Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anomali tak terdeteksi
Malam turun perlahan di tengah-tengah kota, membawa suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan menyala redup, dan lalu lintas tidak seramai hari-hari normal. Wabah yang menyebar membuat banyak orang memilih tetap berada di rumah. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak—diam, tersembunyi, dan terencana.
Di dalam Rumah Sakit Pusat Argena, khususnya di lantai yang tidak tercatat dalam sistem publik—Level 3—ketenangan justru terasa… tidak alami.
Ruangan itu luas, dipenuhi layar digital yang menyala dalam cahaya dingin. Data terus mengalir, grafik bergerak, angka berubah setiap detik. Sistem berjalan seperti biasanya—sempurna, presisi, tanpa kesalahan.
Setidaknya… sampai beberapa saat yang lalu.
Salah satu layar utama berkedip singkat.
Hanya sepersekian detik.
Namun bagi mereka yang bekerja di sana, itu bukan hal kecil.
Seorang pria berdiri di depan panel utama. Jas medisnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, dan ekspresinya nyaris tanpa emosi. Ia dikenal sebagai Koordinator Medis fasilitas tersebut. Namun bagi sebagian orang di ruangan itu, ia bukan sekadar manusia biasa.
“Log sistem,” ucapnya tenang.
Seorang staf segera membuka data.
“Terjadi anomali selama 3,2 detik. Sinkronisasi semua sistem sempat terputus.”
Koordinator itu tidak langsung menjawab. Matanya menatap layar, membaca setiap detail dengan cermat.
“Penyebab utamanya apa?”
“Tidak teridentifikasi.”
Jawaban itu menggantung di udara.
Beberapa orang di ruangan itu saling melirik. Tidak ada yang berani bersuara. Karena mereka semua tahu arti dari kalimat tersebut.
Tidak teridentifikasi… berarti bukan dari dalam sistem.
Berarti… ada sesuatu dari luar.
Seorang wanita melangkah mendekat. Jas lab putihnya bersih, rambutnya diikat rapi. Ia adalah Kepala Laboratorium Virologi.
“Apakah ini gangguan teknis?” tanyanya datar.
Koordinator Medis menggeleng pelan.
“Tidak ada kesalahan perangkat. Tidak ada akses eksternal. Sistem kita tertutup sepenuhnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Dan tidak ada manusia yang mampu menyebabkan ini.”
Hening.
Salah satu staf logistik di belakang menelan ludah.
“Lalu… apa itu?”
Koordinator itu akhirnya menjawab.
“…variabel tak terdeteksi.”
Kata itu sederhana.
Namun cukup untuk mengubah suasana ruangan.
Seorang pria lain maju selangkah. Posturnya tinggi, aura yang dibawanya lebih berat dibanding yang lain. Ia adalah Pengawas Proyek Distribusi—seseorang yang berada di atas sebagian besar staf di sana.
Ia membuka rekaman data.
“Fluktuasi energi ini tidak berasal dari sistem kita,” katanya. “Namun dampaknya menembus hingga ke inti struktur.”
Ia memperbesar grafik.
“Skalanya kecil… tapi sangat bersih.”
Kepala laboratorium menyipitkan mata.
“Bersih?”
“Tidak ada distorsi. Tidak ada residu. Seolah hanya… lewat.”
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Koordinator Medis menyilangkan tangan.
“Energi yang bisa menembus tanpa meninggalkan jejak… bukan sesuatu yang biasa.”
Ia menatap layar lebih lama.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ekspresinya berubah—hanya sedikit.
Lebih tajam.
Lebih waspada.
Belum sempat ia mengatakan sesuatu, salah satu staf berteriak pelan.
“Sir… Subjek 118 menunjukkan aktivitas.”
Semua mata langsung tertuju ke layar lain.
Grafik detak jantung yang sebelumnya datar kini bergerak tipis.
Aktivitas otak meningkat.
Namun tidak stabil.
Kepala laboratorium mendekat.
“Bukankah dia sudah dinyatakan meninggal dunia?”
“Secara klinis… iya.”
Sunyi.
Pengawas Proyek berbicara dengan suara rendah.
“Ritual belum dimulai. Tidak seharusnya ada respons.”
Koordinator Medis menatap grafik itu tanpa berkedip.
Dalam beberapa detik, ia menarik satu kesimpulan.
“Gangguan tadi… mungkin telah menyentuh mereka.”
Kalimat itu tidak dijelaskan lebih lanjut.
Namun cukup membuat beberapa orang di ruangan itu merasa… tidak nyaman.
Sesuatu yang seharusnya tidak bereaksi… justru bergerak.
Sesuatu yang seharusnya terkendali… mulai berubah.
Dan mereka tidak tahu kenapa.
“Perketat keamanan,” kata Koordinator akhirnya.
“Tidak ada akses ke Level 3 tanpa otorisasi ganda.”
Pengawas Proyek menambahkan, “Pantau semua anomali. Sekecil apa pun.”
Semua mengangguk.
