NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi buruk Aurelia

Saat Malam mulai turun..

Malam yang selalu menjadi waktu paling jujur bagi seseorang.

Ketika lampu padam.

Ketika suara kota meredup.

Ketika pikiran tak lagi bisa bersembunyi di balik kesibukan.

Bagi Aurelia Kazehaya, malam menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sudah tiga hari sejak ia kembali ke sekolah.

Tiga hari sejak ia duduk di bangku taman bersama Douma.

Tiga hari sejak ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah.

Namun sesuatu mulai berubah.

Perlahan.

Hampir tak terasa.

---

Mimpi buruk Pertama

Aurelia berdiri di ruang rapat keluarganya.

Ruangan luas dengan meja kaca panjang dan layar-layar transparan mengambang di udara.

Namun semuanya berwarna merah.

Grafik turun.

Angka negatif.

Simbol peringatan berkedip tanpa henti. Mengapung tak menentu di ruangan itu seperti hantu yang membayangi.

Di ujung meja, ayahnya berdiri membelakangi.

“Ayah?” panggilnya.

Tak ada jawaban.

Para direktur di kursi mereka mulai berbisik.

Namun suara mereka tidak jelas.

Hanya potongan kalimat.

“…beban…”

“…tidak berguna…”

“…penyebab masalah…”

Aurelia mundur selangkah.

“Aku tidak melakukan apa-apa ayah…”

Suara bisikan berubah menjadi tawa pelan.

Ayahnya akhirnya berbalik.

Namun wajahnya kosong.

Tanpa mata.

Tanpa ekspresi.

“Kalau saja kau tidak ada,” katanya dengan suara datar yang menggema, “semuanya akan lebih mudah, ayah tak perlu mati-matian melindungi mu. Semua ini karna mu! ”

Lantai retak.

Grafik merah berubah menjadi tangan-tangan hitam yang meraih kakinya.

Menarik.

Menenggelamkan.

Aurelia menjerit—

Dan terbangun.

---

Napasnya tersengal.

Kamar gelap.

Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari.

Tangannya gemetar.

“Itu hanya mimpi…” bisiknya.

Namun rasa sesak di dadanya terasa nyata.

Terlalu nyata.

Ia bangun, berjalan ke jendela, membukanya sedikit.

Udara malam masuk.

Dingin.

Tapi tidak mengusir rasa takut.

Ia mencoba mengirim pesan.

Jarinya berhenti di satu nama.

Douma.

Ia menatap layar beberapa detik.

Lalu menghapusnya.

Tidak.

Ia tidak ingin terlihat lemah lagi.

---

Dimensi Iblis

Lingkaran simbol menyala redup.

Salah satu iblis tingkat menengah berlutut.

“Target mengalami distorsi mimpi pertama.”

Lucifer berdiri dalam bayangan.

“Respons emosional?”

“Ketakutan meningkat. Rasa bersalah diperkuat.”

“Dan variabel?”

“Ia belum menyadari.”

Lucifer tersenyum samar.

“Bagus. Kita tidak akan menyerang raganya.”

Ia mengangkat tangan.

Simbol-simbol hitam berputar.

“Kita serang makna hidupnya.”

---

Hari Kedua

Aurelia terlihat pucat saat berjalan menuju Koridor.

Shin berbisik pelan pada Rei, “Dia kelihatannya seperti kurang tidur.”

Rei mengangguk.

Douma tidak berkata apa-apa.

Namun ia melihat.

Detail kecil selalu tertangkap olehnya.

Gerakan jari yang tidak stabil.

Lingkar hitam tipis di bawah mata.

Fokus yang mudah buyar.

Saat jam istirahat, ia mendekat. Semua yang ada di sana memusatkan perhatian.

“Kau tidak tidur.”

Bukan pertanyaan.

Aurelia tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau berbohong.”

Ia menatapnya, sedikit tersinggung.

“Kenapa kau selalu tahu?”

“Karena kau tidak pandai menyembunyikannya.”

Hening.

Angin sore menyentuh dedaunan di luar jendela kelas.

“Aku hanya mimpi buruk,” katanya akhirnya.

“Mimpi seperti apa?”

Aurelia ragu.

