Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Surat dari Orang yang Tidak Pernah Ada
...— ✦ —...
Kantor notaris itu berada di gedung tua di pusat kota — bangunan yang arsitekturnya berbicara tentang dekade yang berbeda, dengan pintu kayu berat dan plakat kuningan yang namanya sudah sedikit pudar di tepinya.
Kirana datang sendiri.
Xavier menawarkan untuk ikut, tapi Kirana menolak dengan cara yang ia harap terdengar natural — bahwa ini urusan pribadi, bahwa ia ingin mengurusnya sendiri. Xavier tidak memaksakan. Ia hanya menatapnya sebentar dengan ekspresi yang sudah mulai akrab bagi Kirana: ekspresi seseorang yang menahan pertanyaan karena memilih untuk memberi ruang.
Ruang itu, untuk sekarang, adalah hal yang paling Kirana butuhkan.
Pak Wirawan — notarisnya, pria enam puluhan dengan kacamata berbingkai tipis dan cara bicara yang tenang seperti orang yang sudah terbiasa menyampaikan berita tentang orang yang sudah tidak ada — menyambutnya di ruangan yang berbau kertas lama dan kayu poles. Ia menawarkan teh, Kirana menolak, dan mereka langsung ke intinya.
Asetnya tidak besar. Sebuah rekening tabungan dengan nominal yang cukup tapi tidak berlebihan, perhiasan beberapa potong, dan sebuah apartemen kecil di kawasan yang dulu mungkin terasa lebih bergengsi dari sekarang. Semua diserahkan kepada Gwyneth sebagai satu-satunya ahli waris.
Dan satu amplop putih, tipis, dengan tulisan tangan di depannya.
*Untuk Gwyneth. Dibuka sendiri.*
Kirana menerima amplop itu dengan kedua tangan. Kertas di luar amplop itu terasa tipis di jarinya — kertas surat biasa, bukan yang mahal — dan tulisan tangannya adalah tulisan orang yang tangannya sudah tidak sekuat dulu, sedikit gemetar di ujung beberapa huruf.
"Ini saja?" tanya Kirana.
"Ini saja yang ia tinggalkan," jawab Pak Wirawan pelan. "Beliau berpesan bahwa surat itu yang paling penting."
...✦ ✦ ✦...
Kirana tidak membukanya di kantor notaris.
Ia menyimpannya di tas, menyelesaikan prosedur administratif yang diperlukan dengan tangan yang bekerja secara otomatis sementara pikirannya berada di tempat lain, lalu keluar ke udara segar kota yang tidak sepenuhnya segar tapi setidaknya berbeda dari udara dalam ruangan.
Ia berjalan ke taman kecil dua blok dari kantor notaris — taman yang tidak istimewa, hanya beberapa pohon dan bangku-bangku besi dan kolam kecil yang airnya agak keruh — dan duduk di bangku yang paling jauh dari jalan.
Mengeluarkan amplop itu.
Menarik napas panjang.
Membukanya.
Surat itu tidak panjang. Hanya satu setengah halaman, ditulis dengan tulisan tangan yang sama — gemetar di beberapa bagian, tapi terbaca. Dan saat Kirana mulai membaca kalimat pertamanya, ia merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata yang ia miliki, meski kata-kata adalah satu-satunya senjata yang pernah ia percayai.
