lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28
Anya berdiri mematung di ambang pintu saat melihat Mira dan Romano berjalan menjauh dari Jantung Gaia. Baginya, pemandangan itu hampir tidak masuk akal—dua orang yang baru saja menggenggam nasib planet ini di telapak tangan mereka, kini melangkah pergi seolah-olah baru saja menyelesaikan hari kerja yang biasa.
"Kalian tidak bisa pergi begitu saja," panggil Anya, suaranya sedikit gemetar. "Dunia luar masih kacau. Pemerintah akan mencari siapa yang bertanggung jawab atas aurora ini. Korporasi yang tersisa akan memburu kalian. Kalian adalah satu-satunya yang tahu cara mengunci kembali frekuensi ini jika terjadi kesalahan."
Mira berhenti di ujung lorong kaca yang memperlihatkan pemandangan bawah laut Zero Point. Ikan-ikan laut dalam yang biasanya buta kini berenang dengan pendar keemasan di sisik mereka, mengikuti irama energi yang baru saja ia lepaskan.
"Itulah intinya, Anya," sahut Mira tanpa menoleh. "Jika aku tetap di sini, aku akan menjadi pusat gravitasi yang baru. Aku akan menjadi alasan bagi mereka untuk berperang lagi—kali ini demi mendapatkan akses ke diriku. Dengan aku menghilang, frekuensi ini milik semua orang. Ia tidak punya wajah, tidak punya pemimpin."
Romano melirik ke arah Anya, lalu ke arah helikopter ringan bertenaga resonansi yang terparkir di platform luar. "Jangan khawatir tentang kami. Kami sudah terbiasa menghilang. Dan untuk korporasi itu... mereka akan terlalu sibuk mengurusi rakyat mereka sendiri yang tiba-tiba 'terbangun' dari tidur panjang."
Mereka menaiki kendaraan tersebut. Kali ini, Romano yang memegang kendali. Saat mesin mulai berdengung pelan, Mira menyandarkan kepalanya di jendela, menatap struktur Zero Point yang perlahan mengecil saat mereka membubung ke langit.
Perjalanan pulang itu terasa sangat kontras dengan saat mereka berangkat. Di bawah mereka, kota-kota pesisir yang biasanya bising dengan lampu neon dan polusi suara, kini tampak tenang. Cahaya yang memancar dari jendela-jendela rumah bukan lagi listrik biru yang tajam, melainkan pendar hangat yang sinkron dengan alam.
"Lihat itu," tunjuk Romano ke arah sebuah pelabuhan besar.
Kapal-kapal kargo raksasa yang tadinya macet karena kegagalan sistem digital, kini mulai dibongkar secara manual oleh orang-orang yang bekerja bersama. Tidak ada kemarahan, tidak ada penjarahan. Mereka bergerak dengan ritme yang teratur, seolah-olah ada melodi yang tidak terdengar memandu tangan mereka.
"Mereka sedang menyembuhkan diri," bisik Mira. "Ingatan masa lalu yang kuberikan... itu bukan hanya tentang sejarah agung, tapi tentang bagaimana leluhur kita bertahan hidup hanya dengan tangan dan kerja sama."
Beberapa jam kemudian, garis pantai yang mereka kenal mulai terlihat. Pondok kecil itu masih berdiri di sana, terpencil di antara tebing karang dan rimbunnya pohon kelapa. Atapnya masih terlihat sedikit miring di satu sisi—jejak perbaikan yang belum selesai sebelum badai besar melanda hidup mereka.
Saat helikopter mendarat di pasir putih yang kini berpendar lembut saat disentuh air laut, keheningan menyambut mereka. Bukan keheningan yang menakutkan, melainkan kesunyian yang penuh dengan kehidupan.
Romano mematikan mesin. Ia menatap Mira, yang sedang menghirup aroma laut dengan mata terpejam.
"Kita benar-benar kembali," ucap Romano.
"Ya," sahut Mira. Ia membuka matanya dan melihat ke arah mercusuar di atas tebing. Lampunya masih berputar, namun kini cahayanya menyatu sempurna dengan sinar matahari pagi. "Tapi kali ini, kita tidak perlu lagi bersembunyi di balik rahasia."
Mereka berjalan menuju pondok. Di teras, jala ikan yang ditinggalkan Romano masih tergantung, dan mangkuk kayu di atas meja masih berisi sisa kerang dari beberapa hari lalu—sebuah fragmen dari kehidupan lama yang kini terasa sangat berharga.
Mira duduk di kursi kayu tua yang berderit, menatap hamparan samudra yang kini menjadi bagian dari dirinya. Romano berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu Mira, merasakan detak jantung wanita itu yang kini selaras dengan deburan ombak di bawah mereka.
"Jadi, apa rencana kita untuk besok?" tanya Romano dengan nada bercanda yang ringan.
Mira tersenyum, menarik tangan Romano dan mencium telapak tangannya. "Besok? Kurasa kita harus benar-benar memperbaiki atap itu sebelum hujan turun lagi. Dan setelah itu... mungkin kita bisa mulai menanam sesuatu di tanah ini. Sesuatu yang nyata."
