NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kekhawatiran Liora Selene

Selene berdiri terpaku di ambang pintu dapur, menatap Damian yang kini dengan santainya mulai menyingsingkan lengan kemeja mahalnya hingga ke siku. Gadis itu benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang asisten dari keluarga Nicholas—keluarga paling berpengaruh dan sibuk seantero negeri—bisa memiliki waktu luang untuk muncul di panti asuhan kumuh pada pukul enam pagi?

"Damian, kau gila ya?" tanya Selene, suaranya setengah berbisik karena takut membangunkan anak-anak yang lain. "Ini masih pagi buta. Bagaimana kalau bosmu mencarimu? Kau bisa dipecat kalau terus-menerus membolos demi ke sini!"

Damian menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak begitu tenang, sangat kontras dengan badai kekhawatiran di wajah Selene. "Biarkan saja. Kalau aku dipecat, setidaknya aku punya lebih banyak waktu untuk membantumu di sini, bukan?"

"Ini tidak lucu!" Selene melangkah mendekat, mencoba merebut pisau yang mulai diambil Damian. "Keluarga Nicholas itu kejam. Kau sendiri yang bilang mereka punya segalanya. Jika mereka tahu asistennya malah membantu orang yang ingin mereka gusur, mereka tidak akan tinggal diam."

"Kau mengkhawatirkanku, Selene?" tanya Damian dengan nada menggoda, langkahnya sengaja maju satu tindak hingga Selene terpojok di dekat meja kayu dapur.

Aroma cokelat yang biasa keluar dari tubuh Selene kini bercampur dengan udara pagi yang dingin, menciptakan kombinasi yang membuat napas Damian memberat. Selene mendongak, menatap mata gelap pria itu yang tampak begitu intens.

"Aku tidak ingin kau kehilangan pekerjaan hanya karena kasihan padaku atau panti ini," ucap Selene lirih, matanya menyiratkan ketulusan yang murni. "Kau orang baik, Damian. Jangan korbankan hidupmu untuk masalahku."

Damian terdiam sejenak. Orang baik? batinnya. Jika Selene tahu bahwa dialah sang monster yang memegang surat penggusuran itu, apakah gadis ini masih akan menatapnya dengan penuh rasa peduli seperti ini?

"Percayalah padaku," Damian mengulurkan tangan, menyisipkan anak rambut Selene yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut. "Bosku tidak akan bisa memecatku. Karena baginya, aku adalah orang yang paling berharga di perusahaannya. Sekarang, tunjukkan padaku di mana bawang yang harus aku potong."

Selene hanya bisa mendesah pasrah, meski hatinya berdegup kencang karena sentuhan singkat itu. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia khawatirkan jatuh miskin ini sebenarnya adalah pemilik dari setiap inci tanah yang mereka injak saat ini.

Pagi itu, dapur panti yang biasanya terasa sempit dan pengap, mendadak memiliki atmosfer yang berbeda. Suara pisau yang beradu dengan talenan dan uap panas dari panci besar menjadi latar belakang kebersamaan mereka. Damian, dengan segala kecanggungannya sebagai pria yang tidak pernah menyentuh urusan dapur, justru terlihat sangat menikmati momen tersebut.

Selene mencuri pandang ke arah Damian yang sedang berjuang mengupas bawang merah dengan ekspresi seserius sedang menganalisis dokumen saham. Ia tak bisa menahan senyum tipisnya.

"Kau tahu? Awalnya aku benar-benar berpikir tidak akan pernah bertemu denganmu lagi setelah malam itu," ujar Selene sambil mengaduk bubur di panci besar. "Aku merasa kau adalah gangguan. Pria asing yang tiba-tiba muncul di tengah masalah hidupku."

Damian berhenti sejenak, ia menatap Selene dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lalu, kenapa kau membiarkanku tetap di sini sekarang?"

Selene mengangkat bahu, berpura-pura sibuk dengan bumbunya. "Entahlah. Takdir seolah punya selera humor yang aneh. Setiap kali aku merasa sendirian menghadapi ancaman keluarga Nicholas, kau selalu muncul. Entah di taman, di kedai, atau tiba-tiba berdiri di depan pintu dapurku jam enam pagi."

"Mungkin takdir tidak sedang bercanda, Selene," sahut Damian dengan suara rendah. "Mungkin takdir hanya sedang memastikan bahwa kau tidak berjuang sendirian."

Percakapan itu membuat Selene terdiam. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sesuatu yang lebih menenangkan daripada uap bubur di depannya. Ia menyadari bahwa kehadirannya Damian yang intens dalam beberapa hari terakhir telah mengikis rasa risihnya. Pria ini, meskipun misterius dan terkadang terlalu mengatur, memberikan rasa aman yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun, di balik kedekatan itu, Damian tetaplah seorang Nicholas. Sambil tangannya sibuk bekerja, pikirannya tetap liar. Ia menikmati setiap detik di dapur ini—aroma cokelat dari tubuh Selene yang bercampur dengan aroma bumbu masakan adalah candu baru baginya.

"Jika ini adalah takdir, maka aku akan memastikan takdir ini tidak akan pernah melepaskanmu dariku," batin Damian posesif.

Tanpa Selene sadari, Damian mulai mengatur segalanya agar mereka "sering bertemu secara tidak sengaja". Ia memastikan asisten pribadinya mengosongkan jadwalnya setiap kali Selene memiliki waktu luang di panti. Bagi Selene, ini adalah keajaiban takdir; bagi Damian, ini adalah skenario yang disusun dengan sangat rapi.

"Awas, matamu merah karena bawang itu," Selene mendekat, tanpa sadar ia menarik ujung kemeja Damian untuk menyeka sudut mata pria itu yang berair.

Sentuhan itu membuat Damian mematung. Dunia benar-benar berhenti berputar. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat ketulusan di mata Selene—sesuatu yang sangat mahal dan tidak akan pernah ia temukan di dunia bisnisnya yang kotor.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!