seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Di Antara Debu dan Doa
Pagi itu, mentari belum sepenuhnya gagah menampakkan diri. Kabut tipis masih menyelimuti kawasan perumahan elit tempat Dave tinggal. Namun, sebuah mobil SUV mewah sudah terparkir di depan gerbang, kontras dengan sosok pria tua berseragam buruh kebun yang berdiri canggung di samping pintu kemudi.
Dave keluar dengan setelan santai—kaos polo mahal dan celana chino—namun raut wajahnya tetap menampilkan garis-garis ketegangan. Ia menyerahkan kunci mobil pada Pak Rahman.
"Tuan Muda yakin saya yang menyetir?" tanya Pak Rahman ragu. Tangannya yang kasar terasa terlalu kotor untuk menyentuh kemudi berlapis kulit itu.
"Jalankan saja, Rahman. Ke tempat yang saya minta semalam," jawab Dave pendek. Ia duduk di kursi penumpang, sebuah posisi yang jarang ia ambil. Biasanya, ia duduk di belakang sambil sibuk dengan iPad-nya. Kali ini, ia ingin melihat jalanan.
Mobil itu membelah kemacetan Jakarta, perlahan keluar dari zona nyaman gedung-gedung kaca menuju daerah pinggiran yang padat. Jalanan semakin menyempit, aspalnya mulai berlubang, dan aroma polusi bercampur dengan bau sampah dari pasar tumpah. Dave mengernyitkan dahi. Baginya, ini adalah belahan dunia yang seharusnya tidak perlu ia kunjungi.
"Kita hampir sampai, Tuan," ujar Pak Rahman sambil memutar kemudi masuk ke sebuah gang yang hanya pas untuk satu mobil.
Di ujung gang itu, berdiri sebuah bangunan tua semi-permanen dengan papan nama kayu yang catnya sudah memudar: "Rumah Belajar Cahaya Iman".
"Shafira ada di sini?" tanya Dave, matanya menyapu bangunan yang nampak rapuh itu.
"Setiap Sabtu pagi sebelum ke kantor atau jika ada waktu luang, dia mengajar di sini, Tuan.
Anak-anak yatim dan pemulung di sekitar sini tidak punya biaya untuk les privat, jadi Shafira dan teman-temannya yang membantu," jelas Pak Rahman dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.
Dave turun dari mobil. Sepatu loafers kulitnya langsung bersentuhan dengan tanah becek sisa hujan semalam. Ia berjalan perlahan menuju jendela yang terbuka. Dari balik jeruji besi yang berkarat, ia melihat pemandangan yang membuat langkahnya terhenti.
Shafira ada di sana. Tanpa blazer formal, tanpa hak tinggi. Ia duduk di lantai beralaskan tikar
pandan, dikelilingi oleh sekitar lima belas anak kecil dengan baju yang lusuh namun wajah yang ceria. Shafira mengenakan jilbab kain kaos yang sederhana, namun binar matanya saat menjelaskan sesuatu tampak lebih terang daripada lampu kristal di kantor Mahesa Group.
"Jadi," suara Shafira terdengar lembut namun jelas hingga ke telinga Dave. "Kenapa kita harus jujur saat berjualan? Kenapa kita tidak boleh mengurangi timbangan meski tidak ada orang yang melihat?"
"Karena Allah Maha Melihat, Kak!" seru seorang bocah laki-laki dengan ingus yang hampir jatuh.
Shafira tertawa, sebuah tawa lepas yang belum pernah Dave dengar di kantor. "Betul, Anto. Tapi lebih dari itu, karena di dalam setiap harta yang kita dapatkan dengan cara tidak jujur, ada doa orang-orang yang terzalimi. Dan doa itu bisa menjadi api yang membakar kebahagiaan kita. Itulah yang disebut Amanah."
Dave terpaku. Ia teringat kembali kata-kata Syekh Abdullah tentang "Bisnis tanpa berkah adalah kerugian yang tertunda." Di ruangan mewah tempo hari, ia menganggap itu hanya retorika bisnis.
Namun di sini, di tengah debu dan aroma kemiskinan, kata-kata itu terdengar seperti hukum alam yang mutlak.
Tiba-tiba, seorang anak kecil menyadari kehadiran Dave di balik jendela. "Kak, ada raksasa ganteng di luar!"
Shafira menoleh. Matanya membulat saat melihat Dave berdiri di sana dengan ekspresi bingung. Ia segera merapikan duduknya dan meminta anak-anak untuk melanjutkan membaca. Shafira keluar menemui Dave dengan langkah ragu.
"Pak Dave? Apa yang Bapak lakukan di sini? Apa ada masalah mendesak di kantor?" tanya Shafira, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang nyata.
