Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Perkenalan Diri Part 1 —
[Persiapan Perkenalan Diri: 04:59]
Tepat setelah Yagami-sensei memberikan tugas pertamanya pada kami. Waktu berjalan di layar depan, memaksa kami untuk segera berdiskusi dalam lima menit.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kami bebas untuk memperkenalkan diri dengan cara apa pun, asalkan sebagai pasangan.
Namun masalahnya, apakah ini hanya perkenalan diri biasa? Sepertinya tidak sesederhana itu.
Ada kemungkinan bahwa kami juga dinilai nantinya, dan yang terbaik akan mendapat poin tambahan. Walau aku tidak peduli dengan itu, tetap saja aku dan Elena akan menarik perhatian jika perkenalan kami buruk.
Diskusi pun dimulai tanpa aba-aba layaknya komando, membuat suara kebisingan yang teratur muncul.
Sementara itu, Yagami-sensei duduk santai di kursi guru, sembari menatap ke arah para muridnya yang sedang berdiskusi.
"Naruse-kun, harusnya aku membelikanmu topeng sebelumnya."
"Hah?"
Elena buka suara duluan, memulai diskusi. Dan aku sama sekali tidak mengerti kata-katanya.
"Topeng?"
"Ya, wajahmu terlalu menarik perhatian."
"Oh, jadi itu maksudnya?"
Dia tampak murung. Alisnya sedikit turun. Sementara aku hanya bisa menahan tawa. Agak lucu ketika melihat sisi posesifnya keluar.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak, tuh. Aku hanya senang."
"Kok malah senang?"
"Ya, sudahlah. Ketimbang membahas mukaku, lebih baik kita pikirkan cara kita memperkenalkan diri."
Meski Elena tidak puas dengan responsku, dia tetap mengangguk setuju. Dia kemudian memegang dagunya, tanda bahwa otaknya ingin bekerja.
Sedikit demi sedikit, aku mulai bisa membaca gadis ini. Sekarang dia sedang mencoba untuk serius, dan kurasa peringkat A tidaklah berlebihan untuknya.
"Tadi Yagami-sensei bilang tugas pertama, kan?"
"Ya, tugas."
Aku hanya diam, membiarkannya berpikir. Dia sedang berusaha keras agar tidak melibatkanku, makanya aku tidak enak jika tiba-tiba mengacaukan pikirannya.
"Hmm... apa tugas sama dengan misi?"
"..."
"Atau tugas tidak sama dengan misi? Yang mana yang benar?"
Kami telah banyak berdiskusi saat misi harian. Jadi, aku tahu kalau Elena adalah tipe orang yang memikirkan konsep lebih dulu.
"Kenapa tidak cek saja di jam tanganmu?"
Akhirnya aku buka mulut, setelah diam hampir setengah menit.
"Kau sedang memberi petunjuk?"
"Mungkin."
Tanpa pikir panjang, Elena menyalakan jam tangannya.
[Nama: Elena Miyazaki]
[Nomor Registrasi: 088-B]
[Poin Pribadi: 290 Poin]
[Poin Pasangan: 346 Poin]
[Status: Berpasangan]
[Nama Pasangan: Naruse Takashi]
[Sinkronisasi Pasangan: 15%]
[Peringkat Individu: A]
[Peringkat Pasangan: D]
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Terkunci.
Terkunci.]
Aku juga dapat melihat tampilan statusnya. Satu-satunya yang menarik perhatianku adalah jumlah poin pribadinya yang lebih banyak dariku. Itu wajar karena dia tidak pernah menyentuh Belanja Teknis.
"Aku ingin memastikan saja, tolong jangan anggap aku bodoh atau semacamnya."
"Lakukan saja, aku hanya memperhatikan."
Jarinya lalu bergerak menekan bagian Misi.
[Misi Tersedia!]
[- Misi Hari Pertama!]
[Lakukan sesuatu yang berbeda saat memperkenalkan diri bersama pasangan!]
[Hadiah: 100 Poin Pasangan]
[Catatan: Misi ini tidak wajib dan bisa dilewatkan!]
Ternyata dugaan Elena memang benar, dia berhasil memikirkan konsepnya. Sekarang kami tahu bahwa misi tidak sama dengan tugas, tapi itu kemungkinan berhubungan.
"Inilah alasan kenapa kita diberi waktu lima menit, ternyata untuk mendiskusikan apa yang bisa dilakukan saat perkenalan."
"Maksudmu ini bukan perkenalan biasa, kan?"
"Ya, apa kau punya ide?"
Kami terdiam sesaat. Waktu di layar menunjukkan sisa waktu dua menit.
[Persiapan Perkenalan Diri: 02:11]
"Pastikan kalian memersiapkan diri, sisa waktunya tidak banyak!"
Yagami-sensei memberi pemberitahuan dengan nada tegas.
