NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Penculikan yang Salah Sasaran

Siang itu, Jakarta sedang terik-teriknya. Nika baru saja keluar dari toko kain langganannya, menenteng dua kantong besar berisi gulungan brokat sutra. Ia baru saja hendak melangkah menuju mobilnya ketika sebuah minibus hitam berhenti mendadak di depannya. Dua orang pria berbadan besar dengan masker hitam meloncat keluar.

"Ikut kami, Nyonya Adiguna!" bentak salah satu dari mereka sambil menarik lengan Nika.

Nika tertegun sejenak. Alih-alih berteriak histeris, ia justru menatap tangan pria itu yang mencengkeram blazernya. "Mas, tolong ya, ini kain linnen murni. Kalau lecek, kamu mau setrika pakai uap? Dan masker kamu itu... warnanya tidak masuk dengan kaos oblongmu. Fashion disaster sekali."

Si penculik melongo. "Diam! Masuk ke mobil!"

Nika diseret masuk ke dalam minibus. Di dalam, sudah ada Rendy yang duduk dengan wajah angkuh, mencoba terlihat seperti penjahat kelas kakap di film-film aksi.

"Akhirnya kita bertemu lagi, Nika. Sekarang Devan akan melakukan apa saja untuk menukarmu dengan proyek Bali," ujar Rendy sambil menyilangkan kaki.

Nika menghela napas panjang, ia duduk dengan tenang sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia melihat ke sekeliling interior minibus yang kusam. "Rendy, kamu menculikku pakai mobil ini? Baunya seperti kaos kaki basah, Ren. Dan lihat jok ini, imitasi murahan? Kamu kan baru menang tender triliunan, masa tidak sanggup sewa Alphard?"

"Nika! Fokus! Kamu sedang diculik!" bentak Rendy, wajahnya mulai memerah karena kesal.

"Aku fokus, kok. Fokus pada betapa buruknya selera penjahat zaman sekarang," jawab Nika santai. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kipas tangan kecil dan mulai mengipasi dirinya sendiri. "Dan omong-omong, anak buahmu yang di depan itu... siapa namanya? Bang Brewok? Dia pakai parfum yang baunya mirip pembersih lantai jeruk. Aku pusing."

Sementara itu, di kantor Adiguna Group, Devan hampir saja menghancurkan meja kerjanya saat menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.

"Devan! Aku punya istrimu! Jika kamu ingin dia selamat, serahkan dokumen penyerahan proyek Bali sore ini di gudang tua Pelabuhan!" suara Rendy terdengar mengancam lewat speakerphone.

Devan merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia sudah bersiap untuk mengerahkan seluruh tim keamanan dan polisi, sampai ia mendengar suara latar yang sangat ia kenali.

"Rendy! Bilang pada suamiku, jangan lupa bawa martabak yang kemarin kalau dia ke sini! Aku lapar, dan anak buahmu cuma kasih aku air mineral merek murah yang rasanya seperti besi!"

Devan terdiam. Rasa paniknya perlahan berubah menjadi rasa geli yang tertahan. "Nika? Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Mas! Tapi tolong cepat ya, aku tidak tahan melihat dekorasi gudang ini. Karungnya sangat estetik tapi debunya membuatku bersin!"

"Devan! Jangan dengarkan dia! Serahkan dokumennya atau—" Rendy mematikan telepon dengan kesal karena otoritasnya sebagai penculik baru saja diruntuhkan oleh korban yang terlalu banyak bicara.

Satu jam kemudian, Devan sampai di lokasi yang ditentukan. Ia tidak datang dengan pasukan polisi yang riuh, melainkan sendirian, namun dengan langkah yang sangat mantap. Di tangannya, ia membawa sebuah tas dokumen... dan sekantong plastik martabak hangat yang aromanya sangat menggoda.

Pintu gudang terbuka. Devan melihat Nika sedang duduk di atas sebuah peti kayu tua, dikelilingi oleh tiga penculik yang tampak sangat tertekan.

