NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

"Aku membencimu, Iago."

Kata-kata gadis itu menancap di udara, lebih tajam dari beling, terngiang di antara deru hujan yang menggerus segala suara lain.

Hujan mengguyur tanpa ampun, mengiris langit kelabu dengan jarum-jarum air yang tak terhitung. Air yang dingin menusuk itu memercik ke kulit, meninggalkan rasa beku yang merambat ke tulang, sementara tanah berubah menjadi rawa becek yang menelan setiap jejak.

Genangan air berwarna timah itu merayap naik, menyentuh mata kaki. Setiap kilat menyambar, membelah langit dengan cahaya ungu-putih yang pucat dan sesaat, memantulkan bayangan mereka yang terdistorsi di permukaan air.

"Aku sangat membencimu." Suaranya bergetar. "Kuharap kau mati."

Lalu ia berbalik. Jubahnya yang basah kuyup dan berat menampar udara dengan suara whap yang tumpul sebelum ia melangkah pergi, meninggalkan jejak-jejak lekuk yang dalam di lumpur yang mengisap. Suara langkahnya tenggelam perlahan dalam raungan hujan yang monoton, lalu hilang sama sekali.

Iago tetap di tempatnya, tak bergeming meski angin mencabik-cabik bajunya yang sudah menjadi kulit kedua. Hujan membasahi rambut hitamnya yang lepek dan kusut, menutupi alisnya yang tebal, meneteskan air ke sudut mata yang kering.

Matanya terbuka sedikit lebih lebar, melihat tanpa benar-benar melihat, sementara bibirnya yang pucat ternganga. Napasnya hampir tak terdengar, tipis dan pendek, dikalahkan oleh desisan hujan yang tiada henti.

...****************...

Setahun sebelumnya. Tahun 1500.

Di suatu pagi yang beraroma tanah basah pasca-hujan dan keringat kuda yang hangat, seorang pemuda berusia dua puluh tahun menginjakkan kaki di ibu kota. Rambutnya hitam legam dan sedikit bergelombang, terbelah di tengah dengan rapi yang cepat buyar, berantakan alami di bagian belakang. Matanya, warna kopi pekat, selalu setengah terpejam.

Pakaiannya sederhana tapi rapi, kain kasar yang ditenun dengan baik, tanpa satu pun noda atau jahitan yang lepas.

"Jadi, inilah Kerajaan Valemira," gumamnya, suaranya serak dan hampir hilang dalam keriuhan pasar yang seperti ombak.

Di ujung jalan, istana menjulang bagai gunung buatan manusia. Marmer putihnya bersinar membutakan di bawah matahari pagi yang keemasan, dihiasi logam emas yang memantulkan cahaya hingga puncak menaranya yang ramping.

Pemuda itu menyusuri kerumunan, bahunya sesekali menyenggol orang lain. Para penjual berteriak menawarkan sayuran segar yang masih berkilauan embun, suara mereka bersahutan, naik-turun. Ibu-ibu dengan lengan kuat membawa keranjang anyaman yang penuh, anak-anak berlarian dengan kaki telanjang yang coklat, tertawa-tawa dengan suara jernih dan polos.

Bau roti panggang hangat dan daging asap yang gurih menari di udara, hangat, berminyak, dan mengundang. Ia berhenti sebentar di sebuah genangan, memandangi bayangan wajahnya yang kabur dan bergoyang di permukaan air keruh, lalu menghela napas panjang yang bergetar dan melangkah lagi.

"Hei, pemuda!" Suara itu berat, serak. "Wajahmu asing. Dari desa, ya?" Seorang pedagang berperut buncit melingkar dan berkumis tebal yang menguning melambai-lambai dari balik gerainya yang penuh barang rongsokan, senyum lebar terpampang di wajahnya.

"Ya, Pak. Baru tiba," sahut pemuda itu sambil mendekat, senyum tipis.

"Nah, kebetulan!" Pedagang itu menepuk-nepuk meja kayunya yang penuh goresan, menghasilkan bunyi thok-thok yang tumpul dan berdebu. "Saya punya jimat keberuntungan. Harga spesial untuk pendatang baru. Cuma satu Flor!"

Ia mengangkat sebuah benda kecil berkilauan palsu. Logam murah yang dibentuk seperti bintang berujung lancip, bergoyang-goyang di antara jari-jarinya yang gemuk dan berkotor.

Pemuda itu menaikkan alisnya yang hitam. Satu Flor, koin perak yang bisa mengisi perut seminggu, untuk sebongkah logam dan keyakinan yang tipis?

