Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Di Depan Semua Orang
Alya hampir membatalkan.
Ia sudah berdiri di depan lemari selama lima belas menit, menatap deretan pakaian yang terasa tiba-tiba salah semua. Terlalu formal. Terlalu santai. Terlalu seperti seseorang yang berusaha.
Dan ia tidak ingin terlihat seperti itu.
Ia hanya ingin… datang.
Sebagai Alya.
Bukan sebagai mantan.
Bukan sebagai ancaman.
Bukan sebagai perempuan yang kembali setelah lima tahun.
Ibunya muncul di ambang pintu kamar.
“Mau ke mana?” tanyanya lembut.
“Ke acara kantor Arka.”
Ibunya tersenyum tipis. “Pergilah. Jangan selalu jadi anak yang lari duluan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup.
Kantor Arka tidak besar. Bangunan dua lantai dengan dinding kaca di depan dan papan nama minimalis. Lampu-lampu kecil dipasang di halaman, memberi kesan hangat dan intim.
Acara itu bukan peresmian besar. Hanya syukuran kecil proyek pertama mereka di luar kota yang akhirnya selesai.
Tapi bagi Arka, itu penting.
Dan malam ini… Alya memilih untuk hadir.
Begitu ia melangkah masuk, beberapa kepala menoleh. Tidak lama. Tidak berlebihan. Tapi cukup membuatnya sadar bahwa ia sedang diperhatikan.
Lalu Arka melihatnya.
Dan dunia terasa berhenti satu detik.
Ia tidak langsung mendekat. Seolah ingin memastikan bahwa yang ia lihat bukan harapan yang menjelma jadi bayangan.
Alya memakai dress biru sederhana. Rambutnya tergerai, riasannya tipis. Tidak mencolok.
Tapi bagi Arka, ia terlihat seperti alasan untuk bangga.
“Kamu jadi datang,” katanya pelan ketika akhirnya berdiri di hadapannya.
“Kamu pikir aku cuma PHP?” balas Alya ringan.
Arka tersenyum. “Enggak. Aku cuma takut kamu berubah pikiran.”
“Aku lagi belajar nggak kabur.”
Jawaban itu membuat mata Arka menghangat.
“Terima kasih,” katanya tulus.
Bukan hanya untuk datang malam ini.
Tapi untuk mencoba.
Beberapa rekan kerja Arka menyapa Alya dengan ramah. Obrolan ringan. Basa-basi sopan. Tidak ada yang terasa menyerang.
Sampai akhirnya, Dira mendekat.
Ia terlihat profesional seperti biasa. Dress hitam rapi. Senyum terukur.
“Alya,” sapanya.
“Dira.”
Hening satu detik.
Tidak tegang. Tapi jujur.
“Terima kasih sudah datang,” kata Dira lebih dulu. “Arka kelihatan… beda hari ini.”
Alya menoleh sekilas pada Arka yang sedang berbicara dengan klien.
“Beda gimana?” tanyanya hati-hati.
“Lebih tenang.”
Jawaban itu tidak terdengar seperti sindiran. Justru seperti pengakuan.
“Aku sempat marah sama kamu kemarin,” Dira melanjutkan pelan. “Bukan karena cemburu. Tapi karena aku capek lihat dia nunggu seseorang yang nggak pasti.”
Alya terdiam.
“Sekarang aku tahu orangnya nyata,” lanjut Dira. “Dan kalau kamu memang serius… jangan bikin dia nunggu lagi.”
Kalimat itu bukan ancaman.
Bukan juga nasihat.
Lebih seperti… penyerahan.
Alya menatap Dira lebih lama, mencoba membaca ketulusan di sana.
“Aku nggak datang buat ngerebut apa pun,” kata Alya akhirnya. “Aku cuma datang buat memperbaiki yang pernah rusak.”
Dira tersenyum kecil. Kali ini lebih tulus.
“Bagus. Karena aku nggak pernah mau jadi orang ketiga. Aku cuma nggak mau dia sendirian.”
Dan untuk pertama kalinya, Alya benar-benar percaya—
Dira bukan musuhnya.
Ia hanya bagian dari perjalanan Arka saat Alya tidak ada.
Dan itu bukan sesuatu yang perlu ia lawan.
Acara berlanjut. Tawa terdengar. Gelas-gelas berdenting pelan. Suasana hangat.
