Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Baru
Bandara Internasional Soekarno-Hatta – 10.00 WIB
Suara operator bandara bergema di seluruh penjuru terminal kedatangan internasional, mengumumkan pendaratan pesawat dari London, Inggris. Suasana di lobi VIP sangat kontras dengan hiruk-pikuk terminal umum. Di sana, ketegangan terasa lebih formal dan dingin.
Grace berdiri tegak di posisi paling depan dari barisan lima anggota Blackrats pilihannya. Penampilannya hari ini benar-benar memukau namun mengintimidasi. Ia mengenakan setelan bodyguard taktis berwarna hitam pekat yang pas di tubuh atletisnya. Rambutnya dikuncir kuda dengan sangat rapi, menonjolkan garis rahangnya yang tegas. Di sabuk taktisnya, terselip sebuah pistol Glock-17 di dalam holster tersembunyi, sebuah hak istimewa bagi pemegang lisensi menembak kelas A seperti dirinya.
"Tim satu, posisi. Bersihkan jalur area parkir zona satu," ucap Grace dingin melalui earpiece yang menempel di telinga kirinya.
"Copy, Nona Grace. Jalur bersih," sahut suara dari seberang.
"Asisten Miller, apakah Tuan Muda sudah keluar dari pesawat?" tanya Grace lagi, berkoordinasi dengan tangan kanan keluarga Hadi yang menyertai perjalanan dari Inggris.
"Ya, Nona Grace. Kami sedang menuju imigrasi VIP. Pastikan pengamanan luar tidak ada celah. Tuan Muda tidak suka kerumunan," jawab suara pria dengan aksen Inggris yang kental di ujung sana.
"Dimengerti. Tim saya sudah mengunci perimeter."
Sepuluh menit kemudian, pintu kaca otomatis di area VIP terbuka. Seorang pria berjalan keluar dengan langkah yang sangat tenang namun berwibawa. Dunia seolah melambat saat sosok itu muncul. Andreas Lukmansyah Hadi.
Wajahnya rupawan bak pahatan Dewa Krisna, namun dengan gaya modern yang mengingatkan orang pada idol papan atas Korea Selatan. Kulitnya putih bersih karena cuaca Eropa, rambutnya sedikit berantakan namun tertata sempurna. Ia mengenakan long coat hitam tipis meskipun udara Jakarta mulai terasa gerah. Kacamata hitam menutupi matanya, menambah kesan misterius dan tak tersentuh.
Pak Wahyu, penanggung jawab keamanan internal keluarga Hadi yang sudah berumur, segera maju dan membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali di Indonesia, Tuan Muda Andreas," ucap Pak Wahyu dengan nada sangat sopan.
Andreas tidak segera menjawab. Ia berhenti melangkah, tangan kirinya merogoh saku celana sementara tangan kanannya membetulkan letak jam tangan Rolex berliannya.
"Di mana Papa?" suara Andreas terdengar berat, dingin, dan sangat hemat kata.
Pak Wahyu sedikit berkeringat dingin. "Mohon maaf, Tuan Muda. Tuan Besar sedang ada urusan mendadak ke Kepulauan Natuna untuk meninjau tambang baru. Beliau baru kembali tiga hari lagi."
Andreas mendengus pelan, sebuah suara yang menunjukkan kekecewaan yang sudah sering ia alami. "Sangat klasik," gumamnya sinis.
"Untuk memastikan keselamatan Anda, Tuan Besar telah menunjuk tim pengamanan khusus dari agensi terbaik. Ini adalah tim yang dipimpin oleh Nona Grace," Pak Wahyu memperkenalkan barisan di belakangnya.
Andreas menghentikan gerakannya. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menampakkan mata yang tajam seperti elang. Ia mulai menyisir sosok Grace dari ujung rambut, menatap lencana Blackrats di dadanya, hingga ke ujung sepatu boot taktisnya. Tatapannya bukan tatapan menggoda pria hidung belang, melainkan tatapan predator yang sedang menilai mangsa atau musuh.
"Siapa nama kamu?" tanya Andreas.
"Grace, Tuan Muda," jawab Grace singkat, tegas, dan tanpa sedikit pun menatap wajah Andreas. Matanya tetap fokus lurus ke depan, menjaga profesionalitasnya.
"Menarik," batin Andreas. Ia jarang melihat wanita dengan aura "berbahaya" namun tetap menawan seperti ini di lingkaran pengawal pribadinya di London.
Area Parkir VIP – 10.45 WIB
Rombongan bergerak menuju area parkir khusus. Di sana, sudah terparkir sebuah Lamborghini Aventador berwarna merah menyala yang sangat mencolok, diapit oleh dua mobil SUV hitam besar untuk para pengawal.
