Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Gedung pameran itu terasa tenang dengan pencahayaan temaram yang hanya menyorot pada maket-maket putih bersih di atas meja kaca. Berbeda dengan GOR yang bising, di sini aku bisa mendengar deru napas Arkan yang berjalan di sisiku. Ia tidak lagi memakai jersey, melainkan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa.
Arkan berhenti di depan sebuah maket rumah modern dengan konsep terbuka dan banyak jendela besar. Matanya berbinar, jenis binar yang sama saat ia berhasil melakukan three-point shoot.
"Lo tahu, Ra?" bisiknya sambil menunjuk ke arah taman kecil di maket itu. "Kalau gue jadi arsitek nanti, gue mau bangun rumah yang nggak punya banyak sekat. Biar orang di dalamnya nggak ngerasa terkurung. Biar cahaya bisa masuk dari mana aja."
Aku menatap profil samping wajahnya. "Kayak lo ya? Yang selalu maksa masukin cahaya ke hidup gue yang gelap."
Arkan menoleh, senyum tipisnya menghilang, digantikan oleh tatapan yang begitu intens hingga aku harus memegang tepian meja kaca agar tidak limbung. Ia menarikku sedikit menjauh dari pengunjung lain, ke sebuah sudut balkon pameran yang menghadap ke arah lampu-lampu kota.
"Nara," panggilnya lembut. Angin sore menerbangkan helai rambutku, dan dengan jemari yang biasanya kasar karena basket, ia menyelipkannya ke belakang telingaku. "Gue bawa lo ke sini bukan cuma buat pamer maket-maket ini."
Jantungku mulai berulah. "Terus?"
"Gue mau lo liat dunia gue yang sebenernya. Dunia yang nggak sempurna, yang penuh coretan, tapi jujur," Arkan menarik napas panjang. "Selama ini gue jadi 'asuransi' lo, jadi 'editor' lo, tapi sebenernya... gue cuma pengen jadi alasan lo buat nggak takut lagi sama hari esok."
Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci Daisy yang sama dengan yang ada di tasku, tapi yang ini berwarna biru langit. "Gue bukan tipe cowok yang bisa kasih janji manis kayak di novel. Tapi gue janji, selama ada gue, lo nggak perlu bayar 'pajak kebahagiaan' sendirian lagi."
"Arkan..." suaraku tercekat.
"Nara, gue sayang sama lo. Bukan sebagai adek sepupunya Pandu, tapi sebagai Nara yang keras kepala, yang benci kopi, dan yang punya senyum paling mahal di dunia. Lo... mau kan jadi bab paling indah di buku hidup gue?"
Di bawah langit Jakarta yang mulai jingga, aku menatap mata cokelatnya. Tidak ada keraguan di sana. Rasa takut yang selama bertahun-tahun kupelihara seolah menguap begitu saja. Aku menggenggam tangannya, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadaku.
"Asuransinya berlaku selamanya, kan?" tanyaku dengan nada bergurau meski mataku berkaca-kaca.
Arkan tertawa rendah, lalu menarikku ke dalam pelukan yang paling hangat yang pernah kurasakan. "Seumur hidup, Ra. Tanpa biaya tambahan."
Sore itu, di antara miniatur gedung-gedung tinggi, aku menyadari bahwa masa depan tidak lagi terlihat menakutkan. Karena kali ini, aku tidak akan membangun dinding untuk bersembunyi, melainkan jendela untuk membiarkan Arkan tetap masuk.
Pelukan itu berlangsung cukup lama, hingga harum parfum maskulin bercampur aroma kertas maket dari kemeja Arkan seolah terpatri dalam ingatanku. Saat ia melepaskan pelukannya, Arkan tidak langsung menjauh. Ia tetap menggenggam tanganku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan ritme yang menenangkan.
"Ayo, ada satu tempat lagi yang mau gue tunjukin sebelum kita pulang," ucapnya penuh rahasia.
Ia membimbingku menuju sebuah sudut tersembunyi di lantai atas galeri, sebuah ruangan kecil yang berisi sketsa-sketsa kasar yang belum dipajang. Di sana, di atas meja gambar yang berantakan, ada sebuah sketsa yang belum selesai. Bukan gedung tinggi atau rumah mewah, melainkan sebuah bangku taman di bawah pohon rindang dengan sosok perempuan yang sedang membaca buku.
Aku mendekat, menyadari bahwa sosok dalam gambar itu adalah aku.
"Ini... waktu di perpustakaan bulan lalu?" tanyaku tak percaya.
Arkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya merona tipis—pemandangan langka bagi seorang kapten basket yang biasanya sangat percaya diri. "Gue nggak cuma belajar struktur bangunan, Ra. Gue juga belajar cara gambar sesuatu yang menurut gue... paling layak buat diabadikan."
Ia berdiri di sampingku, menatap sketsa itu dengan pandangan tulus. "Gue pernah bilang kan, gue mau jadi arsitek? Gue pengen bangun tempat-tempat yang bikin orang ngerasa 'pulang'. Dan tiap kali gue liat lo, gue ngerasa udah nyampe di rumah itu."
Kalimatnya sederhana, tapi berhasil membuat benteng pertahananku runtuh sepenuhnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa di balik sifat usil dan kehebatannya di lapangan, Arkan menyimpan kedalaman rasa yang begitu terukur.
"Kan," panggilku pelan, membuat ia menoleh. "Makasih sudah sabar nunggu aku selesai sama masa laluku."
Arkan tersenyum, kali ini senyum yang paling jujur yang pernah kulihat. "Masa lalu lo itu bagian dari lo, Ra. Gue nggak mau lo hapus itu, gue cuma mau nemenin lo bikin halaman baru yang lebih cerah. Jadi, mulai besok, nggak ada lagi Nara yang sembunyi di balik ban kapten gue, oke? Kita jalan bareng, di depan semua orang."
.