Namun entah kenapa—

ia merasa aman menceritakannya.

“Semua orang menyalahkanku,” bisiknya. “Ayahku bilang kalau saja aku tidak ada, semuanya akan lebih mudah.”

Douma menatapnya lurus.

“Dan kau percaya itu?”

“Aku… tidak tahu.”

Itu jawaban paling jujur.

Douma menyandarkan punggung pada dinding.

“Pikiran manusia bisa memproduksi ketakutan paling kejam.”

“Menurutmu itu hanya pikiranku yang berlebihan?”

Ia berhenti sejenak.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Jejak tipis.

Energi yang sama seperti malam itu.

Namun kali ini lebih halus.

“Untuk sekarang,” katanya pelan, “anggap itu hanya mimpi.”

“Dan kalau itu bukan?”

Tatapan mereka bertemu.

“Kalau bukan,” suara Douma menurun setingkat, “aku akan mencarinya.”

Jantung Aurelia berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut.

Karena kalimat itu.

Aku akan mencarinya.

Sederhana.

Tapi penuh makna.

---

Mimpi Buruk Kedua

Malam berikutnya datang tanpa ampun.

Aurelia kembali terlelap.

Kali ini ia berdiri di jembatan.

Sama seperti malam itu.

Lampu kendaraan di bawah bergerak cepat seperti cahaya yang memanggil.

Namun Douma tidak ada.

Ia sendirian.

Angin berbisik.

“Kau tidak cukup kuat. Menyerahlah hahahaha”. Tawa itu menghilang dalam gema .

Suara itu bukan milik ayahnya.

Bukan milik siapapun yang ia kenal.

Namun terdengar seperti suara hatinya sendiri.

“Kau hanya beban.”

Jembatan mulai menyempit.

Pagar pembatas menghilang.

Langkahnya bergerak sendiri ke depan.

“Kau akan melompat lagi.”

“Tidak…” ia berusaha menolak.

Namun kakinya tetap maju.

Lalu—

sepasang tangan muncul dari belakang.

Bukan menariknya.

Tapi mendorong.

Ia jatuh.

Terjun bebas—

Dan terbangun lagi.

Kali ini ia menangis tanpa suara.

Jam menunjukkan 03.04.

Ia tidak mencoba tidur kembali. Hatinta dipenuhi keraguan. Namun dia tetap berusaha untuk tegar.

---

Douma Menyadari

Keesokan paginya, Douma merasakan sesuatu yang lebih jelas.

Aurelia hampir pingsan di koridor.

Ia menangkapnya sebelum jatuh. Beberapa siswa yang lewat ikut panik menjerit.

“Heh Itu Aurelia-san dia tampak tak baik-baik saja"

“ Kasihan sekali dia pasti tertekan"

“ Dia dan Douma semakin dekat akhir-akhir ini"

Douma mengabaikan semua komentar. Ia hanya merasakan.

Tangannya dingin.

Napasnya cepat.

“Kau tidak boleh terus seperti ini.”

Aurelia memaksakan senyum.

“Aku hanya kurang tidur.”

“Bukan itu.”

Ia menatap matanya.

Dan untuk sesaat—

ia melihat kilatan bayangan hitam yang tidak seharusnya ada.

Sangat tipis.

Namun ada.

Douma menyipitkan mata.

Aroma Iblis.

Mereka (iblis) menguji nya.

Bukan menyerang terang-terangan.

Mereka memancingnya.

Ia mengantar Aurelia duduk di ruang kesehatan.

“Jika aku menceritakan sesuatu yang aneh,” katanya pelan, “kau akan percaya?”

Aurelia menatapnya lelah.

“Setelah semua yang terjadi? Ya.”

“Mimpi bisa dimanipulasi.”

Ia tidak menjelaskan tentang dimensi, tentang Lucifer.

Belum waktunya.

“Dimanipulasi oleh apa?”

“Tekanan. Rasa bersalah. Ketakutan.”

“Itu terdengar normal dan masuk akal.”

“Benar,” jawabnya. “Dan itu yang membuatnya efektif.”

Hening.

“Menurutmu apakah ada seseorang yang sengaja membuatku seperti ini?”

Douma tidak langsung menjawab.

