Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Gue nabrak apaan? Rasanya kok aneh? Padahal tadi kayak nya di sini gak ada tembok deh," ucap Aruna meraba-raba sesuatu yang dia tabrak barusan.
Kltak! Suara sakelar lampu yang terdengar, diiringi dengan lampu yang menyala begitu terang nya. Aruna membuka mata nya, di hadapan nya berdiri seorang laki-laki yang tak asing di matanya. Rahang nya Aruna terbuka karena kaget, mata nya membulat ia mendongak menatap laki-laki tersebut.
Tangan laki-laki itu masih menempel di sakelar lampu yang ada di samping kulkas, ia mengerutkan keningnya menatap Aruna dengan tatapan tajam. "Ngapain Lo di sini?" kata Aruna malah angkat bicara dengan berani sambil menunjuk wajah laki-laki tersebut.
"Lo yang ngapain di sini? Ini rumah gue," jawab nya dengan ketus dan terlihat galak.
"Apa? Gak, gak mungkin," kata Aruna mundur beberapa langkah dari posisi nya berdiri.
"Lo gak mungkin jadi maid si sini kan?" tanya Erlan melangkah mendekati Aruna semakin dekat dari sebelumnya.
Dukh ... Tubuh Aruna mentok ke dinding yang anda di belakang nya, ia tak lagi bisa bergerak, kini Aruna mulai menyadari kalau laki-laki tersebut adalah kakak tirinya yang sering di bicarakan Hana dan juga sang papa.
"Jawab gue!" Erlan yang penasaran tak membiarkan Aruna berfikir ia mendekati Aruna dan menekan satu tangan nya ke tembok samping Aruna.
"A-anu, g-gue ... " Aruna kebingungan, ia tidak tau harus bicara apa sekarang.
"Tuan muda? Tuan muda jangan," ucap Hana yang pada saat ini segera berlari kecil dan menghampiri Aruna dan Erlan.
Hana segera menarik Aruna ke samping nya, karena dia berfikir Erlan ingin melakukan sesuatu dengan Aruna.
Next. Hal ini membuat Erlan semakin bingung karena Hana berani menarik Aruna dari hadapan nya.
"Siapa dia? Jangan bilang dia istri baru nya papa?" ucap Erlan dengan mata melotot.
"Anu tuan muda bukan," kata Hana yang tak bisa menangani masalah yang semakin rumit ini. Sementara Aruna hanya diam mematung tak tau harus mengatakan apa.
"Sini Lo," kata Erlan yang kini telah salah paham, ia menarik tangan Aruna dan membawa nya pergi dari hadapan Hana.
"Lepasin! Lepasin sakit! Lepasin," ucap Aruna merasakan sakit nya genggaman tangan Erlan yang kini melingkar di pergelangan tangan nya Pemuda yang masih berseragam sekolah itu terlihat sangat emosional.
"Berani-beraninya Lo nikahin papa gue, bukan nya Lo baru kelas dua belas ya? Gila ya Lo!?" Kata Erlan menuding Aruna sebagai istri baru papa nya.
"Astaga gawat! Tuan muda jangan!" teriak Hana yang sejatinya juga tidak berani melawan sang tuan muda.
"Erlan! Apa yang kau lakukan!" Terdengar suara papa Firman yang kini berdiri di anak tangga, menatap Erlan dengan tatapan tajam.
"Aruna!" teriak sang mama yang khawatir dan segera menghampiri Aruna.
"Mama," ujar Aruna melepaskan tangan Erlan dari pergelangan tangan nya dan kemudian berlari ke pelukan sang mama. Ia sangat takut, trauma nya pun kembali timbul, Aruna dulunya seiring mendapatkan pukulan dari papa kandung nya karena sang papa sama sekali tidak menyukai anak perempuan, hanya kakak dan mama nya lah yang menyayangi nya di saat sang papa bersikap kasar dan juga membenci dirinya.
"Apa kau tidak lihat sudah pukul berapa ini? Kau baru kembali ke rumah dan langsung membuat kekacauan, tidak bisa kah kau bertanya baik-baik dengan Aruna?" ucap papa Firman yang kemudian menghampiri Aruna dan istri nya.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ada di sini?" ucap Erlan terlihat sangat tidak suka melihat orang asing yang berada di hadapan nya.