*Gwyneth,*
*Aku tidak tahu apakah kamu akan membaca ini. Aku tidak tahu apakah kamu bahkan mau. Tapi aku tulis ini karena ada hal-hal yang tidak pernah aku ucapkan secara langsung, dan mungkin sudah terlambat untuk diucapkan, dan mungkin kertas lebih mudah daripada tatap muka — kamu tahu aku tidak pernah pandai dengan tatap muka.*
*Aku minta maaf, Gwyneth.*
*Bukan dengan cara yang mudah atau singkat. Dengan cara yang panjang dan menyakitkan dan tidak cukup — aku tahu tidak cukup. Aku minta maaf untuk cara aku membesarkanmu. Untuk dingin yang kukira adalah ketegasan. Untuk jarak yang kukira adalah cara melindungi. Untuk semua kata yang tidak pernah kuucapkan dan semua kata yang kuucapkan dengan cara yang salah.*
*Aku minta maaf karena kamu tumbuh dan belajar dari caraku, dan aku tidak memberikanmu contoh yang lebih baik dari itu. Aku tahu kamu menjadi ibu sekarang. Aku dengar tentang cucuku — tentang Amethysta — meski kita tidak pernah dekat. Dan aku takut, Gwyneth. Aku takut kamu mengulang apa yang aku lakukan padamu, karena itu yang kita tahu, karena itu yang diajarkan padaku, karena rantai ini panjang sekali dan aku tidak tahu cara memutusnya dan tidak pernah mencoba cukup keras untuk belajar.*
*Kalau kamu bisa — kalau masih ada waktu — putus rantai itu. Dari kamu. Jangan biarkan Amethysta mewarisi apa yang kamu warisi dariku. Itu yang tidak bisa aku berikan padamu sewaktu masih ada, tapi mungkin bisa aku minta padamu sekarang.*
*Maafkan aku. Dan kalau kamu bisa — maafkan dirimu sendiri juga. Kita semua hanya bisa bekerja dengan apa yang kita punya.*
*Ibumu.*
Kirana membaca surat itu dua kali.
Lalu ia melipat kertasnya dengan hati-hati — sangat hati-hati, seperti melipat sesuatu yang rapuh — dan menyimpannya kembali ke amplop. Ia duduk di bangku taman itu dengan amplop di pangkuannya dan menatap kolam keruh di depannya, di mana seekor angsa kecil berenang dengan acak tanpa tujuan yang jelas.
Jadi ini dia.
Ini akar yang tidak pernah ia tuliskan dalam novelnya karena ia tidak tahu — karena ketika menciptakan Gwyneth, ia menulis monster tanpa cukup banyak bertanya mengapa. Ia memberi Gwyneth motivasi yang cukup untuk membuat plotnya masuk akal, cukup untuk membuat pembaca mengerti sekaligus membenci, tapi tidak cukup banyak untuk membuat pembaca — atau penulisnya sendiri — benar-benar *melihat*.
Gwyneth Valerine bukan hanya monster.
Gwyneth Valerine adalah anak dari seorang ibu yang tidak pernah tahu cara mencintai dengan benar, yang mewarisi luka dan meneruskannya karena tidak ada yang pernah menunjukkan cara lain. Rantai yang panjang. Panjang sekali. Dan dalam novel aslinya — dalam akhir yang Kirana tuliskan — rantai itu tidak putus. Ia hanya berpindah tangan, dari Gwyneth ke Amethysta, dengan cara yang lebih gelap dan lebih final.
*Putus rantai itu.*
Kirana menutup matanya.
Ia memikirkan Amethysta yang semalam tidur di kamarnya dengan buku bintang di dada. Amethysta yang pagi ini pamit dengan cerita tentang Orion. Amethysta yang meletakkan nilai ulangannya menghadap ke atas.
Ia juga memikirkan Gwyneth — Gwyneth yang asli, yang jiwanya entah berada di mana sekarang, yang mungkin tidak pernah mendapat surat ini, yang mungkin tidak pernah punya kesempatan untuk membaca kata-kata ini dan memilih berbeda.
Dan ia memikirkan dirinya sendiri. Kirana Seo. Yang masuk ke tubuh ini tanpa diminta, tanpa rencana, dengan bekal yang tidak lebih dari ratusan halaman fiksi yang ia tulis dengan tangan sendiri.
*Mungkin,* pikirnya perlahan, *ini yang seharusnya terjadi. Bukan karena alam semesta punya rencana yang rapi dan bermakna — tapi karena seseorang harus ada di sini untuk membaca surat ini. Seseorang yang masih punya waktu untuk memilih berbeda.*
...✦ ✦ ✦...
