Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - MASUK KANDANG SINGA
MINGGU KE-8 LATIHAN
"Kamu yakin tentang ini?" tanya Pak Dharma, menatap Akselia yang berdiri di depan cermin besar dojo.
Akselia menatap refleksinya. Perempuan di cermin bukan lagi Akselia yang dua bulan lalu tergeletak di lantai apartemen sambil berdarah-darah. Rambut panjangnya sudah dipotong pendek sebahu, diwarnai cokelat gelap, beda jauh dari hitam natural rambut aslinya. Tubuhnya kembali berotot, terdefinisi. Mata yang tadinya kosong sekarang tajam, penuh keyakinan.
"Aku yakin," jawabnya tanpa ragu.
"Arjuna Mahendra bukan orang sembarangan," lanjut Pak Dharma. "Dia pesaing terberat Kevin di dunia bisnis. Kalau kamu masuk ke perusahaannya, kamu akan berhadapan langsung dengan Kevin cepat atau lambat."
"Justru itu yang aku mau."
Pak Dharma mengangguk perlahan. Dia sudah tahu tidak ada gunanya melarang Akselia kalau gadis itu sudah memutuskan sesuatu.
"Aku sudah bicara dengan Arjuna kemarin. Dia setuju untuk wawancara kamu hari ini. Tapi..." Pak Dharma mengangkat jari, "...dia bukan orang bodoh. Kalau dia curiga kamu punya agenda tersembunyi, dia akan tolak kamu mentah-mentah."
"Aku tidak akan buat dia curiga."
"Bagus. Sekarang pergi. Jangan sampai telat."
***
KANTOR MAHENDRA GROUP - JAKARTA PUSAT
Gedung pencakar langit dengan kaca berwarna biru gelap, lobi megah dengan lantai marmer dan lampu kristal. Resepsionis cantik dengan seragam rapi.
Akselia melangkah masuk dengan kepala tegak. Dua bulan latihan intensif tidak hanya mengubah tubuhnya, tapi juga caranya membawa diri. Tidak ada lagi bahu membungkuk, tidak ada lagi tatapan menunduk. Sekarang dia berjalan seperti predator... tenang tapi berbahaya.
"Saya ada janji dengan Tuan Arjuna Mahendra," katanya pada resepsionis. "Nama saya Selia Ananta."
Nama samaran. Akselia Kinanti sudah mati. Yang hidup sekarang adalah Selia Ananta, identitas baru, riwayat baru, kehidupan baru.
Resepsionis mengecek komputer. "Baik, Nona Selia. Silakan naik ke lantai dua puluh lima, asisten Tuan Arjuna sudah menunggu."
Di lift, Akselia menarik napas panjang. Menenangkan detak jantung yang mulai cepat, bukan karena gugup. Tapi karena antisipasi.
Ini langkah pertama.
Lantai dua puluh lima. Pintu lift terbuka ke koridor panjang dengan karpet tebal. Seorang perempuan berusia tiga puluhan menunggunya. Kacamata tebal, rambut dikonde rapi, senyum profesional.
"Nona Selia? Saya Ratih, asisten pribadi Tuan Arjuna. Silakan ikut saya."
Mereka berjalan melewati beberapa ruang kerja. Karyawan sibuk dengan komputer dan telepon, suasana profesional tapi tidak kaku. Berbeda jauh dengan bayangan Akselia tentang perusahaan besar.
"Ini ruangan Tuan Arjuna." Ratih mengetuk pintu kayu jati besar. "Permisi, Pak. Nona Selia sudah datang."
"Masuk."
Suara bass dalam. Berwibawa.
Pintu terbuka, ruangan luas dengan jendela besar menghadap kota. Meja kerja kayu solid di tengah, dan di belakang meja itu...
Arjuna Mahendra.
Pria berusia awal tiga puluhan dengan kemeja putih lengan digulung, jas tergantung di sandaran kursi. Wajahnya tegas, rahang kotak, mata tajam berwarna cokelat gelap, rambut hitam disisir rapi ke belakang. Berbeda dengan Kevin yang tampan dengan cara yang halus, Arjuna tampan dengan cara yang... berbahaya.
"Nona Selia." Arjuna berdiri, mengulurkan tangan. "Arjuna Mahendra."
Akselia menjabat tangannya, genggaman kuat... tegas. "Selia Ananta. Terima kasih sudah mau menemui saya, Tuan Arjuna."
"Panggil Arjuna saja, silakan duduk." Dia menunjuk kursi di depan meja. "Pak Dharma bilang kamu tertarik jadi pengawal pribadi?"
"Benar."
Arjuna menatapnya dari atas ke bawah. Tidak meremehkan, tapi menilai. "Kamu tahu posisi ini bukan main-main? Aku butuh orang yang bisa lindungi aku dari ancaman fisik. Kamu?tanpa menghina... terlihat terlalu... kecil untuk pekerjaan ini."
Akselia tersenyum tipis. "Penampilan bisa menipu, Tuan."