“Aku pikir,” katanya akhirnya, “kau sedang diuji.”

“Diuji?”

“Seberapa kuat kau akan bertahan.”

Aurelia tertawa kecil, lelah.

“Aku bukan karakter utama dalam cerita besar.”

Douma menatapnya dalam.

“Kau lebih penting dari yang kau kira.”

Kalimat itu membuat Aurelia terdiam lama.

---

Dimensi iblis

“Variabel mulai menyadari distorsi.”

“Bagaimana respons target?”

“Masih rapuh. Namun ada faktor pelindung.”

Lucifer memandang simbol yang merepresentasikan Aurelia.

Cahaya kecil muncul di sekitarnya.

Tipis.

Namun mengganggu jaringan gelap.

“Putuskan isolasinya,” perintahnya.

“Serang melalui hubungan.”

Salah satu iblis bertanya, “Melalui Douma?”

Lucifer tersenyum samar.

“Tidak. Melalui ketakutannya kehilangan Douma.”

---

Senja di Atap Sekolah

Aurelia berdiri di atap, memandang langit yang mulai berubah warna.

Douma datang beberapa menit kemudian.

“Kau tidak boleh sendirian di tempat tinggi,” katanya datar.

Ia tersenyum kecil.

“Aku tidak akan melompat lagi.”

“Baiklah.”

Angin berhembus lembut.

“Apa kau pernah takut?” tanya Aurelia tiba-tiba.

“Terkadang.”

“Kelihatannya tidak.”

“Aku hanya tidak menunjukkannya.”

Ia menoleh.

“Kenapa kau membantuku sejauh ini?”

Douma terdiam.

Pertanyaan itu semakin sering muncul.

“Aku tidak suka melihat seseorang dipaksa jatuh.”

“Itu saja?”

“Itu cukup.”

Aurelia menatapnya lama.

“Kalau suatu hari kau pergi dan ikut menjauh,” katanya pelan, “aku tidak tahu apakah aku sekuat sekarang.”

Douma sedikit mengernyit.

“Jangan gantungkan kekuatanmu padaku.”

“Sulit.”

“Apanya?”

“Karena saat kau ada, semuanya terasa lebih stabil.”

Hening panjang.

Jantungnya berdetak cepat.

Ia tahu perasaan ini mulai tumbuh.

Bukan sekadar terima kasih.

Lebih dalam.

“Douma…” suaranya hampir bergetar, “aku—”

Angin tiba-tiba berembus kuat.

Langit menggelap sesaat.

Suara bisikan halus terdengar di telinganya:

“Lihat. Bahkan ia akan meninggalkanmu.”

Aurelia membeku.

Ia melihat bayangan Douma berjalan menjauh.

Sendirian.

Tak menoleh.

“Tidak…” bisiknya.

Douma menyadari perubahan ekspresinya.

“Aurelia?”

Air matanya jatuh.

“Jangan pergi…”

Ia memeluknya tiba-tiba.

Tubuhnya gemetar.

Douma terdiam sesaat.

Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya dan memegang bahunya.

“Aku di sini.”

Suara bisikan itu terdistorsi.

Bayangan menghilang.

Aurelia terisak pelan.

“Aku melihatmu pergi…”

“Kau berhalusinasi? .”

Ia memegang wajahnya agar menatapnya.

“Lihat aku.”

Tatapan mereka bertemu.

Fokus kembali.

Napasnya perlahan stabil.

“Selama aku berdiri di dekatmu” katanya tegas, “aku tidak akan membiarkan sesuatu menggoyahkanmu seenaknya.”

Bukan janji selamanya.

Namun cukup.

Sangat cukup.

Aurelia memejamkan mata.

Di dalam hatinya, benih itu tumbuh semakin jelas.

Cinta.

Masih samar.

Namun nyata.

Dan justru itu yang diincar iblis.

Karena semakin kuat ia merasa memiliki sesuatu—

semakin besar rasa takut kehilangannya.

Di kejauhan, Inosuke merasakan getaran energi itu lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Ia menatap langit.

“Permainan ini mulai Rumit.”

Dan di dimensi gelap—

Lucifer menutup matanya perlahan.

“Belum,” gumamnya.

“Ini baru pemanasan.”

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!