Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 02: Pewaris Istana Racun!
***
Kabut disekitar Jurang Pemakan Jiwa perlahan masih bergulung.
Sementara Mo Yuyan, dia masih terpaku disana sambil menahan rasa panas yang mengalir disepanjang nadinya.
Inti Roh serigala jurang memang menahan segel Pemakan Jiwa itu, namun efeknya ... seperti meletakkan sehelai kain tipis diatas bara api.
"Kamu benar-benar menelan inti roh begitu saja?! Kenapa tidak dileburkan dulu?!" tanya sosok berjubah itu dengan mata terbeliak.
Mo Yuyan benar-benar malas menanggapi orang bodoh seperti itu.
"Kamu pikir aku bisa kultivasi?! Bagaimana cara meleburkan inti itu, jika kultivasi saja aku tidak bisa?! Benar-benar malas bicara dengan orang bodoh seperti ini ..." jawab Mo Yuyan dengan nada kesal.
Sosok berjubah hitam itu terpaku, saat melihat emosi Mo Yuyan yang meledak tiba-tiba itu.
"Eh, jangan marah dulu! Maksudku ..."
"Ah, sudahlah! Yang penting efeknya lebih cepat, dari pada hasil yang melalui proses peleburan itu ..." potong Mo Yuyan cepat.
"Efeknya? ... Kamu bisa merasakan efeknya? ... Kamu itu bukan kultivator, kan?" tanya sosok itu dengan nada bingung.
"Di ingatan milik gadis ini, dia pernah kultivasi. Namun, ada sesuatu yang menghalangi jalan kultivasinya ...." jawab Mo Yuyan.
Sosok berjubah itu menyipitkan matanya, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Sepertinya bukan dihalangi, tapi mereka memang sengaja ingin membuatmu menjadi 'sampah' ..." ujar sosok itu.
"Apa maksudmu?" tanya Mo Yuyan.
Sosok berjubah itu menunjuk ke arah dada Mo Yuyan.
"Segel itu bukan hanya memakan jiwamu secara perlahan, tapi juga menyumbat jalur nadi spiritualmu ..." jawab sosok berjubah itu.
Mo Yuyan terpaku mendengar jawaban itu, tidak lama kemudian dia tertawa.
"Hahahahahaha! Pantas saja ... Pantas saja! Hahahahaha!"
"Hmmp! Kenapa kamu malah tertawa?" tanya sosok itu sambil mendengus kesal.
"Karena aku baru paham sekarang ... Mereka tidak hanya menginginkan kematianku, tapi juga ... mereka menginginkan aku mati drngan cara yang paling hina! Badjingan mereka semua! Sia-lan!!!" jawab Mo Yuyan dengan emosi yang membuncah.
Sosok berjubah itu menatap Mo Yuyan dengan tatapan iba.
"Di dalam Sekte Abadi, Kultivasi adalah segalanya. Tanpa adanya jalur nadi untuk menjadi seorang Kultivator, status kamu bahkan lebih rendah dari pelayan ..." ujar sosok itu menjelaskan.
"Bagus kalau begitu ..." sahut Mo Yuyan sambil menganggukkan kepalanya.
Sosok berjubah itu terlihat bingung, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Loh, kenapa malah bagus?" tanya sosok itu.
Mo Yuyan menatap ke arahnya sambil menyeringai.
"Karena mereka tidak menganggap aku manusia, maka ... aku juga tidak perlu memperlakukan mereka seperti manusia!" jawab Mo Yuyan dengan nada suara rendah menakutkan.
Setelah itu, Mo Yuyan menoleh ke arah sosok itu dengan wajah serius.
"Kamu sudah lama berada di sini, kan? Di dalam jurang ini ada apa saja?" tanya Mo Yuyan.
Sosok itu menatap ke arah sekelilingnya, lalu dia tertawa pelan.
"Memangnya ada apa lagi selain batu, kabut, monster, dan ... racun? Benarkan?" jawab sosok itu.
Mo Yuyan menggelengkan kepalanya.
"Hidung an-jingku mencium sesuatu ... Ayo, ikuti aku!" ujar Mo Yuyan.
