Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Seminggu pertama setelah rapat besar di Zurich, Olivia sibuk menandatangani berbagai berkas—kontrak, laporan, dokumen legal, dan pengesahan proyek cabang baru. Tangannya pegal, tapi ada rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan. Ia sadar, meski usianya baru lulus SMA, ia mulai belajar menavigasi dunia dewasa.
Setelah semua selesai, mereka kembali ke tanah air. Mobil melaju pelan di jalan menuju rumah baru Olivia di tanah air. Lampu-lampu taman menyala hangat, dan bangunan modern bercampur klasik itu tampak menjulang elegan di bawah cahaya senja.
Begitu pintu terbuka, Olivia disambut sahabatnya, Jesica, dengan senyum nakal yang lebar.
“Jadi… bagaimana, Liv?” goda Jesica sambil menepuk pundak Olivia. “Ada belah duren nggak? Kayak di drama Korea itu, atau drama Cina? Jangan bilang nggak ada sensasinya sama sekali.”
Olivia menepuk lengan Jesica cepat, separuh kesal, separuh geli. “Udah, bosen! Masih perawan, Jes! Masih suci!”
Beberapa staff rumah—pelayan dan asisten pribadi—menyaksikan adegan itu dengan mata membulat. Olivia menelan ludah, sadar terlalu keras berbicara.
“Aduh, Jes… masuk sini dulu!” Olivia menarik tangan Jesica ke arah ruangan lain.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang membuat Olivia melongo. Perpustakaan. Besar. Lebih besar dari perpustakaan sekolahnya dulu, dengan rak tinggi dari lantai sampai langit-langit, tangga kecil mengitari rak-rak kayu gelap, dan jendela besar yang memantulkan cahaya lampu taman.
“Mata gue…” gumam Olivia, matanya melotot. “Ini… ini perpustakaan atau istana buku?”
Jesica tertawa kecil, berdiri di samping Olivia sambil menepuk punggungnya. “Gila… Liv, Oma lu emang nggak main-main. Kayaknya lu bakal betah di sini. Bisa belajar, baca, atau… sembunyi kalau mau kabur dari kak Juna.”
Olivia mengerutkan kening, tapi bibirnya tersenyum tipis. Meski hatinya lega karena bebas sementara dari kewajiban, pikirannya kembali melayang ke Zurich, ke rapat, dan… ke Juna.
Jesica menatapnya diam sejenak, lalu tiba-tiba matanya melebar. “Oh ya, Liv… gue kayak pernah ngelihat kak Olin…” gumamnya pelan.
Olivia menoleh, penasaran. “Dimana?”
Jesica menggigit bibirnya, wajahnya serius tapi sedikit tegang. “Di mall, beberapa hari lalu… kayaknya… Kak Olin. Gue hampir yakin deh. Dan… waktu gue lagi di taman kota juga… gue lihat dia lagi.”
Olivia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Jesica lebih tajam. “Berarti lu yakin banget itu Kak Olin, atau cuma kebetulan aja?”
Jesica mengangguk pelan. “Beneran, Liv… gue nggak bisa bilang 100%, tapi… gue kayak nggak salah. Dua kali lihat di tempat berbeda, keduanya deket sama waktu lu di sana. Gue coba samperin tapi selalu tiba-tiba menghilang.”
Olivia menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan mata berkilat. “Kalau memang itu Kak Olin… gue harus tau di mana dia. Setidaknya… gue bisa coba mengembalikan keadaan. Biar kalau dia muncul lagi, gue tetap bebas… jadi remaja normal. Gue nggak mau terus-terusan dikontrol gara-gara dia.”
Jesica mengangguk, serius. “Oke, Liv… tapi hati-hati ya. Kalau Kak Olin beneran muncul, bisa jadi dia belum mau ketemu.”
Olivia menatap rak-rak buku tinggi, menarik napas panjang, lalu berkata pelan pada dirinya sendiri, setengah berbisik,
“Tenang… gue harus tenang. Biar gue bisa atur semuanya sendiri… tanpa harus kehilangan kebebasan gue.”
