NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17:Aneh

Setelah kejadian menyakitkan di mana Devian Azka menginjak cermin kesayanganku hingga hancur berkeping-keping di hadapanku,aku sudah lama tidak bertemu dia.Satu kerana aku sengaja menjauhi diri dari mereka dan mengabaikan mereka seutuhnya.Tetapi sejak belakangan ini, aku menyadari ada sesuatu yang berubah di antara kami. Ada perubahan yang aneh, hampir tidak masuk akal, pada diri Devian Azka. Jika biasanya dialah yang akan tertawa paling keras,tidak berhenti menjadikan ku lelucon dan menjadi provokator utama setiap kali Arif melontarkan hinaan padaku, kini dia lebih banyak mendiamkan diri. Dia seolah-olah kehilangan rasa untuk menyiksaku.Dan itu bagus sebenarnya.Aku juga tak mahu peduli.

Senin sore itu, saat banyak siswa dan siswi berulangan ke rumah.masing-masing.Aku turut berjalan dan membiarkan bayang-bayang panjang menghiasi koridor sekolah yang mulai lengang. Berjalan sendirian pulang dari kelas tambahan Biologi. Langkah kakiku mulai melangkaui lorong yang sunyi itu,untuk kembali ke asrama. Dari kejauhan, aku tak sengaja melihat sosok Davian Alza yang berjalan dari arah berlawanan.

Dia berjalan seorang diri, tanpa Arif di sisinya. Ini adalah pemandangan yang langka, karena biasanya mereka selalu menempel seperti belangkas.

Melihatnya entahlah jiwaku terasa kaku dan benci yang hambar kembali.Saat melihatnya entah mengapa memori tentang kekejaman nya sentiasa berputar diingatanku. Aku segera berjalan pantas dan melihat arah lain, berpura-pura sangat fokus pada setiap retakan di lantai semen yang kupijak tanpa memperdulikan keberadaan dia si mata hazelyang kejam.Aku sudah menguatkan mental, bersiap-siap untuk mendengar usikan menjengkelkan atau ejekan pedas yang mungkin akan keluar dari mulutnya saat kami berpapasan nanti.

Namun, saat jarak kami semakin dekat, aku menyadari sesuatu yang aneh dan membuatku merasa lega. Langkah kaki Devian Azka terdengar teragak-agak bila melihatku. Iramanya tidak pasti. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku, namun bukan tatapan tajam tetapi tatapan yang sulit diartikan dan aku malas ingin peduli.

Aku hanya berjalan santai, hanya untuk memastikan apakah dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya.

Mata kami bertembung.

Sepasang mata hazel yang indah itu tampak redup, seakan mustahil pemilik mata itu bisa berbuat sesuatu yang kejam.Tidak ada tatapan kebencian dan senyuman ejekan seperti biasanya.Sebaliknya, aku melihat halkumnya bergerak-gerak naik turun, seperti ada kegelisahan di wajahnya.Dia tampak sangat gelisah. Ekspresinya menunjukkan seseorang yang sedang berperang dengan batinnya sendiri.Tapi ah sudahlah aku juga sudah lelah untuk peduli bahkan untuk basa-basi sekalipun.

Tapi pada akhirnya, bibirnya hanya mampu membentuk satu senyuman tipis yang tampak sangat serba salah. Senyuman itu terasa tawar, rapuh, dan penuh dengan rasa malu. Seolah-olah melalui senyum singkat itu, dia ingin mengakui bahwa tindakannya menginjak cerminku tempo hari adalah perbuatan paling pengecut yang pernah dia lakukan. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan.Matanya seolah sedang berbicara tapi aku biarkan saja.Dia kemudian mempercepat langkahnya, melewatiku begitu saja seolah-olah dia sedang melarikan diri dari hantu masa lalunya sendiri.

Aku menghentikan langkahku. Keheningan koridor itu terasa semakin berat. Aku berbalik, menoleh ke belakang untuk melihat punggungnya yang menjauh. Di luar dugaan, pada saat yang bersamaan, Azka juga ternyata sedang menoleh ke arahku.

Begitu dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, dia dengan cepat memutar tubuhnya kembali ke depan. Dia bergerak kikuk, pura-pura sibuk membetulkan letak tas sekolahnya seolah-olah ada sesuatu yang salah di sana.

"Kenapa dia bersikap seperti itu?Dasar aneh." bisikku pada diri sendiri.