"Maaf, Pak. Uang segitu lebih baik untuk membeli makanan."

Pedagang itu tertawa canggung. "Haha... benar juga. Baiklah, baiklah. Keberuntunganmu sendiri yang menolak."

Setelah percakapan singkat dan penolakan halus, pemuda itu kembali berjalan, menyisihkan diri dari kerumunan. Jimat keberuntungan, ya? Sudut bibirnya terangkat sekilas. Siapa yang mau membeli ilusi semacam itu?

Tiba-tiba, bunyi roda kereta mendekat, berderak keras dan berisik di atas jalanan batu yang tidak rata. Seekor kuda hitam legam berotot, berpelana mewah dengan sulaman benang emas, melintas dengan gagah, dikendalikan seorang penjaga bertampang tegas.

Di dalam kereta terbuka itu, duduk seorang gadis. Rambutnya pirangnya terurai di bahunya, memantulkan sinar matahari. Matanya biru seperti kristal laut di tengah hari.

Bukankah itu... Stella Valemira? pikir pemuda itu yang terus melangkahkan kakinya.

Untuk sesaat, sepersekian detik yang terentang panjang, pandangan mereka bertaut. Hanya sekejap, tapi cukup membuat denyut pasar seolah terhenti, suara-suara meredam menjadi dengung rendah. Waktu melambat, menjadi kental. Teriakan pedagang memudar menjadi bisikan. Hanya tatapan itu yang tersisa—biru laut yang dalam bertemu dengan hitam kopi yang pekat, asing namun terasa familiar.

Kereta itu mendadak berhenti, rodanya bergesekan dengan batu hingga berbunyi nyaring kreek! yang memekakkan.

Stella melompat turun dengan langkah cepat, sepatu bot kulit halusnya membentur tanah dengan suara thok. Matanya, kini menyipit, menatap punggung pemuda yang mulai menjauh di kerumunan. Ia berlari kecil, kain gaunnya yang halus berdesir, napasnya sedikit tersengal ketika berhenti. "Tunggu! Hei, kau..."

Pemuda itu berbalik, kerutan kebingungan yang halus muncul di dahinya.

"Jangan cuma melongo!" Stella membentak, tangannya yang ramping sudah berada di gagang pedang berukir yang menggantung di pinggang.

"Ada masalah, Putri Stella?" Suara pemuda itu tetap tenang.

"Siapa kau? Wajahmu asing. Tak ada dalam catatan pendatang hari ini."

"Saya baru dari pedesaan. Mungkin catatannya terlambat."

Mata Stella menyipit lebih dalam, mengkaji setiap garis wajahnya. Dalam satu gerakan cepat, pedangnya terhunus. Bunyi logam menyanyi di udara—shing, ujung bilah yang runcing berhenti seinci dari leher pemuda itu. Seketika, pasar mendadak hening. Bisikan berdesis, penuh rasa ingin tahu dan ketakutan.

"Itu Putri Stella..."

"Kenapa menghunus pedang kepada rakyat biasa?"

"Kudengar Sang Bayangan, pencuri hantu itu, berkeliaran di sini... Mungkin Tuan Putri mencurigainya."

Pemuda itu mendengar bisikan itu, menangkap setiap suku kata. Jadi, dia mengiraku pencuri itu. Yang katanya bahkan bisa mencuri bayangan seseorang.

Perlahan, dengan suara datar yang tidak berombak, ia berkata, "Saya mengerti kecurigaan Anda. Tapi apakah menghunus pedang perlu, sebelum kebenaran terbukti?"

Tanpa ragu, ia malah melangkah mendekat—sedekat bilah tajam yang mengiris kulit tipis di lehernya. Setetes darah muncul, merah terang dan mencolok di kulit pucatnya, mengalir pelan, membentuk garis tipis ke arah kerah bajunya.

Mata Stella terbelalak, sedikit goyah. "Jangan bergerak!" teriaknya, tapi tangannya yang biasanya mantap gemetar halus.

"Apakah ini cara Valemira menghakimi orang tak bersalah, Putri?" kata pemuda itu.

Penjaga yang mengendarai kereta kuda tadi segera mendekat, langkahnya cepat tapi terkendali dan berat. Suaranya rendah namun tegas memotong ketegangan. "Yang Mulia, tolong kendalikan diri. Kita masih belum punya cukup bukti."

