Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
Grafik dua tahun terakhir terpampang jelas, garis biru, abu-abu, dan merah yang sebelumnya terlihat seperti fluktuasi biasa. Penurunan tipis di salah satu lini bisnis. Tidak drastis. Tidak mencolok,
Beberapa manager menyebutnya normal.
Namun ada kejanggalan disana.
Naya membandingkan laporan cabang, ia berhenti cukup lama pada laporan Surabaya. "Pak, " Katanya hati-hati, "sejak awal tahun cabang Surabaya mengganti sistem pencatatannya."
CEO menoleh singkat, seakan meminta Naya untuk melanjutkan penjelasannya. "Format biaya distribusinya jadi lebih rinci. Pengakuan pendapatan juga tidak lagi di akhir kuartal, tapi per transaksi. Dan.... repeat order dari klien besar sekarang masuk kategori berbeda."
Candra yang mendengar menarik kursinya lebih dekat ke arah Naya.
Perubahan itu tampak administratif.
Tapi tidak bagi Naya. Karena ketika ia menumpuk data lama dengan data baru tanpa penyesuaian, grafiknya menjadi bias. Biaya terlihat melonjak. Retensi klien tampak turun.
Naya memisahkan datanya. Menyesuaikan pencatatan lama dengan format baru.
Pola sebenarnya muncul, penurunan memang ada. Namun bukan karna produknya gagal. Melainkan karna distribusi mulai tidak efisien, biaya logistik naik, jalur pengiriman tidak optimal, dan tiga klien besar mulai mengurangi volume karna keterlambatan.
Kini grafiknya terlihat bersih. Transparan.
CEO itu memperhatikan slide yang menunjukkan perbandingan data asli dan data setelah penyesuaian sistem. Perbedaan yang signifikan.
Jika data mentah dipresentasikan, direksi mungkin akan menyalahkan lini bisnis dan meminta pemangkasan. Namun dengan interpretasi yang tepat, arah diskusi berbeda.
CEO mengambil pointer.
"Bukan lini bisnisnya yang lemah, " Ucapnya pelan namun tegas. "Strategi distribusinya yang tertinggal."
Kalimatnya itu seperti menjadi inti presentasi.
Slide berikutnya menampilkan solusi, revisi jalur distribusi, negoisasi ulang kontrak logistik, fokus pada klien dengan retensi tertinggi, dan optimalisasi kanal digital untuk menekan biaya operasional.
Kini laporan itu bukan lagi sekadar rekap angka. Tetapi menjadi peta keputusan.
Jam dinding hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Naya bersandar ke kursinya, berhenti mengetik. Matanya perih. Dia menutup mulutnya setelah satu kuapan tak bisa ia tahan.
"Sudah, Pak. Versi finalnya," Ucapnya pelan.
CEO menutup laptopnya perlahan, "kerja bagus."
Dua kata sederhana, namun cukup membuat Naya yang hampir tertidur kembali menegakkan tubuhnya.
Malam sudah terlalu larut untuk disebut wajar. Naya berdiri dari kursinya, merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Gerakannya sedikit lambat saat merapikannya.
Candra meraih jasnya, "Nay, kamu naik apa?" tanyanya ringan.
"Nanti saya pesan online, Pak." jawabnya pelan.
Candra melihat jam di pergelangan tangannya, "ini sudah sangat larut. Sekalian saja, saya antar. Kita searah."
Naya menggeleng cepat, dia ragu. "Tidak usah, Pak. Itu merepotkan."
"Tidak sama sekali. Daripada harus nunggu sendiri di luar. Ini sudah sepi."
Kalimat itu terdengar profesional. Terdengar wajar. Masuk akal. Menunjukkan kepedulian dunia kerja.
Namun CEO yang masih duduk, sibuk memeriksa ulang file, berhenti membaca mendengarkan tawaran Candra, asistennya itu.
Ia tidak mengangkat kepala. Hanya diam.
Candra sudah mengambil kuncinya, "saya ambil mobil dulu, ya, " Katanya.
"Nanti,"
Suara CEO memotong, tenang tapi tegas.
"Candra," panggilnya.
Asistennya menoleh.
"Kita masih perlu bahas draft kontrak untuk logistik. Sekarang."
Candra terdiam, menatap Naya sebentar.
"Sekarang, Pak?" tanyanya.
"Iya, saya tidak mau menundanya sampai besok pagi."
Ruangan mendadak hening. Naya menatap keduanya bergantian.
Candra tahu benar nada itu. Itu bukan permintaan, itu keputusan.
"Baik, Pak." jawabnya akhirnya, meski jelas tadi ia sudah siap pulang.
"Nay.... Kamu gimana?" tanyanya pelan.
"Enggak apa-apa, Pak. Saya pulang.... "
CEO itu berdiri perlahan.
