Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Mbak Aruna!"
Suara ceria Rasya menghentikan langkahku tepat di depan mesin absensi. Aku berbalik, menemukan wanita itu sedang merangkul lengan Baskara dengan santai, sementara Baskara sendiri tampak menatap ke arah lain—seolah lantai marmer kantor jauh lebih menarik daripada keberadaanku.
"Ya, Rasya? Ada yang ketinggalan?" tanyaku tenang.
"Enggak, kok. Cuma mau ajak Mbak Aruna makan siang bareng. Kan proyek kita sudah setengah jalan, kayaknya seru kalau kita ngobrol santai di luar soal pekerjaan," ajaknya dengan binar mata yang begitu tulus.
Aku melirik Baskara sekilas. Rahangnya mengeras. Ia tampak tidak nyaman, namun ia tidak bisa melarang kekasihnya di depan umum. Gema masa lalu seolah berbisik di telingaku; dulu, aku selalu menolak ajakan makan siang Baskara dengan alasan "malas" atau "ingin sendiri", padahal aku hanya ingin berkirim pesan dengan pria lain.
"Boleh. Di mana?" jawabku singkat. Aku tidak ingin terlihat menghindar, karena menghindar hanya akan menunjukkan bahwa aku belum selesai dengan perasaanku.
"Ada resto Italia baru di seberang gedung. Bas yang pilih, katanya Mbak Aruna suka pasta yang creamy, kan?" Rasya tersenyum lebar.
Aku tertegun sejenak. Mataku beralih pada Baskara. Pria itu langsung membuang muka, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Jadi, dia masih ingat detail sekecil itu? Padahal selama dua tahun, aku tidak pernah benar-benar menghargai setiap hidangan yang ia pesankan untukku.
"Itu dulu. Sekarang seleraku sudah berubah. Tapi pasta kedengarannya bagus," balasku datar, mencoba mematikan percikan memori yang mencoba bangkit.
Restoran itu bernuansa hangat, sangat kontras dengan suasana di meja kami. Aku duduk berhadapan dengan sepasang kekasih itu. Rasya sibuk bercerita tentang hobi barunya, sementara aku mendengarkan dengan profesionalitas yang terjaga.
Baskara? Dia hampir tidak menyentuh makanannya. Ia hanya sesekali menanggapi Rasya, namun matanya terus-menerus tertuju padaku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, bingung, dan sesuatu yang tampak seperti kehilangan.
"Mbak Aruna hebat banget ya, bisa fokus banget sama karier. Bas sering bilang kalau Mbak Aruna itu orang yang paling independen yang pernah dia kenal," puji Rasya sambil menyuap makanannya.
"Independen itu cuma kata halus dari egois, Rasya," sahutku pelan namun tajam. Aku menatap Baskara tepat di matanya. "Dulu aku terlalu independen sampai lupa kalau ada orang yang tulus di sampingku. "
Baskara tersedak minumannya. Ia meletakkan gelas dengan dentuman yang cukup keras di atas meja.
Kalian... sebelumnya pernah kenal dekat ya? Maksudku, sebelum di kantor ini?" tanya Rasya hati-hati. Ia menatapku, lalu beralih pada Baskara yang wajahnya mendadak pias.
Aku meletakkan garpu dengan perlahan, memastikan tidak ada getaran di jemariku. Inilah saatnya aku benar-benar memutus gema itu. Jika aku mengakui masa lalu kami, aku hanya akan menciptakan badai baru di hubungan mereka, dan aku tidak ingin menjadi penghancur untuk kedua kalinya.
"Baru di kantor ini, Rasya," jawabku dengan nada suara yang sangat datar dan meyakinkan. Aku memaksakan sebuah senyum tipis—senyum formal yang biasa kuberikan pada klien. "Pak Baskara mungkin hanya menangkap kesan itu dari cara kerja saya yang kaku. Kami murni rekan kerja sejak proyek ini dimulai."
Aku melirik Baskara. Pria itu tampak mematung, matanya menatapku dengan sorot yang sulit terbaca—ada kilat kekecewaan, namun juga kelegaan yang getir. Ia seolah tidak percaya aku bisa berbohong sedingin itu, menghapus dua tahun sejarah kami hanya dalam satu kalimat pendek.
"Oh, begitu? Habisnya, Bas kayak tahu banget selera makan Mbak Aruna," Rasya tertawa kecil, meski sorot matanya masih menyimpan sedikit keraguan.
"Mungkin dia hanya menebak berdasarkan observasi di kantor. Pak Baskara kan orangnya sangat detail," balasku santai, lalu meminum air putihku untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering.
Baskara berdeham, mencoba menguasai suaranya yang sempat hilang. "Iya, Sya. Di kantor Aruna memang sering memesan menu yang serupa kalau ada rapat siang. Hanya tebakan profesional saja."
Kebohongan itu menggantung di udara restoran, terasa pahit di lidahku. Aku baru saja menyangkal keberadaannya di masa laluku, persis seperti yang aku lakukan dulu saat aku lebih memilih bersenda gurau dengan teman kuliahku dan mengabaikannya. Bedanya, dulu aku melakukannya karena jahat, sekarang aku melakukannya agar dia bisa tetap bahagia bersama Rasya tanpa bayang-bayang diriku.
"Maaf, sepertinya saya harus kembali ke kantor lebih dulu. Ada revisi data yang perlu saya cek sebelum jam dua," ucapku sambil berdiri dan merapikan tas.
"Yah, padahal baru mau pesan pencuci mulut," ujar Rasya kecewa.
"Lain kali saja. Terima kasih makan siangnya, Rasya. Mari, Pak Baskara."
Aku melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Begitu keluar dari restoran, udara panas Jakarta menyergapku, namun hatiku terasa jauh lebih dingin. Aku telah resmi menjadi orang asing bagi Baskara. Aku telah membunuh gema itu dengan cara yang paling kejam: menganggapnya tidak pernah ada.