NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ide Cemerlang

Beberapa hari setelah skill Prediksi Tren Lokal aktif, Arga mulai memperluas cara pandangnya. Jika sebelumnya ia hanya fokus pada rak warung dan perilaku pembeli yang datang silih berganti, kini ia mulai melihat lebih jauh dari sekadar pintu kayu yang menghadap jalan desa.

Ia berdiri di depan warung pada suatu pagi, pura-pura menyapu halaman. Matanya mengamati jalan tanah yang mulai ramai sejak proyek pembangunan gudang di ujung desa dimulai. Truk kecil keluar masuk. Beberapa pria mengenakan helm proyek berjalan berkelompok menjelang siang. Wajah mereka lelah, pakaian mereka berdebu semen.

Arga memanggil menu analisis di benaknya.

Pola Aktivitas Radius 3 km. Data sederhana muncul.

[Jumlah pekerja proyek meningkat dalam 2 minggu terakhir.]

[Jam istirahat makan siang pukul 12.00 sampai 13.00.]

[Tidak ada penyedia katering murah dalam radius terdeteksi.]

[Potensi kebutuhan: makanan cepat saji, murah, mengenyangkan.]

Arga terdiam beberapa detik.

Ia memperhatikan lebih saksama. Para pekerja itu biasanya membeli mie instan atau nasi bungkus dari warung lain yang jaraknya lebih jauh. Beberapa bahkan hanya membeli roti dan air mineral karena pilihan terbatas.

Warung mereka sebenarnya memiliki dapur yang cukup luas. Ibunya biasa memasak untuk keluarga besar saat hari raya. Kompor ada dua. Wajan besar masih bagus. Meja kayu panjang di belakang bisa digunakan untuk menata makanan.

Sebuah ide mulai terbentuk.

Sore itu, setelah warung agak sepi, Arga duduk di dekat ibunya yang sedang memisahkan sayur untuk masakan malam.

“Bu,” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kalau kita masak lebih banyak, kira-kira bisa tidak?”

Ibunya menoleh, sedikit bingung. “Masak apa?”

“Masak buat dijual. Bukan cuma di warung, tapi buat orang-orang proyek.”

Ibunya terdiam. “Maksud kamu, jual nasi bungkus?”

Arga mengangguk. “Tapi bukan cuma bungkus biasa. Kita buat sistem pesan dulu. Jadi mereka pesan pagi, siang tinggal ambil.”

Kata sistem pesan ia ucapkan dengan hati-hati, seolah itu ide sederhana yang muncul begitu saja.

Ibunya terlihat berpikir. “Memangnya laku?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku tulisnya dan pensil kecil yang sudah setengah pendek. Ia duduk di meja dan mulai menggambar garis-garis sederhana.

Malam itu, setelah ayahnya pulang, Arga kembali mengangkat topik yang sama.

Ayahnya baru saja duduk dan melepas sepatu ketika Arga membuka buku tulisnya di atas meja.

“Ayah capek?” tanya Arga.

“Lumayan,” jawab ayahnya pelan.

Arga menarik napas. “Yah, aku mau kasih ide.”

Ayahnya tersenyum tipis. “Ide lagi?”

Bukan nada mengejek, lebih seperti kebiasaan baru yang mulai ia terima.

Arga mengangguk. “Aku lihat pekerja proyek banyak. Siang mereka pasti makan. Tapi di sekitar sini tidak ada katering murah.”

Ayahnya mengerutkan dahi. “Katering? Kita mana punya modal besar.”

“Aku sudah hitung.”

Ia memutar buku tulisnya agar ayah dan ibunya bisa melihat.

Di sana tertulis perhitungan sederhana.

Biaya beras per porsi. Biaya ayam potong dibagi per bagian. Sayur sederhana seperti tumis kangkung atau kol. Tempe dan tahu sebagai tambahan.

Arga menuliskan angka-angka kecil dengan rapi. Ia tidak menggunakan istilah rumit. Ia membuatnya terlihat seperti anak yang sedang belajar berhitung, bukan seperti mantan pengusaha yang menyusun simulasi bisnis.

