NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sejak pagi, suara palu sudah terdengar dari depan rumah Ara. Besi-besi rangka tenda disusun, kain digelar, tali ditarik lalu diikat kuat.

Gang yang biasanya lengang berubah ramai.

Tetangga keluar-masuk. Anak-anak kecil berdiri menonton dengan mata penuh penasaran. Beberapa ibu menunjuk warna kain yang sedang dipasang.

“Yang ini lurusinnya sedikit!” teriak salah satu tukang dari atas rangka.

Ara berdiri di ambang pintu, memperhatikan semuanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Tenda-tenda mulai dipasang.

Bukan lagi sekadar tanggal di kalender.

Bukan lagi obrolan lewat pesan.

Kini bentuknya nyata.

Kain putih dan krem membentang di atas halaman. Kursi-kursi plastik diturunkan dari mobil bak. Meja

Prasmanan mulai disusun.

Ibunya keluar membawa teh untuk para tukang.

“Ara, tolong ambilin gelas tambahan.”

“Iya, Bu.”

Ara bergerak otomatis. Namun matanya berkali-kali kembali ke rangka tenda yang makin tinggi.

Seorang tetangga mendekat sambil tersenyum lebar.

“Wah, sudah mulai ya. Deg-degan nggak, Ra?”

Ara tersenyum kecil. “Lumayan, Tante.”

“Lumayan atau banyak?”

Ara tertawa pelan. “Banyak.”

Menjelang siang, rumah Ara semakin ramai.

Satu per satu ibu-ibu berdatangan untuk rewangan.

Ada yang membawa talenan sendiri, ada yang menjinjing pisau, ada pula yang langsung menuju dapur seolah sudah hafal letaknya.

“Assalamu’alaikum, Bu! Kita mulai ya?”

“Wa’alaikum salam, monggo… sudah ditunggu ini.”

Tak lama, dapur berubah jadi pusat keramaian.

Suara bawang dikupas.

Pisau beradu dengan talenan.

Wajan besar mulai dikeluarkan.

Ara sempat melangkah mendekat, berniat membantu.

Baru dua langkah ke arah dapur, seorang ibu sudah berseru,

“Eh eh eh… calon pengantin nggak boleh ke dapur!”

Ara berhenti.

“Lho, cuma mau bantu kupas bawang, Bu…”

“Tidak boleh,” sahut yang lain cepat. “Masa mau nikah malah bau bawang?”

Tawa pecah di dapur.

Ara menutup wajahnya setengah malu.

“Nanti tangannya panas, matanya pedih. Sudah, duduk manis saja. Biar kami yang urus.”

Ibunya ikut menyahut dari dalam,

“Ara, kamu di depan saja. Jangan ke dapur dulu.”

Ara akhirnya duduk di ruang tamu, hanya bisa mendengar hiruk-pikuk dari kejauhan.

Sesekali ada ibu-ibu yang lewat sambil menggoda.

“Dinanti saja ya, besok sudah pindah dapur.”

“Nanti gantian kamu yang masak buat suami.”

Ara tersenyum kecil, jantungnya berdebar pelan.

Dari tempat duduknya, ia melihat halaman yang sudah dipasangi tenda. Lampu-lampu kecil mulai tergantung rapi. Kursi-kursi tersusun menunggu tamu.

Suara dapur, tawa ibu-ibu, aroma bumbu yang mulai tercium samar—

Semua terasa hangat.

Untuk pertama kalinya, Ara benar-benar merasa diperlakukan seperti calon pengantin.

Ara duduk dengan tangan terlipat di pangkuan. Biasanya ia yang paling sibuk jika ada acara di rumah orang lain—ikut rewangan, memotong sayur, mengantar piring. Kini perannya berubah. Ia bukan lagi “yang membantu”. Ia yang dibantu.

Ada rasa canggung.

Ada rasa terharu.

Ada degup yang tak mau diam.

Dari dapur, suara ibu-ibu masih terdengar riuh.

“Bawangnya kurang satu kilo lagi!”

“Eh, santannya jangan lupa diaduk terus!”

Sesekali terdengar tawa panjang yang membuat Ara ikut tersenyum tanpa sadar. Rumahnya terasa hidup. Lebih hidup dari biasanya.

Ibunya muncul dari dapur, menyeka keringat dengan ujung kerudung.

“Kok malah melamun?”

Ara tersentak kecil. “Nggak, Bu… cuma lihat-lihat saja.”

Ibunya duduk sebentar di sampingnya. Tatapannya lembut, tapi penuh arti.

