jahatin kamu?"
Aliya menoleh sebentar ke arah Ibas lalu kembali fokus menatap Ibu mertuanya.
"Kadang-kadang, Bunda," jawabnya.
Tatapan tajam Saraswati pun kembali tertuju pada Ibas.
"Ibas! Kenapa kamu nggak pernah berubah, sih?" omelnya kepada sang putra semata wayang. "Kan, Bunda sudah bilang kalau kamu harus jagain Aliya dengan baik. Kenapa malah dijahatin terus, sih?"
"Itu... A-aku..."
Ibas tergeragap. Dia ingin membela diri tapi bingung harus menata kalimat seperti apa.
"Bun, jangan marah!" ujar Aliya menengahi. "Meski, Mas Ibas sering jahatin aku, tapi dia juga tetap perhatian sama aku, kok. Iya kan, Mas?"
Aliya menatap Ibas, menunggu persetujuan.
"I-iya," angguk Ibas terbata.
"Baguslah kalau begitu," sahut sang Ibu lega.
"Kenapa Bunda cepat banget keluar rumah sakitnya? Bukannya, masih perlu dirawat beberapa hari lagi?" Ibas mulai mengalihkan pembicaraan.
Tidak. Seharusnya, sang Ibu tidak keluar secepat ini dari rumah sakit. Ibas belum selesai melakukan persiapan.
Dia belum membriefing Nadia agar ikut bekerja sama dalam sandiwaranya. Kalau Nadia kembali datang dan berbuat onar, bagaimana?
Bagaimana Ibas harus menjelaskannya kepada kedua orangtuanya?
"Bunda bosan di rumah sakit terus, Bas. Bunda kangen rumah. Lagian... makanan di rumah sakit juga nggak enak. Nggak ada rasanya," keluh Saraswati.
"Memangnya, dokter udah ngizinin Bunda keluar rumah sakit?"
"Belum," sambar Ikhsan cepat. "Tapi, Bunda kalian ini ngeyel. Meski sudah dilarang dokter, tetap saja dia bersikeras untuk pulang."
Saraswati tampak nyengir. Dia tahu suaminya kesal karena keputusannya yang keras kepala.
Tapi, mau bagaimana lagi?
Semakin lama dirinya di rawat di rumah sakit di luar kota, semakin kuat perasaan bahwa sesuatu telah terjadi diantara anak dan menantunya.
Tapi, melihat situasinya sekarang, sepertinya hal tersebut tidak terbukti. Ibas dan Aliya tampaknya baik-baik saja.
"Bun, harusnya Bunda dengerin kata dokter," ucap Aliya dengan nada yang begitu lembut.
"Bunda dengerin kata dokter, kok. Satu-satunya yang Bunda nggak dengerin cuma soal dirawat di rumah sakit. Bunda nggak betah."
Aliya menghela napas panjang. "Kalau gitu, Bunda cepetan istirahat, ya! Jangan sampai kondisi Bunda nge-drop lagi."
"Oke," angguk Saraswati.
"Mau Aliya buatin sesuatu untuk Bunda sama Ayah makan malam?" tanya Aliya lagi.
"Nggak usah," tolak Ikhsan. "Ayah sama Bunda sudah makan pas di pesawat tadi."
Aliya mengangguk mengerti. Dia membantu sang Ayah mertua untuk memapah Ibu mertuanya ke kamar. Sementara, Ibas masih berdiri di sana sambil menghela napas lega.
Untungnya, kebohongan dirinya dan Aliya tidak terbongkar didepan orangtuanya.
[Nadia, maaf! Malam ini aku nggak bisa ke sana. Bunda sama Ayah sudah pulang dari luar kota. Keadaan Bunda agak kurang baik. Jadi, aku harus jaga Bunda dulu.]
Terkirim.
Ibas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Mudah-mudahan, Nadia bisa mengerti.
....
Prang!
Nadia membanting ponselnya dengan kesal saat membaca pesan yang baru saja dia terima dari Ibas.
Lagi-lagi, pria itu batal menemuinya. Padahal, Nadia sudah cukup bersabar selama ini.
"Ini nggak bisa dibiarin. Kalau Ibas terus sama perempuan itu, bisa-bisa Ibas bakal jatuh cinta sama dia dan ngelupain aku. Nggak! Nggak boleh. Ibas itu cuma punyaku. Perempuan lain nggak boleh ngerebut dia selama aku masih belum bosan mainin dia."
Nadia mondar-mandir didalam kamarnya. Dia merasa sangat gelisah. Kehilangan Ibas sama saja dengan kehilangan uang sekaligus mainan kesayangannya.
"Aku harus cari cara agar Ibas cuma fokus sama aku. Tapi, pakai cara apa?"
Nadia terus berjalan bolak-balik. Otaknya berpikir sangat keras sampai-sampai kepalanya mulai terasa sakit.
"Apa aku coba jadi cewek pengertian aja, ya?" gumam Nadia.
Sepertinya, ide itu tidak buruk. Jika bertingkah bar-bar seperti tadi, takutnya Ibas malah jadi ilfil.
"Ya, aku coba pakai cara itu aja," angguknya setelah merasa yakin dengan rencananya. Dia pun kembali memungut ponsel yang sempat dia lemparkan tadi.
[Nggak apa-apa, Bas. Aku ngerti. Take your time. Jagain Bunda kamu baik-baik, ya! Nanti, kalau kondisi Bunda kamu sudah mulai membaik, baru kita ketemuan. Oke?]
Terkirim.
Nadia menyeringai senang. Jika dipikir-pikir, bukankah bagus jika dia dan Ibas tidak bertemu selama beberapa hari? Kebetulan, banyak teman pria yang mau mengajak Nadia untuk kencan buta.
Kenapa Nadia tidak meladeni mereka saja?
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