Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
( Rasyid 3 tahun )
Riuh Kecil di Ruang Tengah
Waktu seolah memiliki sayapnya sendiri. Rasanya baru kemarin aku mendekap Rasyid dengan sisa-sisa isak tangis baby blues, namun kini, bocah kecil itu sudah tumbuh menjadi balita tiga tahun yang sangat aktif. Rasyid tumbuh dengan karakter yang unik; ia sangat patuh jika urusan makan, namun dunia kecilnya sering kali terserap habis ke dalam tumpukan balok mainan di sudut ruang tamu.
"Rasyid, ayo makan dulu, Sayang," panggilku lembut dari arah dapur.
Tanpa bantahan yang berarti, ia meninggalkan robot plastiknya, lalu berlari kecil menuju meja makan.
Kedekatannya dengan Hamdan memang tak perlu diragukan—mereka sering menghabiskan waktu bergulat di karpet atau bermain bola di halaman. Namun, tetap saja, jika ada air mata yang jatuh atau lutut yang tergores, akulah pelabuhan pertamanya. "Bunda..." adalah kata ajaib yang selalu ia serukan di sela isaknya.
Sore itu, aroma gurih mulai memenuhi udara. Aku sedang menyiapkan menu favorit sang jagoan: telur ceplok dengan pinggiran renyah dan kentang rebus potong dadu. Rahasianya ada pada topping mayones yang melimpah di atasnya.
"Wah, menu spesial buat Rasyid sudah siap!" seru Hamdan yang baru saja meletakkan tas kerjanya. Ia mengecup keningku singkat sebelum menghampiri putranya.
Belum sempat suapan pertama masuk ke mulut Rasyid, suara deru motor di halaman depan mengalihkan perhatian kami. Tak lama kemudian, suara ketukan pintu yang akrab terdengar.
"Assalamualaikum! Riana? Mas Hamdan?"
Aku tersenyum lebar. Itu suara Fattah, sepupuku. Ia memang rajin berkunjung, setidaknya seminggu dua kali. Ada ikatan persaudaraan yang begitu dalam antara aku dan Fattah; ia sering bilang bahwa rindu padaku—kakak sepupunya—adalah alasan utamanya selalu menyempatkan diri mampir di tengah kesibukannya.
"Waalaikumussalam! Masuk, Fatt, nis!" jawabku sembari membukakan pintu.
Fattah masuk bersama istrinya, Nisa, dan putra kecil mereka yang menggemaskan. Namanya Fazzan Muhammad Abror. Aku selalu tersenyum setiap kali mendengar nama itu disebut. Sebuah nama yang lahir dari kolaborasi kasih sayang; aku yang memberikan nama "Abror", sementara Hamdan yang menyumbangkan nama "Fazzan Muhammad".
"Abror! Sini main sama Kakak Rasyid," seru Rasyid kegirangan melihat adiknya datang.
Jarak usia mereka hanya terpaut satu tahun lima bulan. Rasyid yang sudah menginjak tiga tahun tampak sedikit lebih tenang dibandingkan Abror yang baru berusia dua tahun. Abror adalah definisi bocah aktif yang sesungguhnya.
Begitu kakinya menyentuh lantai rumah kami, ia langsung berlari ke sana kemari, menjelajahi setiap sudut seolah-olah sedang berada di taman bermain.
"Abror, pelan-pelan, Sayang! Nanti jatuh!" teriak Nisa dengan wajah cemas namun penuh tawa. Ia terpaksa terus berdiri, membuntuti putranya yang tidak bisa diam sedetik pun.
Nisa menghela napas panjang sembari duduk sebentar di sampingku, meski matanya tetap waspada mengawasi Abror. "Aduh, Mbak Ri, Abror ini energinya nggak habis-habis. Bedanya jauh ya sama Rasyid yang lebih kalem kalau main."
Aku tertawa kecil sembari menyodorkan sepiring kentang rebus mayones ke arahnya. "Namanya juga anak laki-laki, Nis. Justru itu tandanya dia sehat dan cerdas. Sini, duduk dulu, biar Mas Hamdan dan Fattah yang jaga mereka di karpet."
Fattah duduk lesehan di dekat Rasyid dan Abror. Ia tampak sangat menikmati momen itu. "Rasyid makin pintar saja, Mbak. Tadi aku lihat dia sudah bisa menyusun balok tinggi banget," puji Fattah sembari menoleh ke arahku. Matanya memancarkan ketulusan seorang saudara yang ikut bahagia melihat pemulihanku dan kebahagiaan keluarga kecil kami.
Hamdan menimpali sembari membantu Abror yang hampir menabrak meja jati. "Iya, Tah. Tapi kalau sudah lapar, semua mainan ditinggal. Dia persis Bundanya, nggak bisa telat makan."
Kami semua tertawa. Suasana rumah yang dulu sempat terasa sunyi dan kelabu, kini benar-benar telah bertransformasi menjadi ruang penuh kehidupan. Ada suara tawa anak-anak yang saling mengejar, denting piring berisi telur ceplok favorit, dan obrolan hangat antar saudara.
Melihat Rasyid dan Abror yang kini duduk berdampingan—meski hanya bertahan dua menit sebelum Abror kembali berlari—membuat hatiku menghangat. Nama "Abror" yang aku pilihkan untuknya berarti "orang-orang yang berbuat kebajikan". Aku berharap, kelak mereka berdua tumbuh menjadi sahabat sejati yang saling mendukung dalam kebaikan, sebagaimana aku, Hamdan, Fattah, dan Nisa menjaga silaturahmi ini.
Sore itu ditutup dengan kebersamaan yang sederhana namun mewah di mataku. Sebuah bukti bahwa setelah badai yang hebat, Tuhan selalu menyiapkan pelangi berupa kehadiran orang-orang terkasih di rumah yang kita bangun dengan cinta.
TBC.
Lanjut?
semangat tor