NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

SALSABILLA ZAHRA KINANTI

Salsa adalah satu-satunya dari mereka lima yang tinggal sendirian.

Bukan karena tak punya keluarga. Ayahnya bekerja sebagai konsultan keuangan internasional di Amsterdam, ibunya ikut menyusul sejak Salsa kelas 10. Apartemen dua kamar di Buah Batu dibayar penuh oleh ayahnya. Mbak Dewi, ART yang tinggal bersama, memastikan kulkas selalu penuh dan cucian tak pernah menumpuk lebih dari tiga hari.

Kesepian bukan kata yang pernah Salsa ucapkan untuk menggambarkan hidupnya.

Tapi kalau dipikir lagi, kanal YouTube yang dirintis sejak kelas 10 semua konten tentang berbagi, tentang teman, tentang momen bersama sebenarnya sedang menceritakan sesuatu yang tak pernah ada di apartemen itu saat Mbak Dewi sudah tidur dan satu-satunya cahaya yang menyala hanyalah layar video call orang tua yang sinyalnya sering putus-putus.

Salsa tak membiarkan kesepian itu jadi lubang.

Dia menjadikannya bahan bakar.

Kameranya adalah cara dia menceritakan dunia. Setiap video yang mereka buat dokumentasi gerakan anti-bullying, konten kesehatan mental remaja, vlog berbagi makanan ke tukang putu dan pedagang kaki lima semua ide awalnya dari Salsa. Karena baginya, kebaikan yang tak diceritakan adalah kebaikan yang mati sia-sia. Kalau diabadikan, satu kebaikan bisa menyulut seribu kebaikan lainnya.

Di antara mereka lima, Salsa adalah yang paling ekspresif, paling vokal, paling tak bisa diam.

Tapi di apartemennya, setelah semua kamera mati… dia yang paling sunyi.

ZIDAN PRATAMA

Dan terakhir, Zidan.

Zidan adalah bukti hidup bahwa kegembiraan dan kesedihan bisa berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Ayahnya, Pak Rahmat, meninggal tiga tahun lalu. Serangan jantung mendadak di usia 47. Tak ada tanda-tanda, tak ada persiapan, tak ada kesempatan mengucapkan kata-kata yang lebih dari “hati-hati di jalan” di pagi hari terakhir mereka. Zidan masih kelas 10 saat itu. Masih dalam fase ketika seseorang belum benar-benar percaya orang tua bisa pergi secepat itu.

Yang tersisa hanyalah Bu Ratna.

Ibu pedagang ikan di Pasar Caringin yang bangun pukul tiga pagi setiap hari, tangannya selalu berbau amis meski sudah dicuci berkali-kali, matanya selalu lingkar hitam, tapi bibirnya tak pernah berhenti tersenyum begitu Zidan muncul di depannya. Bu Ratna tak pernah sekolah tinggi, tapi otaknya seperti mesin kalkulator. Omzet bulanannya bisa menyentuh tiga puluh juta dikelola sendiri, tanpa akuntan, hanya dengan buku tulis lusuh dan kepercayaan langganan setia puluhan tahun.

Semua uang itu diputar untuk satu hal: Zidan.

Sekolah terbaik. Buku yang diminta. Sepatu yang layak.

“Ibu nggak mau kamu ngerasa minder, Dan. Kamu berhak dapat yang terbaik.”

Zidan tahu itu.

Justru karena tahu, dia tak pernah berani mengeluh sepenuhnya. Tak pernah mau memperlihatkan tubuhnya yang linu, tenggorokannya yang sakit, atau bercak gelap di punggung tangannya yang diam-diam diusap ke celana.

Karena Bu Ratna sudah terlalu banyak menanggung.

Dan Zidan, dengan semua lelucon dan tawa paling keras di antara mereka, sudah memutuskan sejak lama: dialah yang akan menanggung sisanya.

Inilah mereka.

Lima orang dengan lima latar belakang yang tak mungkin dipilih algoritma sosial mana pun untuk menjadi teman. Anak konglomerat dan anak pedagang pasar. Anak dokter yang besar bersama pengasuh dan anak kesayangan yang tak pernah kekurangan perhatian. Anak yang ditinggal orang tuanya menyeberang benua, sendirian di apartemen.