"Sekarang baru mau bertanya? Pantaskah kau begitu? Bisakah sedikit lebih sopan kepada mama dan adik mu?" Kata sang papa lagi.
"Apa? Mama? Adik? Apa maksud papa?" Erlan semakin kebingungan dengan perkataan sang papa.
"Erlan, selama ini kau selalu menentang papa, tidak mempedulikan apa yang ingin papa bicarakan, dan selalu membuat papa menunggu untuk berdiskusi dengan mu, sekarang jangan salahkan papa kalau papa menikah tanpa sepengetahuan mu," ucap papa Firman.
"Dia mama baru mu, Dinda dan dia Aruna adik mu," kata Firman meneruskan ucapannya.
Erlan seketika terdiam, dia menatap mama Dinda dan juga Aruna yang kini berada di samping papa nya, ia mengepalkan tangannya menahan amarah yang sesungguhnya sudah seperti lahar panas memenuhi hati nya.
"tega-teganya papa ngelakuin ini tampa persetujuan ku," kata Erlan.
"Diam! Kau tidak pantas mengatakan itu! Sekarang juga minta maaf kepada Aruna, kau menyakiti nya!" ucap papa Firman memerintahkan Erlan untuk meminta maaf kepada Aruna.
"Mas sudah, jangan di perpanjang ini hanya sebuah kesalahpahaman," kata Dinda yang kini menyembunyikan Aruna di belakang nya. Sementara Aruna gemetar karena takut, ia benar-benar trauma dengan laki-laki kasar.
"Ma Aruna mau pulang, Aruna gak mau di sini ma, Aruna mau pulang," kata Aruna dengan air mata yang kini membasahi pipinya. Ia terus memegang tangan nya yang tadinya di seret Erlan.
"Kasian nona Aruna," batin Hana yang menyaksikan kejadian tersebut.
"Gue? Minta maaf sama dia? Gak akan!" Kata Erlan yang kemudian berjalan cepat meninggal kan sang papa menaiki tangga menuju kamar nya.
"Erlan!" Papa Firman hendak mengejar Erlan, namun mama Dinda menahan tangan sang suami sambil menggelengkan kepalanya.
"Aruna sayang, tidak apa-apa, maklumi lah dia, dia mungkin hanya kaget, tidak mudah menerima dengan lapang dada hal yang tidak di sukai nya, kedepannya kamu harus lebih baik kepada kakak mu ya," kata mama Dinda sambil memeluk Aruna. Sementara Aruna hanya bisa menangis karena masih kaget.
"Aruna, papa minta maaf, Erlan punya emosi yang susah di kontrol, papa minta maaf atas nama Erlan," kata papa Firman merasa sangat bersalah.
"Hana, tolong bawa Aruna ke kamar nya," kata mama Dinda kepada Hana.
"Baik nyonya," jawab Hana yang kemudian membawa Aruna yang sudah sedikit lebih tenang ke kamar nya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf, Erlan tidak seharusnya memperlakukan Aruna dengan kasar," kata papa Firman tak henti-hentinya meminta maaf.
"Mas, dia juga tidak mudah menerima kenyataan ini, apalagi kau tidak mengatakan kepada nya tentang aku dan Aruna, dia mungkin hanya terlalu kaget, sudah lah, pelan-pelan dia pasti akan menerima semua ini," kata mama Dinda berusaha menenangkan sang suami.
"Aku jadi tidak enak dengan Aruna," kata Firman dengan wajah sedih.
"Mas, Aruna memang trauma dengan laki-laki kasar, karena papa nya dulu sangat membenci Aruna, dia bahkan tak jarang memukuli Aruna yang masih berusia enam tahun, jadi trauma itu menempel di dirinya, makanya reaksinya seperti itu," jelas mama Dinda.
"Astaga, kasian sekali Aruna," ujar papa Firman.
"Sudah lah, dia akan baik-baik saja, aku sangat lelah, ayo masuk kamar, besok kita bicarakan baik-baik dengan putra mu dan Aruna," kata mama Dinda dengan penuh kelembutan.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah