Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Rumah Gelap dan Ego yang Terluka
Hujan masih mengguyur Jakarta, menyisakan genangan air kotor di sepanjang jalanan menuju kontrakan.
Rio membanting pintu mobil Agya kreditnya dengan kasar. Brak!
"Sialan. Macet, hujan, laper," umpatnya sambil berlari kecil menghindari becekan, melindungi sepatu pantofelnya yang mulai jebol di bagian sol.
Kepalanya pening. Seharian ini mood-nya hancur. Setelah insiden "kurir nyasar" di lobi tadi pagi, dia harus mati-matian membujuk Siska yang sempat ilfeel. Untungnya, makan siang mahal di restoran Jepang berhasil membuat Siska tersenyum lagi. Tapi dompet Rio jadi tipis seketika.
"Awas aja kalau di rumah nggak ada makanan enak," gerutu Rio sambil merogoh saku, mencari kunci pagar. "Awas kamu, Kara. Bikin malu suami di kantor, sekarang mau males-malesan?"
Saat dia membuka gembok pagar yang berkarat, dia merasakan hawa aneh.
Di warung sebelah, Bu Tejo dan beberapa bapak-bapak sedang nongkrong. Biasanya mereka akan menyapa Rio dengan ramah, "Eh Mas Rio baru pulang kerja? Sukses ya Mas!"
Tapi malam ini, mereka diam.
Mereka menatap Rio.
Tatapan mereka aneh. Seperti menahan tawa, tapi juga ada rasa kasihan. Seperti melihat orang yang baru saja kejatuhan kotoran burung di kepala tapi tidak sadar.
"Malam, Bu Tejo," sapa Rio singkat, mencoba tetap angkuh.
"Malam, Mas Rio..." jawab Bu Tejo, bibirnya kedutan menahan senyum ganjil. "Sepi ya Mas rumahnya?"
Rio mengerutkan kening. "Biasa lah, Bu. Istri mungkin lagi tidur."
Bu Tejo dan bapak-bapak itu saling lirik. Ada suara cekikikan pelan yang tertahan. Rio merasa tersinggung. Apa sih masalah orang-orang kampung ini? Iri liat aku kerja kantoran?
Rio mengabaikan mereka dan masuk ke halaman kontrakannya.
Gelap.
Itu hal pertama yang menyambutnya.
Biasanya, jam segini lampu teras sudah nyala. Lampu ruang tengah sudah terang benderang. Aroma tumis kangkung atau ayam goreng akan tercium sampai teras. Suara TV yang menayangkan sinetron azab akan terdengar samar.
Tapi malam ini, rumah itu mati. Hening. Seperti kuburan.
"Kara!" panggil Rio sambil membuka pintu depan yang ternyata tidak dikunci. "Kamu ngapain sih lampunya dimatiin semua? Hemat listrik nggak gini juga kali!"
Hening. Tidak ada jawaban.
Rio meraba-raba dinding, mencari saklar lampu. Kakinya menabrak sudut meja tamu.
"Aduh! Bangsat!" Rio mengaduh, memegangi tulang keringnya yang nyut-nyutan. Emosinya memuncak ke ubun-ubun. "KARA! KELUAR NGGAK?! SUAMI PULANG BUKANNYA DISAMBUT MALAH MAIN PETAK UMPET!"
Klik.
Lampu neon ruang tengah menyala, berkedip-kedip sebentar sebelum terang sepenuhnya.
Pemandangan di depannya membuat Rio terdiam sejenak.
Ruangan itu rapi. Terlalu rapi.
Tidak ada tumpukan baju setrikaan di sofa.
Tidak ada gelas kopi sisa pagi tadi di meja tamu.
Semuanya bersih. Dan sunyi.
Perut Rio berbunyi krucuk keras. Lapar. Dia langsung berjalan ke dapur, berharap ada makanan di bawah tudung saji.
Dia membuka tudung saji di meja makan dengan kasar.
Kosong.
Hanya ada piring bekas nasi goreng pagi tadi yang sudah kering dan bersemut. Kara bahkan tidak mencucinya?
"Gila..." Rio tertawa tak percaya. "Bener-bener gila perempuan ini. Udah berani mogok kerja dia?"
Saat Rio hendak membanting tudung saji itu kembali ke meja, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas taplak meja yang kusam.
Sebuah cincin emas muda. Cincin kawin mereka.
Dan selembar kertas HVS yang terlipat rapi di sebelahnya.
Darah Rio berdesir naik ke kepala. Dia menyambar kertas itu. Membacanya dengan cepat.
Gugatan Cerai.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Kara Anindita...
Mengajukan gugatan cerai terhadap Rio Pratama karena ketidakcocokan...
Rio membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali.
Lalu dia melempar kertas itu ke lantai sambil tertawa keras. Tawa yang terdengar sumbang di ruangan kosong itu.
"Hahahaha! Cerai? Dia minta cerai?" Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah baru saja membaca lelucon paling lucu sedunia. "Ya ampun, Kara... Kara. Kamu tuh mau main drama sinetron apa gimana?"
Rio mengambil cincin kawin itu, memutar-mutarnya di jari.
"Kamu pikir aku bakal takut? Kamu pikir aku bakal lari-lari nyariin kamu sambil nangis?" Rio berbicara sendiri pada tembok kosong. "Kamu itu nggak punya siapa-siapa, Kara. Orang tua kamu udah mati (itu yang Kara bilang dulu). Kamu nggak punya duit. Kamu nggak punya kerjaan."
"Palingan kamu lari ke rumah temen kamu si Rina itu, kan? Numpang makan?"
Dengan santai, Rio mengeluarkan HP-nya. Dia menekan nomor Kara. Dia berniat memarahi istrinya itu habis-habisan dan menyuruhnya pulang sekarang juga kalau tidak mau tidur di teras.
Tut... Tut...
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Rio mendengus kesal. "Dih, dimatiin hp-nya. Sok jual mahal."
Dia melempar HP-nya ke sofa. Dia tidak merasa kehilangan. Belum.
Egonya terlalu besar untuk memberi ruang pada rasa takut.
Dia justru merasa... bebas.
"Oke. Fine. Kalau itu mau kamu," gumam Rio sambil membuka kulkas, mengambil botol air dingin. "Malam ini aku bisa tidur tenang tanpa dengerin omelan kamu minta duit belanja. Liat aja besok pagi. Paling juga balik lagi sambil nangis-nangis minta maaf karena nggak punya duit buat makan."
Rio meneguk air dingin itu, lalu berjalan ke kamar tidur.
Dia merebahkan dirinya di kasur busa yang terasa lebih luas karena kosong di sisi sebelahnya.
Tapi entah kenapa...
Meskipun dia merasa menang, matanya menatap langit-langit kamar yang bocor itu dengan perasaan ganjil.
Biasanya ada Kara yang menaruh ember di bawah tetesan itu. Sekarang, air menetes tik... tik... tik... langsung membasahi lantai.
Suara tetesan air itu terdengar sangat nyaring. Mengganggu.
Seperti menghitung mundur waktu kehancuran Rio yang sebentar lagi tiba.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