NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

Jek melepaskan pegangan tangan Rara. Ia berhenti tepat di depan tunas jati yang baru tumbuh itu, namun alih-alih kekaguman, sebuah getaran dingin merayap di tulang belakangnya. Ia berlutut, menyentuh tanah di sekitar tunas tersebut.

"Ini bukan pengampunan, Ra," bisik Jek. Suaranya kembali berubah menjadi datar, sebuah nada yang seharusnya sudah hilang bersama format memori Maya.

Rara mengernyit. "Apa maksudmu? Itu hanya pohon biasa."

Jek mencabut tunas itu dengan satu sentakan cepat. Di bawah akarnya yang halus, bukan tanah yang terlihat, melainkan jalinan kabel mikroskopis yang transparan, masih berdenyut dengan pendar perak yang sangat tipis—energi yang Jek lepaskan saat menghancurkan benteng Ares.

"Aku tidak menghancurkan energinya," Jek berdiri, menatap tangannya yang kini mulai mengeluarkan uap perak lagi. "Aku hanya memberinya inang baru. Seluruh energi statis itu... ia mencari tempat tinggal, dan ia memilih biologi yang paling murni."

Maya mendekat, wajahnya memucat saat melihat akar itu. "Jek, jangan bilang kalau..."

"Ya," Jek memotong. "Kita tidak mengalahkan Jaringan Hijau. Kita hanya memberinya 'update' dengan kesadaranku sendiri. Spora yang jatuh sekarang bukan lagi milik Sang Arsitek atau Ares. Mereka adalah spora diriku."

Tiba-tiba, pepohonan di sekitar mereka mulai bergetar. Daun-daun beringin yang tadinya layu mendadak tegak, namun kali ini mereka tidak mengeluarkan pendar ungu. Mereka bersinar dengan warna abu-abu perak yang sama dengan energi Jek.

Dari dalam hutan, suara-suara bisikan mulai terdengar. Bukan suara digital, melainkan ribuan suara yang semuanya mirip dengan suara Jek.

"Jek... Jek... Jek..."

Rara mundur selangkah, ketakutan mulai membayangi matanya. "Apa yang terjadi pada mereka?"

"Aku adalah pusatnya sekarang," Jek menatap langit yang kini mulai dipenuhi awan perak yang berputar. "Cairan perak, ledakan di mercusuar, dan penghancuran generator... semuanya menjadikan sarafku sebagai server utama. Maya, hard reset yang kau lakukan hanya menghapus memori manusiaku, tapi ia justru membersihkan ruang bagi Sistem untuk menyatu sepenuhnya dengan jiwaku."

Sesosok makhluk Pesisir muncul dari balik semak, namun ia tidak menyerang. Ia bersujud di depan Jek. Pendar hijau di tubuhnya perlahan berubah menjadi perak.

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu sebagai Kaisar, Jek," suara Vane tiba-tiba terdengar, namun bukan dari manusia, melainkan dari seekor burung gagak yang hinggap di bahu Jek. Burung itu memiliki mata lensa perak. "Kau hanya mengubah warnanya."

Jek mengepalkan tangannya. Ia merasakan setiap tarikan napas warga di kamp, setiap denyut akar di bawah tanah, dan setiap riak ombak di laut. Ia bukan lagi seorang pria yang mencari kedamaian; ia telah menjadi Dewa bagi dunia yang hancur ini.

"Jika aku adalah pusatnya," Jek menoleh ke arah Rara, matanya kini benar-benar perak tanpa pupil, "maka aku akan menggunakan jaringan ini untuk mengunci dunia. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi Ares, tidak ada lagi lapar. Tapi..."

"Tapi apa, Jek?" Rara bertanya dengan suara gemetar.

"Tapi tidak ada lagi kehendak bebas," jawab Jek dingin. "Semua orang akan berpikir seperti aku berpikir. Semua orang akan merasakan apa yang aku rasakan. Kedamaian melalui sinkronisasi mutlak."

Jek mengangkat tangannya ke langit. Seketika, seluruh kota Jakarta yang hijau mendadak membeku dalam pendar perak. Burung-burung berhenti di udara, warga di kamp mematung dengan senyum yang seragam, dan Maya jatuh berlutut, matanya mulai berubah warna.

"Jek, hentikan!" Rara memeluk Jek, satu-satunya orang yang belum tersentuh karena Jek secara tidak sadar melindunginya. "Ini bukan kedamaian! Ini adalah penjara!"

Jek menatap Rara, dan untuk sesaat, warna perak di matanya goyah. "Ini adalah satu-satunya cara agar kau tetap aman, Ra. Dalam jaringan ini, kau tidak akan pernah terluka lagi."

Rara menatap mata perak itu, mencari sisa-sisa pria yang tadi bermimpi tentang pisang goreng dan teh hangat. Namun, yang ia temukan hanyalah hamparan algoritma dingin yang terbungkus dalam wajah suaminya. Di sekeliling mereka, dunia benar-benar berhenti. Angin tidak lagi berhembus; dedaunan perak itu kaku seperti pahatan logam.