"Arjuna... Dan ya, penampilan memang bisa menipu. Tapi di dunia nyata, ukuran dan kekuatan tetap penting."
"Kalau begitu," Akselia berdiri, "boleh saya tunjukkan?"
Arjuna mengerutkan kening. "Tunjukkan apa?"
"Bahwa ukuran bukan segalanya."
Hening sebentar, lalu Arjuna tertawa. Tawa rendah yang penuh ketertarikan. "Kamu serius?"
"Sangat serius."
Arjuna berdiri, membuka kancing mansetnya. "Baiklah. Ratih, kosongkan ruangan sebentar."
Ratih yang masih berdiri di pintu terlihat bingung. "Tapi Pak..."
"Tidak apa-apa, keluar."
Setelah Ratih keluar, Arjuna menggeser meja ke samping, memberi ruang kosong di tengah.
"Aturannya sederhana," katanya sambil meregangkan leher. "Kamu coba jatuhkan aku. Kalau berhasil dalam satu menit, kamu diterima."
"Dan kalau tidak berhasil?"
"Kamu pulang dan lupakan pekerjaan ini."
Akselia melepas blazer tipisnya, menyingsingkan lengan kemeja. "Siap kapan saja."
Arjuna mengambil posisi... kaki stabil, tangan siap. Bukan posisi amatir, pria ini pernah latihan bela diri.
"Mulai," katanya.
Akselia tidak langsung menyerang, dia mengamati dulu. Cara Arjuna berdiri, cara matanya bergerak, cara napasnya teratur. Dia bukan pemula, mungkin pernah latih Muay Thai atau Jiu Jitsu.
Arjuna menyerang duluan, jab cepat ke wajah Akselia.
Akselia miring, hindari dengan mudah. Arjuna lanjutkan dengan tendangan rendah, Akselia lompat mundur.
"Kamu cuma menghindar?" tanya Arjuna, sudah mulai berkeringat.
"Aku sedang belajar."
"Belajar apa?"
"Kelemahanmu."
Akselia maju. Feint kiri, Arjuna bereaksi lalu Akselia merendah, menyapu kaki kanan Arjuna dengan tendangan rendah kuat. Arjuna kehilangan keseimbangan, tapi cepat pulih.
Dia balas dengan kombinasi tangan cepat, jab-jab-hook. Akselia menangkis semua, lalu masuk ke jarak dekat. Tangan kirinya mengunci lengan Arjuna, kaki kanannya mengait kaki Arjuna dari belakang.
Satu gerakan halus...
Bruukkk
Arjuna terjatuh ke lantai.
Akselia berdiri di atasnya, napas masih teratur. "Lima puluh dua detik."
Arjuna terbaring, menatap langit-langit, lalu tertawa keras. "Sialan! Pak Dharma tidak bercanda soal kamu."
Akselia mengulurkan tangan. Arjuna menerimanya, berdiri dengan bantuan Akselia.
"Kamu diterima," katanya sambil membersihkan debu di celananya. "Mulai besok, gaji sesuai standar pengawal profesional plus bonus."
"Terima kasih."
"Tapi..." Arjuna menatapnya tajam, "...aku tahu kamu punya agenda lain."
Jantung Akselia berdegup kencang, tapi wajahnya tetap tenang. "Maksud Anda?"
"Perempuan sekuat kamu, dengan latar belakang petarung profesional menurut Pak Dharma, tidak mungkin tiba-tiba mau jadi pengawal tanpa alasan tertentu." Arjuna menyilangkan tangan di dada. "Aku tidak peduli apa agendamu, selama tidak merugikan perusahaan atau keselamatanku. Tapi kalau kamu khianati aku..."
"Aku tidak akan mengkhianati Anda," potong Akselia. Matanya menatap langsung ke mata Arjuna, tidak berkedip. "Saya berjanji."
Arjuna menilainya lama, lalu mengangguk. "Bagus... Besok jam delapan, jangan telat."
***
MALAM HARI - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia duduk di kasur, menatap ponselnya. Aplikasi media sosial terbuka. Akun Kevin Pratama.
Foto terbarunya diunggah tiga jam lalu. Kevin dan Karina di restoran mewah, tersenyum bahagia. Caption Makan malam bersama calon istri. Tidak sabar untuk hari bahagia kami.
Komentar membanjiri... selamat, pasangan sempurna, semoga langgeng.
Akselia menutup aplikasi. Tidak ada amarah yang meledak seperti dulu, hanya senyum tipis... Dingin...
"Nikmati saja kebahagiaanmu, sementara saat masih bisa," bisiknya pada layar gelap ponsel. "Karena sebentar lagi, aku akan masuk ke duniamu. Dan kamu tidak akan tahu siapa aku sampai semua terlambat."
Dia berbaring, menatap langit-langit. Besok, fase baru dimulai.
Besok, Selia Ananta... pengawal pribadi Arjuna Mahendra, akan masuk ke dunia elite yang sama dengan Kevin Pratama.
Dan permainan sebenarnya, baru akan dimulai.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?