Jesica menoleh lagi, matanya melebar dua kali lipat, menunjuk ke jendela perpustakaan
“Liv… Kak Olin… di luar!”
Olivia menelan ludah, menatap jendela perpustakaan. Di luar, bayangan seseorang bergerak diluar taman samping rumah. Tinggi, ramping, gerakannya familiar… tapi apakah benar Olin? Hatinya campur aduk, penasaran, cemas dan juga takut.
“Jes… kita harus cek, beneran nggak,” bisiknya.
Jesica menelan ludah. “Liv… lu yakin mau keluar sekarang? Orang oma bisa tau kalau kita pergi sembunyi-sembunyi.”
Olivia menggigit bibir. “Yah… kalau gue nggak tau sekarang, gue nggak bakal bisa rencana apa-apa. Gue nggak mau terus dikontrol cuma gara-gara Kak Olin kabur.”
Jesica menghela napas panjang, tapi mengangguk. “Oke deh….”
Mereka menuruni tangga perlahan, menghindari pelayan yang sedang membersihkan lorong. Olivia membuka pintu belakang dengan hati-hati, menatap taman di bawah lampu taman hangat. Bayangan itu masih bergerak, dan mereka keluar dari kawasan rumah dengan aman.
“Mungkin… bukan Kak Olin juga,” gumam Jesica, tapi suaranya sedikit bergetar.
Olivia menatap lurus, menegakkan dagu. “Kalau memang bukan dia… gue harus pastikan. Gue nggak takut!”
Langkah mereka berdua pelan tapi pasti, mendekati bayangan itu. Semakin dekat… bentuknya semakin jelas. Rambutnya familiar, postur tubuhnya juga… tapi wajahnya tertutup topi.
Olivia menelan ludah, ingin memanggil… tapi tiba-tiba Jesica menepuk pundaknya pelan. “Liv… hati-hati… jangan terlalu dekat dulu.”
Olivia mengangguk, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia melangkah lebih dekat, lalu… bayangan itu menoleh. Seketika, tubuh Olivia membeku. Mata Jesica melebar.
“Tunggu… itu… itu benar-benar…” Jesica berbisik, tapi Olivia sudah menahan napas, mencoba memastikan…
Orang itu menurunkan topi, menatap lurus ke arah mereka. "Ngapain kalian ikuti saya!?" tanyanya sinis
Olivia terdiam bisa melihat satu hal yang membuat jantungnya hampir berhenti, wajah itu… familiar, tapi berbeda. Bukan Olin.
"Maaf mbak salah orang," kata Olivia merasa tidak enak.
Olivia menghela napas panjang, melempar pandangan marah sekaligus lega ke Jesica setelah orang itu pergi.
“Gila… gue udah panik setengah mati, ternyata… orang asing. Tapi… bayangan dia tadi… bikin gue hampir berharap kak Olin.”
Jesica tertawa kecil, tapi masih tegang. “Liv… jadi kita nggak salah lihat… tapi setidaknya kita tau… Kak Olin belum muncul.”
Olivia menepuk jidatnya sendiri, setengah kesal, setengah geli. “Gila ya… gue udah siap punya rencana besar, dan ini ternyata orang asing. Aduh, Jes… hidup gue nggak pernah normal deh!”
Jesica tersenyum nakal. “Yah… kalau nanti Kak Olin muncul beneran, kita udah latihan siap-siap. Tapi sekarang… setidaknya kita selamat dari drama malam ini.”
Olivia menunduk, lalu tersenyum tipis. “Iya… tapi gue nggak bakal santai lama-lama. Kalau Kak Olin muncul lagi… gue harus siap ngambil alih, supaya gue tetap bebas sebagai remaja!”
Tiba-tiba, dari balik pepohonan tepi jalan, terdengar suara langkah cepat… dan seseorang menepuk pundak Olivia dari belakang. Ia menoleh, mata melebar, siap untuk berteriak—