Mendengar suara penasihatnya, Stella akhirnya menarik napas dalam sebelum menurunkan pedangnya. "Kau benar, Garron. Maafkan kekasaran saya." Pedangnya masuk sarung dengan suara mendesing yang final, logam bertemu kulit dengan thup yang melegakan.

Kerumunan mulai bubar dengan raut kecewa yang jelas di wajah mereka—pertunjukan gratis sudah selesai sebelum klimaks. Stella lalu tersenyum, sementara matanya yang biru masih mengawasi. "Aku Stella Valemira, putri tunggal Kerajaan Valemira. Dan kau?"

Tunggu… Pemuda itu menatapnya lebih dalam, matanya menelusuri garis wajahnya. Kenapa wajah gadis ini terasa tidak asing? Apa hanya perasaanku saja?

Ia mengabaikan pikiran itu lalu membungkuk hormat, satu tangan di dada, gerakan yang anggun meski pakaiannya sederhana. "Iago Verbal. Suatu kehormatan."

"Iago Verbal." Stella mengulang namanya pelan. Senyumnya pudar, digantikan oleh kerutan pikiran di antara alisnya yang tipis. "Nama yang... unik. Terdengar seperti nama tua dari selatan."

"Orang sering bilang begitu," Iago membalas dengan senyum.

"Kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanya Stella, tatapannya menelusuri setiap garis wajah Iago.

Garron gelisah di sampingnya. Ia menggeser berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lain, pelat besi di bahunya berderak halus. "Putri, waktu kita—"

Tapi Stella mengabaikannya, fokusnya tertancap pada Iago.

Iago menggeleng halus, rambut hitamnya yang berantakan bergoyang. "Saya baru tiba. Mustahil kita pernah bertemu."

"Mungkin hanya perasaan, atau mimpi yang tersisa," ucap Stella, berusaha merilekskan bahunya yang menegang. "Jadi, apa tujuanmu ke ibu kota yang hiruk-pikuk ini?"

"Mencari pekerjaan."

"Pekerjaan?" Stella memiringkan kepalanya, rambut pirangnya jatuh seperti tirai emas. Matanya yang analitis turun ke pakaian Iago, mengamati kainnya. "Dan pakaianmu ini... Jarang melihat kain dengan tenunan seperti ini di desa-desa sekitar. Kualitasnya baik." Nada Stella ramah, tetapi di balik keramahannya, matanya masih tajam, mengawasi setiap kedip, setiap tarikan napas, setiap ketegangan otot kecil.

Iago tak terkejut. Jadi seperti ini Putri Stella yang katanya mengalahkan Organisasi IV? pikirnya.

"Ini hadiah dari seorang teman di kota. Kami sangat dekat, seperti saudara," jawabnya akhirnya.

"Teman?" Stella menaikkan alisnya, membentuk lengkungan yang sempurna. "Kau tahu di mana ia sekarang? Mungkin bisa kujadikan kenalan."

"Tidak. Kami kehilangan kontak."

"Putri," Garron menyela lagi, suaranya sekarang lebih mendesak. “Kita sudah terlambat. Pencarian harus dilanjutkan.”

"Kau benar, Garron." Stella memutar tubuhnya, kain gaunnya berputar, tapi pandangannya yang terakhir masih tertahan pada Iago. "Tapi pencuri seperti Sang Bayangan takkan muncul di siang terang benderang begini, bukan, Iago?" Ia tersenyum tipis.

"Ya, biasanya pencuri bekerja di malam hari karena lebih sepi."

"Tepat." Dia berbalik sepenuhnya. "Ayo, Garron! Waktu kita terbuang untuk kecurigaan yang salah!"

Sebelum kereta bergerak, Stella menoleh sekali lagi dari jendela. Angin pagi meniup rambutnya, membingkai wajahnya yang pucat dan tegas di bawah bayangan kanopi kereta. Matanya menatap Iago, tatapan yang dalam dan penuh pertanyaan. “Selamat tinggal, Iago Verbal! Kuharap kita bertemu lagi!"

Kereta mulai bergerak, meninggalkan Iago sendirian di tengah kerumunan yang kembali ramai.

Kenapa dia ingin bertemu lagi? pikir Iago, sambil memasukkan tangan ke saku celananya, merasakan kain kasar dan beberapa koin dingin di dalamnya.

