NovelToon NovelToon
Asisten Magang TUAN MESUM

Asisten Magang TUAN MESUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,

Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.

Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,

"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,

Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.

Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pekerjaan sampingan

Hiruk pikuk dunia malam begitu menakjubkan bagi kalangan remaja. Sebuah tempat mewah dengan banyak pelayan yang menyajikan minuman serta pelayanan lain,

Di sana Ana melangkahkan kakinya,

Tempat yang dulu dijadikan sebagai penenang pikiran, kini malah Ana kunjungi sebagai tempat mencari uang.

Kejadian siang tadi membuatnya tak bisa duduk tenang, menjadi beban. Tanpa ragu Ana menghasilkan uang dengan caranya sendiri,

"Huft. Capek juga mondar mandir nganterin minuman," gerutu Ana,

Bersandar pada meja bar, berulang kali memukul pungungnya yang terasa nyeri.

"Untung aja, dulu aku pernah lihat temen sekelas nyari kerja di Bar ini."

"Walau capek. Yang penting dapet duit!"

1 jam yang lalu

"Yes, udah dapet kerja!" sorak Ana, berhasil menghubungi salah satu tempat yang membuka lowongan.

"Tapi! Gimana cara izinnya?"

"Pasti mama, nggak bakal ngebolehin aku keluar."

Gadis itu berdandan rapi dengan pakaian casual, membawa sebuah ransel sebagai wadah pouch make up.

"Mumpung Leo gak pulang malam ini. Terus kebetulan Papa lagi lembur,"

"Aku harus bisa bujuk mama!"

Ana melangkah masuk ke dalam kamar di lantai bawah,

TOK!

TOK!

TOK!

"Ma..."

"Iya. Masuk," sahut Citra, tengah sibuk merapikan beberapa pakaian.

Gadis itu berjalan, berdiri di hadapan ibunya dengan raut polos.

"Mm. Ana mau jalan-jalan di luar, boleh ya?"

"Ha? jalan-jalan? Jam segini?" sontaknya mengangkat alis, terkejut dengan permintaan gadis tadi.

"He.em" angguk Ana dengan pasti,

"Ya udah. Mama temenin ya?"

"E-eh enggak usah! Kan di garasi ada sepeda motor. Rencananya...Ana mau keluar sendiri pake motor itu."

"Apa? enggak-enggak. Kamu kan ga bisa naik motor,"

"Bisa kok! Dulu banget, aku pernah minta dibeliin motor kan? Sebenarnya, diam-diam aku udah belajar." dustanya,

Ana yang asli memang minta dibelikan motor, tapi tak sempat belajar karena kondisinya memburuk.

"Tapi, udah malam...mana mungkin Mama biarin kamu keluar sendiri," sanggah Citra merasa cemas.

"Ng, gini aja deh. Ana pergi bawa motor, tapi bawa Pak Gara!"

"Jadi Ana motoran. Terus di belakang ada Pak Gara yang bawa mobil," imbuhnya berusaha membujuk.

"Kalau gitu, kenapa ga sekalian bawa mobil?"

"Tapi, kan...Ana pingin naik motor. Boleh ya Ma?" pinta Ana memelas,

"Hh. Ya udah, tapi hati-hati ya!"

Citra menghela nafas tak bisa menolak permintaan putrinya.

"Yeay!"

"Tapi pulangnya agak malam, soalnya Ana mau nonton film sambil mampir ke mall."

2 menit sebelum kabur.

"Pak. Pak Gara gapapa kan tunggu disini?"

"Saya mau nonton bioskop di tempat itu, filmnya selesai 2 jam."

Ana menunjuk ke seberang jalan,

"Saya juga mau lihat mall dulu. Nanti kalo terlalu lama, Bapak boleh pulang dulu,"

"Oh,iya Non. Gapapa, saya tunggu sampe Non kembali,"

DUK!

Sebuah nampan dengan beberapa botol minuman dan juga gelas kaca, baru saja tertata di atas meja. Membuat gadis itu tersadar dari lamunan,

"Bawa ini ke pelanggan VIP."