Ia pulang pada sore hari dengan amplop di tas dan sesuatu yang berat tapi berbeda di dadanya — bukan berat yang menekan ke bawah, tapi berat yang terasa seperti tanggung jawab yang akhirnya dipahami sepenuhnya.
Amethysta ada di ruang keluarga ketika ia masuk, berbaring tengkurap di karpet dengan buku atlas bintang barunya terbuka lebar di depannya. Pensil di tangannya bergerak pelan — ia sedang menggambar sesuatu di buku catatannya, meniru pola konstelasi dari halaman yang terbuka.
Ia tidak langsung menyadari Kirana masuk.
Kirana berdiri di ambang pintu ruang keluarga dan mengamatinya sebentar — gadis kecil ini yang berbaring di karpet, lidahnya sedikit terjulur keluar karena konsentrasi, rambut kepangannya sudah sedikit berantakan di satu sisi. Begitu biasa. Begitu seperti anak tujuh tahun yang seharusnya.
"Pola apa yang sedang kamu gambar?" tanya Kirana pelan, agar tidak mengejutkan.
Amethysta mengangkat kepalanya — tidak melompat ketakutan, tidak menyembunyikan bukunya dengan refleks. Hanya mengangkat kepala dengan ekspresi orang yang sedang asyik dan tidak keberatan diganggu oleh orang yang tepat.
"Ursa Minor," jawabnya. "Bintang kutub ada di sana. Ujung ekornya."
Kirana masuk ke ruangan, duduk di karpet di sebelah Amethysta — bukan di sofa, di karpet, di levelnya — dan melihat ke buku catatannya. Gambar konstelasi itu tidak sempurna, beberapa garis sedikit bengkok, tapi bintang-bintangnya ditandai dengan lingkaran kecil yang cermat.
"Bintang kutub itu yang digunakan pelaut untuk menemukan arah utara," kata Kirana.
"Iya." Amethysta menunjuk halaman atlas. "Katanya dulu sebelum ada kompas, pelaut bergantung sama bintang kutub untuk tidak tersesat di laut." Jeda kecil. "Kebayang tidak, gelap semua, cuma ada bintang itu?"
"Kebayang." Kirana menatap gambar di buku catatan gadis kecil itu. "Menakutkan tapi juga..."
"Indah," kata Amethysta sebelum Kirana selesai. Lalu ia sedikit terkejut pada dirinya sendiri — mengucapkan kata yang sama dengan orang lain sebelum orang itu selesai bicara adalah sesuatu yang terasa seperti kedekatan, dan kedekatan masih terasa seperti wilayah asing.
"Indah," setuju Kirana.
Mereka diam sebentar, berdampingan di karpet, dengan atlas bintang terbuka di antara mereka.
"Mama," kata Amethysta akhirnya, tidak mengangkat matanya dari gambarnya.
"Hm?"
"Nenekku — ibu Mama — aku belum pernah ketemu dia."
Kirana diam. Menunggu.
"Dia sudah meninggal, ya?"
"Ya," jawab Kirana pelan. "Sudah."
Amethysta mengangguk pelan, meneruskan goresannya. "Mama sedih?"
Pertanyaan yang tidak mudah. Kirana memikirkan jawabannya dengan jujur — bukan jawaban Gwyneth, bukan jawaban yang aman, tapi jawaban yang paling mendekati kebenaran yang bisa ia berikan.
"Aku tidak yakin," katanya akhirnya. "Tapi aku membaca surat yang dia tinggalkan. Dan suratnya... membuatku berpikir banyak."
Amethysta berhenti menggambar. Ia menatap Kirana dengan mata ungu yang tidak lagi penuh ketakutan tapi penuh dengan sesuatu yang lebih kompleks — empati, mungkin, yang tumbuh dari anak yang hidupnya sendiri penuh dengan hal-hal yang tidak mudah.