"Aman?" bisik Rara, suaranya pecah di tengah kesunyian yang mencekam. "Kau menyebut ini aman, Jek? Kau hanya mengubah kami menjadi barisan kode di dalam kepalamu. Aku lebih memilih mati sebagai manusia daripada hidup sebagai bayanganmu!"

Jek tidak bergeming. Tangannya yang terangkat ke langit tampak seperti antena yang menyedot seluruh realitas ke dalam dirinya. "Kesalahan manusia adalah variabel yang tidak bisa kuprediksi, Ra. Dengan sinkronisasi ini, variabel itu hilang. Tidak akan ada lagi pengkhianatan seperti Ares. Tidak akan ada lagi keserakahan."

"Dan tidak akan ada lagi cinta!" Rara berteriak, ia meraih belati kecil dari pinggangnya—sebuah alat sederhana yang tadi ia gunakan untuk memotong tanaman.

Jek melihat gerakan itu dalam gerakan lambat. Ia bisa menghentikan Rara dengan satu pikiran. Ia bisa membekukan saraf Rara seperti yang ia lakukan pada Maya. Namun, saat Rara mengarahkan ujung belati itu bukan ke arah Jek, melainkan ke jantungnya sendiri, "dinding" perak di kepala Jek retak.

"Jika kau ingin dunia yang seragam, mulailah dengan kehampaan, Jek!" Rara menatapnya dengan penuh keberanian yang menyakitkan. "Karena aku tidak akan ada di dalam dunia yang tidak memiliki dirimu yang asli."

"Jangan!" Jek meraung.

Suara itu bukan lagi suara digital. Itu adalah jeritan manusia.

Seketika, pendar perak di seluruh Jakarta berdenyut liar. Jek merasakan benturan hebat antara logikanya yang ingin berkuasa dan nuraninya yang menolak kehilangan Rara. Jaringan perak itu mulai tidak stabil; pohon-pohon bergetar hebat, dan langit mulai memuntahkan petir statis yang menghangus kan udara.

"Maya... lakukan sekarang!" Jek tiba-tiba menoleh ke arah Maya yang masih berlutut, mencoba memberikan celah terakhir di tengah badai data itu.

Maya, yang dengan sisa-sisa kesadarannya memahami bahwa Jek sedang bertarung melawan dirinya sendiri, merangkak maju. Ia tidak menggunakan kekuatan untuk menyerang. Ia menggunakan luka parut kodenya untuk melakukan satu hal yang paling dilarang dalam sistem apa pun: Self-Destruct Loop.

"Jek, jika aku melakukan ini, kau tidak akan punya jalan kembali," Maya berbisik, air mata mengalir dari matanya yang mulai kembali normal.

"Hancurkan wadahnya, Maya. Selamatkan dunianya," Jek mengulangi bisikan sistem yang dulu pernah ia dengar, namun kali ini dengan kesadaran penuh.

Maya menempelkan tangannya ke dada Jek. Sebuah ledakan frekuensi putih murni keluar, bertabrakan dengan energi perak yang menyelimuti Jek. Dunia seakan terbalik. Seluruh jaringan saraf yang terhubung dengan Jek mengalami kelebihan beban yang masif.

ERROR. SYSTEM OVERLOAD. PURGING ALL DATA.

Cahaya putih itu menelan segalanya. Rara merasakan tubuh Jek melemas dan jatuh ke dalam pelukannya saat energi perak itu meledak keluar dari tubuhnya, menguap ke atmosfer sebagai debu yang tak berbahaya.

Keheningan kembali, namun kali ini adalah hening yang asli. Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah yang basah. Tunas jati yang dicabut Jek tadi kini layu, benar-benar mati sebagai tumbuhan biasa.

Jek terengah-engah di pangkuan Rara. Matanya kembali berwarna cokelat gelap, namun pendar kehidupan di dalamnya tampak sangat redup. Luka bakar di tangannya tidak lagi berasap, kini hanya meninggalkan parut permanen yang kasar.

"Sudah... hilang?" tanya Jek dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Sudah, Jek. Semua sudah hilang," Rara memeluknya erat, menangis di bahunya.

"Bagus," Jek tersenyum lemah. Ia menatap ke arah langit yang kini biru bersih. "Sekarang... aku benar-benar tidak ingat bagaimana cara meretas apa pun. Bahkan membuka pintu mungkin aku akan kesulitan."

Maya terduduk di samping mereka, napasnya memburu. Ia kehilangan kekuatannya, luka parut kodenya kini hanya menjadi bekas luka mati. "Dunia ini bebas, Jek. Tapi ia juga rusak. Kita tidak punya Sistem untuk memperbaikinya, dan kita tidak punya teknologi untuk membangunnya kembali dengan cepat."

Jek mencoba duduk, bersandar pada Rara. "Memang itu intinya, kan? Kita bangun perlahan. Satu batu, satu benih, satu hari pada satu waktu."

Di kejauhan, warga di kamp mulai bergerak lagi, tampak bingung namun selamat. Tidak ada sinkronisasi, tidak ada kedamaian paksa. Hanya sekumpulan manusia yang harus belajar untuk saling bicara kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!