Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — KEHIDUPAN BARU
"Adik, apa yang kau lakukan malam-malam di sini?"
"A-aku... aku sedang berjualan bunga mawar ini."
"Dimana orang tuamu?"
"Aku tidak punya orang tua."
"Aku berasal dari panti asuhan Zhenzhu."
"Kalau begitu biar aku antar."
"Benarkah, terima kasih kak."
Gadis itu pun sangat senang mendengarnya, lalu mereka pun pergi bersama. Yue Yan berjalan di samping Kenzo, sesekali melirik ke wajahnya yang tanpa ekspresi. Ada sesuatu dengan pria ini. Sesuatu yang menenangkan sekaligus menakutkan.
"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa itu? Katakanlah."
"Dimana kakak tinggal?"
"Aku tidak memiliki tempat tinggal, aku baru saja bebas dari penjara."
Yue Yan terkejut mendengarnya. Langkahnya terhenti sejenak, tubuhnya menegang.
"Apa kau takut?"
Kenzo bertanya saat melihat perubahan ekspresi wajah Yue Yan. Matanya menatap lurus ke depan, tak melihat ke arah gadis itu.
"T-tidak-tidak, aku tidak takut."
Yue Yan berusaha tenang sambil mencengkram keranjang bunga yang dipeluknya. Jari-jarinya pucat karena menekan terlalu kuat.
Kenzo tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat gadis itu mulai was-was. Dia hanya melanjutkan berjalan, memberi ruang untuk Yue Yan memproses informasi itu.
"Emmm... kak Huang, mengapa kakak masuk penjara?"
"Aku dijebak oleh seseorang menyelundupkan barang antik."
"Oh..."
Yue Yan mulai tenang mendengarnya. Dijebak. Bukan karena kejahatan sungguhan. Bukan monster. Hanya orang malang seperti dirinya.
Mereka pun tiba di panti asuhan tempat Yue Yan tinggal. Bangunan tua dua lantai, catnya mengelupas, tapi terlihat rapi dan bersih. Lampu di jendela-jendela menyala hangat.
"Kak sudah sampai, terima kasih."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa."
Kenzo pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Tugas selesai. Dia harus mencari tempat menginap. Hotel murah, gang gelap, apa saja yang bisa ditemukan dengan uang seadanya.
"T-tunggu..."
Yue Yan menghentikan langkah Kenzo dengan menahan tangannya. Jari-jari kecil itu mencengkram pergelangan tangan Kenzo yang besar dan kasar.
"Ada apa?"
"Kak Huang tunggu sebentar."
Yue Yan berlari ke dalam panti dengan sangat tergesa-gesa. Sandalnya berbunyi tlek-tlek di lantai ubin.
Setelah Kenzo menunggu beberapa lama, Yue Yan pun keluar bersama seorang nenek-nenek berusia sekitar enam puluhan menghampiri Kenzo. Rambutnya putih seluruhnya, tapi matanya tajam dan penuh kehangatan.
"Nenek... dia adalah kak Kenzo Huang, dia yang menyelamatkanku dari para preman."
"Malam nenek..."
"Malam anak muda, terima kasih telah menolong Yue Yan."
"Tidak apa-apa nek, bukan masalah besar."
"Yue Yan telah bercerita semuanya. Nak Huang, tinggallah di panti."
"Jika nanti kau telah menemukan tempat tinggal, kau bisa meninggalkan panti kapan pun."
"T-terima kasih nek."
Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Lorong sempit dengan foto-foto anak di dinding. Bau sabun dan makanan menguar dari dapur.
"Nak Huang, taruh barang-barangmu di kamar lalu kita makan malam bersama."
Terlihat di meja makan telah menunggu anak-anak panti yang lainnya untuk bersiap makan malam bersama. Sekitar sepuluh anak, usia beragam dari lima sampai lima belas tahun. Mata mereka memandang Kenzo dengan rasa ingin tahu.
"Yue Yan antarkan Huang ke kamarnya."
"Baik Nek, kak Huang ayo..."
"Permisi nek."
Nenek itu tersenyum melihat sikap Kenzo dan Yue Yan menarik tangan Kenzo dengan perasaan sangat senang. Ada harapan di matanya. Harapan bahwa pria ini mungkin bisa menjadi sesuatu untuk Yue Yan. Untuk panti ini.
"Kak silahkan."
Kenzo pun masuk ke dalam kamar yang tak terlalu kecil namun tidak besar, sangat rapi. Satu ranjang besi, satu lemari kayu, satu jendela kecil menghadap ke halaman belakang. Sederhana. Tapi lebih baik dari sel penjara.
"Kak setelah siap kami menunggu kakak untuk makan malam."
"Baiklah aku mengerti."
Kenzo meletakkan tasnya di ranjang dan membuka jaket serta kausnya. Udara malam yang sejuk menyentuh kulitnya. Terlihat tubuh atletis dan penuh luka tergambar di punggungnya. Bekas sayatan, bekas bakar, bekas pukulan. Peta kekerasan dari masa lalu yang tak pernah dia ceritakan.
Melihat kondisi itu Yue Yan sangat terkejut dan sedikit terpesona. Dia pernah melihat luka di tubuh pengasuh panti yang dulu bekerja di pelabuhan. Tapi tidak sebanyak ini. Tidak semacam ini.
