NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

BAB 23

 DOSA WARISAN DI BALIK BETON

​Singapura di pukul tiga pagi bukanlah kota yang tidur bagi mereka yang dikejar oleh hantu masa lalu. Di dalam penthouse suite yang megah, Adrian Aratama duduk di depan laptopnya. Cahaya biru dari layar monitor memantul di wajahnya yang kaku, memberikan kesan pucat yang mengerikan. Di sampingnya, tumpukan dokumen digital yang dikirimkan oleh tim riset arsip dari Jakarta terbuka lebar.

​Adrian berharap dugaannya salah. Ia berharap Fikri hanya salah ingat atau nama "Aratama" yang disebut ayahnya hanyalah kebetulan belaka. Namun, saat ia membuka folder berlabel “Project Ganesha – 1998 Archive”, sebuah kenyataan pahit menghantamnya lebih keras daripada kegagalan bisnis mana pun.

​Di sana, tertera nama perusahaan: PT. Humaira Konstruksi. Pemilik: Zulkifli Humaira.

​Adrian membaca baris demi baris laporan rahasia yang selama ini terkubur di gudang data lama perusahaannya. Ayahnya, almarhum Bramantyo Aratama, bukan hanya sekadar rekan bisnis yang bersaing secara sehat. Laporan itu mengungkap sebuah skema sabotase yang rapi dan kejam. Aratama Group kala itu sengaja memutus jalur pendanaan bank bagi proyek besar yang sedang dikerjakan Zulkifli, menyuap mandor lapangan untuk melakukan mogok kerja massal, dan akhirnya mengakuisisi paksa aset perusahaan Humaira dengan harga yang menghina saat mereka berada di titik nadir kebangkrutan.

​"Ya Tuhan..." gumam Adrian, suaranya tercekat. Ia menggunakan kata itu lagi, bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai sebuah seruan putus asa.

​Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang dingin. Kepalanya terasa pening. Selama ini, ia membanggakan Aratama Group sebagai simbol kesuksesan dan kecerdasan bisnis. Ia mengagumi ayahnya sebagai mentor yang tak terkalahkan. Namun malam ini, ia menyadari bahwa fondasi kekayaannya dibangun di atas puing-puing kehancuran hidup orang lain—hidup keluarga wanita yang ia cintai.

​Kini ia mengerti mengapa ayah Aisha, Zulkifli, begitu membenci dunia korporat. Ia mengerti mengapa Zulkifli menderita stroke; bukan hanya karena bangkrut, tapi karena pengkhianatan dari orang yang ia percaya sebagai sahabat. Dan yang paling menyakitkan, Adrian kini mengerti bahwa bagi Aisha, nama "Aratama" bukan sekadar merk perusahaan, melainkan simbol iblis yang menghancurkan masa kecilnya.

​Keesokan paginya, suasana di meja sarapan hotel terasa sangat berbeda bagi Adrian. Ia duduk di seberang Aisha dan Fikri, namun ia tidak bisa menatap mata mereka. Setiap kali Aisha berbicara tentang visi lingkungannya untuk Green Oasis, Adrian merasa seperti seorang penipu besar.

​"Pak Adrian, Anda kurang tidur?" tanya Aisha, suaranya lembut namun penuh selidik. "Mata Anda sangat merah."

​Adrian memaksakan sebuah senyum kaku, tangannya menggenggam cangkir kopi begitu erat hingga buku jarinya memutih. "Hanya... sedikit masalah pada dokumen hukum di Jakarta. Tidak perlu dikhawatirkan."

​Fikri melirik Adrian dengan tatapan penuh tanya, teringat percakapan rahasia mereka semalam di The Shoppes. Adrian memberikan kode kecil lewat matanya agar Fikri tetap diam.

​Setelah sarapan, saat mereka berjalan menuju lobi untuk menuju bandara kembali ke Jakarta, Adrian sengaja melambat untuk berjalan di samping Aisha.

​"Aisha," panggilnya rendah.

​Aisha menoleh. "Ya, Pak?"

​"Jika... jika ada seseorang yang melakukan kesalahan besar padamu di masa lalu, apakah kau bisa memaafkannya?"

​Aisha menghentikan langkahnya, menatap Adrian dengan kening berkerut. "Tergantung, Pak. Apakah orang itu meminta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahannya? Dan apakah kesalahan itu merusak hidup orang banyak atau hanya ego semata?"

​"Bagaimana jika itu merusak hidup keluargamu? Tapi yang melakukannya bukan orang itu sendiri, melainkan ayahnya?"

​Aisha terdiam cukup lama. Tatapannya menjadi dalam, seolah sedang menggali memori lama yang menyakitkan. "Dalam keyakinan saya, tidak ada dosa warisan, Pak Adrian. Seseorang tidak memikul beban dosa orang tuanya. Namun, jika orang tersebut menikmati hasil dari kejahatan orang tuanya tanpa rasa bersalah, maka dia adalah bagian dari kejahatan itu sendiri."