Mo Yuyan berjalan perlahan, melewati bangkai serigala jurang.
Tiba-tiba matanya menahan, saat hidungnya mencium bau yang sangat familiar dalam kehidupan pertamanya.
"Eh, ini adalah bau ramuan!" serunya girang.
"Bau obat apa? Dimana?" tanya sosok berjubah itu dengan nada bingung.
Mo Yuyan tidak menjawabnya, karena dia sangat percaya dengan indera pembauannya yang sangat sensitif dan instingnya.
Dia bedakan menuju ke sebuah dinding batu yang terlihat biasa saja, namun begitu dia menempelkan telapak tangannya ke batu tersebut, ada sebuah rasa dingin yang aneh menjalarinya.
"Apa kamu bisa merasakan sebuah ... formasi?" tanya sosok itu sambil menahan napasnya.
"Haa?! ... formasi?" beo Mo Yuyan
Sosok berjubah hitam itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Ya! Sebuah formasi penyembunyi. Di setiap reruntuhan kuno, mereka pasti memakai formasi tersebut, untuk menyembunyikan hal-hal baik!" jawab sosok itu menjelaskan.
"Akan tetapi ... bukankah kamu baru saja terbangun, kenapa bisa merasakannya?" tanya sosok itu.
Mo Yuyan menyeringai saat mendengar semua penjelasan itu.
"Aku bangun dari kematian bukan untuk menjadi seseorang yang bodoh!" jawab Mo Yuyan, asal.
Mo Yuyan mengetuk batu tersebut tiga kali dengan ketukan yang berbeda-beda.
TOK ... TUK ... DUG ...
Kabut yang ada di depannya bergetar halus, tidak lama kemudian ...
WUUUSH! ... CRACK!
Dinding batu itu terbelah, dan memperlihatkan sebuah lorong yang sangat sempit.
"Ti---tidak mungkin!" gumam sosok itu sambil melangkah mundur.
"Apakah kamu tahu tempat ini?" tanya Mo Yuyan.
"Pernah dengar, namun belum pernah menemukannya ..." jawab sosok itu.
"Jika kita masuk kesana, apakah kamu akan merasa takut?" tanya Mo Yuyan.
"Tentu saja aku takut! Ini adalah 'Jurang Pemakan Jiwa, jika ada reruntuhan kuno, itu pasti peninggalan bangsa Iblis! Ini bukan tempat wisata, oke?!" jawab sosok itu dengan nada kesal.
Tentu saja dia menghindari tempat-tempat tersebut, daripada jiwanya tercabik dan mati mengenaskan, lebih baik dia tidak mengetahuinya.
"Bagus kalau masih takut mati ... Jika begitu, jangan masuk! Biar aku sendiri yang masuk kesana ..." ujar Mo Yuyan dengan nada santai.
Sosok berjubah hitam: " .... "
"Kamu benar-benar gadis gila!"
Mo Yuyan menolehkan kepalanya sedikit sambil menyeringai.
"Itu memang julukanku di dunia asalku ..."
Sosok itu menggeretakkan giginya dengan geram, sambil menatap ke arah lorong sempit yang menakutkan itu.
"Arrgh! Si-al!" raungnya pelan.
☣
Mereka berdua akhirnya berjalan masuk ke dalam lorong tersebut.
Ternyata, lorong itu tidak sepenuhnya gelap ... ada sebuah cahaya berwarna ungu samar, yang memancar dari dalam retakan dindingnya.
Seperti urat-urat kasar yang terdapat di tubuh sebuah monster.
Sosok berjubah hitam itu tidak tahan dengan kesunyian, lalu dia mencoba untuk membuka percakapan.
"Jika kamu bisa merasakan sebuah formasi, itu artinya kamu mempunyai sebuah 'Akar Roh' ..." ujarnya pada Mo Yuyan.
"Akar ... Roh ...??" beo Mo Yuyan.
"Benar! Di dunia ini, manusia bisa berkultivasi jika mempunyai 'Akar Roh'. Ada lima akar roh dasar, yaitu: Logam, Kayu, Air, Api, dan Tanah," jawab sosok itu menjelaskan perlahan.
