Takdir hanya membawaku jauh dari tanah kelahiranku, bukan jauh dari hidupmu, sudah sejauh ini kenapa aku masih bertemu dengan mu lagi pria Brengkes! Alea Januartha
aku mencari mu 10 tahun lamanya, kamu datang padaku dengan cara seperti ini, kenapa kamu tidak mengakui, kalau itu kamu wanita kribo, kenapa harus ada kepergian untuk kedua kalinya, Jonathan Will
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17
"Aku akan datang saat resepsi kalian berlangsung saja Mon, mana bisa aku datang ke rumahmu dan menyambut tuan Reno melamar mu."
"Aku mohon Shofia" lirih monic dari sebrang sana, Shofia hanya mempu membuang nafasnya dengan kasar, dia tidak bisa melihat atau mendengar Monic memohon padanya sejak meraka bersahabat.
"Baiklah" putus Shofia akhrinya.
Monic meminta calon suaminya untuk menjemput Shofia, dan dengan senang hati Reno menuruti keinginan Monic, kini shofia sudah berada di rumah monic.
"akhrinya kamu datang juga" ujar Monic saat melihat Shofia kini ada di hadapannya.
"bukan kah nyonya Reno yang meminta diriku datang" kelakar Shofia, keduanya pun terkekeh, jam berapa acaranya Mon?"
"nanti malam, Ayuk istirahat dulu" ajak Monic.
"baiklah Ayuk."
Malam hari pun tiba, kini seluruh keluarga Monic tengah bersiap menyambut kedatangan keluarga Reno.
"Fi sepertinya kamu agak berisi, apa hanya perasaanku saja?" Tanya Monic yang melihat Shofia sedikit berisi badannya.
"Ah iya itu hanya perasaanmu saja kali Mon, tapi iya sih, jadi pengangguran membuatku hobi makan dan tidur" ujar Shofia dengan tawa sumbang nya, mana mungkin dia jujur dengan sahabat nya ini, biarkan ini menjadi rahasianya sendiri.
"Apa kamu tidak ingin bekerja lagi, biar Reno memberimu perkejaan yang layak."
"Tidak tidak, aku ingin bersantai dulu, lagian tidak ada viola yang harus aku cukupi kan, dia sudah tinggal bersama ayahnya, dan sepertinya tabungan ku masih cukup buat makan 2 tahun kedepan" kelakar Shofia.
"Baiklah, tapi kalau kamu ingin bekerja katakan saja padaku ya."
"Siap bos" ujar Shofia sambil membentuk hormat.
"Ayo turun, tamu sudah pada datang, apa yang kalian lakukan disini" terlihat mamah Monic menghampiri keduanya di kamar.
Akhirnya mereka turun, pandangan Shofia langsung bertemu dengan Jonathan yang juga tengah mantap dirinya, ini pertemuan pertama mereka sejak 3 bulan lalu, Shofia segera membuang wajahnya ke arah lain dan enggan menatap Jonathan.
Sesi pertunangan Monic pun berjalan dengan lancar, mata Shofia berkaca-kaca menatap sahabatnya itu, akhirnya kebahagiaan menghampiri sahabat terbaiknya setelah bertahun-tahun hidup dengan hinaan dan cacian dari banyak orang, "Semoga setelah ini kamu bahagia selalu Mon, mungkin ini pertemuan terakhir kita, dan maaf Sepertinya aku tidak bisa hadir dalam pernikahan kalian, nyatanya hatiku tidak SE kuat itu jika harus bertemu terus menerus dengan tuan Jonathan" batin Shofia sambil menatap haru sang sahabat, dan berganti menatap Jonathan, pandangan keduanya pun kembali bertemu, dan lagi-lagi Shofia membuang pandangannya ke arah lain.
Semua tamu mulai menikmati makanan yang di sediakan oleh keluarga Himawan, masakan kampung justru membuat para tamu konglomerat itu antusias saat memakannya, karena rasanya yang enak.
"Shofia tunggu!" Shofia menghentikan langkahnya, wanita itu sama sekali tidak menoleh atau bergeming, karena dia tau siapa yang memanggil dirinya, "Biarkan aku bicara sebentar" pinta Jonathan.
"Tetap di tempat anda tuan, kita tidak sedekat itu sehingga saya harus mendengarkan kisah anda itu, ah dan ya, bukannya kita tidak saling mengenal, jangan lupakan yang anda katakan tuan, supaya anda tidak malu kedepannya untuk mengatakan apapun pada wanita bersosial rendah seperti saya!"
