Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Bryan Jatuh Hati?
Bryan begitu cemas, sejak tadi dia mondar mandir di depan pintu kediamannya. Ponsel Queen tidak bisa dihubungi sejak semalam dan seharusnya wanita itu sudah datang ke sini, tetapi kenapa dia tidak kunjung terlihat.
"Sebaiknya kamu berangkat ke perusahaan, aku akan mengirim kabar padamu jika dia datang."
"Tapi, Kek, kurasa dia bukan orang yang gampang mengingkari janji, pasti terjadi sesuatu padanya."
"Sebaiknya bersabar dulu. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan menyulitkan wanita itu."
Di villa tepi pantai, Mobil Blake dan mobil Xavier tiba bersamaan. Xavier agak terkejut melihat kakak Queen ada di sana. Sebenarnya Xavier agak takut pada Blake. Selain karena dia selalu memasang ekspresi dingin, Xavier tahu betul masalah perpecahan keluarga Celeste karena kehadirannya.
"Kak, kamu di sini?" sapa Xavier, tetapi Blake mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam villa. Ada dua petugas polisi. Mereka segera mendekati Blake dan melaporkan semua kejadian berdasarkan informasi dari Queen.
Mereka juga mengatakan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta dollar. Mendengar hal itu Xavier tiba-tiba berlari masuk. Bukan untuk menanyakan kabar Queen, melainkan untuk melihat barang barangnya.
Petugas July yang berdiri di samping Queen, mendengus. Dia berpikir, jika sifat Xavier benar-benar sudah tidak tertolong. Melihat reaksi Xavier yang langsung menuju ruang ganti, Queen tersenyum getir. Dia menatap Blake dengan ekspresi terluka.
Blake mengulurkan tangannya, "Kemarilah. Biarkan aku melihat lukamu?"
Queen lantas memeluk kakaknya dan terisak. Polisi yang menangani tugas di sini saling melempar tatapan. Mereka merasa iba pada Queen.
Mendengar suara tangisan Queen, Xavier baru tersadar, jika apa yang dia lakukan itu sebuah kesalahan besar. Terlebih lagi dia melakukan kesalahan itu di depan mata Blake dan petugas polisi. Xavier memejamkan matanya erat sebelum berbalik. Ekspresinya terlihat sangat tertekan.
Dia mendekati Queen. "Sayang, apakah kamu baik-baik saja, bagaimana bisa perampok datang?"
"Ada apa dengan pertanyaanmu itu? Apakah kamu pikir adikku yang mengundang perampok itu untuk datang?"
Blake menatap Xavier dengan tajam. Auranya sungguh begitu dingin tak tersentuh. Dia masih setengah memeluk Queen. Xavier tidak berani menatap mata Blake. Dia menunduk saat berhadapan dengan kakak dari istrinya itu.
"Petugas, apakah aku sudah boleh membawa adikku pergi, dia sepertinya masih sangat syok."
"Oh, Silahkan saja tuan Celeste."
Baik petugas polisi dan Blake sama-sama tidak mempedulikan keberadaan Xavier.
"Andreas, suruh pengasuh membawa Sofia." Blake segera merengkuh bahu Queen dan membawanya keluar dari Villa. Sedangkan Xavier masih terpaku di tempatnya, menatap Blake dan Queen dengan kilatan tajam dan tangan terkepal.
"Tuan Xavier, bisakah anda ikut saya. Saya perlu meminta keterangan anda," ucap salah satu petugas polisi yang bernama Dawson.
"Petugas Dawson, benda apa saja yang hilang?" pertanyaan Xavier ini membuat petugas itu mengerutkan alisnya.
"Menurut keterangan nyonya Queen, semua barang berharga yang ada di dalam ruang ganti hilang. Bahkan isi di brankas juga raib."
"I_isi brankas raib?" wajah Xavier seketika memucat. Jika dia hanya kehilangan jam tangan itu tidak masalah, tetapi saat mendengar isi brankas juga terkuras, kakinya mendadak lemas.
Xavier jatuh terduduk di belakang, tetapi tidak ada yang mempedulikannya. Mereka pikir Xavier adalah suami yang menyebalkan. Dia lebih peduli pada hartanya dari pada bertanya pada mereka tentang kondisi istrinya saat terjadi perampokan. Mereka tiba-tiba hilang respect pada Xavier.
Sementara itu di dalam mobil Blake, Queen masih bersandar di dada kakaknya. Dia meminta Blake untuk mengantarnya ke kediaman keluarga Lewis. Meski merasa berat, tetapi Blake tetap menuruti semua kemauan Queen.