Andreas berhenti tepat di depan mobil merah itu. Ia menoleh ke arah Grace yang berdiri di samping pintu kemudi.
"Kamu bisa menyetir?" tanya Andreas singkat.
"Bisa, Tuan Muda," jawab Grace tanpa ragu.
TING!
Andreas melemparkan kunci mobil itu dengan tiba-tiba. Grace menangkapnya dengan refleks yang sangat cepat hanya dengan satu tangan, bahkan tanpa menolehkan kepalanya.
"Bawa ini," perintah Andreas. Ia kemudian melompat masuk ke kursi penumpang setelah menekan tombol untuk membuka kap atas mobil tersebut secara otomatis.
"Tuan Muda! Tuan Muda Andreas! Anda ingin pergi ke mana?" Pak Wahyu berteriak panik dari belakang. "Nyonya besar sudah menunggu di rumah untuk makan siang. Tuan Muda!"
Andreas sama sekali tidak menggubris. Ia menatap Grace melalui spion tengah. "Grace, cepat jalan!"
Grace tertegun sejenak. Instruksi dari Pak Wahyu adalah membawa Andreas langsung ke rumah utama di Menteng. Namun, tatapan Andreas dari balik kacamata hitamnya di spion seolah ingin mencekik leher Grace jika ia membantah. Aura dingin Andreas begitu mencekam, menunjukkan sisi kejam seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Maaf, Pak Wahyu. Saya akan mengikuti instruksi Tuan Muda. Tim dua, ikuti kami dari belakang!" perintah Grace melalui radio sebelum ia masuk ke kursi kemudi.
VROOOOOMMM!
Mesin Lamborghini itu meraung keras, membelah keheningan bandara. Grace menginjak pedal gas, meluncur keluar dari area bandara dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Pak Wahyu yang hanya bisa mengusap dahi dengan pasrah.
Angin kencang menerpa wajah mereka karena kap mobil yang terbuka. Andreas menyandarkan kepalanya, menatap langit Jakarta yang sedikit berpolusi. Wajahnya yang rupawan tampak sangat kesepian di tengah kemewahan ini.
"Mau ke mana, Tuan Muda?" tanya Grace sambil tetap fokus pada jalanan dengan kecepatan 120 km/jam.
"Ke mana saja. Yang penting bukan ke rumah itu," jawab Andreas datar.
"Saya memiliki protokol untuk membawa Anda ke Menteng dalam tiga puluh menit ke depan, Tuan Muda."
Andreas menoleh ke arah Grace. Ia melepas kacamata hitamnya sepenuhnya. "Berapa mereka membayarmu?"
"Itu rahasia kontrak agensi, Tuan."
"Aku bisa membayar dua kali lipat hanya untuk memintamu diam dan menyetir sesuai kemauanku. Apa menurutmu uang bisa membeli kesetiaanmu pada agensi itu?" tanya Andreas dengan nada meremehkan.
Grace tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan. "Kesetiaan saya tidak dijual, Tuan Muda. Tapi jika Anda ingin mencari tempat untuk menenangkan diri sebelum menghadapi keluarga, saya tahu satu tempat yang aman dari jangkauan wartawan."
Andreas sedikit terkejut dengan jawaban itu. Ia kembali menatap jalanan. "Bawa ke sana. Dan jangan panggil aku 'Tuan Muda' saat kita hanya berdua. Itu terdengar menjijikkan."
"Lalu saya harus memanggil apa?"
"Andreas. Atau jangan panggil apa pun."
Grace terdiam. Ia merasakan sesuatu yang sangat akrab dari sosok pria di sampingnya ini. Kesombongannya, cara bicaranya yang hemat, dan rasa kesepian yang terpancar jelas dari matanya. Ia teringat Zavian. Namun, jika Zavian adalah api yang meledak-ledak saat marah, Andreas adalah es yang membekukan segalanya hingga hancur.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam lain yang tidak dikenal mulai memacu kecepatannya di samping mobil mereka. Grace segera menyadari ada yang tidak beres. Melalui spion samping, ia melihat seorang pria di dalam SUV itu menurunkan kaca jendela dan mengeluarkan sesuatu yang berkilauan.
"Tuan Muda, tundukkan kepala Anda sekarang!" teriak Grace.
RATATATATA!
Suara tembakan beruntun memecah kesunyian di jalan tol. Kaca spion samping Lamborghini itu hancur berantakan.
"Brengsek! Belum sampai satu jam di Jakarta, mereka sudah mencariku," geram Andreas tanpa sedikit pun rasa takut. Ia justru tampak tenang, seolah percobaan pembunuhan adalah rutinitas sarapannya di London.
"Pegang erat-erat, Tuan!" Grace membanting setir ke kanan, mencoba menghimpit SUV tersebut sambil tangan kanannya meraih pistol di sabuknya.
"AWAS!"