"Lantai atas. Ruang nomor 5," ujar pelayan senior,

"..." Ana mengangguk, segera pergi menjalankan tugas.

Sesuai arahan, kakinya melangkah ke sebuah ruang di lantai atas. Membuka pembatas kayu dengan tanda angka 5,

Langkah sigapnya perlahan terhenti, manik hitam Ana terbelalak. Mendapati laki laki yang kini tengah duduk di depannya,

Wajah dingin nan angkuh itu tengah terpejam, kepalanya bersandar. Rambut pendek berponi yang tertata rapi, semakin menonjolkan lekuk paras sempurna bak dewa hermes yang selalu dikaitkan dengan ketampanan.

Padahal hanya diam, tapi sudah mampu membuat wanita mabuk kepalang.

Lengan kekar menempel ketat di kain sutera merahnya. Entah kenapa rautnya tampak kalut, seperti ada beban yang tengah memenuhi benak.

"Cepat sajikan minumannya," suruh Max, enggan membuka mata.

Gadis itu menghela nafas, melangkah dengan penuh bimbang.

"Apa kamu tuli? Sudah kubilang, cepat--"

Seketika kalimat Max terhenti, menatap lekat gadis yang tengah berdiri di hadapannya.

Rambut terikat tinggi, dengan kemeja putih serta rok hitam pendek layaknya pegawai bar, riasan menor yang pernah dilihatnya.

Raut Max berubah, matanya tampak antusias sambil menyeringai.

"Jadi kamu bekerja di sini?"

"..." Ana terdiam, mengacuhkan.

Semoga saja lampu ruang itu mengaburkan pandangan Max. Meski memakai riasan, Ana lupa memakai rambut palsu mamanya.

Dengam sikap tenang, hanya menyajikan minuman juga mengantar camilan ringan ke atas meja.

"Sial! Kenapa aku selalu bertemu dengan pria mesum ini." memekik dalam hati,

"Tunggu!" tegur Max, beranjak duduk.

Menghentikan gadis yang baru aja berbalik. "Temani aku minum."

"..." Ana menoleh malas,

"Maaf Tuan. Saya hanya bertugas untuk mengantar minuman,"

"Kemarilah, hanya menemani minum. Aku pasti memberimu tip,"

Max menepuk paha, sambil menyandarkan tubuh ke sofa.

"Smirk..."

Kesabaran Ana mulai mencapai batas, tangannya mengepal kuat.

"Per menit. 1 menit mu akan ku bayar satu juta," tambahnya, membuat otak Ana berputar keras.

Entah bagaimana, jiwa nona muda itu berubah menjadi gadis mata duitan. Tanpa pikir panjang, dia menuangkan segelas minuman lalu menempati ujung sofa.

"Kenapa kamu duduk disitu?"

GREP!

Max menarik paksa pergelangan Ana, hingga tubuh kurus itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke atas pahanya.

"Lho, apa kamu ingin menyapanya?" lugas Max,

Menekan kuat sampai kepala Ana menunduk, menyentuh selangkangan.

"Sial! Bertahanlah demi uang!" seru Ana dalam hati,

Berhasil bangkit, namun Max tak membiarkannya menjauh. Lengan kekar itu merangkul, membuat paha mereka saling bersentuhan,

Perlahan Max beralih melingkarkan lengannya ke pinggul langsing Ana.

"Tu-tunggu. Tuan bilang, hanya menemani minum." tolak Ana, kesulitan melepas diri.

"Hhh..." Max tertawa sepat.

"Apa kamu pelayan baru? Memang seperti begini caranya."

Max mendekat, menghela nafas tepat di samping telinga, mengendus parfum menyengat yang Ana gunakan.

"Mampus. Hirup tuh minyak nyong-nyong!" Ana terkekeh, melihat kerutan alis di wajah Max.

Namun Max belum menyerah, tangan kekarnya mulai merogoh sela kain, menjamah paha putih Ana.

Membuat gadis itu menggeliat, sambil mempertahankan sikap profesionalnya. Perlahan jari jemarinya meraih kancing,

1
Lili
Untung cuma om tiri naa😍🤣
Anonymous
Tuan Maxime😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!