Pikiranku berkecamuk. Logikaku berteriak bahwa ini mungkin hanyalah taktik baru darinya untuk mempermainkan perasaanku. Jika dia ingin merundungku, kenapa dia tidak mengejekku seperti biasa? Kenapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk menertawakan mataku yang sembab? Tapi jika dia memang ingin meminta maaf, kenapa dia tidak mengatakannya saja? Mengapa dia memilih untuk menjadi bisu di saat kata-kata sangat dibutuhkan?Aku bahkan merasakan dia begitu kerana sedang merancang sesuatu yang lebih menyakitkan.Apa aku takut?Tentu tidak.Lakukanlah aku malas peduli.

Aku merogoh saku, mengeluarkan satu serpihan cermin kecil yang berhasil kuselamatkan dan kusimpan dengan rapi. Aku menatap pantulan wajahku yang tampak retak. Aku merasa sangat bingung. Rasa benci dan dendamku padanya masih berkobar bahkan aku tak tahu apa maaf bisa menyembuhkannya.Kerana rasa luka itu.terlalu dalam bagiku.

Bagiku dia hanyalah seorang pemuda yang terjebak dalam egonya sendiri, bersembunyi di balik senyuman yang penuh dengan tanda tanya besar.

Aku melanjutkan perjalanan menuju asrama dengan perasaan yang tidak menentu. Namun, yang tidak aku ketahui adalah bahwa Azka sebenarnya tidak benar-benar pergi jauh.

Dia masih berdiri di ujung koridor, bersembunyi di balik tiang besar agar tidak terlihat olehku. Matanya yang berwarna hazel itu tidak lepas memerhatikan langkah kakiku sampai sosokku benar-benar hilang dari pandangan di blok asrama.

Azka mengepalkan tinjunya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia memaki dirinya sendiri dalam hati. "Bodoh! Kenapa Enggak terus minta maaf aka sih lu Azka?!" batinnya berteriak.

Dia teringat kembali pada hari-hari yang lepas perundungan yang telah dilakukan Arif, dan bagaimana dia selalu menjadi pendukung utama. Dia teringat betapa sedih dan hancurnya riak di wajah Hanie saat dia menginjak cermin itu. Ada sesuatu yang patah di dalam diri Azka saat dia melihat kesedihan di mata Hanie pagi tadi di kelas. Bukan rasa takut yang dia lihat, tapi hilangnya harapan. Dan entah mengapa, melihat Hanie yang sudah tidak punya harapan lagi membuatnya merasa sangat menjijikkan.

Dia ingin meminta maaf. Dia ingin memberitahu Hanie bahwa dia dipaksa oleh keadaan dan rasa setiakawan yang salah pada Arif. Tapi setiap kali dia ingin bersuara, tenggorokannya terasa terkunci oleh rasa takut akan kehilangan popularitasnya. Dia terlalu takut jika Arif tahu bahwa dia mulai memiliki rasa empati pada gadis yang dikhabarkan"pembawa sial" itu.

Azka menyandarkan kepalanya ke dinding pilar yang dingin. Sore itu, dia menyadari bahwa betapa mudahnya merusakkan barang milik orang lain, tapi memperbaiki hati yang beberapa kali dihancurkan hal yang mustahil hanya dengan sebuah kata maaf. Dia tetap berdiri di sana dalam waktu yang lama, ditemani oleh rasa bersalah yang mulai menggerogoti hatinya, sementara bayang-bayang kegelapan mulai menelan koridor sekolah.

Sementara itu, di dalam kamarku di asrama, aku duduk di tepi ranjang. Aku memegang serpihan kaca itu dengan hati-hati. Meskipun cermin itu sudah tidak utuh, fungsinya masih sama dan itu barang kesayangan ku.

"Jangan tertipu, Hanie. Jangan biarkan senyuman tawar itu membuatmu lemah lagi,tidak semestinya selamat hari ini bermakna selamat selamanya." aku memperingatkan diriku sendiri.

Aku sadar bahwa perjalanan ini akan menjadi semakin rumit. Jika Azka mulai berubah, apakah itu berarti perundungan ini akan mereda? Ataukah ini hanya awal dari badai yang lebih besar yang sedang disiapkan oleh Arif dan Amani?

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Apa pun yang direncanakan dunia untukku, aku harus tetap teguh.Demi kehidupanku sendiri.Juga masa depanku.

Malam itu, aku tidur dengan serpihan cermin di bawah bantal. Aku bermimpi tentang sepasang mata hazel yang menangis di tengah kegelapan, meminta pengampunan yang tidak sanggup kuberikan. Karena luka yang sudah terlalu dalam, tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kemaafan.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!