“Kalau satu porsi biaya totalnya sekitar sepuluh ribu,” jelasnya perlahan. “Kita jual lima belas ribu. Untung lima ribu per porsi.”

Ayahnya menatap angka-angka itu lama.

“Kalau kita buat dua puluh porsi sehari, untungnya seratus ribu,” lanjut Arga. “Itu lebih besar daripada untung warung sehari biasa.”

Ibunya menutup mulutnya pelan, terlihat terkejut.

Arga melanjutkan dengan hati-hati. “Kita tidak perlu langsung banyak. Coba dulu dua puluh porsi. Kalau habis, baru tambah.”

Ayahnya menghela napas panjang. “Tapi kalau tidak habis? Makanan basi.”

“Kita pakai sistem pesan dulu,” jawab Arga cepat. “Besok pagi Ayah bisa tanya mandor proyek. Tawarkan harga murah. Kalau mereka setuju, baru kita masak sesuai jumlah pesan.”

Ia sengaja menambahkan peran ayahnya dalam rencana itu. Ia tidak ingin terlihat seperti mengambil alih. Ayahnya harus tetap merasa menjadi kepala keluarga.

Suasana hening beberapa detik.

Akhirnya ayahnya berkata pelan, “Kamu serius sekali mikirin ini.”

Arga tersenyum kecil. “Aku cuma tidak mau rumah kita diambil orang.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi lebih sunyi. Ibunya menunduk. Ayahnya memejamkan mata sesaat.

Keesokan paginya, ayah Arga benar-benar pergi menemui salah satu mandor proyek yang ia kenal. Dengan sedikit rasa canggung, ia menawarkan ide nasi katering murah untuk makan siang para pekerja.

Tak disangka, tanggapannya cukup baik.

Mandor itu mengatakan bahwa para pekerja memang kesulitan mencari makan siang yang layak dengan harga terjangkau. Ia meminta contoh menu dan harga pasti.

Sore itu, Arga dan ibunya mulai menyusun menu sederhana.

Nasi putih hangat. Ayam goreng kecil atau telur balado sebagai alternatif lebih murah. Tumis sayur. Sambal.

Tidak mewah, tetapi mengenyangkan.

Arga kembali membuka sistemnya untuk memastikan prediksi permintaan.

[Potensi pemesanan awal: 15 sampai 25 porsi.]

[Akurasi 60 persen.]

Ia tidak terlalu bergantung pada angka itu, tetapi cukup sebagai panduan.

Mereka memutuskan untuk menyiapkan dua puluh porsi untuk hari pertama, sesuai jumlah pekerja yang menyatakan minat.

Pagi itu, dapur rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Ibunya memasak dengan semangat, meski wajahnya terlihat tegang. Ayahnya membantu memotong ayam dan membungkus nasi dalam kotak sederhana.

Arga ikut membantu menyusun kotak-kotak itu di atas meja panjang. Bau nasi hangat dan ayam goreng memenuhi ruangan.

Ketika jam makan siang tiba, beberapa pekerja datang berkelompok. Mereka terlihat penasaran. Ayah Arga melayani mereka dengan sopan, sedikit gugup.

Satu per satu kotak nasi berpindah tangan.

Dua puluh porsi.

Habis. Tidak ada sisa.

Bahkan dua pekerja datang terlambat dan tidak kebagian. Sore itu, ayah Arga menghitung uang hasil penjualan dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Laku semua,” gumamnya pelan, seperti tidak percaya.

Ibunya duduk di kursi, wajahnya lelah tetapi bahagia. “Alhamdulillah.”

Arga berdiri di dekat pintu dapur, memperhatikan mereka berdua.

Ini baru langkah pertama.

Warung kecil mereka perlahan berubah arah. Bukan lagi hanya tempat membeli barang eceran, tetapi mulai menjadi usaha rumahan yang lebih terstruktur.

Sistem menampilkan notifikasi kecil.

[Transformasi Usaha: Tahap Awal Berhasil.]

Namun bagi Arga, yang lebih penting bukanlah notifikasi itu.

Yang lebih penting adalah sorot mata ayahnya yang untuk pertama kalinya tidak dipenuhi kecemasan, melainkan harapan.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!