Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bel pulang telah berbunyi. Saatnya anak-anak meninggalkan sekolah dengan wajah yang terlihat lelah. Begitu juga dengan Darrel. Anak itu melangkah menyusuri lorong kelas yang cukup panjang.
Namun di persimpangan jalan, langkahnya tiba-tiba berbelok menuju kantin belakang. Ia teringat mata Andin yang sembab tadi.
Sesampainya di kantin, anak itu melihat Andin sedang beberes dan hendak menutup kantinnya. Tapi lagi-lagi Darrel mendatanginya, hanya untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.
“Mbak,” sapanya pelan.
“Eh, Adek. Ngapain ke sini? Kan waktunya pulang,” sahut Andin sedikit terkejut.
“Gak apa-apa, Mbak. Aku datang ke sini cuma ingin memastikan saja,” ungkap anak itu.
Andin sedikit tertegun dengan perhatian kecil yang diberikan Darrel.
“Memastikan apa, Dek? Mbak kantin baik-baik saja kok,” sahut Andin.
“Aku cuma mau memastikan Mbak Andin sudah gak nangis lagi. Jangan sedih-sedih ya. Kalau ada yang nyakitin Mbak, bilang saja sama aku.”
Deg!
Dada Andin bergetar hebat atas apa yang barusan ia dengar. Seorang anak kecil yang begitu tulus menyayanginya. Namun bagaimana mungkin Andin bisa bercerita pada anak itu, jika luka yang selama ini ia alami justru berasal dari keluarga si kecil sendiri.
Andin masih ingat betul saat Ibu Vivian menyuruhnya untuk menjauhi anaknya, karena perbedaan kasta mereka yang begitu jauh. Namun saat itu, dengan penuh keyakinan Andin menolak tanpa pernah berpikir bahwa penolakannya itu akan menjadi bumerang.
Dan benar saja. Seminggu setelah kejadian itu, Bu Vivian menyuruh seseorang untuk menjebaknya. Tanpa sadar Andin dibawa ke suatu tempat, lalu dibuat seolah-olah ia sedang tidur dengan laki-laki lain.
“Ya Allah… kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan keluarga mereka,” batin Andin pilu.
Sebenarnya Andin ingin sekali menghindar setelah mengetahui bahwa Darrel adalah anak Nathan. Sudah pasti anak itu juga anak dari Fiesta, wanita yang ikut andil pada malam kejadian itu.
Namun melihat kebaikan dan ketulusan hati Darrel, Andin tidak tega untuk menjauhi anak itu.
“Adek, kan tadi Mbak sudah bilang kalau Mbak kantin baik-baik saja,” sahut Andin akhirnya.
“Ya sudah. Biar aku lega, aku mau bantu Mbak Andin beres-beres dan mengantar Mbak sampai depan, ya,” pinta anak itu dengan tulus.
Lagi-lagi dada Andin dibuat terenyuh. Ia benar-benar tidak bisa menolak kebaikan dari anak itu.
‘Ah, ini mah Nathan kemasan saset,’ celetuk Andin dalam hati.
Akhirnya Andin hanya bisa menghela napas pelan.
“Ya sudah, tapi cuma sampai depan gerbang saja, ya,” ujar Andin akhirnya.
Wajah Darrel langsung berbinar.
“Iya, Mbak!” jawabnya semangat.
Anak itu dengan cekatan membantu Andin membereskan beberapa kursi plastik di depan kantin. Sesekali ia mengangkat kotak minuman ringan yang tidak terlalu berat untuknya.
Andin hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Darrel.
“Udah, Dek. Sisanya biar Mbak saja,” ujar Andin.
“Tapi Mbak capek,” bantah Darrel polos.
Belum sempat Andin menjawab, tiba-tiba sebuah suara berat terdengar dari arah belakang.
“Darrel.”
Suara itu begitu dingin.
Andin langsung menoleh. Begitu juga dengan Darrel.
Deg!
Nathan berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu menatap lurus ke arah Darrel, lalu sekilas melirik Andin dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dad!” seru Darrel kaget.
Nathan melangkah mendekat dengan wajah datar. “Kamu belum pulang?” tanyanya singkat.
“Tadi… Darrel bantu Mbak Andin beres-beres,” jawab anak itu polos.
Tatapan Nathan langsung berubah tajam ke arah Andin. Perempuan itu hanya menunduk pelan, tidak berniat menjelaskan apa pun.
Nathan kembali menatap anaknya. “Masuk mobil.”
“Tapi Pa, Darrel mau antar Mbak Andin sampai depan—”
“Darrel.”
Kali ini nada suara Nathan terdengar tegas dan tidak bisa dibantah lagi, mungkin jika yang berbicara seperti itu sang Nenek. Darrel masih bisa negosiasi namun ini Daddy-nya.
Anak itu langsung terdiam. Nathan menatap lurus ke mata putranya.
“Mulai besok kamu tidak perlu lagi ke kantin belakang.”
Darrel mengerutkan kening.
“Kenapa, Dad?”
“Karena Daddy bilang begitu.”
“Padahal Mbak Andin baik,” gumam Darrel pelan.
Nathan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, entah kenapa setiap kali anaknya berucap perempuan itu baik, tatapannya berubah tajam, meskipun yang dirasakan di dalam hatinya sangat berbeda.
Kali ini Nathan kembali menatap Andin, dengan sorot yang lebih dingin, seolah menjelaskan jika dirinya tidak boleh mendekati anaknya.
“Jauhi anak saya.” Ucapan itu begitu tajam.
Dada Andin terasa sesak, namun ia tetap mencoba tenang.
“Saya tidak pernah memanggil dia ke sini, Tuan,” jawab Andin pelan.
Nathan terkekeh kecil, tapi tanpa senyum.
“Lebih baik begitu.”
Darrel menatap keduanya dengan bingung. “Pa… Mbak Andin gak salah apa-apa.”
Nathan langsung memegang bahu anak itu, agar menatap ke arahnya. “Kita pulang.”
"Tapi Pa," tolak Darrel.
"Gak ada tapi-tapian," sahutnya sambil melirik ke arah Andin dengan tajam.
Darrel masih menoleh ke arah Andin saat ia digiring pergi.
“Mbak… jangan sedih lagi ya!” serunya.
Andin hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, Dek. Hati-hati di jalan.”
Namun begitu mobil Nathan benar-benar pergi dari halaman sekolah, senyum Andin perlahan menghilang, ada sesak yang tak bisa tertahan memenuhi dadanya, belasan tahun ia mencoba mengubur semuanya, dan hatinya kembali menghangat saat anak kecil itu hadir di dalam hidupnya.
Namun kedekatan itu nampaknya harus Andin kubur lagi bersama masa lalunya yang pahit. Perempuan itu menatap kosong ke arah jalan.
“Kenapa kamu harus datang untuk menghancurkan hidupku lagi, Nathan…” gumamnya lirih.
Bersambung ....