"K-kak Huang..."
Yue Yan berlari memeluk tubuh Kenzo dari belakang. Wajahnya menempel di punggang yang penuh luka itu. Air mata mengalir, basah di kulit Kenzo.
"Y-Yue ada apa? A-apa yang kamu lakukan."
"Hei... Yue tenanglah... lepaskan tanganmu."
Kenzo berusaha melepaskan pelukannya namun dengan perlahan agar tak menyakitinya. Tapi gadis itu mencengkram erat. Seolah tak ingin melepaskan.
"Kakak..."
Yue Yan menangis tersedu-sedu. Bukan karena takut. Bukan karena sedih. Tapi karena sesuatu yang dia sendiri tak mengerti. Kenzo berdiri kaku, tangan kanannya terangkat setengah, tak tahu harus berbuat apa.
Setelah beberapa saat Yue Yan pun mengendorkan pelukannya, masih dengan isak tangis yang tersisa. Dia mundur selangkah, mengusap mata, tersenyum malu.
"Maaf kak... aku..."
Kenzo menatapnya. Matanya masih dingin, tapi ada sesuatu yang berkedip di dalamnya. Sesuatu yang sudah lama mati. Sesuatu yang mungkin baru saja mulai hidup lagi.
"Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba seperti ini, Yue?"
"Kak... a-aku tidak tahu."
Yue Yan menunduk sambil menyeka air matanya. Tangan kecilnya mengusap pipi yang basah, tapi air mata terus mengalir. Kenzo berdiri kaku, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia terbiasa dengan kekerasan, dengan kematian. Tapi tidak dengan ini. Tidak dengan tangis seorang gadis kecil yang memeluknya karena kasihan.
"Saat melihat luka yang ada di tubuhmu, aku merasakan pedih yang sangat dalam."
"Kak... janji kepadaku, kau jangan melakukan hal yang berbahaya lagi."
Kenzo terdiam. Dia selama ini tidak pernah merasakan ada yang se-perhatian ini kepadanya. Sejak ibunya meninggal saat dia berumur sepuluh tahun. Sejak ayahnya menghilang entah ke mana. Sejak dia hidup di jalanan, di panti asuhan, di penjara. Tak pernah ada yang memintanya berjanji untuk tetap hidup.
"Sudahlah, jangan menangis."
Kenzo meraih kaos di dalam ranselnya lalu mengenakannya. Kain kasar itu menutupi luka-luka di punggungnya. Menyembunyikan masa lalu yang kelam.
"Ayo kita makan, nenek dan yang lainnya pasti sudah lama menunggu."
Yue Yan pun mengangguk lalu mengikuti Kenzo ke ruang makan. Langkahnya masih sedikit tersandung, masih terpengaruh oleh tangisan tadi.
Keesokan paginya, Yue Yan sedang menyiapkan sarapan untuk semua orang bersama nenek panti. Suara panci dan wajan berdenting di dapur. Bau bubur nasi dan gorengan menguar ke seluruh panti.
Dan setelah selesai membersihkan diri, Kenzo pun keluar mengenakan pakaian rapi. Kemeja flanel biru yang dilipat sampai siku, celana jeans hitam, sepatu kanvas bekas tapi bersih. Pakaian terbaik yang dimilikinya.
"Pagi kak... hari ini apa kau akan pergi?"
"Pagi Yue..."
"Benar."
"Makanlah dulu sebelum pergi,"potong nenek panti.
"Baik, Nek."
Kenzo pun duduk sambil menyesap kopinya. Kopi hitam pekat, pahit, tanpa gula. Sama seperti hidupnya.
"Hari ini kau akan kemana?"
Tanya nenek panti dan duduk di samping Kenzo. Matanya tajam, tapi penuh kehangatan. Dia melihat sesuatu pada Kenzo. Sesuatu yang familiar. Sesuatu yang dia lihat di cermin puluhan tahun lalu.
"Hari ini aku akan mencari kerja, Nek."
Ucap Kenzo sambil mengolesi rotinya dengan selai. Gerakannya teratur, presisi, seperti orang yang terlatih disiplin.
"Bawalah bekal untukmu di perjalanan."
"Tidak usah, Nek. Nanti biar aku makan di luar saja."
"Baiklah kalau begitu, terserah kau."
"Hati-hati di jalan, aku akan membangunkan anak-anak yang lain."
Ucap nenek panti dan menepuk pundak Kenzo. Tepukan yang sederhana, tapi terasa berat. Seperti transfer kepercayaan. Seperti pengakuan.
"Baiklah, Nek."
Kenzo merasakan kehangatan sebuah keluarga yang telah lama hilang sejak ibunya meninggal dan ayahnya yang menghilang sejak Kenzo kecil. Sesuatu yang dia pikir sudah mati. Sesuatu yang dia tak layak miliki.
Setelah sarapan, Kenzo pun meninggalkan panti dan menuju sebuah kedai makan yang pernah disinggahinya waktu itu. Jalanan pagi masih sepi, bau sampah semalam masih tercium. Kenzo berjalan cepat, langkahnya mantap.
...$ BERSAMBUNG $...