Di kejauhan, dunia mungkin sedang berjuang untuk lahir kembali, merombak sistem, dan menulis ulang hukum peradaban. Namun di sini, di sudut kecil bumi yang terlupakan, dua manusia hanya ingin menikmati kopi di pagi hari tanpa takut akan hari esok.
Suara dari Timur telah berhenti berteriak. Sekarang, ia hanya berbisik dalam desir angin, memberi tahu siapa pun yang mau mendengarkan bahwa masa depan bukan lagi tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang siapa kita bagi satu sama lain.
Minggu pertama setelah "Penyelarasan" berlalu dengan ketenangan yang hampir tidak nyata. Dunia di luar sana, menurut radio analog tua yang berhasil diperbaiki Romano, sedang sibuk mendefinisikan ulang jati dirinya. Mata uang digital telah menguap, digantikan oleh sistem pertukaran berbasis kebutuhan lokal, dan kota-kota besar mulai belajar bercocok tanam di atap-atap gedung pencakar langit yang kini tak lagi berlistrik.
Namun di pondok pesisir itu, waktu seolah melambat.
Mira berdiri di tepi pantai, air laut setinggi mata kaki menyapu kulitnya. Ia tidak lagi perlu memejamkan mata untuk merasakan denyut bumi; koneksi itu kini permanen, seperti detak jantung kedua yang halus di belakang kesadarannya. Ia bisa merasakan migrasi paus di samudera dalam dan pertumbuhan tunas bakau di teluk sebelah.
"Kopi?" suara Romano memecah lamunannya.
Mira berbalik, melihat pria itu berjalan mendekat dengan dua cangkir kaleng yang mengepul. Romano tampak lebih santai; kerutan di dahinya yang dulu selalu muncul karena kewaspadaan kini telah memudar. Ia mengenakan kemeja linen usang yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit yang terbakar matahari.
"Terima kasih," ucap Mira, menyesap kopi pahit itu. "Bagaimana dengan atapnya?"
"Sudah selesai," jawab Romano bangga, menunjuk ke arah pondok. "Aku menggunakan serat kelapa dan beberapa lembar seng tua yang kutemukan di gudang mercusuar. Tidak akan bocor lagi, bahkan jika badai besar datang."
Mereka duduk di batang kayu yang terdampar, menatap garis cakrawala yang kini selalu dihiasi pendar keemasan tipis setiap kali fajar dan senja tiba—sebuah tanda permanen bahwa atmosfer bumi telah pulih.
"Kau merindukan mereka?" tanya Romano tiba-tiba. "Tenzin, Anya... atau beban untuk mengetahui segalanya?"
Mira terdiam sejenak, menatap uap yang keluar dari cangkirnya. "Kadang-kadang. Ada kesunyian yang aneh saat kau tidak lagi mendengar jutaan pikiran orang lain secara bersamaan. Tapi melihatmu memperbaiki atap, atau sekadar melihat kepiting kecil itu berlari... itu jauh lebih berarti daripada menjadi 'suara' bagi dunia."
Romano meletakkan lengannya di bahu Mira, menariknya mendekat. "Dunia sudah punya suaranya sendiri sekarang. Mereka tidak butuh kita untuk mendikte naskahnya lagi."
Tiba-tiba, dari arah semak belukar di belakang pondok, muncul seorang anak laki-laki setempat, mungkin berusia sepuluh tahun. Ia membawa keranjang penuh buah mangga hutan dan ikan segar. Anak itu berhenti, menatap mereka dengan mata yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu—tatapan yang kini dimiliki hampir semua anak di era baru ini.
"Ibu bilang, ini untuk penjaga lampu," ucap anak itu dalam bahasa daerah yang kental, meletakkan keranjangnya di pasir. "Terima kasih karena sudah membuat langit tidak lagi menakutkan."
Anak itu memberikan hormat kecil, lalu berlari kembali ke arah desa nelayan di balik bukit. Mira dan Romano saling berpandangan. Mereka tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi di Zero Point, namun tampaknya, secara intuitif, orang-orang mulai mengerti.
"Penjaga lampu," gumam Romano sambil tersenyum. "Kurasa itu gelar yang lebih baik daripada 'pelarian'."
Mira menyandarkan kepalanya di bahu Romano, merasakan kehangatan tubuh pria itu. Di atas mereka, mercusuar tua itu berdiri tegak. Ia tidak lagi memancarkan frekuensi putih yang menyakitkan, melainkan cahaya kuning hangat yang berputar ritmis—sebuah simbol sederhana bagi kapal-kapal nelayan yang pulang, dan bagi dua orang yang akhirnya menemukan pelabuhan terakhir mereka.
"Besok kita mulai menanam sayur di belakang," ucap Mira pelan.
"Dan lusa, kita mungkin perlu mengecat ulang pintu depan," tambah Romano.