“Cepat sekali ya rasanya.”

Ara mengangguk pelan.

Dulu ia selalu membayangkan hari-hari seperti ini akan terasa menegangkan. Ternyata yang paling kuat justru rasa hangatnya. Rasa dipeluk oleh banyak tangan tanpa benar-benar disentuh.

Ibunya bangkit lagi.

“Sudah ya, jangan kepikiran terus. Duduk yang manis.”

Ara mengangguk. Ibunya kembali ke dapur, dan suara riuh langsung menelan sosoknya. Wajan kembali beradu, sendok kayu diketuk-ketukkan ke pinggir panci, tawa menyusul di sela-sela.

Rumah kembali ramai.

Ara baru saja hendak duduk lagi ketika—

“ASSALAMUALAIKUMMMMMM CALON PENGANTIIIIINNNN!!!”

Suara itu menggema.

Benar-benar menggema.

Seperti toa masjid menjelang magrib.

Beberapa ibu di dapur langsung berhenti mengupas bawang.

“Siapa itu?” bisik salah satu.

Ara menutup mata.

Ia tahu.

Ia sangat tahu.

Pintu pagar belum sempat ditutup rapat ketika sosok itu sudah masuk dengan langkah lebar dan energi seperti badai kecil.

Raina.

Tasnya disampirkan asal di bahu, kacamata hitam masih bertengger meski matahari tidak terlalu terik, dan senyum lebarnya seolah sedang datang ke konser, bukan ke rumah orang yang besok menikah.

“Araaaa!” teriaknya lagi.

“Ya Allah, Raina…” Ara mendesah, antara malu dan ingin tertawa.

Raina langsung menghampiri, merentangkan tangan dramatis.

“Ini dia calon istri orang! Kok bisa masih santai begini? Deg-degannya mana? Pingsannya mana? Air matanya mana?”

Ara spontan menepuk lengan sahabatnya itu.

“Pelan dikit suaranya! Itu ibu-ibu pada denger semua!”

Raina menoleh ke dapur dan melambaikan tangan.

“Assalamualaikum, Ibu-ibu! Saya saksi hidup masa lajangnya Ara!”

Tawa langsung pecah dari dalam dapur.

“Masuk saja, Neng! Jangan cuma teriak!” sahut salah satu ibu.

Raina mendekat, lalu tiba-tiba menatap Ara dari atas sampai bawah.

“Hmmm.”

Ara langsung waspada. “Apa?”

“Kok kamu makin cantik sih?”

Ara mengerjap. “Hah?”

“Serius. Ini efek mau nikah atau efek nggak boleh ke dapur?”

Ara tertawa kecil.

“Katanya nggak boleh kupas bawang. Takut bau.”

Raina langsung mengangguk serius. “Betul. Jangan sampai besok pas ijab kabul malah aroma sambal balado.”

Ara mencubit lengannya pelan. “Ih!”

Raina tertawa keras, lalu tiba-tiba suaranya berubah lagi—kembali ke mode toa.

“IBU ARAAAA! SAYA DATANG BUAT REWANGAN, TAPI KALAU NANTI DILARANG JUGA, SAYA PROTES!”

“Masuk saja, Raina!” terdengar jawaban dari dapur, diiringi tawa.

Raina menoleh lagi pada Ara, kali ini suaranya lebih pelan.

“Gimana rasanya?”

Pertanyaan itu berbeda.

Tidak bercanda.

Tidak dramatis.

Ara terdiam sebentar.

Ia menoleh ke halaman. Tenda sudah berdiri kokoh. Lampu-lampu kecil bergoyang pelan tertiup angin. Kursi-kursi menunggu.

“Nyata,” jawabnya akhirnya.

Raina mengikuti arah pandangnya.

“Takut?”

Ara mengangguk pelan. “Iya.”

“Senang?”

“Iya.”

“Yakin?”

Kali ini Ara tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu, hanya diisi suara dapur dan bunyi sendok beradu.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Iya.”

Raina menatapnya beberapa saat. Lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Ara erat.

“Kalau kamu nangis besok, jangan jelek-jelek ya. Aku yang paling depan soalnya.”

Ara tertawa di bahunya.

“Kamu jangan teriak pas ijab kabul.”

Raina mundur sedikit, pura-pura berpikir.

“Tidak bisa janji.”

Ara menggeleng.

Di tengah riuh rumah, di antara aroma bumbu dan kain tenda yang berkibar, suara Raina yang seperti toa justru terasa seperti penyeimbang.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!