Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Siang itu, London berselimut awan kelabu yang menggantung rendah, seolah merefleksikan kekalutan di benak Lucky Caleb.
Di dalam restoran mewah dengan pencahayaan temaram, ia duduk berhadapan dengan Renata. Namun, suasana hangat dan penuh kerinduan yang biasanya meluap-luap, kini terasa seperti panggung sandiwara yang melelahkan.
Lucky mengenakan kemeja Navy dengan kerah tinggi, sebuah pilihan yang disarankan Freya pagi tadi. Namun, dalam satu gerakan ceroboh saat ia meraih gelas air, kerah itu bergeser, memperlihatkan jejak kemerahan yang samar namun jelas di pangkal lehernya. Jejak yang ditinggalkan oleh cengkeraman dan kecupan Freya di bawah pengaruh obat semalam.
Renata, yang sedang memotong saladnya, menghentikan gerakannya. Matanya yang tajam memicing. "Luc... alergimu kambuh lagi? Merah sekali di lehermu," tanya Renata, suaranya mengandung nada khawatir sekaligus menyelidik. Ia tahu Lucky sering menderita alergi musiman yang meninggalkan bercak di kulit.
Lucky tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa bersalah yang menghujam. "Ah... ya. Udara London mungkin sedikit berbeda dengan Berlin musim ini," jawabnya singkat sambil menarik kerah kemejanya kembali ke posisi semula. Ia mengangguk kaku, tak berani menatap mata Renata terlalu lama.
Di sisi lain meja, pikiran Renata sebenarnya sedang tidak di sana. Ia tidak benar-benar peduli pada alergi itu; pikirannya tersita oleh Arthur. Pesan ancaman dari kekasih rahasianya itu menghantuinya. Ia takut Arthur akan benar-benar nekat mendatangi Lucky dan menghancurkan mimpinya untuk kembali ke puncak kejayaan bersama sang bintang. Ia harus mengikat Lucky seutuhnya, sekarang juga. Keserakahan dan ketakutan membuatnya ingin memiliki Lucky secara fisik, untuk memastikan pria itu tak akan pernah pergi lagi.
"Luc," ucap Renata saat makan siang hampir berakhir. "Bisa antar aku ke apartemenku dulu? Ada barang penting yang tertinggal sebelum aku mulai sif kerja sore nanti."
Lucky melirik jam tangannya. Pikirannya melayang pada Freya yang mungkin masih meringkuk kesakitan di sofa apartemennya. Ia ingin segera pulang untuk memastikan asistennya baik-baik saja. Namun, melihat raut wajah Renata yang memohon, ia tak kuasa menolak. "Baiklah, kita pakai mobilku sendiri saja."
Lucky mengemudikan mobilnya menembus jalanan East London yang padat.
Sesampainya di apartemen tua tempat Renata tinggal, suasana mendadak berubah. Renata tidak langsung mengambil barang-nya. Ia justru mendekat dan langsung mencium Lucky dengan agresif.
Deg.
Lucky membeku. Rasa bajingan dan brengsek menghantam kepalanya sekaligus. Baru beberapa jam yang lalu ia mencium Freya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang, dan sekarang bibir Renata menempel paksa pada miliknya. Lucky tidak membalas. Ia sungguh bingung. Ia bukan remaja labil yang mudah terbawa suasana; ia mengerti ke mana arah ciuman ini.
"Renata... jangan seperti ini, kumohon," bisik Lucky sambil mencoba menjauhkan wajahnya.
Renata menatapnya dengan napas memburu. "Kenapa? Kau tidak menginginkanku lagi, Lucky? Bukankah ini yang kita tunggu selama tiga tahun?"
Lucky menggeleng lemah. "Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya... aku tidak mau..."
Belum sempat Lucky menyelesaikan kalimatnya, Renata sudah melakukan hal yang tak terbayangkan bagi Lucky.
Di dalam apartemen kecilnya yang tanpa sekat antara ruang tamu dan ranjang, Renata melepaskan bajunya. Ia berdiri telanjang di depan Lucky, menantang pria itu dengan tubuhnya.
Lucky tersentak mundur, matanya membelalak kaget. "Renata! Pakai bajumu!"
"Aku menginginkanmu, Lucky. Sangat menginginkanmu," desis Renata sambil mencoba meraih tangan Lucky, membawanya ke ranjang.
Lucky menggeleng keras. "Aku tidak ingin, Renata. Aku tidak ingin merusakmu... dan aku sangat lelah karena jadwal yang padat."
Di dalam hatinya, Lucky merasa asing. Gadis di depannya ini bukan Renata yang ia kenal di Berlin—gadis pemalu yang selalu ia jaga kesuciannya.
