NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Residu di Balik topeng Kaca

Hujan asam di Jakarta tidak hanya membasuh debu jalanan, ia mengikis segalanya—termasuk harapan. Arga menepi ke sebuah gang sempit di balik deretan gedung terbengkalai, napasnya memburu, mengeluarkan uap tipis di tengah udara malam yang lembap. Sisi bahunya koyak, kain jaketnya yang murah tersangkut pada sisa kawat berduri, membiarkan luka sayatan dari pisau taktis musuh terpapar udara dingin.

Ia tidak meringis. Rasa sakit itu bukan lagi musuh; itu adalah pengingat bahwa ia masih bernapas. Bahwa ia masih ada.

Arga menempelkan punggungnya ke dinding bata yang berlumut, memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia tidak melihat medan perang. Ia melihat wajah Sari—bukan wajah Sari yang kosong dan dikendalikan, melainkan Sari yang tertawa saat mencoba memperbaiki kompor gas mereka yang rewel di kontrakan sempit.

“Arga, jangan terlalu serius. Dunia ini sudah cukup keras tanpa kau harus menambah bebannya dengan wajah masammu itu,” suara Sari bergema, lembut namun menghujam jantungnya lebih dalam daripada pisau mana pun.

Arga membuka mata. Tatapannya kini bukan lagi tatapan haus darah seorang predator, melainkan tatapan seorang pria yang kehilangan arah di rumahnya sendiri. Ia merogoh saku, mengeluarkan bros bunga melati yang sedikit penyok. Logika narasinya berteriak; ia adalah target buronan, namun emosinya melolong, menuntut jawaban atas keberadaan gadis itu.

Apakah aku mencarinya karena dia adalah kunci, atau karena dia adalah satu-satunya alasan yang tersisa agar aku tidak berubah menjadi monster yang mereka ciptakan?

Pertanyaan itu muncul bukan sebagai kutipan filosofis, melainkan sebagai beban berat yang menghimpit dada. Arga menyadari bahwa pertumbuhan karakternya tidak diukur dari seberapa banyak tulang yang ia patahkan, melainkan dari seberapa mampu ia menjaga sisa-sisa kemanusiaannya agar tidak ikut terkikis oleh ambisi yang kini melilit hidupnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di ujung gang. Bukan langkah kaki yang terorganisir seperti pasukan Rajendra, melainkan langkah yang ragu-ragu dan ringan.

Arga memutar tubuh, punggungnya menegang. Ia tidak menggunakan kekuatan Mustika. Ia mengandalkan telinganya, mengukur jarak, mendengar ritme jantung yang tidak stabil dari seseorang di sana.

"Siapa di sana?" suara Arga parau, rendah namun berwibawa.

Sesosok bayangan muncul dari balik tirai hujan. Itu adalah seorang wanita muda, mengenakan jas hujan plastik yang sudah robek, matanya membesar karena ketakutan saat melihat Arga yang berlumuran darah. Ia bukan pembunuh. Ia hanyalah seorang wartawan lepas yang selama ini mencium aroma bangkai dari skandal Wijaya Holdings. Namanya Maya.

"Aku... aku tidak ingin melapor," suara Maya gemetar, namun tangannya yang memegang kamera mirrorless sedikit terangkat. "Aku melihat apa yang kau lakukan di Dermaga. Dan di gudang tadi. Kau tidak membunuh mereka, bukan?"

Arga menatap wanita itu. Ekspresinya datar, namun ada keraguan di sana. Logika Arga memintanya untuk membungkam wanita ini, untuk menghilangkan saksi yang bisa membawa polisi ke tempat persembunyiannya. Namun, sesuatu dalam tatapan Maya—sesuatu yang jujur dan penuh rasa ingin tahu, bukan ketakutan akan uang atau kekuasaan—membuat tangan Arga yang terkepal kembali lemas.

"Pergi, Maya," ujar Arga. Ia mengenali wanita itu dari layar berita di warnet tadi. "Kau sedang berdiri di depan badai yang akan menghancurkanmu."

"Dunia mengira kau adalah teroris," kata Maya, ia memberanikan diri melangkah mendekat. "Tapi aku punya rekaman di sini, di kamera ini. Aku melihat bagaimana kau melindungi gadis itu, bagaimana kau tidak menghabisi orang-orang yang menyerangmu. Kau bukan teroris. Kau adalah seseorang yang sedang dipojokkan, kan?"

Arga terdiam. Emosi yang lama terpendam—rasa frustrasi karena diputarbalikkan oleh narasi media milik keluarga elit—meledak dalam bentuk ketenangan yang dingin. Ia tidak lagi marah pada dunia, ia merasa kasihan pada betapa mudahnya kebenaran dibeli dengan uang.

"Kebenaran tidak butuh pembela," kata Arga, suaranya kini terdengar hidup, sarat akan kesedihan yang nyata. "Kebenaran hanya butuh waktu untuk terbongkar. Jika kau ingin menolongku, simpan rekamannya. Jangan tayangkan sekarang. Karena jika kau melakukannya, bukan hanya kau yang akan mati, tapi kau akan menghancurkan satu-satunya bukti yang bisa menyelamatkan gadis itu."

Maya terpaku. Ia melihat pria di depannya ini bukan sebagai subjek berita, melainkan sebagai manusia yang sedang memikul beban langit. Ada garis-garis kelelahan di sudut matanya, dan cara dia melindungi bros bunga melati di sakunya menunjukkan sisi pria itu yang belum pernah disentuh oleh narasi media mana pun.

"Namaku Maya," wanita itu berkata pelan. "Jika kau butuh tempat untuk bersembunyi atau akses ke data yang lebih dalam tentang keluarga Rajendra... aku tahu di mana mereka menyembunyikan arsip digitalnya. Bukan karena aku ingin pahlawan, tapi karena aku benci pada orang-orang yang merasa bisa mengatur narasi hidup kita."

Arga menatap Maya lama. Tidak ada romansa di sana, tidak ada klise pertemuan pria-wanita dalam novel. Yang ada hanyalah aliansi yang lahir dari rasa muak terhadap penindasan elit. Ini adalah emosi yang nyata—kebutuhan untuk memiliki sekutu di dunia yang ingin melihatnya musnah.

"Aku akan mencarimu jika aku membutuhkannya," kata Arga, lalu ia berbalik, menembus hujan yang makin lebat.

Di dalam dadanya, Mustika Macan Kencana bersuara, kali ini bukan untuk menghasut, melainkan untuk memperingatkan. “Dia adalah bahaya, Inang. Tapi dia adalah bahaya yang membuatmu tetap menjadi manusia. Pilihlah dengan bijak.”

Arga tahu, perjalanan ini bukan lagi tentang membalas dendam dengan otot. Ini adalah permainan catur yang kejam. Dan saat ia menghilang ke dalam kabut Jakarta, ia menyadari bahwa ia telah belajar satu hal penting: emosi bukanlah kelemahan. Emosi adalah alasan mengapa ia harus menang.

Di kejauhan, Linda Rajendra sedang duduk di depan monitor besar di kantornya, menatap layar yang menampilkan foto Arga dengan tulisan 'TERORIS BURONAN' yang dicetak dengan huruf tebal. Ia menyesap tehnya, tersenyum sinis.

"Mari kita lihat seberapa cepat kau hancur, tikus kecil," gumam Linda. Ia tidak tahu bahwa sang tikus kini tidak lagi berjalan sendirian. Ia memiliki sekutu, dan ia memiliki alasan yang jauh lebih kuat daripada sekadar bertahan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!