NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan Belas

Arthur tidak ingin mengambil risiko lagi. Baginya, udara di New Zealand sudah terlalu beracun untuk adiknya. Melihat Hazel yang hanya diam menatap kosong ke dinding kamar, Arthur segera menyiapkan jet pribadi keluarga. Ia memutuskan untuk membawa Hazel ke Swiss, ke sebuah vila tersembunyi di pegunungan Alpen, jauh dari jangkauan Kenneth dan bayang-bayang masa lalu mereka.

"Ayo, Hazel. Kita tinggalkan tempat ini," ucap Arthur lembut sambil memegang tangan adiknya yang terasa sedingin es.

Hazel tidak membantah. Ia tidak menangis lagi. Jiwanya seolah sudah mati bersama kata-kata kejam Kenneth malam itu. Ia membiarkan Arthur menuntunnya masuk ke dalam mobil, meninggalkan semua kenangan tentang serangga di perpustakaan, tanda merah di leher, dan ruangan penuh foto yang menjadi saksi bisu obsesi gila Kenneth.

Kabar tentang keberangkatan Hazel sampai ke telinga Kenneth melalui informannya di bandara.

Kenneth sedang duduk di meja kerjanya yang gelap, di dalam apartemen yang kini terasa seperti kuburan.

"Tuan Muda, Nona Hazel baru saja lepas landas bersama Tuan Arthur. Mereka menuju Eropa," lapor asistennya melalui telepon.

Kenneth hanya diam. Tangannya yang memegang ponsel tidak bergerak sedikit pun.

Ia menatap ke arah jendela besar, melihat pesawat yang melintas di langit malam Queenstown, membayangkan Hazel ada di salah satu titik cahaya itu, menjauh darinya.

Tidak ada pengejaran. Tidak ada perintah untuk mencegat.

Kenneth hanya menarik napas panjang yang terasa sesak. Ia teringat janjinya di kamar mandi, janji yang ia ucapkan dengan bibir yang sama yang kemudian menghancurkan hati Hazel.

Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, bisik suara itu di kepalanya.

Kini, ia tidak meninggalkan Hazel, tapi dialah yang membuat Hazel terpaksa pergi. Ia menang dalam balas dendamnya, Arthur hancur melihat adiknya menderita, dan keluarga Cavanaugh menanggung malu.

Namun, kemenangan itu terasa hambar. Setiap sudut ruangan ini masih menyisakan bayangan Hazel.

Kenneth berdiri, berjalan menuju ruang rahasianya. Ia menyalakan lampu kemerahan itu, menatap ratusan foto Hazel yang masih menempel di dinding. Ia menyentuh foto terakhir yang ia ambil, foto di mana Hazel menatap kamera dengan penuh penyerahan.

"Kau benar-benar pergi, Hazel..." gumam Kenneth parau.

Ia mengambil pemantik api dari sakunya.

Dengan tangan gemetar, ia menyulut salah satu foto Hazel. Api perlahan melahap gambar wajah cantik itu. Satu demi satu, Kenneth membakar obsesinya sendiri, membiarkan abu foto-foto itu jatuh ke lantai.

Ini adalah hukuman yang sebenarnya bagi Kenneth, memiliki segalanya, namun kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus di tengah kegilaannya.

Sebulan telah berlalu sejak keheningan Alpen menjadi pelarian bagi Hazel.

Di sebuah vila megah yang dikelilingi salju abadi, Hazel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun di balkon, menatap pegunungan yang putih bersih sangat kontras dengan noda hitam yang ditinggalkan Kenneth di jiwanya.

Arthur, yang berusaha menebus kesalahannya, sangat memperhatikan setiap gerak-gerik adiknya. Namun, ada sesuatu yang aneh. Hazel yang biasanya menyukai cokelat Swiss kini tidak bisa mencium aromanya sedikit pun tanpa merasa mual.

Wajahnya yang sudah pucat terlihat semakin kuyu, dan ia sering kali kehilangan keseimbangan.

Suatu sore, saat Hazel sedang tidur karena kelelahan yang luar biasa, Arthur masuk ke kamar adiknya untuk membawakan vitamin. Saat ia merapikan meja rias Hazel, tangannya menyentuh sebuah kotak kecil yang terselip di bawah tumpukan syal.

Jantung Arthur seolah berhenti berdetak saat melihat isinya. Sebuah test pack.

Dua garis merah yang sangat jelas terpampang di sana.

"Sialan..." desis Arthur, suaranya bergetar antara amarah yang memuncak dan rasa hancur. "Bajingan itu benar-benar melakukannya."

Arthur menggenggam alat itu hingga jemarinya memutih. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Mahkota yang ia jaga selama ini bukan hanya dirusak, tapi kini membawa benih dari pria yang paling ia benci di dunia ini.

Anak yang dikandung Hazel adalah darah daging Kenneth Graciano, pria yang menghancurkan keluarga mereka demi dendam pada Kiana.

Tepat saat itu, Hazel terbangun. Ia melihat kakaknya berdiri mematung dengan alat itu di tangannya. Kamar itu seketika terasa sangat dingin.

"Arthur..." bisik Hazel pelan, tangannya secara insting menyentuh perutnya yang masih rata.

Arthur berbalik, matanya berkaca-kaca menatap adiknya. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Hazel? Kenapa kau menyimpan kutukan ini sendirian?"

"Ini bukan kutukan, Arthur," sahut Hazel dengan suara yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan. "Ini adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa dari semua kebohongan Kenneth. Aku membencinya... tapi aku tidak bisa membenci anak ini."

Di sisi lain dunia, di Queenstown, Kenneth duduk di ruang kerjanya yang kini kosong dari foto-foto Hazel. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Hazel.

Ponselnya berdering. Itu adalah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat ia kenal, nomor Arthur.

Pesan itu hanya berisi satu foto: gambar test pack dengan dua garis merah di atas meja marmer.

"Kau menang, Kenneth. Kau baru saja menghancurkan masa depan adikku selamanya. Jangan pernah pikirkan untuk menemukannya, atau aku akan memastikan kau mati sebelum melihat wajah anak ini."

Kenneth menjatuhkan ponselnya. Napasnya tercekat. Rasa kemenangan yang selama ini ia agungkan berubah menjadi kehancuran total. Ia terduduk lemas, menyadari bahwa obsesinya telah menciptakan kehidupan baru yang kini justru menjauh darinya.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!