✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guntur dari Menara Regulus
Vargos tidak pernah terlihat sesibuk ini. Di bawah perintah Ren Akasa, seluruh wilayah telah berubah menjadi sebuah garis produksi militer yang masif. Pembangunan Railgun Regulus bukan lagi sekadar proyek bengkel antara Gorn dan Thrumm, melainkan sebuah orkestra kekuatan yang melibatkan seluruh jenderal rasi bintang.
Di pusat bengkel Sektor Utara, hawa panasnya begitu ekstrem hingga batu-batu dinding tampak mulai mencair. Di sana, berdiri Behemoth, iblis badak raksasa berkepala naga yang tingginya sekitar 3 meter. Perannya dalam proyek ini sangat krusial: Behemoth bertindak sebagai "Living Forge" sekaligus "Anchor" (jangkar) bagi mesin seberat ratusan ton tersebut.
"Tahan suhunya, Behemoth! Jangan biarkan apinya padam sebelum obsidian ini melunak!" teriak Gorn, yang kini berdiri di atas pundak raksasa Behemoth untuk mencapai bagian atas laras Railgun.
Behemoth mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan fondasi bumi. Kepala naganya membuka rahang, menyemburkan api biru pekat, (Dragon’s Miasma Breath) langsung ke inti tungku yang memanaskan laras Railgun.
Tanpa panas dari nafas naga Behemoth, Gorn dan para Dwarf tidak akan pernah bisa melelehkan Obsidian Miasma yang memiliki titik didih luar biasa tinggi.
Kaki-kaki badaknya yang kokoh menghunjam dalam ke lantai beton yang telah diperkuat, menahan berat laras raksasa yang sedang ditempa agar tidak miring satu milimeter pun.
Di saat yang sama, di atap tertinggi Menara Regulus, suasana justru berbanding terbalik. Keheningan yang mencekam menyelimuti area tersebut. Kagehisa, sang pendekar pedang bayangan, berdiri mematung di ujung langkan menara. Matanya terpejam, namun indranya telah meluas hingga radius sepuluh kilometer.
Ia adalah perisai tak kasat mata yang menjaga proyek ini dari sabotase jarak jauh.
Tiba-tiba, helm Kagehisa bergerak pelan. Ia merasakan distorsi tipis di udara, sebuah objek kecil yang bergerak dengan kecepatan supersonik mendekat dari arah utara.
"Penyusup," bisik Kagehisa.
Tanpa membuka mata sepenuhnya, ia menghunuskan pedang hitamnya secepat kilat.
CLANG!
Sebuah peluru energi merah milik Kenji Sato yang mencoba melakukan serangan preventif untuk mengganggu pembangunan, terbelah dua di udara tepat lima meter sebelum mengenai menara. Kagehisa tidak bergerak dari posisinya, pedangnya sudah kembali masuk ke sarungnya bahkan sebelum percikan energinya padam.
"Alice, tutupi area ini dengan kabut ilusi yang lebih pekat," perintah Kagehisa melalui transmisi mana. "Musuh sudah mulai membidik. Jangan biarkan mereka melihat target kedua kalinya."
"Hehe, tenang saja, Kagehisa. Aku akan membuat mereka melihat sepuluh menara palsu di seluruh rawa ini," sahut Alice dari bayang-bayang, mulai merajut Mirage Screen yang membingungkan sensor optik Kenji Sato di kejauhan.
Di dalam menara, Silas sibuk mengukir segel jiwa pada peluru-peluru obsidian yang akan dilontarkan. Ia memastikan bahwa setiap peluru mengandung kutukan Soul-Crusher, sehingga jika peluru itu mengenai sasaran, bukan hanya fisiknya yang hancur, tapi aliran mana sang target juga akan terkunci.
"Tuan Leon," Silas melapor saat Ren melangkah masuk ke ruang kendali. "Integrasi peluru sudah siap. Behemoth telah berhasil menstabilkan suhu laras, dan Kagehisa baru saja menghalau serangan sniper pertama musuh."
Ren mengangguk, puas melihat bagaimana para jenderalnya bekerja secara sinergis. "Bagus. Jika Behemoth adalah ototnya, Gorn adalah tangannya, dan Kagehisa adalah matanya, maka sekarang aku yang akan menjadi jiwanya."