​Kata-kata Aisha seperti belati yang menghujam jantung Adrian. Menikmati hasil dari kejahatan orang tuanya. Itulah yang ia lakukan selama ini. Apartemen mewahnya, mobil sportnya, kekuasaan yang ia genggam—semuanya adalah bunga yang tumbuh dari tanah yang dicuri dari keluarga Aisha.

​Sepanjang perjalanan di pesawat kembali ke Jakarta, Adrian hanya terdiam menatap awan. Ia terjebak dalam dilema moral yang hebat.

​Jika ia jujur sekarang, Aisha pasti akan berhenti saat itu juga. Ia akan kehilangan arsitek terbaiknya, dan yang lebih buruk, ia akan kehilangan satu-satunya wanita yang berhasil menyentuh hatinya. Aisha tidak akan sudi bekerja untuk putra dari penghancur ayahnya.

​Namun, jika ia menyembunyikannya, ia sedang membangun hubungan mereka di atas kebohongan. Dan jika suatu hari nanti rahasia ini terbongkar—dan di dunia bisnis, rahasia selalu terbongkar—maka kebencian Aisha akan berlipat ganda.

​Adrian melirik Aisha yang sedang tertidur lelap di kursi sebelah, kepalanya sedikit miring dengan khimar yang tertata rapi. Ia tampak begitu damai. Adrian merasa ingin sekali meraih tangannya, memohon ampun atas dosa yang tidak ia lakukan secara langsung, namun ia adalah pewarisnya.

​Aku harus menebusnya, batin Adrian. Bukan dengan uang, tapi dengan mengembalikan kehormatan keluarganya.

​Setibanya di Jakarta, Adrian tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia memerintahkan supirnya menuju ke kantor pusat, meski hari sudah malam. Ia memanggil kepala tim legal dan akuntan senior yang sudah bekerja di Aratama Group sejak era ayahnya.

​"Buka kembali kasus akuisisi PT. Humaira Konstruksi tahun 1998," perintah Adrian dingin di ruang rapat yang sepi.

​"Tapi Pak, itu sudah kedaluwarsa secara hukum. Secara aset, itu sudah melebur ke dalam Aratama Properti," jawab sang akuntan senior.

​"Aku tidak peduli soal kedaluwarsa hukum! Aku bicara soal restitusional," Adrian memukul meja. "Cari tahu berapa nilai riil kerugian mereka saat itu jika dikonversi ke nilai sekarang. Cari tahu tanah-tanah mana saja yang kita sita secara paksa. Aku ingin menyiapkan skema pengembalian aset."

​"Pak Adrian, ini bisa mengguncang stabilitas saham perusahaan jika pemegang saham tahu Anda membuang aset tanpa alasan yang jelas," tim legal memperingatkan.

​"Alasannya sangat jelas: Aratama Group tidak akan berdiri di atas tanah curian!" bentak Adrian. "Lakukan dalam diam. Buat sebuah yayasan atau skema hibah anonim jika perlu. Dan pastikan nama 'Zulkifli Humaira' mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya, tanpa dia tahu itu berasal dariku."

​Setelah stafnya keluar dengan wajah bingung, Adrian berdiri di balkon kantornya, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai terlihat seperti bara api baginya.

​Ia menyadari bahwa cintanya pada Aisha telah membawanya ke titik di mana ia harus mengkhianati warisan ayahnya sendiri demi sebuah kebenaran. Ia sedang melakukan "sabotase" terhadap perusahaannya sendiri untuk menyelamatkan jiwanya.

​Namun, ada satu ketakutan yang masih menghantui: Ustadz Salman.

​Jika Zulkifli tiba-tiba mendapatkan kekayaannya kembali, tekanan untuk menikahkan Aisha dengan Salman mungkin akan semakin kuat sebagai bentuk syukur. Adrian menyadari bahwa ia sedang bermain api. Ia sedang memperkuat posisi musuh cintanya dengan tangannya sendiri.

​"Aku akan mengembalikan hartamu, Zulkifli," bisik Adrian pada angin malam. "Tapi aku tidak akan menyerahkan putrimu. Aku akan membuktikan bahwa seorang Aratama bisa menjadi pria yang lebih baik daripada yang kau bayangkan."

​Malam itu, Adrian tidak hanya menjadi seorang CEO yang jatuh cinta. Ia menjadi seorang pria yang sedang menempuh jalan penebusan. Ia mulai menyadari bahwa mencintai Aisha berarti mencintai kebenaran, dan kebenaran itu terkadang menuntut pengorbanan yang paling menyakitkan: mengakui bahwa pahlawan masa kecilmu, ayahnya sendiri, adalah seorang penjahat.

​Adrian mengambil foto ayahnya yang ada di meja kerjanya, lalu perlahan membaliknya ke bawah. Masa lalu telah selesai dengan kegelapannya, dan kini Adrian harus berjalan di atas duri-duri itu untuk menjemput cahaya yang ia temukan pada diri Aisha.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!