NovelToon NovelToon
Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Dark Romance
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"

Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
​Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.

​Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.

​"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."

​Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Antara Darah dan Obsesi

Asap dari ledakan tembakan sniper tadi masih menggantung tipis di udara pelabuhan yang lembap. Arkan, yang tadinya merasa di atas angin, kini tersungkur di atas aspal kasar, memegangi bahunya yang nyaris terkena peluru Vanya. Marco, si pengkhianat, membeku di tempatnya dengan senapan yang masih tertuju ke arah tim Eros, namun matanya menatap horor ke arah kegelapan dari mana suara Vanya berasal.

​Langkah kaki sepatu hak tinggi yang tajam beradu dengan beton pelabuhan, menimbulkan suara klak-klak yang ritmis dan mengintimidasi. Sesosok wanita keluar dari bayang-bayang gudang. Ia mengenakan parit panjang berwarna marun yang kontras dengan suasana kumuh pelabuhan. Rambut hitamnya dipotong pendek, membingkai wajah yang cantik namun sedingin es kutub.

​"V-vanya..." gumam Marco, suaranya bergetar.

​Vanya berhenti beberapa langkah di depan Marco. Ia tidak membawa senjata besar, hanya sebuah pistol kecil yang terselip di pinggangnya, namun otoritas yang ia bawa membuat seluruh anak buah The Viper di tempat itu menundukkan kepala.

​"Marco, aku memberimu mandat untuk menjemput aset di Indonesia, bukan untuk menjadi anjing peliharaan seorang pecundang seperti Arkan," ucap Vanya. Suaranya halus, namun setiap kata terasa seperti sayatan pisau.

​"Nyonya, Arkan menjanjikan akses ke—"

​DOR!

​Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, Vanya menarik pistolnya dan menembak kaki Marco. Pria itu jatuh berlutut, mengerang kesakitan.

​"Jangan gunakan nama 'The Viper' untuk keserakahan pribadimu," desis Vanya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, mencari sosok yang selama ini menjadi alasannya datang jauh-jauh dari Rusia.

​Mata Vanya terkunci pada Eros yang masih mendekap Elena di balik peti kayu. Sejenak, lapisan es di wajah Vanya retak, digantikan oleh kilatan emosi yang sangat dalam—kerinduan yang bercampur dengan rasa sakit. Namun, saat tatapannya turun ke arah tangan Eros yang memeluk pinggang Elena dengan sangat protektif, matanya kembali menjadi dingin, bahkan lebih dingin dari sebelumnya.

​"Eros," panggil Vanya. "Lama tidak bertemu."

​Eros perlahan keluar dari persembunyiannya, namun ia tetap menempatkan tubuhnya di depan Elena, menghalangi pandangan Vanya dari wanitanya. "Vanya. Aku tidak menyangka kamu sendiri yang akan turun tangan."

​"Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuh urusanku. Terutama jika itu menyangkut dirimu," jawab Vanya. Ia melangkah mendekat, mengabaikan protes Arkan yang mencoba bicara.

​Vanya berhenti tepat di depan Eros. Jarak mereka hanya satu meter. Ia menatap Elena yang bersembunyi di balik punggung Eros. Elena, meski ketakutan, memberanikan diri untuk membalas tatapan itu. Ada kontras yang luar biasa di sana: Elena dengan kemeja flanelnya yang lusuh dan mata penuh trauma namun lembut, melawan Vanya yang tampak sempurna, kuat, dan mematikan.

​"Jadi... ini dia?" Vanya bertanya, nadanya meremehkan. "Gadis desa yang membuatmu rela membusuk di penjara Rusia dan meninggalkan singgasanamu? Dia terlihat... sangat rapuh. Sedikit sentuhan saja, dia mungkin akan hancur."

​"Dia jauh lebih kuat dari kelihatannya, Vanya. Dan dia bukan urusanmu," balas Eros dengan nada memperingatkan.

​Vanya tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Hanya kamu yang bisa bicara sekasar itu padaku, Eros. Setelah semua yang kulakukan untukmu."

​Vanya kemudian melirik Arkan yang masih merangkak, mencoba meraih ponselnya yang terjatuh. Vanya melangkah menuju Arkan dan menginjak tangan pria itu dengan sepatu hak tingginya tanpa belas kasihan.

​"Aaaakh!" Arkan menjerit.

​"Dan kau," Vanya menunduk menatap Arkan. "Kau sudah membuat kekacauan besar dalam organisasiku. Kau menggunakan Marco untuk memancing Eros. Tapi kau lupa satu hal... aku benci pria yang menyiksa wanita untuk mendapatkan kekuasaan. Itu menunjukkan betapa lemahnya kau sebagai laki-laki."

​Vanya menendang wajah Arkan hingga pria itu terjerembap. Ia kembali menatap Eros. "Aku sudah membersihkan sampahmu, Eros. Marco akan diurus oleh orang-orangku. Arkan? Dia milikmu. Lakukan apa pun yang kau mau. Tapi ingat, keberadaanku di sini bukan hanya untuk membereskan pengkhianat."

​"Lalu?" Eros menyipitkan mata.

​"Musuh yang sebenarnya bukan Arkan. Arkan hanya pion kecil yang tidak tahu apa-apa," Vanya mendekat ke telinga Eros, berbisik cukup keras agar Elena juga bisa mendengar. "Keluarga besar di Rusia tahu kau masih hidup. Mereka tahu tentang gadis ini. Dan mereka tidak akan selembut aku."

​Wajah Eros menegang. Elena bisa merasakan otot-otot di lengan Eros mengeras. Bahaya yang selama ini ia kira akan berakhir dengan jatuhnya Arkan, ternyata hanyalah puncak gunung es dari dunia gelap Eros.