Ren melangkah ke arah Railgun yang kini telah terpasang di atas platform raksasa yang ditopang langsung oleh sistem hidrolik Dwarf. Laras sepanjang dua puluh meter itu tampak mengerikan, dilapisi oleh sisik-sisik obsidian yang berpendar ungu.
"Semua posisi!" teriak Ren.
Behemoth bergerak ke belakang mesin, menggunakan tangannya yang masif untuk memeluk pangkal Railgun. Ia akan menjadi penyerap recoil (hentakan) utama. Tanpa kekuatan fisik Behemoth yang luar biasa, satu tembakan Railgun ini bisa membuat Menara Regulus roboh akibat tekanan balik kinetiknya.
"Pengisian daya 80%!" lapor Thrumm Ironfoot dengan wajah penuh keringat. "Kristal Miasma mulai bergetar! Behemoth, tahan posisimu!"
Behemoth meraung, otot-otot di kakinya membesar dan sisiknya mengeras menjadi zirah batu. "BAWA KE MARI ENERGINYA!" suaranya menggelegar seperti guntur.
[Sistem: Mengaktifkan Skill Sovereign's Influence, Overclocking Railgun!]
Ren meletakkan tangannya di panel kendali. Seluruh energi rasi bintangnya mengalir masuk ke dalam mesin. Cahaya ungu yang tadinya hanya berpendar kini meledak menjadi cahaya putih-ungu yang menyilaukan.
"Kagehisa, bersihkan jalur bidik!" perintah Ren.
Di puncak menara, Kagehisa melakukan satu tebasan udara vertikal, (Void Cleave) yang secara harfiah membelah kabut rawa di depan laras Railgun, menciptakan lorong hampa udara agar peluru tidak terhambat oleh gesekan atmosfer.
"TEMBAK!"
BOOOOMMMMM!!!!
Dunia seolah-olah kehilangan suaranya untuk sesaat. Ledakan yang dihasilkan begitu masif hingga air di kanal-kanal Vargos terlempar ke udara. Sebuah garis cahaya ungu keemasan melesat dari Menara Regulus, meninggalkan jejak api hitam di sepanjang jalur yang dilaluinya.
Behemoth meraung keras saat tekanan balik dari Railgun menghantam tubuhnya. Kaki raksasanya amblas sedalam dua meter ke dalam lantai menara yang diperkuat, namun ia tidak bergeming satu inci pun. Ia berhasil menahan beban yang setara dengan jatuhnya sebuah gunung kecil.
Tiga puluh kilometer di tenggara, di Bukit Sunyi, Kenji Sato baru saja akan mengisi ulang senapan energinya ketika ia melihat langit di depannya terbelah. Lorong hampa udara yang diciptakan Kagehisa membuatnya tidak menyadari serangan itu hingga semuanya sudah terlambat.
"Apa?!"
DUMMM!
Peluru obsidian dengan kecepatan Mach 10 menghantam tepat di tengah perkemahan unit 'Matahari Tersembunyi'. Ledakannya tidak menghasilkan api biasa, melainkan kubah energi ungu yang menghisap segala sesuatu di sekitarnya ke dalam kehampaan sebelum meledak ke luar.
Kenji terlempar seperti boneka kain. Zirah futuristiknya hancur seketika, dan Unique Skill-nya, Absolute Destruction, nyaris tidak mampu menahan tekanan kinetik yang begitu besar. Ia menghantam dinding tebing dengan keras, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan debu batu.
Unit elit Arthemis yang tersisa tidak sempat berteriak. Mereka lenyap dalam sekejap, meninggalkan kawah yang menganga lebar di mana Bukit Sunyi dulunya berdiri.
Di Menara Regulus, asap mengepul dari laras yang membara. Behemoth perlahan melepaskan pelukannya pada mesin tersebut, tubuhnya mengeluarkan uap panas akibat kerja keras ototnya.
"Senjata yang bagus... Tuan," geram Behemoth, matanya yang merah menunjukkan rasa puas.
"Lagi... aku ingin... menembak lagi."
Gorn tertawa sambil menepuk kaki Behemoth. "Sabar, Raksasa! Kita harus mendinginkan larasnya dulu atau kepalamu akan ikut meleleh!"
Kagehisa mendarat di samping Ren, pedangnya sudah bersih tanpa noda. "Target utama masih hidup, namun energinya tidak stabil. Dia sedang ditarik mundur oleh unit penyelamat Arthemis. Haruskah hamba mengejarnya?"
