NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - Only You

Sore harinya, aku pulang kerja dengan ojek online seperti pagi tadi. Henry sempat mengirimiku pesan, menyuruhku menunggu di mini market dekat kantor supaya kami bisa pulang bersama. Tapi aku menolaknya. Aku tidak mau sampai orang-orang tahu bahwa aku dan Henry pulang ke tempat yang sama.

Akhirnya aku sampai lebih dulu di apartemennya.

Begitu masuk, aku langsung menghapus riasan dan mandi. Air dingin membasahi tubuhku—segar sekali. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut, dan mendapati Henry tertidur di sofa. Di meja ada makanan. Sepertinya dia membelikannya untuk makan malam kami.

Aku mendekat. Sempat melihat makanan itu sebentar, lalu aku duduk di lantai, bersandar pada sofa sambil menatap wajah Henry. Aku mengusap keningnya pelan.

Tiba-tiba kelopak matanya bergerak. Henry membuka mata.

“Eh, maaf… aku bikin kamu kebangun ya?” ucapku buru-buru.

“Aku nggak tidur kok,” jawabnya lirih. “Cuma pejamin mata sebentar.”

“Oh.” Aku mengangguk canggung. “Ya udah, sana mandi.”

Henry bangun dan duduk. “Ayo duduk sini.” Dia menepuk sofa pelan.

Aku pun naik duduk di sampingnya. Tanpa ragu, Henry memegang kedua tanganku. Pandangannya menelisik wajahku begitu dalam.

“Lili…” suaranya pelan. “Perasaan kamu ke Arvin gimana?”

Aku langsung menatapnya, kaget. “Hah? Kok tiba-tiba nanya gitu?”

“Pengen tahu aja.”

“Kak… denger ya.” Aku menatap balik dengan serius. “Nggak ada apa-apa antara aku dan Arvin. Dia cuma rekan kerja. Itu aja. Lagian dia lebih muda. Aku nggak suka cowok lebih muda.”

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, lalu justru mengambil tangan Henry dan menaruhnya di dadaku.

“Di sini cuma ada satu orang yang aku cintai. Bukan sekadar suka… tapi cinta. Dan itu kamu.” ucapku lembut. “You're the only one.”

Henry menghela napas pelan lalu memelukku erat.

“Kak…” panggilku pelan.

“Aku takut kehilangan kamu,” katanya perlahan. “Aku takut kamu lebih cocok sama Arvin karena kalian punya banyak kesamaan.”

Aku melepaskan pelukannya dan menggenggam tangannya kuat.

“Memang menyenangkan punya pasangan yang sefrekuensi… tapi hatiku ini justru milih orang yang beda frekuensi tapi selalu perhatian sama aku.” ucapku. “Kak… sebelum aku suka semua hal tentang Korea, sebelum aku suka Kim Joon, aku suka sama kamu duluan. Jadi jangan khawatir.”

Henry mengangguk kecil.

Aku tersenyum dan mengecup bibirnya cepat. “Kalau aku punya perasaan sama Arvin, aku mana mungkin main sama kamu kemarin.”

Tanpa jeda, Henry menarik tubuhku dan mencium bibirku. Ciumannya pelan tapi dalam, seperti ada ketakutan yang ia sembunyikan. Aku membalasnya, melingkarkan tangan ke lehernya. Kami tenggelam dalam ciuman itu cukup lama—lebih lama dari biasanya—karena Henry tidak ingin melepas.

Tak lama akhirnya dia berhenti, dahinya menyentuh dahiku.

“I don't want to lose you. I want us to be together forever.” ucapnya rendah.

Aku tersenyum kecil. “Aku juga. Sekarang sana mandi.”

Henry mengerling. “Kamu udah mandi ya? Harusnya tungguin aku, biar kita bisa mandi bareng.”

“Ah, nanti kita nggak mandi beneran.” selorohku.

Dia tertawa pendek.

“Udah sana.” ucapku sambil mendorongnya pelan.

“Iya, sayang.” jawab Henry sambil berdiri.

Aku spontan menatapnya. “Apa? Kamu manggil aku apa?”

Henry menunduk sedikit mendekat ke wajahku. “Sayang…” bisiknya sebelum mengecup bibirku dan berjalan ke kamar mandi.

Aku terpaku beberapa detik. Lalu mencubit pipiku sendiri.

“Aww!”

Sakit.

Berarti aku tidak salah dengar.

Henry baru saja memanggilku sayang.

Aku benar-benar tidak menyangka.

Selagi menunggu Henry mandi, aku menyalakan TV dan memilih film komedi Korea.

Baru sepuluh menit, aku sudah tertawa sampai perutku sakit. Filmnya benar-benar lucu—aku sampai tepuk-tepuk sofa saking tidak kuat.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Henry keluar hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya.

“Kamu lagi nonton apa sih?” tanyanya santai.

“Film komedi Korea.” jawabku sambil masih cekikikan.

Henry cuma mengangguk lalu masuk kamar untuk memakai baju. Aku terus menonton sambil menutup wajah pakai bantal tiap adegan kocak muncul.

Tak lama kemudian Henry keluar kamar, sudah rapi, dan langsung duduk di sampingku.

“Lucu banget ya filmnya?” ucapnya.

“Banget.” balasku.

Kami menonton bareng. Suasana santai, hangat, nyaman.

