Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18
Pria yang lebih tua itu tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara tenang,
"Kalau begitu izinkan kami memperkenalkan diri."
Dia sedikit menangkupkan tangan dengan sopan, sebuah salam yang biasa digunakan orang kota.
"Namaku Zhao Lin."
Dia lalu menunjuk pria di sampingnya,
"Dan ini temanku, Chen Bo."
Chen Bo mengangguk ringan sambil masih memandangi potongan roti di tangannya.
"Harus kuakui, rasa roti ini benar-benar berbeda dari yang pernah ku makan."
Penduduk pasar yang berdiri di sekitar mereka juga masih mencium aroma roti yang baru dipanaskan tadi, beberapa orang bahkan mulai berbisik-bisik,
"Roti keluarga Yin memang enak."
"Tapi yang barusan di bawa gadis itu lebih harum lagi."
Zhao Lin kembali menatap Yin Yin dengan tatapan serius,
"Gadis kecil, kami bekerja di sebuah restoran di kota."
Yin Yin pura-pura terkejut sedikit, meskipun sebenarnya Dia sudah tahu dari sistem.
"Oh? Restoran?"
Chen Bo mengangguk, "Benar, restoran tempat kami bekerja bernama Paviliun Anggrek Harum."
Beberapa pedagang pasar yang mendengar langsung terkejut,
"Paviliun Anggrek Harum? Kau dengar itu?
"Itu restoran besar!"
"Benar-benar beruntung kalau keluarga Yin bekerja sama dengan mereka".
Namun Yin Yin tetap terlihat tenang, di dalam pikirannya, sistem kembali berbunyi.
DING!
[Target restoran terkonfirmasi]
[Misi utama, menjual resep ke restoran kota]
Yin Yin menahan senyum kecil, "Sepertinya sistem benar-benar membantu kali ini."
Zhao Lin melanjutkan, "Restoran kami sedang mencari hidangan baru, banyak restoran lain mulai bermunculan di kota, jadi kami harus terus menambah menu baru."
Chen Bo menatap Yin Yin penuh rasa ingin tahu, "Kalau kamu benar-benar punya resep lain seperti yang kamu katakan tadi, mungkin manager kami akan tertarik."
Yin Chen yang berdiri di samping langsung menatap kakanya dengan mata berbinar, "Kakak, kita benar-benar bisa menjual resep di restoran kota?"
Yin Yin tersenyum kecil lalu mengangguk, namun sebelum menjawab pertanyaan Zhao Lin, Dia menoleh sebentar ke arah ayahnya, Yin Guo Shan sejak tadi memperhatikan percakapan itu dengan hati-hati, bagaimanapun juga, Yin Yin masih anak kecil.
Zhao Lin sepertinya mengerti keraguan itu, Dia berkata dengan nada lebih lembut,
"Tuan Yin, jangan khawatir kami tidak berniat buruk."
"Kami hanya ingin mengundang putri anda datang ke kota besok untuk menunjukkan masakannya kepala manager restoran kami."
Chen Bo juga menambahkan, "Kalau manager menyukainya, restoran kami bisa membeli resepnya."
Mendengar kata 'membeli, Yin Chen langsung memegang kantong uang mereka dengan erat.
Yin Yin berpikir sebentar, lalu Dia berkata dengan tenang, "Baiklah." Semua orang menatapnya, Yin Yin melanjutkan, "Besok aku dan ayahku akan datang ke kota.
Zhao Lin terlihat senang mendengar jawaban itu, "Bagus, besok pagi kami akan kembali ke pasar ini, kalau kalian siap, kami bisa mengajak kalian ke kota bersama."
Yin Yin mengangguk, "Baik."
Angin pagi kembali berembus melewati pasar desa Shanyin. Keranjang roti keluarga Yin hampir kosong sekarang, hari ini mereka menjual lebih banyak dari kemarin namun bagi Yin Yin, hal yang paling penting bukan hanya penjualan roti, melainkan peluang baru yang baru saja muncul.
Di dalam keranjang, harimau kecil perlahan membuka matanya, mata emasnya menatap Yin Yin dengan tenang seolah ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain, petualangan Yin Yin baru saja di mulai.
Bersambung