NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 **Pertemuan Tak Terduga **

Zeline menghela napas panjang, mencoba menetralkan sisa-sisa rasa jantungan akibat kepolosan putrinya. Ia menatap ketiga anaknya yang masih berkumpul di ruang tengah. "Kalian pergilah ke kamar dan bersih-bersih, lalu turun untuk makan siang," titah Zeline dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.

"Abang gendong... kaki Ila capek..." Ila tiba-tiba merentangkan kedua tangan mungilnya ke arah kedua abangnya, meminta manja.

Dengan kesigapan tingkat tinggi, Alzian langsung menyambar tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam gendongan koala, mengunci posisi sebelum Elzion sempat bereaksi. Alzian tersenyum penuh kemenangan.

Elzion hanya bisa berdecak kesal melihat kecepatan kembarannya yang seperti kilat itu. "Curang lo," gumamnya pelan sambil berjalan menaiki tangga lebih dulu dengan wajah ditekuk.

Ila yang berada di punggung Alzian melambai-lambaikan tangannya dengan semangat ke arah bawah. "Ayahh, Bundaaa... Ila ke kamar dulu, papayyy!" teriak Ila seakan-akan ia hendak pergi merantau jauh, padahal hanya naik ke lantai dua.

Zeline dan Bryan tertawa kecil, membalas lambaian tangan putri kecil mereka sampai bayangan ketiga anaknya menghilang di balik koridor lantai atas.

...****************...

Setelah sampai di kamar, Ila segera turun dari gendongan Alzian dan mulai bersiap untuk mandi. Sambil melepas seragam sekolahnya, matanya mengedar ke seluruh penjuru kamar yang bernuansa ceria itu. Pandangannya terpaku pada seekor kucing putih bersih yang tengah tertidur pulas di keranjang khusus peliharaan.

Ila mendekat dengan langkah pelan yang mencurigakan. "Awan, mau mandi bareng Ila?" tanya Ila pada kucing yang ia panggil dengan nama 'Awan' itu.

Awan, si kucing malang itu, hanya membuka satu matanya sebentar, menatap majikannya yang 'kurang akhlak' tersebut dengan tatapan malas, lalu kembali mendengkur manis. Ia tidak tahu badai besar akan segera datang.

Melihat tidak ada respon, Ila tanpa basa-basi langsung mengangkat Awan dan membawanya paksa ke kamar mandi. Tanpa perasaan iba sedikit pun, Ila menjatuhkan kucing malang itu ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh dengan air hangat.

Byurrr!

"Meongggg!" Awan mengeong dengan sangat keras, terkejut karena dilempar ke air tanpa aba-aba. Si kucing hanya bisa pasrah dengan kaki gemetar saat Ila mulai menggosok tubuhnya dengan sabun. Jika Awan bisa bicara, ia mungkin akan menangis tersedu-sedu dan menyesali nasibnya yang di beli oleh majikannya.

"Yeayy, Awan udah wangi!" ucap Ila riang setelah selesai menyabuni kucingnya. "Sekarang giliran Ila yang mandi. Awan keluar dulu yaaa."

Tanpa mengeringkan bulu Awan dengan handuk, Ila begitu saja mengeluarkan si kucing dari kamar mandi. Awan berdiri di tengah kamar dengan bulu lepek dan tubuh menggigil hebat, menatap pintu kamar mandi dengan tatapan dikhianati.

...****************...

Di lantai bawah, suasana jauh lebih tenang. Bryan menatap istrinya dengan lembut. "Mau pergi sekarang?" tanya Bryan pada Zeline.

"Kemana?" Zeline balik bertanya, sedikit bingung.

"Ke mall sayang, kan sudah janji ke Ila," ucap Bryan mengingatkan.

Zeline melirik ke arah anak-anaknya yang sedang berkumpul untuk makan. Sebenarnya ini lebih tepat disebut makan sore karena jarum jam sudah menunjukkan pukul empat. Mereka terlambat makan karena drama kepolosan Ila di kantin tadi menyita waktu cukup lama untuk dibahas.

"Gak apa-apa Ila dikasih HP? Aku takut kepolosannya ternodai, Mas," keluh Zeline pelan. Bayangan Ila mendesah tadi masih menghantui pikirannya.

"Kasihan dia sayang, lagian kita juga susah kan menghubungi Ila karena dia gak punya HP. Nanti kita batasi dia bermain HP dan selalu dipantau agar tidak mengganggu belajarnya," jelas Bryan menenangkan. Sebagai ayah, ia sudah memikirkan strategi untuk memasang filter keamanan di ponsel putrinya nanti.

"Yaudah deh, lagian aku gak mau putriku kecewa karena keinginannya gak diturutin," sahut Zeline menyerah. Bryan tersenyum puas, lalu mengecup singkat pipi istrinya sebagai tanda terima kasih.

"Ayah, Ila juga mau kisss..."

Tiba-tiba Ila sudah berdiri di depan mereka dengan rambut yang masih agak basah. Beruntung Bryan hanya mengecup pipi Zeline. Jika tadi ia mengecup bibir, bisa dipastikan Ila akan menangis histeris karena mengira ayahnya sedang berusaha memakan bibir bundanya.

Bryan terkekeh lalu memberikan ciuman hangat di pipi chubby putrinya. "Sudah selesai makan, hm? Mau berangkat ke mall sekarang?"

Ila mengangguk dengan semangat yang meluap-luap. "Let's Go!" teriaknya sambil melompat kecil, membuat Zeline tertawa gemas.

"Abang ikuttt!" Elzion tiba-tiba muncul dan mendekat, mencoba peruntungan.

"Kamu dan Alzian di rumah aja, atau pergi bersama teman-teman kalian," tolak Bryan tegas. Ia ingin waktu khusus bersama putri kecilnya.