Sampai tiba-tiba HP Henry berdering.

Nama Ana muncul di layar.

Henry menekan loudspeaker. Aku otomatis menghentikan film itu.

“Halo, Na. Ada apa nelpon?” tanya Henry.

—Kita harus cari cara biar kita nggak nikah. Aku nggak mau nikah sama kamu.

Aku dan Henry saling pandang.

“Aku juga nggak mau nikah sama kamu. Aku juga lagi cari cara biar kita nggak nikah,” ucap Henry. “Tapi buat ngebatalin pertunangan kita yang tinggal sebentar lagi… kayaknya susah.”

Terdengar helaan napas panjang dari Ana.

—Kenapa sih kita harus dijodohin? Dan kenapa Mama kita harus sesahabat itu? Ry, kamu beneran nggak punya pacar atau orang yang kamu suka?

Aku refleks geleng-geleng, memberi kode ke Henry: jangan bilang.

“Nggak. Nggak ada.” jawab Henry cepat-cepat.

Aku lega sekali.

—Masa sih? Kamu ganteng gitu padahal…

“Lha kamu gimana?” Henry balik bertanya.

—Sebenarnya ada cowok yang aku suka, tapi kayaknya dia nggak suka sama aku. Dia cuma anggap aku temen.

Aku dan Henry berdua kaget.

Ana jarang bicara sejujur itu.

—Eh jangan bilang Mama ya? Bisa gawat nanti. Ya udah, yang tahu cuma Lia sama kamu.

“Oke.” ucap Henry.

—Ngomong-ngomong soal Lia… Lia cerita nggak kalau dia pergi dari rumah?

Aku geleng lagi. Panik.

“Nggak. Kenapa Lia pergi?” tanya Henry.

—Karena Mama ngomong sesuatu yang bikin Lia sakit hati. Dan… kalau tujuannya Mama-mama kita pengen jadi besan, kenapa bukan Lia aja yang nikah sama kamu? Kalau kamu nikah sama Lia… mau nggak, Ry?

Aku dan Henry sama-sama tercengang.

“Pendapatku penting? Lagian orang tua kita maunya aku nikah sama kamu,” ucap Henry. Lalu dia menatapku, mendekat sedikit. “Lagi pula… Lili mau nikah sama aku?”

Aku memelototinya pelan.

—Cewek kayak Lia kayaknya susah banget suka sama cowok. Standarnya tinggi banget.

“Oh ya? Susah dong ya kalau ada cowok yang suka sama Lili?” ucap Henry menggoda.

Aku langsung mendorong lengannya.

—Iya, susah. Soalnya dibandingin terus sama aktor favoritnya.

Tiba-tiba ada suara lain.

—Dokter Ana, pasien kamar 305 kambuh lagi.

—Ya udah ya Ry. Kalau kamu udah dapet cara biar kita nggak nikah, cepetan kasih tahu aku.

“Oke.” ucap Henry lalu menutup telepon.

Henry meletakkan ponsel di meja. Lalu menatapku.

“Coba kamu bilang lagi… kenapa kamu suka sama aku?”

Aku menarik napas.

“Karena kamu selalu baik dan perhatian sama aku dari dulu.”

“Tapi kata Ana tadi… cewek kayak kamu nggak mungkin suka sama cowok karena standarnya tinggi.”

Aku tersenyum kecil.

“Denger ya…. sebelum aku suka Korea, sebelum aku suka sama Kim Joon, aku udah suka sama kamu duluan. Jadi mau aktor seganteng apa pun… aku cuma suka sebagai fans. Yang aku cintai cuma kamu.”

Henry menatapku lama.

“Bener?”

“Bener. One and only,” jawabku. “Aku suka aktor Korea tuh… pelarian karena kamu pergi kuliah ke luar negeri. Aku sedih waktu itu.”

Henry terkejut.

“Kamu sedih waktu aku kuliah ke luar negeri?”

“Sedih banget. Karena nggak ada yang belain aku, nggak ada yang perhatian sama aku. Kak Ana… ya gitu.”

Henry memegang pipiku, lembut.

“Maaf ya. Karena keinginanku kuliah ke luar negeri, kamu jadi sendirian.”

“Nggak apa-apa. Itu kan dulu. Yang penting sekarang kamu di sini sama aku.”

Henry tersenyum, menatapku hangat.

“Iya. Sekarang, dan sampai kapan pun… aku bakal selalu ada buat kamu.”

Aku spontan memeluknya.

“Makasih, Kak… Aku sayang kamu.”

“Cuma sayang? Nggak cinta?” godanya.

Aku cekikikan.

“Iya deh. Cinta. 너무 너무 사랑해…”

“Apa itu artinya?”

“Aku sangat-sangat mencintaimu.”

Henry tersenyum kecil.

“Me too. I’ll always love you. Forever and ever.”

Sore itu berakhir dengan sederhana: dua orang yang sama-sama takut kehilangan akhirnya saling menguatkan.

Pertunangan yang menunggu di depan terasa menyesakkan, tapi untuk pertama kalinya… aku merasa Henry benar-benar memilihku, bukan hanya sekadar bersikap manis.

Dan saat Henry menggenggam tanganku sebelum kami kembali menonton film, ada perasaan yang muncul di dadaku—perasaan yang hangat… stabil… dan meyakinkan.

Apa pun yang akan terjadi nanti, kami akan hadapi bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!