Vanya mundur satu langkah, menatap Elena sekali lagi. "Nikmatilah waktu tenangmu, Elena. Karena di dunia ini, mencintai pria seperti Eros berarti kau telah menandatangani kontrak mati."

​Vanya berbalik, memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa Marco yang bersimbah darah. Dalam hitungan detik, siluet wanita tangguh itu menghilang di balik kegelapan kontainer, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di pelabuhan.

​Arkan kini tergeletak tak berdaya di aspal, wajahnya babak belur dan bahunya berdarah. Ia menatap Eros dan Elena dengan mata yang penuh kebencian sekaligus keputusasaan.

​"Bunuh aku..." gumam Arkan. "Cepat bunuh aku! Jika tidak, aku akan terus menghantui hidupmu, Elena! Aku akan kembali!"

​Eros melepaskan pelukannya pada Elena dan berjalan menuju Arkan. Ia berjongkok, menarik rambut Arkan agar pria itu menatapnya.

​"Mati itu terlalu mudah bagi orang sepertimu, Arkan," ucap Eros dengan suara yang sangat rendah. "Kamu akan dikembalikan ke kota. Tapi bukan ke rumah mewahmu. Kamu akan masuk ke sel yang paling gelap, di mana setiap hari kamu akan diingatkan betapa tidak berdayanya kamu tanpa hartamu. Dan setiap kali kamu menutup mata, kamu akan melihat wajah Elena yang tidak akan pernah bisa kamu sentuh lagi."

​Eros memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Arkan pergi. Kali ini, tidak akan ada pelarian lagi. Arkan diseret dengan kasar menuju mobil tahanan yang sudah disiapkan.

​Elena menatap kepergian Arkan. Rasa lega itu ada, namun ucapan Vanya tadi terus bergema di kepalanya. Kontrak mati.

​"Eros..." panggil Elena pelan.

Eros berbalik, wajahnya kembali melembut saat melihat Elena. Ia mendekat dan merangkul bahu Elena. "Jangan pikirkan ucapan Vanya. Dia hanya ingin menakutimu."

​"Tapi dia benar, kan? Dunia ini... duniamu... akan selalu mengincarku," Elena menatap mata Eros, mencari kejujuran di sana.

​Eros terdiam sejenak. Ia mengecup dahi Elena, pelukannnya semakin erat, seolah-olah ia sedang mencoba menyembunyikan Elena dari takdir yang mengejar mereka.

​"Selama aku masih bernapas, El... tidak akan ada satu pun peluru yang bisa menyentuhmu."

​Saat mereka berjalan menuju mobil untuk pulang, tanpa mereka sadari, di atas salah satu kontainer yang lebih jauh, sesosok pria lain sedang mengamati mereka melalui teropong jarak jauh. Pria itu menekan tombol di radio komunikasinya.

​"Target sudah diamankan oleh Eros. Vanya tidak bertindak. Instruksi selanjutnya?"

​Sebuah suara dingin dari seberang radio menjawab: "Biarkan mereka merasa menang untuk malam ini. Besok, kita kirimkan hadiah untuk ayah Elena."

Langkah kaki Elena terhenti tiba-tiba. Ia merasa bulu kuduknya berdiri. Saat ia menoleh ke belakang, pelabuhan itu tampak kosong dan sunyi, tapi perasaan diawasi itu tidak hilang. Ia menggenggam tangan Eros lebih erat, tidak tahu bahwa ancaman baru sedang bergerak menuju satu-satunya kelemahannya yang tersisa: Ayahnya di vila.

1
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cetirinya menarik
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
caeritanyabgus ka dan keren
smngat up kaka🤗
🧡⃟𝚉𝚑𝚘𝚞𝚔𝚎ͫ𝚌ᷴ𝚑ͫ𝚞ᷴ𝚗⁷
cerita bagus ka, penulisan juga rapi dan enak dipahami jdi gmpang kebawa isi novel
smngat up kaka🤗🤗
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
cerita luar biasa bagus ka
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
bagus karyanya ,sukses selalu untuk kaka
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴅͫᴏᷰᴜͫʙᷰᴇʟˢ🧡
ceritanya bagus, penulisan juga rapih
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
semoga Elena bisa selamat dari dendam msa lali wkwkwk
🍁🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏ❣️ѕ⍣⃝✰
aku mampir kak smeoga makin sukses skedepannya
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dan orang2 yg akan menghancurkan Eros bisa dikalahkan sama Eros .
Eve_Lyn: hehehe...nyaman bacanya bunda? baca novel aku yang judulnya gara2 biji kedondong aku menikahi tapir dong bund...itu komedi rumah tangga,,habis baca istri di atas kertas meluncur kstu sbgai penawar nya bund.hihihi
total 1 replies
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dari orang2 yg akan berbuat jahat pada Eros .
partini
penasaran lanjut Thor
Arin
Arkan ini sakit jiwa. Psikopat sebenarnya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjut thor
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ni orang ya.. pengen ku lempar pakai kayu tuh mulut rasanya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ku tampol juga ya mulutmu arkan
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
sabar ya elena ngadepin arkan
Ma Em
Mampir Thor , tapi sepertinya ceritanya membuat hati sakit dan deg2 an dgn nasib Elena , semoga Elena bisa menghadapi cobaan dgn sabar tapi jgn diam Elena hrs bisa melawan .
Eve_Lyn: terimakasih Bunda...iya bund..alurnya bakalan berkembang kok..tapi aku bakalan bawa pembaca ngilu sama penderitaan elena dulu hehehe...sekali lagi makasih yaa bund..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!