Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG MULAI BEREDAR
Kota kecil itu tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Tidak ada menara tinggi, tidak ada paviliun mewah, bahkan tembok kotanya pun terlihat sudah beberapa kali ditambal.
Namun justru karena itulah, tempat seperti ini berbahaya.
Di kota besar, orang terlalu sibuk untuk memperhatikan satu wajah asing. Di desa kecil, orang saling mengenal sehingga orang asing mudah terlihat. Kota seperti ini berada di tengah-tengah: cukup ramai untuk menampung banyak pendatang, tapi cukup sempit untuk membuat kabar berputar cepat.
Liang Chen berjalan menyusuri jalan utama tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak terburu-buru mencari penginapan. Ia ingin melihat ritme kota ini terlebih dahulu.
Di sisi kiri jalan, seorang tukang besi memukul logam panas. Suara dentangnya keras, berulang, seperti detak jantung kota itu sendiri. Di sisi kanan, seorang wanita tua menjual sayur di atas tikar, berteriak menawarkan harga murah kepada para ibu rumah tangga.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Itu baik.
Tapi tidak cukup untuk membuatnya tenang.
Ia berbelok ke gang yang lebih sempit. Di sana, suasana lebih sepi. Beberapa pintu rumah tertutup, sementara yang lain terbuka, memperlihatkan halaman kecil dengan sumur dan tali jemuran.
Ia menemukan sebuah penginapan sederhana di ujung gang. Papan kayunya sudah pudar, tulisannya hampir tak terbaca. Tempat seperti ini biasanya tidak banyak ditanya.
Ia masuk.
Seorang pria kurus dengan mata setengah tertutup duduk di belakang meja. Ia mengangkat kepala sedikit ketika mendengar pintu terbuka.
“Menginap?” tanyanya singkat.
“Semalam,” jawab Liang Chen.
Pria itu menyebut harga. Murah, bahkan terlalu murah untuk disebut penginapan kota.
Liang Chen mengeluarkan koin dan meletakkannya di meja. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil kunci kayu dan menunjuk tangga di pojok ruangan.
“Kamar atas, nomor tiga.”
Liang Chen mengangguk, lalu naik.
Kamarnya kecil. Hanya ada ranjang kayu, meja pendek, dan jendela sempit yang menghadap ke gang belakang. Tidak nyaman, tapi cukup bersih.
Ia menutup pintu, lalu memeriksa jendela. Tidak ada jalur masuk yang mudah. Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang.
Akhirnya, tempat untuk berhenti sejenak.
Tangannya masuk ke dalam jubah, mengambil kitab tipis itu. Ia menatap sampulnya yang sudah kusam. Tidak ada judul. Tidak ada nama penulis.
Benda kecil ini sudah mengubah terlalu banyak hal dalam hidupnya.
Ia membuka beberapa halaman.
Tulisan di dalamnya tetap sama: ringkas, dingin, tanpa kata-kata berlebihan. Tidak ada cerita tentang kehormatan, tidak ada nasihat tentang kebaikan hati.
Hanya cara bergerak.
Cara membaca niat lawan.
Cara mengakhiri pertarungan sebelum benar-benar dimulai.
Ia membaca satu bagian lebih lama dari yang lain. Bagian itu menjelaskan tentang jarak.
Bukan hanya jarak tubuh, tapi jarak niat.
Jika seseorang sudah berniat membunuh, jaraknya sebenarnya sudah nol, meskipun ia berdiri sepuluh langkah jauhnya.
Liang Chen menutup kitab itu.
Ia tidak tahu siapa yang menulisnya. Tapi orang itu jelas bukan orang yang percaya pada keberuntungan.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Liang Chen langsung memasukkan kitab itu kembali ke dalam jubah.
“Siapa?” tanyanya.
“Air panas,” jawab suara dari luar.
Ia membuka pintu sedikit. Seorang anak lelaki membawa ember kecil. Wajahnya polos, matanya jernih.
“Pemilik penginapan bilang kau mungkin butuh ini,” kata anak itu.
Liang Chen mengangguk. “Terima kasih.”
Ia mengambil ember itu, lalu memberinya satu koin kecil. Mata anak itu langsung berbinar.
“Terima kasih, kakak!”