"Saya akan keluar sebentar."
Ia mengambil jasnya dengan gerakan tenang.
"Naya" panggil CEO itu.
"Saya, Pak?"
"Saya lewat arah selatan. Rumahmu disana, kan?"
Naya sedikit terkejut, "I-iya, Pak." jawabnya gugup.
"Saya antar, sekalian."
Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
Candra menunduk tipis, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul. Ia terlalu paham permainan halus itu.
"Kalau begitu, saya siapkan draftnya sekarang saja, Pak." Katanya netral.
CEO itu tak menjawab asistennya. Tidak menolehnya juga, dia takut asistennya curiga.
Dia melangkah, diikuti Naya di belakangnya.
Mereka berada di depan lift. Pintunya terbuka, "silahkan," Kata CEO itu.
Naya langsung melangkah mengikuti perintah itu.
Di dalam lift, mereka berdiri menjaga jarak. Naya menggenggam tasnya.
"Terima kasih, Pak. Sebenarnya tidak perlu repot." Dia menunduk sedikit.
Tatapan CEO itu lurus ke depan, "saya tidak mungkin membiarkan staf saya pulang sendirian larut begini, apalagi karna saya."
Kalimatnya terdengar formal.
Di belakang mereka, dari kaca lantai atas, Candra berdiri memperhatikan kedua orang itu berjalan menuju parkiran.
Ia menggeleng kecil, "draft kontrak," gumamnya pelan.
Lalu tersenyum samar.
Karna biasanya draft itu sering dibahas besok paginya.
CEO itu tiba-tiba berhenti tepat di depan mobilnya yang terparkir di sisi gedung. Naya berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk nyaris menabrak punggung itu.
Ia terhuyung sedikit.
"Maaf, Pak...." Ucapnya cepat, refleks mundur selangkah.
CEO itu menoleh. Jarak mereka terlalu dekat. Lampu parkiran yang temaram membuat wajah mereka saling bertaut. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum suara itu keluar.
Mata Naya membulat kecil.
"Ibu..."
Ia spontan meraih tasnya, mencari ponsel dengan gerakan tergesa. Wajahnya berubah panik.
"Kenapa?" CEO itu memperhatikan perubahan ekspresi Naya tepat di depannya.
"Saya belum mengabari ibu kalau pulang terlambat." Jari-jarinya sedikit gemetar menekan layar ponselnya, dan menjauh sedikit dari mobil.
Tak ada respon dari ibunya. Naya kembali ke mobil dengan langkah cepat.
"Bagaimana?" tanya CEO itu.
"Gak diangkat, Pak. Kita pulang sekarang ya, Pak." ajak Naya spontan.
Mobil melaju perlahan meninggalkan area kantor. Lampu-lampu memantul di kaca depan.
Di dalam mobil, sunyi.
Hanya suara mesin dan pendingin udara yang menyamarkan jarak di antara mereka.
Naya duduk tegak, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya. Ia menatap keluar jendela, melihat bayangan kota yang mulai lengang.
Sesekali ia ingin mengatakan sesuatu. Namun setiap kali ingin membuka mulut, kalimatnya tertahan kembali.
CEO itu fokus pada jalan. Tangannya hanya tetap di kemudi, ekspresinya datar seperti biasa. Terlalu datar.
Padahal pikirannya tidak setenang itu. Ia mengingat kembali alasannya "sekalian lewat arah selatan." tapi bukan sepenuhnya jujur.
Namun bukan berarti ia menyesal.
Lampu merah membuat mobil berhenti. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, ia melirik ke arah Naya.
"Kamu pernah pulang jam segini?"
"Tidak, Pak. Ini pertama kalinya saya lembur."
Suasana hening kembali. Lampu berubah hijau.
Suasana perumahan mulai terlihat. Jalan lebih sempit dan tenang.
Tak ada arahan dari Naya, namun mobil itu tepat berdiri di depan rumahnya.
Naya sebenarnya bingung, tapi dia tetap diam.
Naya ingin membuka pintu mobil, namun ada satu pertanyaan yang sejak lama menggantung di pikirannya. Ia menoleh perlahan, "Pak,"
CEO menoleh balik.
"Saya izin mau nanya sesuatu, Pak. Kalau boleh."
Tatapan CEO itu mengeras, seolah sudah menebak arah pertanyaan itu.
"Waktu ayah saya di rumah sakit... " Suara Naya melembut, "Bapak datang?"
Keheningan kembali turun.
CEO itu memalingkan wajahnya sejenak ke depan. Jari-jarinya bertaut di atas kemudi.
"Itu kewajiban saya," jawabnya akhirnya.
Mata Naya membesar, terkejut mendengar jawaban itu.
"Maksud saya sebagai atasan." jelasnya.