NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18)Perdebatan Rayyan dengan papanya

Setelah makan siang bersama, Rayyan mengajak Sea pergi ke warung makan kecil yang baru saja dibuka oleh orang tua Sea di dekat kontrakan. Warung kecil itu bernama "Warung Makannya Sea" dan menjual makanan khas Yogyakarta seperti gudeg, sate klathak, dan bakpia pathok. Meskipun baru beberapa minggu dibuka, warung itu sudah ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan penduduk sekitar karena rasanya yang lezat dan harganya yang terjangkau.

Ketika mereka tiba di warung, ayah Sea – Pak Tian– sedang sibuk melayani pelanggan sambil ibu Sea – Bu Kirana– sedang memasak di dapur kecil yang terbuka. Melihat kedatangan mereka, keduanya langsung memberikan senyum hangat.

"Kamu datang tepat waktu, nak," ucap Pak Tian dengan suara yang kuat setelah menyelesaikan melayani pelanggan. "Kita baru saja menerima pesanan besar dari sebuah kantor dekat sini untuk makan malam besok. Kita butuh bantuan untuk menyiapkannya."

Rayyan segera mengangguk dengan senyum. "Tentu saja, Pak. Aku akan bantu apa saja yang bisa aku bantu."

Selama beberapa jam, mereka semua bekerja bersama-sama – menyiapkan bahan makanan, memasak, dan merapikan tempat untuk pesanan besar besok. Rayyan merasa sangat bahagia membantu keluarga Sea – ini adalah jenis kehidupan yang dia inginkan – sederhana, penuh dengan cinta, dan penuh makna.

Pada saat matahari mulai merunduk, mereka beristirahat sebentar dan duduk di meja luar warung sambil menikmati es teh tawar yang dingin. Pak Tian melihat ke arah Rayyan dengan tatapan yang penuh dengan perhatian.

"Aku tahu kamu sedang menghadapi masalah dengan keluarga mu, nak Rayyan," ucapnya dengan suara yang lembut tapi tegas. "Aku tidak bisa mengatakan apa yang harus kamu lakukan, tapi ingatlah – keluarga bukan hanya tentang darah atau kekayaan. Keluarga adalah tentang orang-orang yang mencintaimu dan menerima dirimu apa adanya."

Rayyan mengangguk dengan rasa terima kasih yang mendalam. Ia tahu bahwa Pak Tian benar – keluarga Sea sudah menerima dia dengan hangat sejak pertama kali mereka bertemu, tidak peduli tentang latar belakang atau kekayaannya.

"Kamu adalah anak yang baik, Rayyan," lanjut Bu Kirana dengan senyum hangatnya. "Kita sangat senang bisa memiliki kamu sebagai bagian dari keluarga kita. Jangan pernah biarkan orang lain membuatmu merasa tidak berharga hanya karena kamu memilih jalan yang berbeda."

Pada saat itu, ponsel Rayyan kembali berbunyi dering. Ia mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar – Papa. Jantungnya berdebar kencang karena rasa takut dan juga rasa tekad untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.

"Jawab saja, nak," ucap Sea dengan menepuk bahunya dengan lembut. "Kita semua ada di sini untukmu."

Dengan napas dalam, Rayyan menjawab panggilan. "Hallo, pah?"

PERCAKAPAN YANG MENENTUKAN

Suara papanya terdengar tegas dan dingin dari ujung talian. "Rayyan, dimana kamu sekarang? Amara memberitahuku kalau kamu masih di Yogyakarta dengan wanita itu."

"Aku di warung makan orang tua Sea, pah," jawab Rayyan dengan suara yang tenang tapi tegas. "Dan Sea bukan 'wanita itu' – dia adalah kekasihku, dan aku mencintainya."

Ada jeda panjang sebelum ayahnya berbicara lagi. "Kamu benar-benar ingin memilihnya daripada keluarga dan masa depanmu yang sudah kita rencanakan dengan baik?"

"Aku memilih hidup yang membuatku bahagia, pah," jawab Rayyan dengan lebih tegas. "Perusahaanmu sudah baik-baik saja sekarang, bukan? Kamu tidak perlu lagi bergantung pada keluarga Amara. Dan aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang aku tidak cintai hanya karena kesepakatan lama yang sudah tidak relevan lagi."

"Aku melakukan semua ini untuk kamu, anakku," ucap papanya dengan suara yang sedikit melunak. "Aku hanya ingin kamu hidup nyaman dan tidak perlu mengalami kesusahan seperti yang aku alami dulu."

