Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Naya dengan cepat meraih bantal di sampingnya lalu melemparkannya ke arah Ardan yang hendak naik ke ranjang.
Ardan dengan sigap menangkap bantal itu. Ia tersenyum tipis, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai, seolah tindakan Naya sama sekali tidak berarti.
“Aku tahu kamu masih mencintaiku, Naya,” ujarnya dengan suara serak. “Jadi, mari kita nikmati kebersamaan ini.”
Sebelum Naya sempat bereaksi lebih jauh, Ardan sudah naik ke atas ranjang dan langsung menahan tubuh Naya di bawahnya.
“Lepaskan aku, bajingan!” teriak Naya.
Ia menggerakkan kakinya, berusaha menendang Ardan sekuat tenaga. Namun pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu. Ia hanya menyeringai lebar, menatap Naya dengan ekspresi yang membuat bulu kuduknya meremang.
“Kamu seharusnya tidak membuangku demi bajingan itu,” lanjut Ardan dengan nada rendah. “Setelah ini, dia mungkin juga akan membuangmu. Sama seperti kamu membuangku.”
Tangannya perlahan menyusuri pipi tirus Naya, sentuhan itu terasa begitu mengganggu hingga membuat Naya menahan napas.
Naya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.
Kenapa Ardan melakukan ini padanya?
Kenapa dulu, saat mereka masih bertunangan, Ardan tidak pernah berani melakukan hal seperti ini?
Dan yang lebih membuatnya takut, kenapa Ardan bisa berada di rumah ini? Ini rumah neneknya. Tempat yang seharusnya aman.
Apa Ardan sudah tahu kalau Naya akan datang?
Atau semua ini memang sudah direncanakan sejak awal?
Pikiran itu membuat tubuh Naya semakin gemetar. Ia kembali mendorong Ardan dengan sisa tenaga yang ia punya.
“Pergi dari aku!” desisnya penuh amarah.
Namun Ardan tidak bergeming sedikitpun. Tatapannya justru semakin gelap. Lalu—
Brett!
Ardan menarik paksa kain pakaian Naya hingga robek, membuat bagian atas tubuhnya tersingkap. Naya tersentak, nafasnya tercekat. Dengan refleks, ia segera menutupi dirinya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat.
“Kumohon… jangan…”
Suara Naya pecah. Bahunya bergetar, kepalanya menggeleng cepat sebagai bentuk penolakan. Matanya dipenuhi air mata, ketakutan jelas terpancar dari wajahnya.
Namun Ardan seolah sudah kehilangan kendali. Tatapannya gelap, pikirannya dipenuhi amarah dan obsesi. Ia kembali mencoba melakukan hal yang semakin melampaui batas, tangannya bergerak untuk menarik paksa pakaian Naya yang tersisa.
Baru saja tangannya menyentuh bagian bawah gaun Naya—
BRAK!!!
Pintu terbuka dengan keras hingga salah satu engselnya patah. Suara benturan itu menggema di seluruh ruangan.
Langkah kaki terdengar cepat dan berat.
Sebelum Ardan sempat bereaksi, sebuah tangan besar menariknya dengan kasar, mengangkatnya, lalu—
GEDEBUK!
Tubuh Ardan terhempas keras ke lantai. Punggungnya menghantam permukaan dingin dengan suara yang memekakkan.
Naya langsung bangkit, napasnya masih tersengal. Tanpa berpikir panjang, ia berlari dan memeluk sosok yang baru saja masuk.
“Lucio,”
Ia memeluknya erat, seolah menemukan tempat aman setelah ketakutan yang hampir menghancurkannya. Tubuhnya masih gemetar.
Lucio membalas pelukan itu, bahkan lebih erat. Tanpa berkata apa-apa, ia dengan cepat membuka kemejanya, lalu menyelimutkannya ke tubuh Naya untuk menutupi dirinya.
“Lucio!”
Ardan yang sudah bangkit kembali menatap dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
Tanpa ragu, ia menerjang ke depan.
Namun sebelum Ardan sempat menyentuh Lucio, sebuah pukulan keras datang dari belakang.
Mario.
Pria itu bergerak cepat dan tepat, menghantam Ardan hingga langkahnya goyah. Pandangan Ardan langsung berkunang-kunang, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia terhuyung, lalu jatuh kembali ke lantai.
Kali ini, tubuhnya tidak bergerak lagi.
Pingsan.
“Bawa dia.” Perintah Lucio dingin dan singkat, ditujukan pada anak buahnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Ardan. Setelah itu, seluruh perhatiannya kembali pada Naya.
“Naya, hei, tenang.”
Suaranya melunak, jauh berbeda dari nada dingin sebelumnya. Ia mengangkat tangannya, merapikan rambut Naya yang berantakan dengan gerakan hati-hati.
“Kamu aman sekarang.”
Namun tangisan Naya tidak juga mereda. Tubuhnya masih gemetar. Ia membenamkan wajahnya ke dada bidang Lucio, satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa terlindungi.
Lucio membeku sesaat.
Ia bisa merasakan betapa rapuhnya Naya saat ini. Tangannya yang sejak tadi mengepal perlahan mengendur, meskipun rahangnya masih mengeras. Amarahnya jelas belum mereda, hanya saja ia menahannya, menekannya dalam-dalam untuk saat ini.
Perlahan, Lucio mengangkat tubuh Naya ke dalam gendongannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membawa Naya keluar dari kamar itu.
Di luar, suasana terasa berbeda. Ia tidak melihat satupun orang-orang ayahnya. Sebaliknya, beberapa pria asing berdiri di berbagai sudut, berjaga dengan tatapan serius.
Naya tidak perlu bertanya.
Ia tahu, mereka semua adalah orang-orang Lucio.
“Kamu marah?” tanya Naya pelan.
Ia sedikit mendongak, mencoba melihat wajah Lucio yang sejak tadi tampak kaku dan dingin.
Lucio tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya ia membuka suara. “Aku hanya tidak suka milikku diganggu dan diusik.”
Naya hampir tersenyum kecil.
Sekilas, ucapan itu terdengar seperti seorang suami yang sedang cemburu.
Namun dalam sekejap, kesadaran itu datang kembali.
Lucio bukan cemburu.
Baginya, Naya tidak lebih dari sesuatu yang harus ia jaga, sebuah ‘milik’ yang tidak boleh disentuh orang lain.
Tidak lebih dari itu.
...***...