Di tengah keramaian itu, Arka berdiri dengan mikrofon kecil.
“Terima kasih sudah datang,” katanya pada semua orang. “Proyek ini bukan cuma soal kerja keras. Tapi soal tim yang mau bertahan walau sempat hampir bubar.”
Beberapa orang tertawa kecil, tahu cerita di baliknya.
Arka melanjutkan, suaranya stabil.
“Kadang dalam hidup, kita kehilangan arah. Ngerasa sendirian. Tapi kalau beruntung… kita dikasih kesempatan buat mulai lagi.”
Tatapannya menyapu ruangan.
Lalu berhenti pada satu orang.
Alya.
“Dan kalau kesempatan itu datang, jangan disia-siakan.”
Ruangan hening sepersekian detik.
Tidak semua orang tahu maknanya.
Tapi Alya tahu.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Setelah sambutan selesai, Arka kembali ke sisinya.
“Kamu sengaja ya?” bisik Alya.
“Sengaja apa?”
“Bikin aku deg-degan di depan umum.”
Arka tertawa pelan. “Itu baru sambutan. Belum yang lain.”
“Yang lain apa?”
Arka mendekat sedikit. Tidak menyentuh. Tapi cukup untuk membuat napas Alya berubah.
“Aku cuma mau semua orang tahu… kamu penting.”
Kalimat itu lebih intim daripada pelukan semalam.
Karena ini diucapkan di ruang terbuka. Tanpa sembunyi.
Alya menelan ludah. “Kamu nggak takut?”
“Takut apa?”
“Kalau nanti kita gagal lagi.”
Arka menatapnya lama. Kali ini tanpa senyum.
“Alya, gagal itu mungkin. Tapi pura-pura nggak pernah coba lagi itu pasti nyesel.”
Hening.
Lalu, tanpa banyak kata, Arka menggenggam tangan Alya.
Terang-terangan.
Di depan semua orang.
Bukan genggaman posesif.
Bukan pamer.
Hanya konfirmasi.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun—
Alya tidak menarik tangannya.
Ia menggenggam balik.
Lebih erat.
Malam semakin larut ketika acara selesai. Lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu. Udara lebih sejuk.
Alya dan Arka berdiri di luar kantor.
“Capek?” tanya Arka.
“Sedikit.”
“Nyese ldatang?”
Alya menggeleng pelan. “Enggak.”
Justru sebaliknya.
Ia merasa… resmi.
Bukan dalam arti status.
Tapi dalam arti kehadiran.
“Aku bangga kamu datang,” kata Arka.
“Aku bangga kamu nggak sembunyiin aku.”
Arka tersenyum. Kali ini lebih dalam.
Tanpa banyak bicara, ia menarik Alya ke dalam pelukan sekali lagi. Lebih yakin dari sebelumnya.
Alya membiarkan dirinya tenggelam di sana.
Tidak ada lagi keraguan tentang Dira.
Tidak ada lagi bayangan perempuan lain.
Hanya dua orang yang memilih untuk berdiri berdampingan.
Namun ketika mereka berpisah, ponsel Alya bergetar di dalam tasnya.
Nomor tak dikenal.
Ia hampir mengabaikannya.
Tapi entah kenapa, firasatnya tidak enak.
“Aku angkat dulu,” katanya pelan.
Arka mengangguk.
Alya menjauh beberapa langkah dan menerima panggilan itu.
“Halo?”
Beberapa detik ia mendengarkan.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Iya… saya anaknya.”
Suara di seberang terdengar serius.
Sangat serius.
Arka melihat perubahan itu dari jauh.
“Ada apa?” tanyanya begitu Alya menutup telepon.
Alya menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu—
Matanya dipenuhi ketakutan.
“Itu rumah sakit,” bisiknya.
“Katanya Ibu tiba-tiba sesak lagi.”
Dunia yang tadi hangat mendadak terasa dingin.
Dan tanpa sadar, tangan Alya kembali mencari tangan Arka—
Bukan sebagai mantan.
Bukan sebagai seseorang yang sedang mencoba lagi.
Tapi sebagai satu-satunya orang yang ia percaya untuk berdiri di sampingnya sekarang.
Dan pertanyaannya bukan lagi tentang cinta.
Tapi tentang kehilangan yang mungkin datang terlalu cepat.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