Aku sendiri tidak terpikirkan ingin melakukan apa. Semuanya tergantung Elena, apakah dia ingin menjalankan misinya atau tidak.
"Umm... Naruse-kun."
Dia memanggil pelan, memecah keheningan di antara kami.
"Ada apa?"
"Begini, aku ingin tanya sesuatu."
"Silakan."
"Kau sudah beberapa kali melepas jam tanganmu, kan?"
"Ya, memangnya kenapa?"
Tangannya kemudian memegang jam tanganku. Dan sepertinya aku paham maksudnya.
"Aku kepikiran satu rencana, kau mau dengar?"
"Tentu, katakan saja."
"Begini, karena misinya meminta kita untuk melakukan sesuatu yang berbeda saat perkenalan... aku kepikiran untuk bertukar jam tangan."
"Bertukar jam tangan?"
Sudah kuduga rencananya akan seperti itu. Agar tidak mengacaukan apa yang sudah dipikirkannya, aku hanya pasif dan mengikuti rencananya.
"Ya, aku ingat aturan dasar tentang larangan melepas jam tangan. Tapi itu kalau lebih sepuluh menit."
"Jadi, kita tidak akan terkena hukuman jika melakukannya kurang dari itu?"
"Mungkin saja, makanya aku ingin coba melakukannya. Bagaimana menurutmu?"
Dia sepertinya menunggu jawabanku. Dan aku hanya memiringkan sedikit kepalaku, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Satu hal yang patut dipuji, pemahaman dasarnya sangat bagus ketika diberi masalah. Dia juga bukan tipe yang langsung mengeluh, tapi berusaha terlebih dahulu.
Meski begitu, Elena sempat menghindari masalah yang dia anggap tidak bisa diatasi. Maksudku saat awal-awal kami berpasangan, dia begitu pesimis bahkan sampai ingin memutuskan hubungan kami.
"Naruse-kun? Ada apa? Rencananya konyol, ya? Kau pasti tertawa dalam hatimu, kan?"
Ah, sial.
Aku terlalu banyak berpikir sampai melamun, dan akhirnya disadarkan kembali olehnya.
"Tu-tunggu, bukan begitu."
"Lalu kenapa kau diam?"
"Tidak apa-apa. Ayo kita lakukan sesuai rencanamu."
"Eh? Kau percaya padaku?"
"Ya, menurutku rencananya tidak buruk."
Matanya berbinar begitu mendengar kata-kataku, padahal aku tidak sedang memujinya.
Dia lalu melepas jam tangannya dengan penuh semangat, dan aku ikut melakukannya.
Begitu kami bertukar jam tangan sepenuhnya, aku mencoba menyalakannya.
[Peringatan: Tidak bisa mengakses jam tangan milik orang lain, meski orang itu adalah pasanganmu!]
Astaga, ternyata begini hasilnya. Layar hologram hanya menampilkan peringatan. Ini membuat salah satu pertanyaan kecilku terjawab.
Kami memang bisa melihat status satu sama lain, tapi ternyata kami tidak bisa mengakses milik yang lain. Rupanya jam tangan ini diprogram untuk dipakai individu.
"Baiklah, waktu habis!"
Yagami-sensei kembali bicara, membuat keadaan langsung hening. Layar hologramnya berubah.
[Sesi Perkenalan Pasangan!]
[0 / 15 Pasangan Selesai]
Kami pun langsung menghadap ke depan. Dan sebelum itu, aku bisa melihat seringai tipis di wajah Elena. Entah kenapa, suasana hatinya begitu baik.
"Untuk perkenalannya, kita akan mulai dari pasangan dengan poin tertinggi lebih dulu."
Seluruh pandangan kini beralih ke Sera Nanashi dan Satoshi Akanji. Dengan status sebagai peringkat pertama, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak ditunjuk lebih dulu.
Suara langkah kaki terdengar pelan. Mereka sudah bangkit dari kursi, bersiap menuju ke depan kelas.
Yang jelas, aku tidak peduli mereka akan memperkenalkan diri seperti apa. Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah menyiapkan kata-kata untuk perkenalanku sendiri.
Sebuah perkenalan yang tidak menarik perhatian lebih, dan tentunya... tidak melebihi batas waktu sepuluh menit.
Namun, di tengah aku yang sedang berpikir... sesuatu menekan kepalaku sampai wajahku terbenam di meja. Untungnya tidak ada bunyi keras yang membuat distraksi.
"Naruse-kun, maaf. Kau tidak boleh melihat gadis itu!"
Aku memang terkejut. Tapi karena aku tahu asalnya dari Elena, jadi aku menikmati sentuhan tangannya yang agak kasar di kepalaku.
Rasanya lumayan hangat sebenarnya, membuat jantungku berdebar-debar.