Mo Yuyan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Jika begitu ... apa akar roh yang gadis ini punya?" tanya Mo Yuyan.
Sosok itu terdiam, lalu dia menjawab sekenanya saja, agar tidak sepi.
"Dia punya akar roh langka, yaitu 'Akar Roh Racun' ..." jawab sosok itu.
Mo Yuyan memiringkan kepalanya dengan wajah polos.
"Apakah racun itu sebuah elemen?" tanya Mo Yuyan.
Sosok itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan elemen murni, tapi sebuah elemen mutasi. Biasanya terbentuk dari akar roh kayu yang terkontaminasi oleh energi Yin yang pekat, atau ... dari akar roh air yang berubah ..." jawab sosok itu.
Mendengar penjelasan tersebut, Mo Yuyan menyeringai dingin.
"Menarik! ... Sungguh sangat ... Menarik!"
"Kenapa kamu sepertinya tidak terkejut dengan penjelasanku?" tanya sosok itu.
Mo Yuyan menatap sosok itu dengan matanya yang berwarna ungu terang.
"Karena akulah 'Ratu Racun' itu ..."
☣
Mereka melanjutkan perjalanannya yang terkesan tidak sampai-sampai itu.
"Kamu bisa jelaskan kepadaku, metode kultivasi di dalam Sekte Abadi itu seperti apa?" tanya Mo Yuyan.
"Ada tujuh tahap besar dalam metode kultivasi di dunia ini, yaitu: Tahap Pembukaan Nadi, Pengumpul Qi, Pemurnian Tulang, Pembentukan Inti, Jiwa Baru, Raja Roh, dan terakhir adalah Kaisar Roh. Setiap tahap ada sembilan tingkat untuk kenaikannya," jawab sosok itu menjelaskan.
"Apa itu 'Pemurnian Tulang'?" tanya Mo Yuyan.
"Ini adalah tahap dimana tulang dan sumsum manusia dimurnikan kembali, agar dapat menampung energi Qi dalam jumlah banyak ..." jawab sosok itu.
Mo Yuyan menatap lengan dan tulangnya yang sangat kecil dan lemah itu dengan tatapan miris.
"Tubuh ini sangat ... lemah ..." gumamnya pelan.
"Bukan lemah, tapi tubuhmu itu memang sengaja dirusak!" sahut sosok itu dengan nada sinis.
"Apaaaa??!!! ... Dirusak ...??!!" seru Mo Yuyan, kaget.
"Benar! Bayangkan saja ... kamu adalah putri angkat Ketua Sekte, seharusnya kamu bisa berkultivasi dan menjadi hebat! Tapi kenapa malah terkena segel 'Pemakan Jiwa' itu?" jawab sosok itu.
Mo Yuyan menatap sosok itu dengan mata terbeliak lebar.
"Ah! Jangan bilang jika ..."
Sosok itu menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya ... ragamu memang disiapkan untuk menjadi 'wadah' ..." jawab sosok itu.
Mo Yuyan terkesiap sejenak ...
Ada sesuatu yang menekan dadanya, itu bukanlah rasa sakit dari kesedihan ... namun seperti, sebuah kemurkaan yang sangat tenang.
Murka yang sangat ... menakutkan!
"Dijadikan wadah untuk siapa?" tanya Mo Yuyan.
"Aku tidak tahu ..." jawab sosok itu.
"Ya, sudahlah ... Aku akan mencari tahu sendiri pas pulang nanti ..." ujar Mo Yuyan dengan nada santai.
"Kamu tetap mau pulang dengan keadaan seperti ini? Nadi kamu rusak dan tubuhmu lemah, kamu akan jadi bulan-bulanan mereka!" ujar sosok itu dengan nada tidak percaya.
"Aku akan memperbaikinya ..." jawab Yuyan, singkat.
"Itu tidak mungkin!" sahut sosok itu, skeptis.
Mo Yuyan menolehkan kepalanya ...
"Bagi kalian tidak mungkin, namun bagiku ... itu hanya soal menemukan sebuah 'Metode' yang pas saja ..." ujar Mo Yuyan sambil tersenyum.