"Surat yang sedih?" tanyanya.
"Surat yang jujur," jawab Kirana. "Kadang itu lebih sulit dari yang sedih."
Amethysta mempertimbangkan ini dengan serius, seperti yang ia lakukan dengan semua hal yang ia anggap penting. Lalu ia mengangguk pelan — anggukan seseorang yang belum sepenuhnya mengerti tapi memilih untuk menerima bahwa ada hal-hal yang ukurannya lebih besar dari pemahamannya sekarang, dan itu tidak masalah.
Ia kembali ke gambarnya.
Kirana duduk di sebelahnya dan membiarkan keheningan itu tinggal — keheningan yang bukan kosong, bukan penuh ketakutan, bukan jarak. Keheningan yang terasa seperti dua orang yang berada di tempat yang sama dan nyaman dengan itu.
...✦ ✦ ✦...
Malam itu, setelah Amethysta tidur dan rumah sudah sunyi, Kirana mencari Xavier di perpustakaan kecil.
Ia ada di sana seperti yang Kirana duga — di kursi yang sama, buku di pangkuan yang sama, tapi kali ini matanya memang membaca, bukan hanya menatap halaman.
"Ada yang ingin kuceritakan," kata Kirana dari ambang pintu.
Xavier menutup bukunya. Menatapnya. Menunggu.
Kirana masuk, duduk di kursi di seberangnya, dan mengeluarkan amplop dari tasnya. Ia meletakkannya di meja kecil di antara mereka — tidak memberikannya, hanya meletakkan.
"Surat dari ibuku," katanya. "Ia minta maaf." Kirana menatap amplop itu. "Untuk cara ia membesarkanku. Untuk hal-hal yang ia ajarkan tanpa sadar. Untuk..." Ia berhenti. Memilih. "Untuk rantai yang ia teruskan."
Xavier tidak langsung menjawab. Ia menatap amplop itu, lalu Kirana, dengan ekspresi yang tidak mencoba menganalisa atau menarik kesimpulan — hanya ada.
"Dan?" katanya akhirnya, pelan.
"Dan aku ingin memastikan bahwa rantai itu berhenti di sini." Kirana mengangkat matanya. "Di kita. Di aku. Bahwa Amethysta tidak mewarisi apa yang aku warisi."
Ruangan itu sunyi. Di luar, angin bergerak pelan di antara daun-daun pohon yang masih basah dari hujan tadi siang.
Xavier menatapnya lama. Sangat lama. Dengan cara yang tidak membuat Kirana merasa diperiksa, tapi didengar — yang lebih dalam dari diperiksa, lebih personal dari dinilai.
"Aku sudah menunggumu berkata itu," katanya akhirnya. Suaranya pelan. Bukan tuduhan. Bukan pun pernyataan yang melegakan diri sendiri. Hanya kebenaran yang diucapkan dengan hati-hati. "Lama sekali."
Kirana tidak menjawab. Tenggorokannya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak punya nama.
"Aku tidak sempurna dalam semua ini juga," lanjut Xavier. "Aku pergi terlalu sering. Aku melihat tapi memilih untuk tidak melihat karena lebih mudah. Itu juga harus berubah."
"Ya," kata Kirana pelan. "Harus."
Mereka duduk di perpustakaan kecil itu sampai larut, berbicara dengan cara yang tidak pernah ada dalam novel yang Kirana tulis — dua orang yang mencoba, dengan canggung dan tidak sempurna, untuk membangun sesuatu yang seharusnya sudah ada sejak lama.
Di kamarnya di lantai atas, Amethysta tidur dengan atlas bintang di sampingnya, halaman yang menunjukkan Ursa Minor masih terbuka, bintang kutub di ujung ekor beruang kecil itu bersinar dalam gambar dengan cara yang tidak memerlukan penjelasan apapun.
Petunjuk arah untuk yang tersesat.
Selalu ada, kalau tahu cara melihatnya.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...