Tapi tiga tahun SMP dan tiga tahun SMA mengajarkan satu hal yang tak ada di kurikulum mana pun:

Persahabatan sejati tak tumbuh dari kesamaan.

Ia tumbuh dari pilihan.

Dari keputusan untuk tetap ada, meski ada ribuan alasan lebih mudah untuk pergi.

Malam itu, ketika angkot tua menurunkan mereka satu per satu di perhentian masing-masing—Rehan dijemput mobil, Yazid berjalan kaki tiga ratus meter ke rumah besar yang selalu sepi, Runa menelepon ibunya yang sudah masuk dua kali, Salsa naik ojek online kembali ke apartemen, dan Zidan berjalan pulang dengan bau sop ayam Bu Ratna yang sudah menunggu di meja mereka semua membawa satu hal yang sama.

Minggu depan. Gunung Ciremai.

Perjalanan terakhir sebelum dunia memisahkan mereka ke arah masing-masing.

Yang belum mereka tahu: dunia tak akan menunggu sampai minggu depan untuk memulai ujiannya.

Pukul 20.00 WIB

Rumah Kecil di Gang Kenanga, Bandung Selatan

Zidan menutup pintu kamarnya pelan.

Ransel pinjaman menganga di sudut lantai. Stiker bintang glow-in-the-dark di langit-langit berpendar redup. Di luar, Bu Ratna sudah masuk kamar setelah menitipkan satu kalimat di balik pintu:

“Rendang kering-nya Ibu bikin besok ya, buat dibawa. Dua kilo.”

Zidan berbaring, menatap langit-langit.

Dadanya sesak.

UHUK.

Batuk kering meledak. Kuat. Dalam.

Zidan cepat menutup mulut dengan punggung tangan, menahan agar suara tak lolos ke kamar ibu.

Saat batuk mereda, dia menatap punggung tangannya.

Bercak kecil. Gelap. Bukan merah.

Dia mengerutkan dahi, mengusapnya ke celana.

Efek debu jalanan, pikirnya. Atau bakwan kemarin.

Dia memejamkan mata.

Di luar, angin menderu. Jendela kamarnya bergetar pelan, berulang seperti ketukan sabar yang tak mau berhenti.

Dan di suatu tempat di kaki Gunung Ciremai, di bawah lapisan tanah lembab yang tak pernah tersentuh sinar matahari, sesuatu yang tak bernama terus tumbuh dalam keheningan.

Seperti yang sudah dilakukannya selama jutaan tahun.

Menunggu.

1
tariii
kasihan pak Ujang..
NR
wkwk, iya kak, aku itu ulang ternyata 17🤣
tariii
semoga semua cepet selesai, dan mereka bisa pulang bertemu keluarga masing2..
Fittri Yani
maaf tor bukan ny 17 org ya....
kok 13 orang sih... udh bolak balik Lo aku hitung...🙏🙏🙏🙏🤭🤭
tariii
alhamdulillah.. ayah Runa baik2 saja, semoga pun dg Pak Ujang..
tariii
semoga orang2 yg pernah bersama sampai di checkpoint berhasil dievakuasi semua..
tariii
ayo.. ayo.. waktunya sarapan.. 🤭
tariii
semoga semua usaha yg sudah dilakukan ga sia2..
tariii
bagussss...👍👍👍
tariii
siapa lagi itu yg mau ke lab..?
tariii
jadi, di pihak mana sebenarnya Arief?
tariii
bintang 5 untuk cerita sebagus ini.. 👍👍👍
tariii: iya, ka.. semangatttt...💪💪😍😍😍
total 2 replies
tariii
lanjut, kak.. 👍👍👍👍
tariii
tegang 😂😂😂
tariii
tegang dan penasaran...
tariii
penasaran bangetttt...
tariii
baguuuusss...👍👍👍
tariii
semoga makin banyak yg baca.. bagus banget ceritanya.. 😍😍😍😍
tariii
💪💪💪💪
tariii
kereeeennn...👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!