Mereka akhirnya tiba diujung lorong, yang didepannya terdapat sebuah pintu batu raksasa.
Pintu tersebut dipenuhi oleh ukiran ular, kelabang, dan bunga-bunga yang terlihat indah namun mematikan.
Ditengah pintunya tertulis dua karakter kuno:
毒后 (Ratu Racun)
Sosok berjubah itu mbacanya dengan suara gumaman.
" ... Ratu Racun ..."
Mo Yuyan menatap tulisan itu dengan wajah bingung.
"Eh, sepertinya ... dibalik pintu ini ada sesuatu yang sudah menungguku ..."
Mo Yuyan mengangkat tangannya, lalu dia menyentuh pintu itu perlahan.
Saat ujung jari Mo Yuyan menyentuhnya, pintu itu berderak pelan, seolah-olah meresponnya.
Drrrttt ...
"Jangan sentuh lagi, Yuyan! Bisa jadi ini semua jebakan!" peringan sosok itu sambil mundur beberapa langkah.
"Tsk! Mana ada jebakan?! Jika itu jebakan, maka kita sudah mati dari tadi, huh!" dengus Mo Yuyan sambil berdecak kesal.
Mo Yuyan menekan tangannya lebih dalam.
KREEEK!
Pintu batu terbuka perlahan ...
Udara dari arah dalam berhembus keluar, dingin ... berbau herbal, dan ... racun.
Mo Yuyan melangkah masuk.lebih dalam lagi, dimana ada sebuah ruangan luas yang penuh dengan rak-rak tinggi penuh botol giok.
Ada pula sebuah meja batu, yang diatasnya terdapat tunggu pemurnian yang telah lama terabaikan.
Banyak pula tumpukan kitab-kitab yang tertata rapi disana, dan ada sesuatu yang sangat menarik perhatian Mo Yuyan ...
Disudut ruangan itu ada sebuah lemari besar berwarna hitam yang penuh dengan ukiran indah, namun aura yang keluar dari dalam sana seperti aura sosok makhluk hidup.
"I--itu adalah artefak kuno yang langka!" bisik sosok berjubah.
"Hm ... itu adalah artefak 'Lemari Seribu Racun' ..." sahut Mo Yuyan.
Mo Yuyan berjalan mendekatinya, ketika jaraknya tinggal selangkah lagi, lemari itu tiba-tiba mengeluarkan suara:
KLIK!
Pintu lemari itu terbuka sendiri, dan.langsung mengeluarkan asap tipis yang berupa sebuah tulisan kuno:
"Selamat Datang, Pewarisku! Teteskan da-rahmu sekarang!"
"Jangan sembarangan, Yuyan! Itu adalah kontrak dengan bangsa Iblis! Sekali terikat, maka jiwamu tidak akan bisa lepas selamanya!" seru sosok berjubah itu, memperingatkan.
"Aku tidak takut ..." sahut Mo Yuyan mantap.
Mo Yuyan menggores jarinya dengan ujung belati yang sosok itu pegang, lalu dia meneteskan da-rahnya ke permukaan lemari itu.
Saat da-rah itu menyentuhnya, terdengar suara desisan yang keluar dari sana.
Sssssss ....
Setelah itu, lemari tersebut bergetar hebat, dan sebuah aura berwarna ungu langsung keluar, dan menyelimuti seluruh tubuh Mo Yuyan.
"Aaaakhh!"
Sosok berjubah hitam itu hendak menariknya, namun tubuhnya terpental oleh sebuah tekanan spiritual yang hebat.
" ... YUYAAAAN!!!"
Mata Mo Yuyan terpejam, karena di dalam benaknya ada sebuah suara wanita tua yang sangat dingin.
"Aku mencium adanya bau-bau pengkhianatan dari dalam tubuhmu ..."
SLAP!
Mo Yuyan membuka matanya ...
Di pupil matanya terdapat sebuah cahaya ungu terang yang berputar dengan indah.
"Ya ... aku memang dikhianati ..." jawab Mo Yuyan, dingin.