Tiba di depan kediaman keluarga Lewis, Blake sempat dibuat terkejut. Bryan Lewis dan tuan besar Lewis berdiri di halaman depan, seolah menunggu adiknya.
Blake pun melirik Queen yang tampak tenang. Sisa kesedihan di Villa tadi seperti sebuah ilusi yang tidak pernah terjadi.
"Mereka menunggumu?"
"Ya, itu karena aku sudah terlambat." Queen turun dari mobil Blake. Pengasuh yang menggendong bayi Sofia ikut turun.
Blake mengantar Queen hingga dia sampai di depan Bryan dan tuan besar Lewis. Saat Queen tiba di depan kakek Lewis dan Bryan, mereka berdua terlihat terkejut melihat wajah Queen.
Bryan langsung mendekat dan menyentuh pipi Queen. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"
Blake melirik Bryan, alisnya berkerut mendengar perhatian yang dia berikan untuk adiknya. Apakah dia benar-benar peduli pada Queen?
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Nak, sebaiknya kamu beristirahat di dalam. Biar Sofia dirawat pengasuh Ellara."
"Tidak perlu, Kek. Biarkan pengasuh dari kakakku yang merawat Sofia. Ehm, bagaimana keadaan Ella, apa semalam dia masih rewel?"
"Semalaman dia terus menangis. Kami sampai kebingungan. Mungkin dia bisa merasakan kamu mengalami bahaya sehingga dia pun menjadibtidak tenang."
"Aku akan melihat kondisi Ella dulu," ujar Queen. Dia berbalik menatap Blake. "Kak, terima kasih sudah mengantarku. Jangan lupa untuk memberiku kabar. Berhati-hatilah saat kembali nanti."
Queen pun langsung memasuki kediaman Lewis diikuti oleh pengasuh baby Sofia. Bryan menatap Blake. Dari tatapannya terlihat jelas jika pria itu sangat penasaran. Dia pun akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi. Dia tidak menyebutkan rahasia apapun pada Bryan, karena dia tidak tahu seberapa dekat Bryan dan Queen.
Mendengar hal buruk terjadi pada Queen, entah mengapa jantung Bryan berdetak lebih cepat. Cincin di jarinya kembali memunculkan sensasi panas. Bryan pun langsung berbalik menyusul Queen.
"Maaf atas ketidaksopanan cucuku. Seperti yang diketahui, dulu dia menikah atas dasar paksaanku. Dia tidak benar-benar menjalin hubungan karena asmara. Cucuku sama sekali tidak pernah jatuh cinta, tapi entah mengapa, sejak kemunculan adikmu, dia menjadi lebih peduli," kata tuan besar Lewis.
Blake hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Setelah berpamitan pada tuan besar Lewis, dia pun kembali ke perusahaan.
Begitu dia tiba, dia disambut oleh Ethan, asisten Bryan. Ethan datang membawa dokumen kerjasama. Untuk hal ini Queen sudah membicarakannya dengan dirinya kemarin. Dia ingin Xavier yang menangani mega proyek ini, lalu kemudian Bryan akan membantu menyabotase proyeknya sehingga Xavier harus mengganti rugi.
Selama proses itu, Bryan akan mengunakan kekuasaannya untuk menekan perusahaan Celestial Corporation. Dalam masa itu, mungkin harga saham celestial corporation akan turun, dan Queen sudah meminta pada Bryan untuk membeli semua saham yang dijual.
Blake tidak tahu, kenapa Bryan menjadi begitu penurut dan mudah diatur. sepengetahuannya, pria itu tidak suka diatur. Terlebih lagi oleh seorang wanita. Akan tetapi dia tidak menyangka adiknya mampu mengendalikan pria itu.
Benarkah Bryan Lewis telah jatuh hati pada adiknya? Sungguh hal yang tidak mungkin. Di saat Blake masih memikirkan soal Bryan, suara Ethan menyadarkannya kembali. Semakin dia mendengarkan penjelasan Ethan, Blake semakin menjadi sulit percaya. Ini sungguh di luar ekspektasinya. Tetapi ketimbang bersama Xavier gembel serakah itu, Blake lebih memilih memiliki ipar yang tangguh dan kaya raya. Setidaknya mereka bisa saling mendukung, bukan hanya mengeruk kekayaan keluarga Celeste.
Setelah Ethan pergi dari ruangannya. Blake membuka proposal proyek. Matanya menyipit saat melihat semua detailnya. Ini benar-benar sempurna untuk disebut sebagai sebuah jebakan.