"Aku tahu, pah," jawab Rayyan dengan rasa kasihan yang tulus. "Dan aku menghargai semua yang kamu lakukan untukku. Tapi aku sudah dewasa sekarang. Aku bisa membangun hidupku sendiri dan membuat keputusan sendiri. Sea dan keluarganya telah menunjukkan padaku bahwa kebahagiaan bukan tentang kekayaan atau status – itu tentang cinta dan rasa memiliki tempat di mana kamu diterima apa adanya."

Ada lagi jeda panjang di ujung talian. Rayyan bisa membayangkan ayahnya sedang duduk di kantornya yang besar, memikirkan kata-katanya. Sea menggenggam tangannya dengan erat, memberikan dukungan dengan sentuhan lembutnya.

"Aku pernah bertemu dengan orang tuanya, Rayyan," ucap ayahnya tiba-tiba, membuat Rayyan terkejut. "Kemarin aku datang ke Yogyakarta untuk mencari kamu, tapi sebelum menemukan kontrakanmu, aku mampir makan di warung mereka. Aku tidak mengatakan siapa aku, tapi mereka melayani aku dengan sangat baik dan hangat. Mereka adalah orang-orang yang baik."

Rayyan merasa mata nya berkaca-kaca karena emosi. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya sudah pernah bertemu dengan keluarga Sea dan merasa hal yang sama seperti dirinya.

"Aku masih tidak setuju dengan keputusanmu untuk meninggalkan Malang dan perusahaan kita," lanjut ayahnya. "Tapi aku mulai mengerti mengapa kamu memilih tinggal di sini. Wanita itu dan keluarganya membuatmu bahagia, bukan?"

"Ya, pah," jawab Rayyan dengan suara yang penuh dengan emosi. "Mereka adalah keluarga yang aku inginkan."

"Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkan semuanya lagi," kata papanya dengan suara yang sudah lebih lembut. "Bulan depan kita akan mengadakan rapat keluarga besar. Aku ingin kamu datang ke Malang dan membawa dia bersamamu. Biarkan aku dan keluarga lainnya mengenalnya dengan benar. Mungkin... mungkin kita bisa menemukan jalan keluar yang baik untuk semua orang."

Rayyan merasa hati nya terasa ringan seperti terbang ke langit. Ini adalah hasil yang tidak dia harapkan – ayahnya tidak hanya mau mendengarkan, tapi juga mau mengenal Sea dengan benar.

"Terima kasih, pah," ucapnya dengan suara yang menggigil. "Kita akan datang. Aku pasti akan membawanya ke Jakarta."

Setelah menutup telepon, Rayyan melihat ke arah Sea dengan mata yang penuh dengan cinta dan kegembiraan. Ia memberitahukan apa yang telah dikatakan ayahnya, dan Sea langsung menangis bahagia sebelum memeluknya dengan erat.

"Kamu lihat?" Ucap Sea dengan suara yang menggigil karena tangisan bahagia. "Semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengenal kita dengan benar."

Pak Tian dan Bu Kirana juga sangat senang mendengar kabar itu. Mereka segera mengucapkan selamat dan berjanji akan membantu mereka mempersiapkan diri untuk pergi ke Malang. Malam itu, mereka merayakannya dengan makan malam bersama di warung – hidangan spesial yang dibuat oleh Bu Kirana dengan cinta dan perhatian.

Pada saat mereka sedang makan, suara dering ponsel Sea membuat mereka sedikit terkejut. Wanita itu mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar – Amara Wijaya. Ekspresi wajahnya menjadi sedikit serius, tapi dia tetap menjawab panggilan dengan tenang.

"Hallo, Amara?"

"Aku ingin berbicara denganmu, Sea," suara Amara terdengar dari ujung talian, lebih tenang dari biasanya. "Tentang Rayyan dan tentang masa depan kita semua. Bisakah kita bertemu besok?"

 PERTEMUAN DI TAMAN PINTAR

Hari berikutnya sore, Sea dan Amara bertemu di taman kecil dekat Taman Pintar Yogyakarta. Tempat itu dipilih oleh Sea karena tenang dan penuh dengan pepohonan yang rindang, cocok untuk berbincang dengan tenang.

Amara datang dengan pakaian yang lebih sederhana dari biasanya – baju kaos putih dan celana jeans – jauh berbeda dari gaya mewah yang selalu dia kenakan setiap kali bertemu Rayyan. Wajahnya terlihat lebih tenang, meskipun masih ada rasa kesedihan yang jelas terpampang.

"Terima kasih sudah mau bertemu denganku," ucap Amara dengan suara yang lembut setelah mereka duduk di bangku taman yang kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!