"Yahhh..." Elzion langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat di depan Ila, berharap sang adik akan membelanya.

Ila mengerjap polos, menatap wajah Elzion yang tampak memelas. "Abang jangan sedih yaa..." Ila mengusap-usap punggung Elzion dengan tangan mungilnya, mencoba memberikan kekuatan pada abangnya yang sedang berakting itu.

"Iya gak sedih, Abang nanti nongkrong aja sama teman-teman," ucap Elzion, masih dengan nada bicara yang seolah-olah ia adalah korban yang paling tabah di dunia. Elzion memang pantas jadi aktor papan atas.

Ila tersenyum manis, lalu...

Cup!

Cup!

Ila mengecup pipi Elzion, lalu beralih memberikan kecupan serupa pada Alzian. "Ila pergi dulu, papayyy!" pamit Ila sambil melambaikan tangan saat mulai melangkah keluar rumah mengikuti langkah kedua orang tuanya.

"Manis banget adek gue..." gumam Elzion tanpa sadar, sambil membalas lambaian tangan Ila. Alzian hanya tersenyum tipis di sampingnya. Baginya, rumah ini terasa jauh lebih hidup dan berwarna sejak perubahan sikap adik kecilnya yang menggemaskan itu.

...****************...

​Di kediaman keluarga Zidan, suasana terasa berbeda dari biasanya. Galenio duduk di ruang tengah sambil menatap layar ponselnya yang mati, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tak kunjung hilang.

​"Galenio, kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Zidan yang tiba-tiba muncul dari arah ruang kerja.

​Zidan memperhatikan putranya dengan dahi berkerut heran. Sejak pulang dari sekolah tadi, Galenio terus-terusan tersenyum sendiri. Hal ini tentu membuat Zidan terkejut sekaligus lega, karena sejak kematian adik perempuan Galenio, ia tidak pernah lagi melihat putra sulungnya itu tersenyum lebar. Apakah Galenio menemukan pujaan hatinya di sekolah baru itu? pikir Zidan dalam hati.

​"Ehh, tidak apa-apa, Dad," ucap Galenio tersadar, namun senyum itu masih tertinggal di wajahnya.

​"Jangan berbohong, kamu sedang jatuh cinta yaaa..." goda Zidan dengan nada jahil.

​Hubungan Zidan dan Galenio memang baru seminggu ini kembali akur. Setelah kepergian adik perempuannya, Galenio sempat mendiami Zidan selama beberapa minggu karena rasa duka yang mendalam. Baru seminggu ini mereka kembali berbicara seperti dulu, meski Galenio masih enggan untuk tersenyum. Namun hari ini? Ah, Zidan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjahili putranya.

​"Dad kalau ngomong ngaco," Galenio terkekeh kecil, merasa lucu dengan pemikiran Daddy-nya yang terlalu jauh itu.

​Zidan ikut tersenyum hangat, senang melihat perkembangan putranya. "Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita. Daddy mau ke mall untuk bertemu klien dan membahas rencana perpindahan kantor pusat ke sini. Kamu mau ikut?" ajak Zidan.

​"Daddy saja, Galenio masih capek habis dari sekolah," tolak Galenio dengan halus.

​"Ya sudah, Daddy pergi dulu."

​"Hati-hati, Dad," ucap Galenio yang hanya dibalas dengan anggukan mantap oleh Zidan sebelum pria itu melangkah keluar rumah.

...****************...

​Sementara itu, suasana ceria menyelimuti keluarga Bryan. Mereka baru saja memasuki salah satu mall terbesar di kota Bandung. Zeline menggenggam erat tangan kiri Ila, sementara Bryan memegang tangan kanannya. Mereka berjalan beriringan seperti keluarga kecil yang sangat harmonis.

​Tujuan utama mereka adalah lantai tiga, menuju Apple Store untuk membeli ponsel yang sudah dijanjikan. Namun, saat mereka baru saja sampai di lantai dua, sebuah suara berat memanggil nama Bryan dari arah belakang.

​"Bryan!"

​Seketika Bryan dan Zeline menoleh serentak untuk melihat siapa yang memanggil. Sementara itu, Ila tidak ikut menoleh karena perhatiannya masih teralihkan oleh deretan toko-toko mewah yang menghiasi mall luas itu.

​Bryan tersenyum lebar saat menyadari siapa pria yang berdiri di sana. Itu adalah Zidan, sahabat lamanya. Zidan pun segera melangkah mendekat ke arah keluarga Bryan.

​"Kalian ke sini sedang apa?" tanya Zidan dengan ramah.

​"Menepati janji kepada putri kecil kami," sahut Bryan sambil melirik ke arah anak di sampingnya.

​Zidan pun menoleh ke samping Bryan. Ia ingin melihat Aqila, anak dari sahabatnya yang ia tahu seumuran dengan mendiang putrinya. Namun, karena posisi Ila sedang membelakangi dan asyik melihat arah lain, Zidan hanya bisa memanggilnya.

​"Aqila?" panggil Zidan lembut.

​Ila yang mendengar teman ayahnya itu salah menyebutkan namanya, lantas menoleh dengan cepat. Ia bermaksud untuk melayangkan protes karena namanya dipanggil dengan sebutan yang salah.

​Deg!

​Waktu seolah berhenti berputar bagi Ila. Jantungnya berdegup kencang, matanya membelalak tak percaya melihat sosok pria yang berdiri tepat di depannya saat ini. Sosok yang sangat ia kenali di kehidupan sebelumnya.

​"Daddy..." lirih Ila dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar, saat menatap wajah Zidan yang tampak begitu nyata di depan matanya.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!