Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4- Malam yang Mematahkan
Malam seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Alea, udara malam ini justru terasa seperti jerat yang perlahan mencekik lehernya. Di dalam kamarnya yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan, dinding-dinding kost seolah merapat, menghimpitnya dalam ruang vakum yang menyesakkan. Suara kipas angin tua yang tadinya terdengar monoton kini berubah menjadi dengung kasar yang memicu denyut nyeri di pelipisnya. Amarah yang sedari tadi ia tekan kini meluap, menciptakan energi destruktif yang membuat tubuhnya menolak untuk sekadar duduk diam.
Dengan gerakan impulsif yang nyaris kalap, Alea menyambar jaket denim lusuhnya. Ia mengenakan helm dengan tangan yang terasa kaku bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang membakar. Ia menuntun motor matic-nya keluar pagar, menghidupkan mesin yang menderu bising di tengah pemukiman yang mulai sepi, dan memacunya membelah angin malam yang kering. Tujuannya hanya satu: sebuah bar terbuka di pusat kota, tempat di mana Han baru saja memamerkan ‘kebebasannya’ kepada dunia melalui sebuah unggahan foto yang memuakkan.
Sesampainya di bar, Alea tidak langsung turun. Ia mematung di atas motornya di area parkir yang penuh sesak dengan kendaraan mewah. Ia menatap kerumunan orang yang tampak seperti bayangan bergerak di bawah lampu neon warna-warni yang menyakitkan mata. Musik upbeat berdentum dengan bass yang menggetarkan aspal di bawah kakinya, sangat kontras dengan irama jantungnya yang berantakan. Bau asap rokok, uap alkohol, dan wangi parfum mahal yang saling bertabrakan menciptakan atmosfer yang pengap, seolah udara di tempat ini tidak pernah diperbarui.
Lalu, matanya menangkap siluet itu di salah satu meja kayu panjang yang berada di area paling terbuka.
Han duduk di sana. Laki-laki itu sedang tertawa lepas, jenis tawa yang tidak pernah Alea lihat selama beberapa minggu terakhir saat hubungan mereka mulai terasa hambar. Di sampingnya, perempuan berambut panjang itu masih setia menempel, sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Han tersenyum lebar sambil mengacak rambut perempuan itu dengan gerakan yang sangat akrab. Gerakan yang dulu hanya milik Alea.
Seluruh persendian Alea mendadak kaku, seolah darahnya berubah menjadi semen yang membeku dalam sekejap. Napasnya terasa berat, ditarik paksa melewati tenggorokan yang perih karena rasa sesak. Ia merasa dunia di sekelilingnya mendadak kehilangan warna, sementara fokusnya terkunci pada pengkhianatan yang terpampang nyata di depan mata. Tanpa rencana matang, tanpa memikirkan sisa harga diri, Alea berjalan dengan cepat hanya ingin sampai ke meja itu. Setiap langkahnya terasa seperti menyeret beban ribuan ton di atas pecahan kaca.
“Jadi, ini maksud kamu mau tenang, Han?”
Suara Alea pecah di antara dentuman musik yang memekakkan telinga. Han tersentak hebat. Tawa di wajahnya luntur seketika, berganti dengan ekspresi pucat pasi saat melihat Alea berdiri di depannya dengan mata yang menyala tajam dan dada yang naik-turun karena napas yang memburu.
“Al? Kamu... ngapain di sini?” Han berdiri, mencoba memasang wajah tenang, tapi sorot matanya yang gelisah saat melirik teman-temannya justru membuat Alea semakin muak.
“Ngapain aku di sini? Kamu mutusin aku lewat pesan singkat jam sepuluh pagi, bilang kamu capek, dan jam sepuluh malam kamu sudah ada di sini merayakan kebebasan sama perempuan lain?”
Alea tidak peduli lagi pada orang-orang di meja sekitar yang mulai berbisik dan menonton. Suaranya meninggi, bergetar hebat karena seluruh emosi yang ia tahan seharian kini tumpah ruah. “Kenapa, Han? Kenapa kamu nggak punya sedikit saja nyali buat jujur kalau kamu memang sudah punya cadangan sebelum kita selesai?”
“Al, jangan bikin drama di sini. Malu dilihat orang. Kita omongin nanti, nggak sekarang,” desis Han.
Suaranya rendah tapi tajam, tangannya berusaha menggapai lengan Alea untuk menariknya menjauh, tapi Alea menepisnya dengan kasar.
“Malu?” Alea tertawa getir, sebuah suara yang terdengar hancur di tengah bisingnya bar. “Kamu yang bikin malu, Han! Dua tahun aku sabar sama semua sikap dingin kamu, aku menahan semua ego hanya demi mempertahankan hubungan yang ternyata sampah buat kamu! Dan ini balasan kamu? Kamu buang aku lewat pesan singkat?!”
Han menghela napas kasar. Rasa bersalah di wajahnya menghilang dalam hitungan detik, berganti menjadi ekspresi dingin dan datar.
“Makanya aku capek, Al. Sikap kamu yang begini ini yang bikin aku muak. Kamu selalu berlebihan, selalu dramatis. Kamu pikir dengan datangi aku ke sini, aku bakal balik sama kamu? Nggak.”