Ren menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kagehisa. Biarkan dia kembali ke Arthemis dan menceritakan apa yang dia lihat. Biarkan ketakutan ini menyebar ke jantung kerajaan mereka. Kita sudah menunjukkan bahwa Vargos memiliki otot, mata, dan pedang yang tak terkalahkan."
Ren menoleh ke arah seluruh jenderalnya—Silas yang tenang, Alice yang ceria, Zosma yang bangga, Gorn dan Thrumm yang kelelahan, Kagehisa yang tajam, dan Behemoth yang perkasa.
"Kalian semua telah melakukannya dengan baik," ucap Ren, suaranya terdengar lembut namun penuh kebanggaan.
"Hari ini, dunia Aetheria belajar satu hal: Vargos bukan lagi tempat untuk bersembunyi. Vargos adalah tempat di mana cahaya Arthemis akan padam."
[Sistem: Pencapaian 'Unity of the Stars' Tercapai.]
[Sistem: Sinkronisasi antar Jenderal meningkat 25%.]
[Sistem: Reputasi Wilayah Vargos — 'Fortress of the Fallen God'.]
Ren menatap ke arah utara, ke arah ibu kota yang mulai menyalakan perisai sucinya dalam kepanikan. "Persiapkan tahap selanjutnya. Kita tidak akan menunggu mereka datang. Kita yang akan membawa guntur ini ke pintu gerbang mereka."
Berpindah ke POV Mika
Angin di Pegunungan Wind Cutter bertiup sangat tajam, cukup kuat untuk merobek kulit manusia biasa. Namun bagi Mika, angin ini hanyalah selimut yang membantunya menyamarkan keberadaannya. Dengan tubuh yang terbungkus jubah Shadow Silk pemberian Elara, Mika melekat pada dinding tebing vertikal yang menghadap langsung ke arah Aerie, pemukiman pusat ras Harpy Sayap Perak.
Tangannya yang mungil namun kuat mencengkeram celah batu dengan presisi. Matanya, yang telah dimodifikasi oleh sistem Ren untuk memiliki penglihatan termal dan sensor gerakan, menatap tajam ke arah aula terbuka yang dipahat di puncak gunung.
Beberapa jam yang lalu, langit di ufuk selatan terbelah oleh cahaya ungu. Mika merasakannya, getaran yang merambat melalui tanah bahkan hingga ke puncak tertinggi ini. Itu adalah pesan dari Tuannya. Sebuah pesan yang kini membuat seisi klan Harpy gempar.
"Kau lihat sendiri, Ratu Syra! Langit terbelah! Itu bukan sihir naga, itu sesuatu yang lebih mengerikan!" suara serak seorang tetua Harpy terdengar menggema hingga ke posisi Mika.
Mika mengaktifkan alat pendengar sihir yang tertanam di telinganya. Di aula tersebut, sang Ratu Harpy, Syra, berdiri dengan sayap perak yang gelisah. Di depannya, dua faksi klan sedang berdebat sengit.
"Itu adalah tanda kiamat bagi ras monster!" teriak tetua lainnya, seorang prajurit veteran dengan bekas luka di sayapnya. "Raja Iblis di Vargos telah memicu kemarahan Arthemis dengan senjata terkutuk itu. Jika kita tetap diam, manusia-manusia suci itu akan menganggap kita sekutu Vargos dan meratakan gunung ini. Kita harus mengirim utusan ke Arthemis sekarang. Tawarkan kesetiaan kita sebelum mereka datang dengan ksatria suci!"
Mika mencatat hal itu dalam memori sistemnya.
Ratu Syra tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke tepi langkan aula, menatap ke arah kawah yang mengepul di kejauhan, bekas hantaman Railgun. "Dan menurutmu Arthemis akan melindungi kita? Selama ratusan tahun mereka menyebut kita hama pemangsa ternak. Sekarang, saat mereka ketakutan, kau ingin kita berlutut pada mereka?"
"Lebih baik berlutut pada manusia daripada musnah oleh guntur ungu itu!" sahut sang veteran.
Namun, pembicaraan mereka terhenti saat seorang sosok asing melangkah keluar dari bayang-bayang pilar aula. Mika menahan napas, jantungnya berdetak lebih pelan. Sosok itu mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman benang emas seorang Ajudan Gereja Arthemis.