"Maaf kan saya Shofia" lirih Jonathan.
Shofia tertawa, "Maaf seperti apa yang anda inginkan tuan jonathan yang terhormat, sepertinya anda tidak membutuhkan sebuah maaf dari cleaning service seperti saya kan, jadi simpan saja maaf anda buat orang lain saja kelak, jika maaf itu masih di butuhkan!" Ujar Shofia sambil mengelus perutnya, matanya mulai tidak kuat akhir Shofia memilih berlalu dari sana dan meninggalkan Jonathan yang diam mematung.
Flashback off
"Tuan."
"Kita pulang saja!" Jonathan berdiri dari duduknya diikut Alvin dari belakang, Alvin berjalan lebih cepat saat hampir sampai di mobil Jo, segera saja pria itu membuka pintu mobil dan menunduk hormat saat Jo akan masuk.
Sudah hampir jam 12 malam, jalan sudah mulai sepi, sedangkan di dalam mobil itu hanya ada keheningan, bukan hal baru jika Jo dan Alvin bersatu tidak ada obrolan, karena keduanya hampir mempunyai karakter yang sama.
"Mansion ke dua."
Tanpa banyak berkata Alvin langsung saja membelokkan kemudi ke arah rumah Jo yang di tinggali Jesica dan Alea.
Setelah menempuh perjalan beberapa saat, Jonathan sudah sampai di kediaman keduanya, disana dengan sigap seluruh penjaga berkumpul didepan gerbang utama menyambut tuannya.
"Tuan Jo tiba pak Mun," lapor salah satu security lewat telpon nirkabel yang tersedia di pos penjaga.
Pak Mun yang mendengar itu langsung saja menuju kamar Alea sedangkan seperti biasa, Jesika tidak pernah ada dirumah ini, dan dia akan pulang jika wanita itu mau.
"Nona Alea, nona Alea" panggil pak mun dari balik pintu kamar Alea, namun Alea sama sekali tidak mendengar Itu semua, Alea masih pulas di atas sofa itu karena terlalu lelah hari ini, pak Mun sudah sangat risau, pak Mun tidak tau kalau tuannya itu akan pulang, karena tidak biasanya pulang tengah malam begini, Akhirnya pak Mun meninggalkan kamar Alea dan berlari menuju pintu utama, gerbang utama dan pintu utama cukup jauh, jadi pak Mun masih bisa segera membuka pintu buat tuan mudanya, meski ada yang lain, namun selama ini pak Mun lah yang melakukan itu semua.
"Tuan muda" sapa pak Mun setelah membuka pintu untuk Jonathan.
"Dimana dia?" Tanya Jonathan sambil berjalan ke arah tangga.
"Nona Alea sudah tertidur tuan."
Jonathan langsung menghentikan langkah dan menatap pak Mun, pak Mun yang di tatapan pun paham.
"Maaf tuan, saya sudah mencoba membangunkan nyonya Alea, namun sepertinya beliau sangat kelelahan karena baru pulang sore tadi tuan" ujar pak Mun sambil menunduk takut.
Jonathan Tidak menjawab apapun, dia meninggalkan pak Mun begitu saja, pria itu berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, namun sebelum masuk kedalam kamarnya Jo menghentikan langkahnya dan mantap kamar Alea, "Siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu mau menjadi istri kedua atas permintaan mamahku, apa segitu tidak berharganya dirimu sampai mau di tukar dengan sebuah saham" gumamnya
Jo Hanya tidak tau siapa Alea sebenarnya, namun Jonathan tau karena apa wanita itu mau menikahinya, Jo bukanlah pria kejam seperti yang orang-orang tau, dia hanya menutup dirinya dari semua orang karena masalalunya, Jo menghembuskan nafasnya kasar dan masuk kedalam kamarnya, pria itu mulai menghidupkan lampu kamarnya yang semulanya gelap gulita, pandangan pertama yang iya lihat adalah foto shofia, perempuan yang bertahta di hatinya hingga saat ini, "Dimana kamu wanita kribo, apa kamu akan membuktikan Perkataan mu itu untuk selamanya, kenapa kamu benar-benar hilang tanpa jejak, apa kamu tau kalau sahabatmu kini sudah punya 3 orang anak, bahkan dia tidak ada hentinya menanyakan kabar terbaru tentangmu," jonathan mengambil salah satu foto yang ada di nakas samping tempat tidur, pria itu menatap lekat foto wanita yang tengah memasak di dapur apartment yang ada di Indonesia, "Aku rindu makanan kambing yang kamu masakkan untukku," gumamnya.