Dave berdehem, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya yang terasa luruh di tempat itu. "Tidak ada. Saya hanya... kebetulan lewat."
Shafira menaikkan sebelah alisnya. "Kebetulan lewat di gang buntu sejauh dua puluh kilometer dari rumah Bapak?"
Dave mendesah kalah. "Ayahmu yang membawa saya ke sini. Saya ingin melihat apa yang sebenarnya kamu lakukan hingga bisa bicara begitu percaya diri di depan investor tempo hari."
Shafira terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Bapak ingin tahu rahasia 'Amanah' itu? Di sini tempatnya, Pak. Di sini, uang tidak punya kuasa. Anak-anak ini tidak tahu siapa Bapak, mereka tidak peduli berapa saldo rekening Bapak. Mereka hanya tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya berpura-pura."
"Kenapa kamu membuang waktumu di sini?" tanya Dave, suaranya kini melunak, rasa sinisnya mulai terkikis oleh rasa penasaran. "Kamu bisa menggunakan akhir pekanmu untuk pergi ke mall, perawatan, atau bersantai seperti wanita seusiamu."
"Bersantai tidak memberikan ketenangan, Pak Dave. Memberi yang memberikannya," jawab Shafira tenang. "Bapak punya segalanya, tapi Bapak selalu terlihat seperti orang yang sedang dikejar hantu. Itu karena Bapak membangun menara Bapak di atas ego, bukan di atas manfaat."
Kata-kata Shafira kali ini tidak terasa seperti serangan bagi Dave, melainkan seperti diagnosis dokter yang tepat sasaran. Sebelum Dave sempat membalas, ponselnya bergetar hebat di saku celana.
Layar ponselnya menampilkan nama: "Mama".
Dave menghela napas panjang dan menjauh sedikit untuk mengangkat telepon. "Ya, Ma?"
"Dave! Kamu di mana? Mama sudah di butik bersama Clara. Kita harus fitting baju untuk gala dinner Mahesa Group minggu depan! Clara sudah menunggumu satu jam!" suara Bu Sarah terdengar melengking dan penuh tuntutan.
Dave memijat pangkal hidungnya. Clara adalah putri dari rekan bisnis ayahnya, wanita yang selama ini berusaha dijodohkan dengannya. Wanita yang cantik, modis, dan menganggap bahwa kesuksesan diukur dari berapa banyak tas Hermes yang dikoleksi.
"Aku sedang ada urusan, Ma. Nanti aku menyusul," jawab Dave dingin.
"Urusan apa sesibuk itu di hari Sabtu? Jangan bilang kamu sedang bersama karyawan berhijab itu lagi? Devan cerita kamu membatalkan pemecatannya. Dave, ingat posisi kita! Jangan sampai kamu terpengaruh oleh orang-orang kelas bawah!"
Dave terdiam. Ia menatap ke arah dalam ruangan, di mana Shafira sedang membantu seorang anak mengeja huruf-huruf. Ia melihat ketulusan yang murni. Lalu ia melirik ke arah ponselnya, simbol dari dunianya yang penuh kepalsuan dan tuntutan kelas sosial.
"Aku tutup dulu, Ma," Dave mematikan telepon tanpa menunggu jawaban.
Ia kembali mendekati Shafira. "Saya harus pergi. Ada urusan keluarga."
Shafira mengangguk sopan. "Silakan, Pak. Terima kasih sudah mampir ke 'dunia kecil' kami."
Saat Dave berbalik menuju mobil, ia berhenti sejenak dan merobek secarik kertas dari buku catatannya. Ia menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Shafira.
"Apa ini?" tanya Shafira.
"Nomor rekening yayasan ini. Berikan pada saya. Saya akan mengirimkan dana untuk memperbaiki atap yang bocor itu," ujar Dave tanpa menatap mata Shafira. "Bukan karena saya ingin menjadi pahlawan, tapi karena saya tidak suka melihat gedung yang hampir runtuh."
Shafira menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Ia melihat Dave masuk ke mobilnya dan segera meluncur pergi, meninggalkan debu yang berterbangan.
Di dalam mobil, Dave menatap tangannya yang sedikit kotor terkena noda tanah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa jijik. Ia merasa... berdenyut. Ada sesuatu yang mulai retak di dalam hatinya yang beku, dan ia takut sekaligus penasaran dengan apa yang ada di baliknya.
Namun, ia tidak tahu bahwa keputusannya memberikan bantuan itu akan memicu badai baru. Ibunya, Bu Sarah, tidak akan tinggal diam jika tahu putra kebanggaannya mulai "terkontaminasi" oleh dunia yang ia anggap rendah.
.