Suara itu tertawa, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"Hahahahaha! Bagus ... bagus! Karena aku sangat membenci orang yang polos dan naif!" ujar suara itu.
Mo Yuyan mengernyitkan dahinya, dia menahan rasa sakit yang ada di dadanya.
"Apakah Anda bisa membantuku melepaskan segel terkutuk ini?" tanya Mo Yuyan dengan suara tertahan.
Suara yang menggema itu terdiam sejenak, saat mendengar permintaan Mo Yuyan.
"Segel Pemakan Jiwa ... ini jelas bukan buatan orang biasa ..."
"Benar ..." sahut Mo Yuyan sambil tersenyum tipis.
"Jika tidak bisa ... ya sudah, tidak apa-apa. Aku masih bisa menahannya ..." lanjut Mo Yuyan.
"Saya bisa membantu kamu, tapi ... saya menginginkan bayaran ..." ujar suara itu.
"Bayaran seperti apa?" tanya Mo Yuyan.
Suara itu menjawab dengan bisikan penuh racun di dalamnya.
"Jadilah Ratu Racunku ..."
Mo Yuyan terkekeh pelan, saat mendengar permintaan itu.
"Hehehehe ... aku memang Ratu Racun dari Dimensi Lain," jawab Mo Yuyan.
Suara tersebut malah tertawa sangat keras dalam benak Mo Yuyan.
"HAHAHAHAHA! Bagus ... bagus sekali! Mulai hari ini, kamu bukanlah seorang anak angkat dari Sekte Abadi lagi. Kamu adalah Ratuku! Pewaris Sah dari Istana Racun ini! Hahahahaha!"
BOOOM!
Sebuah Aura berwarna ungu langsung meledak dengan kekuatan tekanan yang sangat besar, sehingga membuat Mo Yuyan langsung jatuh berlutut.
Brugh!
Namun sekarang, dia berlutut bukan karena lemah, melainkan karena jalur nadinya mulai terbuka.
Sosok berjubah hitam itu menatap Mo Yuyan dengan tidak percaya.
"Kamu ... kamu baru saja ... membuka jalur nadimu?" tanya sosok itu dengan suara bergetar.
Mo Yuyan mengangkat kepalanya, terlihat keringat dingin menetes dari seluruh wajahnya.
Ekspresinya terlihat lelah, namun senyuman itu tetap ada di wajahnya.
"Kamu benar ..." jawab Mo Yuyan.
"B--bagaimana caranya?" tanya sosok itu sambil menelan salivanya.
"Aku sudah menemukan metode kultivasi yang cocok untuk diriku ..." jawab Mo Yuyan sambil menatap artefak lemari hitam itu.
"Metode kultivasi apa?" tanya sosok itu dengan suara berbisik.
Mo Yuyan menjawab dengan suara pelan, seperti sedang menggosipkan sesuatu yang terlarang.
"Metode Kultivasi 'Racun Yin' ..."
"Dan mulai sekarang, akar roh racunku akan bangkit! Sebaiknya kamu berjalan sejajar denganku, jika masih sayang nyawamu ..."
Sosok itu berdiri membeku, saat mendengar ancaman Mo Yuyan.
"Kenapa harus sejajar?" tanyanya dengan suara bergetar.
Mo Yuyan berdiri perlahan dengan Aura baru yang setengah kuat, pupil matanya dipenuhi oleh kilatan warna ungu terang yang terlihat seperti sedang menari.
"Karena aku akan mulai 'Bangkit' kembali ..."
Mo Yuyan melangkah maju, matanya menatap pintu keluar reruntuhan kuno itu dengan tajam.
"Dan siapapun yang menghalangi jalanku ..."
"DIA PANTAS MATI ...!"
☣☣☣
Note:
Setiap Bab-nya berisi 2500 kata, ya Gaess. Anggap saja setiap Update, aku sudah update dobel di cerita ini, oke? 😁.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, dan penilaiannya untuk bantu author dalam dukungan ya gaess ... Terima kasih. 🙏🏻🤗💖💖💖. Eh, Follow aku juga, ya ... bila berkenan ...😁😁😁.