Menarik, pikir Mika. Tikus-tikus suci itu bergerak lebih cepat dari yang Tuan Leon perkirakan.
"Ratu Syra yang bijaksana," ucap utusan Arthemis itu dengan nada yang sangat persuasif. "Paus Richard memahami kekhawatiran Anda. Senjata yang digunakan Vargos adalah penghinaan terhadap hukum alam. Kami menawarkan 'Perisai Suci Jarak Jauh' untuk dipasang di puncak gunung ini.
Sebagai imbalannya, kami hanya meminta satu hal kecil: Serang jalur logistik Vargos dari udara saat pasukan kami mulai bergerak melakukan pengepungan bulan depan."
Mika menyipitkan mata. Ini bukan lagi sekadar diplomasi, ini adalah rencana serangan balik. Harpy dikenal dengan serangan udara kilat mereka. Jika mereka menghancurkan suplai miasma dan bahan pangan Vargos dari langit, Railgun tidak akan berguna jika prajuritnya kelaparan dan kehabisan energi.
"Arthemis menjanjikan kami wilayah hutan di kaki gunung ini?" tanya Syra, mulai goyah.
"Tentu saja. Semua wilayah hijau yang saat ini dikuasai Lizardman akan menjadi milik kalian setelah Vargos diratakan dengan tanah," janji sang utusan sambil tersenyum licik.
Mika merayap lebih dekat, melewati celah sempit yang hanya bisa dilalui oleh seorang ahli infiltrasi. Ia mengambil sebuah bola kristal kecil dari sakunya, sebuah Recording Orb. Segala pembicaraan ini, janji-janji palsu Arthemis, dan wajah sang penghianat harus sampai ke tangan Ren Akasa.
Namun, insting Mika tiba-tiba berteriak.
Distorsi udara.
Dari arah belakangnya, sebuah bayangan meluncur dengan kecepatan tinggi. Mika tidak sempat menghindar sepenuhnya. Ia hanya bisa memutar tubuhnya di udara saat sebuah cakram angin tajam menghantam posisi asalnya tadi, menghancurkan bongkahan batu hingga berkeping-keping.
"Ada tikus di dinding kita!" teriak seorang penjaga Harpy yang terbang berputar di atas Mika.
Mika mendarat dengan anggun di sebuah dahan pohon mati yang menjorok keluar dari tebing. Ia tidak panik. Sebaliknya, senyum tipis yang dingin tersungging di wajahnya.
"Ketahuan ya? Padahal aku sedang menikmati drama picisan kalian," ucap Mika dengan nada malas, khas gayanya.
Ratu Syra dan utusan Arthemis menoleh ke arah luar aula. Sang utusan langsung mengenali gaya berpakaian Mika. "Pembunuh dari Vargos! Bunuh dia sekarang! Jangan biarkan dia membawa informasi ini kembali!"
Puluhan Harpy prajurit langsung menghunus tombak tulang mereka dan mengepakkan sayap, menciptakan badai pasir yang menyesakkan. Mika menarik dua belati hitam yang dilapisi racun kelumpuhan.
"Meskipun aku suka bermain dengan kalian, Tuan Leon menungguku untuk makan malam," Mika bergumam. Ia melepaskan sebuah granat asap miasma yang ia dapatkan dari laboratorium Silas.
BOOM!
Asap ungu pekat seketika menyelimuti puncak tebing. Di tengah kekacauan itu, Mika tidak melarikan diri ke bawah. Ia justru melompat menuju aula. Dengan gerakan akrobatik yang mustahil bagi manusia, ia melewati kerumunan Harpy yang buta karena asap, mendarat tepat di depan meja bundar tempat sang utusan Arthemis berdiri.
Mika tidak membunuhnya. Ia hanya melakukan satu tebasan cepat pada tas dokumen yang dibawa sang utusan, merampas surat segel resmi dari Kepausan Arthemis, lalu menendang dada pria itu hingga terjatuh dari langkan aula.
"Surat ini akan menjadi bukti yang bagus untuk meyakinkan ras monster lain bahwa Arthemis hanya memanfaatkan kalian sebagai umpan meriam!" teriak Mika di tengah kabut asap.
"Tangkap dia!" raung Ratu Syra.
Bersambung.