Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Diawasi
Bab 24 — Diawasi
Mobil hitam itu berhenti di sisi jalan yang agak gelap.
Mesinnya masih menyala pelan. Dua pria duduk di dalam mobil sambil memperhatikan jalan di depan mereka.
Di kejauhan terlihat seorang gadis berjalan menyusuri trotoar.
Alisha Pratiwi.
Langkahnya terlihat biasa saja. Ia tidak menyadari ada mobil yang mengikutinya dari jarak cukup jauh sejak tadi.
Pria yang duduk di kursi penumpang menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Itu dia,” katanya pelan.
Pengemudi menatap ke arah jalan.
“Aku lihat.”
Mereka sudah mengikuti Alisha sejak gadis itu keluar dari tempat kerjanya.
Beberapa kali mereka harus menjaga jarak agar tidak terlihat mencurigakan.
Pria di kursi penumpang menatap ke arah Alisha yang semakin mendekati jalan kecil menuju rumahnya.
“Kita bisa melakukannya sekarang.”
Pengemudi langsung menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Ada orang lewat.”
Benar saja. Sebuah sepeda motor baru saja melewati jalan itu.
Situasi masih terlalu terbuka.
Pria di kursi penumpang terlihat tidak puas.
“Kita sudah menunggu beberapa hari.”
“Dan kita tidak boleh membuat kesalahan,” jawab pengemudi singkat.
Ia terus memperhatikan Alisha yang berjalan menuju rumahnya.
“Kalau ada saksi, masalahnya bisa panjang.”
Pria di kursi penumpang menghembuskan napas.
“Baiklah.”
Mereka akhirnya membiarkan Alisha berjalan tanpa mengganggunya.
Mobil tetap berhenti di tempat yang sama sampai Alisha masuk ke jalan kecil menuju rumahnya.
Beberapa menit kemudian sosok gadis itu menghilang di balik pagar rumah.
Pria di kursi penumpang mengambil ponselnya.
“Laporkan saja dulu.”
Pengemudi mengangguk.
Telepon segera tersambung.
Di sisi lain telepon, seorang wanita menjawab.
“Ada apa?”
Suara itu terdengar dingin.
Pria di mobil langsung berbicara.
“Target sudah sampai di rumah.”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
“Kenapa tidak bergerak?” tanya wanita itu akhirnya.
“Kami sempat punya kesempatan,” jawab pria itu.
“Tapi ada kendaraan lewat. Situasinya kurang aman.”
Di ujung telepon terdengar napas panjang.
Wanita itu jelas tidak senang.
“Kalian melewatkan kesempatan.”
“Kami tidak ingin membuat masalah di jalan.”
Beberapa detik kemudian wanita itu berkata lagi.
“Terus awasi dia.”
“Baik.”
Telepon ditutup.
Di kamar besar sebuah rumah mewah, Alisha Mahendra berdiri di dekat jendela.
Ponsel masih berada di tangannya.
Wajahnya terlihat tegang.
Beberapa hari terakhir pikirannya tidak pernah tenang.
Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Kalimat yang ia dengar beberapa waktu lalu terus teringat di kepalanya.
Tentang bayi yang tertukar.
Tentang kemungkinan anak kandung keluarga Mahendra masih hidup.
Dan tentang seorang gadis yang mungkin menjadi ancaman baginya.
Alisha Pratiwi.
Alisha Mahendra berhenti berjalan.
Ia menatap bayangannya sendiri di cermin.
Selama bertahun-tahun ia hidup sebagai putri keluarga Mahendra.
Rumah besar itu.
Kehidupan yang nyaman.
Semua orang mengenalnya sebagai pewaris keluarga itu.
Ia tidak bisa menerima jika semua itu tiba-tiba hilang.
“Tidak,” gumamnya pelan.
Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Di tempat lain, Alisha Pratiwi baru saja masuk ke dalam rumahnya.
Ia menutup pintu lalu meletakkan tas di meja.
Rumah itu terasa tenang seperti biasanya.
Alisha berjalan ke ruang tamu lalu duduk sebentar di kursi.
Hari itu cukup melelahkan.
Beberapa hari terakhir juga terasa aneh.
Ia menyandarkan punggungnya sambil menatap lantai.
Perasaan seperti diikuti masih teringat jelas.
Ia tidak tahu apakah itu hanya perasaannya saja atau memang ada seseorang yang mengawasinya.
Belum lagi kejadian ketika Alvaro tiba-tiba datang menjemputnya.
Alisha menghela napas pelan.
Ia mencoba menenangkan pikirannya.
“Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir,” katanya pada diri sendiri.
Ia akhirnya bangkit lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Sementara itu di tempat lain, Alvaro sedang duduk di ruang kerjanya.
Di tangannya ada ponsel.
Ia sedang memikirkan sesuatu.
Cerita Alisha tentang perasaan seperti diikuti tidak bisa ia lupakan begitu saja.
Alvaro akhirnya menekan nomor seseorang.
Telepon itu tersambung beberapa detik kemudian.
“Damar.”
“Ada apa?” jawab pria di seberang.
“Aku ingin kamu mencari sesuatu.”
“Apa itu?”
Alvaro menatap ke depan dengan wajah serius.
“Cari tahu apakah ada orang yang mengawasi Alisha Pratiwi.”
Damar terdiam beberapa detik.
“Kamu curiga sesuatu?”
“Aku tidak tahu.”
Alvaro menghela napas.
“Tapi aku merasa ada yang tidak beres.”
Damar akhirnya menjawab.
“Baik. Aku akan mencoba mencari informasi.”
Telepon ditutup.
Alvaro masih duduk di kursinya.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi perasaannya mengatakan bahwa Alisha mungkin sedang berada dalam bahaya.
Di tempat lain, seorang pria sedang duduk di ruangan yang gelap.
Layar komputer di depannya menampilkan beberapa foto.
Salah satu foto itu adalah Alisha Pratiwi.
Pria itu tersenyum tipis.
Bram.
Ia sudah mengetahui bahwa orang-orang Alisha Mahendra sedang mengawasi gadis itu.
Situasi ini justru membuatnya tertarik.
Ia tidak berniat menghentikannya.
Sebaliknya, ia ingin melihat sampai sejauh mana semuanya akan berkembang.
“Permainan baru saja dimulai,”
gumamnya pelan.
Malam semakin larut.
Di rumah kecilnya, Alisha Pratiwi sudah berada di kamarnya.
Lampu kamar dimatikan.
Ia berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit.
Beberapa menit kemudian matanya mulai terpejam.
Ia mencoba tidur setelah hari yang panjang.
Alisha tidak tahu bahwa beberapa jam sebelumnya ada orang yang mengawasi rumahnya.
Mobil hitam yang tadi berhenti di ujung jalan akhirnya perlahan pergi meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil, salah satu pria berkata pelan,
“Besok kita kembali lagi.”
Pengemudi mengangguk.
“Ya.”
Mereka tidak akan berhenti mengawasi gadis itu.
Karena mereka tahu…
cepat atau lambat kesempatan itu akan datang.
#bersambung