Kalimat itu seperti tamparan fisik yang meruntuhkan sisa pertahanannya. Alea ingin memaki, tapi lidahnya mendadak kelu karena rasa perih yang teramat sangat. Perempuan di samping Han berdiri, menatap Alea dengan tatapan risih sebelum akhirnya berbisik pada Han, “Aku tunggu di mobil ya, Sayang. Selesaikan urusan kamu.”
Perempuan itu pergi, meninggalkan Alea dan Han dalam lingkaran suasana yang mati di tengah keramaian manusia.
“Pulanglah, Al. Sudah selesai. Jangan bikin diri kamu makin kelihatan menyedihkan di depan temen-temenku,” ucap Han tanpa emosi sedikit pun, lalu ia berbalik dan berjalan pergi mengikuti perempuan tadi, menyisakan kekosongan yang amat sangat di hadapan Alea.
Alea berjalan menjauh dari bar itu dengan langkah gontai. Dalam kondisi mental yang berantakan, ia bahkan tidak sadar bahwa ia meninggalkan motornya begitu saja di parkiran. Ia berhenti di pinggir jalan raya yang agak gelap, sekitar dua ratus meter dari bar, di bawah lampu merkuri yang berkedip kusam.
Di sana, di antara deru kendaraan yang lewat, pertahanannya hancur total. Ia luruh ke aspal trotoar yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis hebat. Isakannya terdengar pedih, suara dari seseorang yang dunianya baru saja kiamat dua kali dalam satu hari.
Di tengah isak tangisnya yang tak terkendali, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik perlahan melambat di sisi jalan, tepat beberapa meter di depan Alea. Sinar lampu depannya sempat menyapu tubuh Alea yang gemetar. Pintu pengemudi terbuka dengan suara klik yang solid. Seorang pria keluar.
Aksa melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Alea, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Bayangannya yang tinggi besar kini menghalangi cahaya lampu jalan yang tadi menusuk mata Alea yang sembap.
“Ini,” ucap Aksa singkat. Suaranya berat, datar, namun memiliki wibawa yang stabil. Ia merogoh saku celananya dan menyodorkan selembar sapu tangan kain berwarna biru gelap yang masih terlipat sangat rapi
Alea mendongak dengan wajah yang kacau. Air mata membasahi pipinya. Ia menatap pria asing itu dengan tatapan defensif. “Aku... aku nggak butuh kasihan siapa pun,” bisik Alea ketus.
“Ini bukan kasihan. Ini hanya refleks manusiawi saat melihat seseorang yang hampir kehilangan kesadaran di pinggir jalan yang berdebu,” balas Aksa dingin namun logis. “Ambil saja. Wajahmu sangat berantakan.”
Alea terdiam. Ketegasan pria itu entah bagaimana memaksa Alea untuk menurut. Ia menerima kain halus itu. Saat jemarinya bersentuhan dengan kain tersebut, wangi maskulin yang elegan, dingin, dan bersih tercium.
“Terima kasih,” gumam Alea sambil menyeka wajahnya dengan kasar.
Aksa mengangguk singkat. Ia berbalik menuju mobilnya. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekilas. “Cari tempat yang lebih layak untuk menangis. Jalanan ini bukan tempat yang aman untuk wanita sendirian di jam seperti ini.”
Mobil itu berlalu, meninggalkan Alea yang masih mematung memegang sapu tangan tersebut. Baru saat itulah, kesadarannya tersentak kembali ke dunia nyata.
“Motor...,” gumamnya lirih.
Ia menatap ke arah parkiran bar yang sudah agak jauh. Dengan sisa tenaga yang ada, Alea harus menyeret kakinya kembali ke sana. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, melewati orang-orang yang mungkin masih membicarakannya. Tangannya meraba saku jaket, mencari kunci motornya dengan kepanikan yang baru. Untungnya, benda logam itu masih ada di sana.
Alea menaiki motor matic-nya, menghidupkan mesin yang suaranya kini terasa memekakkan telinga di tengah keheningan jalanan. Ia memacu kendaraannya menembus angin malam yang kering menuju rumahnya.
Sesampainya di kost an, Alea duduk di tepi kasur. Ia menunduk, menatap sapu tangan biru gelap yang masih ia remas sedari tadi. Saat ia merentangkan kain itu, ia menyadari sesuatu: di sudut sapu tangan itu terdapat sulaman inisial kecil berwarna perak: A.P
Ia baru saja akan meletakkan sapu tangan itu ke meja saat ponselnya yang sedari tadi mati, mendadak bergetar sekali di dalam saku. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar kunci.
“Lupakan malam ini. Besok, kamu punya harga diri yang harus dibangun lagi.”
Alea terhenyak. Ia menatap ke arah jendela kamarnya yang terbuka sedikit, ke arah jalanan gelap di depan rumahnya. Bagaimana orang ini tahu nomornya? Ketakutan dan rasa penasaran mendadak bertarung di dalam dadanya, menggantikan rasa sakit hati yang sedari tadi mendominasi. Malam yang seharusnya sudah berakhir, ternyata baru saja membuka sebuah pintu yang tidak Alea duga sebelumnya.