Namun dalam hati mereka, satu pertanyaan muncul bersamaan—
Apa yang baru saja menyentuh tempat ini?
—
Jauh dari sana, di sebuah rumah yang tenang, seseorang yang menjadi jawaban dari pertanyaan itu… sedang duduk santai.
Douma bersandar di kursinya, di depan meja belajar.
Ruangan itu terlihat biasa.
Rapi.
Tenang.
Tidak ada yang mencolok.
Namun di hadapannya, terbuka sebuah sistem cahaya transparan—layar yang melayang di udara, menampilkan peta kota secara detail.
Titik-titik merah menyala di berbagai lokasi.
Zona penyebaran.
Area infeksi.
Namun Douma tidak tertarik pada semua itu.
Ia hanya fokus pada beberapa titik tertentu.
Titik yang… tidak seharusnya ada.
Ia menggerakkan jari perlahan.
Layar merespons.
Data berubah.
Pola muncul.
“Hm…”
Ia mengamati tanpa tergesa.
“Tidak acak.”
Ia memperbesar salah satu titik.
Lalu yang lain.
Kemudian yang lain lagi.
Semua membentuk pola yang sama.
Seperti jalur.
Seperti… distribusi.
Douma menyandarkan kepalanya ke tangan.
Tatapannya kosong.
Namun pikirannya bergerak cepat.
“Wabah… hanya permukaan.”
Ia mengetuk udara sekali lagi.
Data tambahan muncul.
Energi.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun bagi dirinya—
sangat jelas.
“Dan ini… inti permainan.”
Ia tersenyum tipis.
Tidak ada kegembiraan di sana.
Hanya ketertarikan.
“Menarik.”
Ia memejamkan mata sejenak.
Mengulang kembali apa yang ia rasakan sebelumnya.
Gangguan kecil.
Sangat kecil.
Hanya serpihan dari kekuatannya.
Namun efeknya…
cukup besar.
Sudut bibirnya terangkat.
“Dan mereka langsung bereaksi.”
Ia terkekeh pelan.
“Padahal itu bahkan belum apa-apa.”
Ia membuka mata.
Tatapannya kini lebih tajam.
“Struktur. Sistem. Hierarki.”
Ia menghela napas ringan.
“Kalian tidak pernah berubah.”
Dengan satu gerakan kecil, sistem cahaya di depannya berubah drastis.
Lapisan data terbuka.
Bukan data biasa.
Bukan sesuatu yang bisa diakses manusia.
Tanpa perlu meretas.
Tanpa perlu menembus.
Ia hanya… melihat.
Dan seluruh kebenaran terbuka begitu saja.
Ruangan Level 3.
Orang-orang di dalamnya.
Aktivitas mereka.
Peran masing-masing.
Semua tersusun rapi di hadapannya.
Koordinator.
Pengawas.
Dokter.
Perawat.
Staf logistik.
Petugas kebersihan.
Semua memiliki peran.
Semua terhubung.
Dan semuanya… bagian dari satu sistem.
Douma menatap itu semua dengan ekspresi datar.
“…lengkap juga.”
Ia membaca dengan cepat.
Memahami tanpa perlu waktu.
“Wabah sebagai kedok.”
“Manusia sebagai bahan.”
“Dan kematian sebagai proses.”
Ia menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi.
Senyumnya muncul lagi.
“…klasik.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu ia menambahkan dengan nada ringan,
“Tapi tetap saja… murahan.”
Ia menutup sistem itu perlahan.
Layar cahaya menghilang satu per satu.
Ruangan kembali sunyi.
Douma menatap langit-langit.
Hening.
Tidak ada ekspresi.
Seolah semua yang baru saja ia lihat… tidak berarti apa-apa.
Namun pikirannya tetap bekerja.
Cepat.
Terstruktur.
Dan jauh lebih dalam dari yang terlihat.
“Ayah…”
Ia bergumam pelan.
Ia tahu.
Ayahnya masih di sana.
Masih hidup.
Masih bergerak di dalam sistem itu.
Namun belum menyadari keseluruhan kebenaran.
Douma menghela napas.
“Kalau begitu… biarkan saja dulu.”
Ia menutup mata.
Seolah memutuskan sesuatu.
“Aku tidak akan ikut campur… untuk sekarang.”
Sudut bibirnya kembali terangkat.
Senyum tipis yang tidak sepenuhnya ramah.
“Aku akan menikmati ini.”
Ia membuka mata perlahan.
Tatapannya tenang.
Namun dalam.
“Kalian…”
Ia berkata pelan.
“…berada di dunia yang salah, enyahlah kalian.”
Hening kembali memenuhi ruangan.
Di luar, kota tetap sunyi.
Di dalam rumah sakit, sistem kembali berjalan seperti biasa.
Dan di antara semua itu—
tidak ada yang benar-benar menyadari…
bahwa permainan mereka telah dilihat sepenuhnya.
Oleh seseorang yang bahkan belum mulai bergerak.