Anak itu berlari turun tangga.
Liang Chen menutup pintu kembali. Ia meletakkan ember di sudut ruangan, lalu duduk lagi.
Hal-hal kecil seperti itu biasanya membuat orang merasa lebih tenang.
Tapi pikirannya masih tertuju pada pembicaraan di warung mie tadi.
Kabar dari selatan sudah sampai ke kota ini. Itu berarti orang-orang yang terlibat dalam pengejaran itu juga tidak jauh.
Ia tidak bisa tinggal lama di satu tempat.
Namun pergi terlalu cepat juga mencurigakan.
Ia memutuskan untuk keluar lagi menjelang sore. Kota kecil seperti ini biasanya lebih hidup saat matahari turun. Orang-orang berkumpul, minum teh, atau berbicara tentang kabar terbaru.
Dan kabar adalah sesuatu yang ia butuhkan.
Menjelang senja, Liang Chen keluar dari penginapan. Jalan utama kini lebih ramai. Lampion mulai dinyalakan, dan aroma makanan goreng memenuhi udara.
Ia berjalan santai, seolah hanya mencari makan malam.
Di sebuah kedai teh, beberapa pria duduk mengelilingi meja bundar. Suara mereka cukup keras untuk terdengar dari jalan.
“…katanya dia masih muda,” kata salah satu dari mereka.
“Kalau muda, kenapa banyak yang mati?” sahut yang lain.
“Justru itu. Katanya gerakannya cepat. Tidak banyak suara. Orang-orang jatuh sebelum sempat berteriak.”
Liang Chen memperlambat langkahnya.
“Namanya siapa?” tanya seorang pria berwajah bulat.
“Belum jelas. Ada yang bilang dia cuma pengembara. Ada yang bilang murid aliran besar yang kabur.”
“Ah, cerita seperti itu selalu dibesar-besarkan.”
“Mungkin. Tapi aku dengar dua kelompok sudah saling bunuh gara-gara barang yang dia bawa.”
Liang Chen tidak berhenti. Ia berjalan terus, melewati kedai itu seolah tidak tertarik.
Namun setiap kata tadi terasa seperti batu kecil yang dilempar ke dalam dadanya.
Cerita itu sudah mulai berubah bentuk.
Awalnya hanya soal kitab.
Sekarang sudah jadi soal pembunuhan, aliran besar, dan konflik antarkelompok.
Cerita seperti itu tidak pernah berhenti di satu tempat.
Cerita seperti itu akan menarik orang-orang yang ingin menguji kebenarannya.
Ia berbelok ke jalan lain, lebih sepi, lalu berhenti di depan jembatan kecil yang melintasi sungai kota.
Air mengalir pelan di bawahnya, memantulkan cahaya lampion yang bergoyang tertiup angin.
Liang Chen berdiri di sana beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya.
Bukan tentang lari.
Bukan tentang bertarung.
Tapi tentang arah.
Selama ini, ia hanya berjalan untuk hidup. Mengambil pekerjaan apa saja yang ada. Menghindari masalah. Tidak terlibat terlalu dalam dengan siapa pun.
Namun kitab itu telah mengubah semuanya.
Sekarang, meskipun ia ingin hidup tenang, dunia tidak akan membiarkannya.
Namanya mungkin belum jelas. Tapi ceritanya sudah beredar.
Dan cerita seperti itu selalu mencari wajah untuk ditempelkan.
Liang Chen menatap aliran air.
Jika ia terus berlari tanpa tujuan, suatu hari nanti ia akan kehabisan tempat untuk bersembunyi.
Ia menarik napas panjang, lalu berbalik dari jembatan.
Besok pagi, ia harus membuat keputusan.
Bukan hanya tentang ke mana ia akan pergi.
Tapi tentang siapa yang ingin ia temui lebih dulu:
Orang yang ingin mengambil kitab itu…
Atau orang yang mungkin tahu apa sebenarnya kitab itu.
Malam semakin turun ketika ia kembali ke penginapan.
Langkahnya tetap tenang.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa jalan di depannya tidak lagi sepenuhnya gelap.
Setidaknya, sekarang ia tahu satu hal:
Jika namanya mulai beredar, maka ia harus lebih dulu menemukan jawaban sebelum orang lain menemukannya.