Tiba-tiba, seperti diterjang angin dingin, ia mengingat kasus "Pembunuh IV" yang dilakukan oleh Organisasi IV. Seribu nyawa melayang dalam gelap, mayat-mayat yang ditemukan dengan pola yang aneh. Dalangnya, Alarion Varek, dieksekusi di tiang gantung dengan teriakan terakhir yang menggema di alun-alun: “Kalian semua salah!”

Sebagian percaya itu adalah pengakuan palsu orang gila, sebagian yakin dengan gemetar bahwa ada dalang lain, otak yang lebih gelap. Cerita itu masih bergulir di lidah rakyat, dibisikkan di malam hari, seperti lagu nina bobo yang menyeramkan yang tak pernah usai.

...****************...

Iago menemukan penginapan murah di lantai dua sebuah bangunan kayu yang reyot, kamar pojok dengan jendela kecil menghadap pepohonan yang menutupi pemandangan. Ia melemparkan tas kainnya yang tipis ke lantai kayu yang berdebu dan pecah-pecah, menghasilkan bunyi thud yang tumpul dan tidak memuaskan. Lalu merebahkan diri di atas kasur.

Kasur kapuk tua itu langsung mengeluarkan bunyi creak yang keras di bawah berat tubuhnya, per-pernya yang keras protes dengan setiap gerakan. Angin sore yang hangat menerbangkan tirai tipis dan berlubang-lubang, membawa aroma tanah lembab dan bunga liar yang manis.

Akhir-akhir ini selalu ada perasaan aneh, pikirnya, menatap langit-langit kayu yang retak dan dihiasi sarang laba-laba.

Jam berjalan dengan malas, dan kemalasan yang berat menahannya di tempat tidur. Hawa panas siang mulai menyengat, mengubah kamar kecil itu menjadi tungku pengap. Keringat mulai berkumpul di pelipisnya, menetes pelan di sisi wajahnya, terasa asin dan lengket ketika ia menjilatnya.

"Panas sekali... Aku ingin sesuatu yang dingin."

Ia mengenakan mantel abu-abu lusuh yang selalu ia bawa. Tambalannya berjumlah lima—tiga di lengan kiri, dua di dada—ia pernah menghitungnya suatu malam yang sangat sunyi. Kemudian ia turun melalui tangga kayu yang berderit dan berjalan keluar, menyelam kembali ke lautan kota.

Kedai "Kuda Hitam" sepi dan berbau saat ia masuk. Lantai kayunya yang lapuk berderit di setiap langkah, baunya campuran bir basi yang masam, abu rokok yang pahit, dan keringat tua yang menyengat. Iago memesan sari apel dingin. Cairan keemasan itu terasa manis dan asam sekaligus, menyegarkan kerongkongan yang kering, membuat lidahnya yang lesu terasa hidup kembali dengan ledakan rasa.

Tapi tengkuknya meremang, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa diawasi. Empat pria tua duduk di sudut gelap, mata mereka yang keruh menyelidik.

Setelah gelasnya kosong, meninggalkan jejak lingkaran basah di meja kayu yang berminyak, Iago membayar dengan koin yang berdentang nyaring dan pergi. Langkahnya menyatu dengan irama pasar yang sedang sekarat—dentang perkakas besi yang dikemas, teriakan penawaran terakhir yang berubah jadi gumaman serak dan putus asa.

Saat ia menyusup ke mulut sebuah gang sempit yang tersembunyi di antara dua bangunan tinggi, segala suara pasar itu terpotong bagai teriris pisau, ditinggalkan di dunia lain. Yang tersisa hanyalah gema sepatu botnya sendiri yang memantul dari dinding batu lembap yang ditumbuhi lumut hijau gelap.

Lalu, ada ritme asing yang memecah kesendiriannya. Lebih berat. Lebih banyak. Lebih berbahaya. Lima pasang kaki yang berderap di belakangnya, membentuk sinkopasi yang menegangkan, mengisi ruang sempit dengan ancaman.

Iago tidak menengok. Ia tak perlu. Empat pria besar dengan postur seperti pentungan, bahu lebar dan langkah berat, dan satu sosok lain di belakang yang langkahnya lebih terukur.

"Berhenti!"

Teriakan itu mengoyak kesunyian gang, kasar, basah, dan penuh amarah.

Derap di belakangnya berubah menjadi tumbukan keras dan cepat terhadap batu. Iago membalas dengan mempercepat langkahnya sendiri, napasnya mulai membentuk awan pendek dan panas di udara dingin gang, dan di dalam sangkar tulang rusuknya, jantungnya memukul-mukul penjara dagingnya dengan ritme panik.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!