"Mas! Akhirnya datang!" seru Nika senang. "Mas tahu tidak? Bang Brewok ini ternyata punya bakat jadi model, tapi jalannya masih kaku. Tadi aku ajarkan catwalk sebentar di antara tumpukan kayu."

Devan menatap salah satu penculik yang wajahnya tampak sangat malu dan memang sedang berdiri dengan posisi kaki menyilang aneh. "Nika, turun dari sana. Kita pulang."

"Berhenti di situ, Devan!" Rendy muncul dari balik bayangan, memegang sebuah pistol mainan (yang menurut Nika itu hanya korek api berbentuk pistol). "Serahkan dokumennya!"

Devan meletakkan tas dokumen itu di lantai, namun ia juga meletakkan kantong martabaknya. "Rendy, ambil dokumennya. Tapi biarkan Nika pergi sekarang juga. Kamu sudah menang, bukan? Proyek Bali sudah di tanganmu. Kenapa masih melakukan ini?"

"Karena aku mau kamu hancur! Aku mau Nika melihat bahwa kamu lemah!" teriak Rendy.

Nika mendadak melompat turun dari peti kayu. Ia berjalan mendekati Rendy tanpa rasa takut sedikit pun. "Rendy, kamu tahu kenapa aku pilih Devan dan bukan kamu? Bukan karena uangnya. Tapi karena Devan tahu bedanya shrimp dan shrinkage. Sedangkan kamu? Kamu menculikku tapi lupa bawa makanan. Penjahat macam apa yang membiarkan tawanannya kelaparan?"

Sebelum Rendy sempat bereaksi, Nika dengan cepat merebut pistol korek api dari tangannya dan melemparkannya ke arah Devan.

"Mas! Tangkap!"

Devan menangkapnya dengan mudah, lalu dengan satu gerakan cepat, ia memiting lengan Rendy dan menjatuhkannya ke lantai. Para penculik bayaran itu tidak ada yang bergerak; mereka sepertinya sudah terlalu lelah mental menghadapi Nika selama dua jam terakhir.

"Kalian boleh pergi," ucap Devan pada para penculik itu. "Tapi tolong, jangan pernah menculik istri saya lagi. Dia lebih berbahaya bagi kesehatan mental kalian daripada polisi bagi nyawa kalian."

Para penculik itu mengangguk cepat dan langsung lari tunggang langgang keluar dari gudang.

Nika berlari ke arah Devan, memeluknya erat. "Mas! Kamu bawa martabaknya, kan?"

Devan tertawa, ia mencium kening Nika sambil tetap memegang Rendy yang meronta di bawahnya. "Tentu saja. Ekstra daun bawang, seperti permintaanmu."

"Bagus! Dan satu lagi, Mas," Nika melirik Rendy yang kini tampak sangat menyedihkan. "Jangan serahkan dokumen yang asli. Tadi aku sempat menukar isi tasnya dengan brosur desain butikku yang edisi tahun lalu. Biar dia belajar sedikit soal tren warna."

Devan tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. Ia menatap Rendy yang kini hanya bisa mengerang frustrasi. "Kamu dengar itu, Rendy? Kamu baru saja menculik wanita yang lebih cerdas dan lebih gila darimu. Sekarang, polisi yang asli akan menjemputmu."

Malam itu berakhir dengan mereka duduk di kap mobil di pinggir pelabuhan, memakan martabak di bawah sinar bulan, sementara Rendy dibawa pergi oleh mobil polisi.

"Mas," panggil Nika sambil mengunyah martabaknya dengan lahap.

"Ya, Sayang?"

"Besok-besok, kalau ada yang menculikku lagi, tolong bawa martabak keju ya. Martabak telur ini enak, tapi aku butuh variasi rasa kalau harus mengajar catwalk pada penjahat lagi."

Devan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merangkul bahu Nika dan mencium pipinya yang penuh dengan sisa martabak. "Nika... kamu benar-benar keajaiban yang paling aneh dalam hidupku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!