Renata terus mendesah, mencoba memprovokasi insting Lucky dengan ciuman panas dan sentuhan di dadanya. Bukannya terangsang, Lucky justru merasa ia sedang mengkhianati Freya. Mengapa dalam waktu sedekat ini ia harus berada di situasi yang sama?
Anehnya, reaksi tubuh Lucky tetap diam. Ia mempertahankan kemejanya, tangannya menahan tangan Renata agar tidak membuka sabuk celananya. Ia baru saja menikmati keintiman yang sakral dengan Freya semalam. Bagaimana mungkin ia merusak Renata siang ini? Ia bukan bajingan yang bisa berpindah tubuh begitu saja.
Namun, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Renata membuat darah Lucky seolah berhenti mengalir.
"Aku akan bergerak sendiri saja, Luc. Biar aku yang memimpin," ucap Renata sambil mencoba merayap di atas tubuh Lucky yang terduduk kaku di tepi ranjang.
Deg.
Lucky tersentak, ia langsung berdiri dan mengambil selimut, menutupi tubuh Renata dengan kasar. Matanya menatap Renata dengan tajam.
"Apa maksudmu, Renata? Kau ingin memimpin? Memimpin apa?"
Renata menatap Lucky, sedikit kesal karena penolakannya. "Tentu saja. Kamu sedang alergi, mungkin lelah juga. Tidak apa-apa, aku mengerti. Jadi biarkan aku yang mengambil alih semuanya."
Lucky merasa ada yang salah. Kalimat itu bukan kalimat seorang gadis yang masih murni. Ada nada kemahiran yang tak bisa disembunyikan. "Kata-katamu sudah seperti wanita yang sangat berpengalaman, Renata."
Renata terdiam. Detak jantungnya terpacu. Ia teringat betapa Lucky selalu menjaganya dulu, memujanya seolah ia adalah porselen yang mudah pecah. Tapi Renata kini wanita dewasa; ia sudah melakukan segalanya bersama Arthur berulang kali selama setahun terakhir.
"Aku memang tidak lagi suci seperti saat kita SMA dulu, Lucky," ucap Renata dengan nada menantang, rasa bersalahnya tertutup oleh egonya. "Aku wanita dewasa. Bukankah kita sama? Aku tidak lagi perawan, dan aku tahu kamu juga tidak lagi perjaka. Di duniamu yang glamor, bergonta-ganti wanita di tempat tidurmu pasti hal biasa, bukan?"
Dunia Lucky serasa runtuh. Kalimat itu seperti tamparan keras yang menyadarkannya bahwa bayang-bayang Renata yang ia puja selama tiga tahun hanyalah ilusi yang ia bangun sendiri.
"Apa maksudmu?" suara Lucky mendalam dan dingin. "Renata... kau kira aku semurahan itu? Kau pikir aku menghabiskan waktuku di Berlin dengan tidur bersama sembarang wanita?"
"Bukankah begitu?" balas Renata pahit. "Siapa yang tahu apa yang kau lakukan diatas ketenaran mu dan juga mungkin dengan asisten bermasker itu di malam hari?"
Lucky mengepalkan tangannya. Kemarahannya memuncak bukan karena tuduhan itu, tapi karena ia menyadari betapa ia tidak mengenal wanita di depannya ini. "Pakai bajumu. Aku akan pergi."
"Lucky, tunggu!"
Lucky tidak menoleh. Ia keluar dari apartemen itu dengan langkah terburu-buru, membanting pintu di belakangnya.
Sepanjang perjalanan pulang menuju Knightsbridge, genggamannya pada setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak menyangka. Ia menjaga Renata di dalam pikirannya seolah wanita itu adalah malaikat, sementara ia baru saja menyerahkan dirinya—dan menerima penyerahan seorang Freya yang benar-benar masih suci dan tulus.
Kau salah, Renata, batin Lucky perih. Aku memang tidak lagi perjaka sejak semalam. Tapi aku melakukannya dengan seseorang yang lebih menghargaiku daripada kau yang tidak menghargai dirimu sendiri.
Lucky menginjak gas lebih dalam. Tiba-tiba, ia merindukan aroma apartemennya. Ia merindukan omelan asistennya yang kaku. Ia merindukan Freya yang—meskipun kesakitan tetap memprioritaskan kebutuhannya.
Di tengah kekacauan ini, Lucky Caleb menyadari bahwa rumah yang ia cari selama tiga tahun ternyata bukan berada di pelukan masa lalunya, melainkan pada gadis yang menunggunya di apartemen dengan langkah yang masih tertatih.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt