NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Nama yang Terlarang

Lampu neon berwarna merah muda dan putih gading mulai berpendar di sepanjang trotoar jalan utama. Di balik jendela kaca besar Amai Memories, Kella berdiri mematung di depan cermin ruang karyawan. Gaun maid dengan rok mengembang setinggi lutut itu terasa berat, bukan karena kainnya, melainkan karena beban identitas ganda yang harus ia pikul setiap malam.

Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya yang terasa menyempit sejak pertemuannya dengan Gala di gerbang tadi. Jemari kanannya yang sedikit membiru akibat injakan sepatu Gala terasa berdenyut saat ia mencoba memasang bando renda putih di kepalanya. Setiap gerakan kecil memicu rasa nyeri yang tajam, namun Kella hanya menggigit bibir bawahnya, menolak untuk mengeluh.

"Kella? Kamu sudah siap? Pelanggan mulai ramai," suara Kak Sisca, manajer kafe, terdengar dari balik pintu.

"Iya, Kak. Sebentar lagi," jawab Kella. Ia memaksakan sebuah senyuman di depan cermin. Senyum yang terlatih. Senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup manis untuk memuaskan para pelanggan yang mencari pelarian dari penatnya dunia.

Kella melangkah keluar. Begitu pintu berayun terbuka, aroma kopi yang dipanggang, wangi manis sirup karamel, dan suara denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen menyambutnya. Suasana di sini sangat kontras dengan kesunyian kamarnya yang dingin atau suasana kelas yang penuh intimidasi.

Namun, ketenangannya hancur saat matanya menangkap sosok yang duduk di pojok ruangan, di meja nomor tujuh yang agak tersembunyi. Sosok itu mengenakan jaket kulit hitam yang ia kenali. Ia duduk dengan kaki menyilang, menyandarkan punggungnya dengan angkuh sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.

Jantung Kella mencelos. Dia benar-benar masuk.

Gala memperhatikan setiap sudut kafe itu dengan pandangan merendahkan. Tempat ini terlalu... menggemaskan untuk seleranya. Dinding berwarna pastel, pelayan yang berlarian dengan seragam renda, dan musik pop Jepang yang diputar pelan. Ia hampir saja tertawa mengejek sampai ia melihat sosok itu muncul dari balik pintu kayu.

Gadis itu.

Kella Alistaya yang biasanya terlihat seperti bayangan suram di pojok kelas, kini tampak berbeda. Rambutnya yang biasanya menutupi wajah kini dijepit rapi, memperlihatkan dahi dan garis wajahnya yang tegas namun lembut. Sapuan blush on memberikan rona yang selama ini hilang dari wajah pucatnya. Tapi yang paling membuat Gala terpaku adalah bagaimana Kella terlihat begitu... rapuh sekaligus bersinar di bawah lampu kafe.

Kella berjalan mendekat. Langkahnya tidak lagi lambat dan ragu seperti di sekolah. Ia harus bersikap profesional. Namun, semakin dekat ia dengan meja nomor tujuh, semakin besar bayangan Gabriel yang tumpang tindih dengan sosok Gala.

"Selamat datang, Tuan," suara Kella keluar, sedikit bergetar namun tetap diusahakan terdengar ceria. Ia membungkuk hormat, menundukkan kepalanya dalam-dalam agar tidak perlu menatap mata pria itu. "Ada yang ingin Tuan pesan?"

Gala tidak segera menjawab. Ia sengaja membiarkan keheningan yang canggung itu menggantung di udara. Ia ingin melihat berapa lama Kella bisa mempertahankan topengnya.

"Angkat kepala lo," perintah Gala dingin.

Kella tidak bergerak. "Tuan ingin memesan menu apa? Kami punya spesialisasi Omurice dengan gambar spesial..."

"Gue bilang angkat kepala lo, Kella. Gue bukan pelanggan yang mau denger omong kosong 'tuan-tuan' itu."

Kella akhirnya mendongak. Di mata sayunya, terpancar rasa lelah yang amat sangat. "Tolong, Gala. Aku sedang bekerja. Jangan buat keributan di sini."

Gala menyeringai, sebuah senyuman yang biasanya membuat para siswi di sekolah berteriak histeris, namun bagi Kella, itu adalah pengingat akan kekuasaan yang bisa menghancurkannya kapan saja. "Siapa yang mau bikin ribut? Gue cuma mau makan. Apa salah kalau seorang siswa kaya mau jajan di kafe murah kayak gini?"

Gala meraih buku menu, membaliknya dengan kasar. "Gue pesen menu yang paling mahal di sini. Dan gue mau lo yang nganter, lo yang nyuapin, dan lo yang berdiri di sini nemenin gue sampai gue selesai."

"Aku punya banyak pelanggan lain, aku tidak bisa hanya di satu meja—"

"Gue bisa beli kafe ini sekarang juga kalau gue mau, Kella. Jangan bantah gue."

Kella mengepalkan tangannya di balik rok rendanya. Jemarinya yang luka bergesekan dengan kain, mengirimkan sinyal rasa sakit yang menusuk ke otaknya. Di saat yang bersamaan, lampu kafe yang sedikit redup membuat fitur wajah Gala terlihat lebih halus, sangat mirip dengan foto Gabriel yang selalu ia simpan di bawah bantalnya.

Tiga puluh menit kemudian, Kella kembali dengan nampan berisi pesanan Gala. Sebuah piring besar berisi nasi goreng selimut telur dengan hiasan saus tomat di atasnya.

"Sesuai permintaan Tuan, ini Omurice spesial," ucap Kella lirih. Tangannya gemetar saat meletakkan piring itu.

Gala memperhatikan tangan itu. Ia melihat perban kecil yang melilit jari manis dan tengah Kella—bekas injakannya tadi siang. Ada sesuatu yang bergejolak di dada Gala. Rasa puas yang biasanya ia rasakan saat merundung orang lain tiba-tiba terasa hambar.

"Mana gambar jantungnya? Katanya bisa gambar di atas telur?" ejek Gala, mencoba menutupi rasa aneh di hatinya.

Kella mengambil botol saus tomat. Dengan gerakan pelan, ia mulai menggambar pola di atas telur. Namun, pikirannya melayang. Ia teringat suatu sore di taman, saat Gabriel membawakannya nasi bungkus dan mereka makan berdua di bawah pohon akasia. Gabriel selalu menyisihkan bagian dagingnya untuk Kella.

"Makan yang banyak, Kel. Kamu harus sehat biar bisa kejar mimpi kamu," suara Gabriel seolah terngiang di telinganya.

Kella menatap wajah pria di depannya. Dalam remang cahaya kafe, garis rahang itu, tatapan mata itu... semuanya terasa kembali. Kerinduannya yang telah ia bendung selama bertahun-tahun seolah jebol seketika. Pertahanannya runtuh.

"Ini pesananmu... Gabriel," bisik Kella tanpa sadar.

Udara di sekitar mereka seolah membeku.

Gala yang tadinya hendak mengeluarkan kata-kata pedas, langsung terdiam. Ia mendengar nama itu. Nama yang diucapkan dengan nada begitu penuh kerinduan, begitu dalam, dan begitu menyakitkan. Itu bukan nada suara yang ditujukan untuknya, Gala si penguasa sekolah. Itu adalah nada untuk seseorang yang sangat dicintai.

Gala mengernyitkan dahi. "Apa? Lo panggil gue apa tadi?"

Kella tersentak. Ia seolah tersadar dari mimpi buruk. Matanya melebar, tangannya yang memegang botol saus tomat bergetar hebat hingga setetes saus jatuh ke meja. "A-aku... maaf. Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud..."

"Siapa Gabriel?" suara Gala merendah, kini penuh dengan nada intimidasi yang berbeda dari sebelumnya. Ada rasa tidak terima yang merayap di hatinya. Kenapa gadis ini menatapnya seolah-olah ia adalah hantu?

Kella mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi. "Bukan siapa-siapa. Saya salah bicara. Maafkan saya."

Gala berdiri mendadak, membuat kursi kayu itu berderit keras di atas lantai, menarik perhatian beberapa pelanggan lain. Ia mencengkeram pergelangan tangan Kella—tepat di bagian yang memar—membuat gadis itu memekik tertahan.

"Jangan bohong sama gue. Lo liat wajah gue, tapi lo panggil nama cowok lain? Siapa dia? Mantan lo?"

"Lepas, Gala... sakit," rintih Kella. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya.

Melihat air mata itu, Gala sejenak terpaku. Ia sering melihat gadis menangis karena dirinya, tapi tangisan Kella terasa berbeda. Tidak ada drama, tidak ada suara isakan yang berlebihan. Hanya butiran bening yang jatuh perlahan, mencerminkan luka yang sudah sangat tua.

Gala melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Gue nggak suka jadi bayangan orang lain. Ingat itu, Kella. Nama gue Gala. Bukan Gabriel atau siapapun itu."

Gala merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan melemparnya ke atas meja hingga berhamburan mengenai piring nasi goreng itu. "Makan tuh duit. Gue hilang selera."

Gala berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kafe. Bunyi denting lonceng di pintu masuk menandakan kepergiannya, namun kepergian pria itu tidak membawa ketenangan bagi Kella.

Kella jatuh terduduk di lantai yang dingin. Ia tidak peduli pada tatapan bingung rekan kerjanya atau bisik-bisik pelanggan. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana.

"Maaf, Gabriel... maaf," bisiknya berulang kali.

Malam itu, Kella menyadari satu hal yang menakutkan. Kehadiran Gala bukan sekadar ujian karena perundungan yang ia lakukan. Gala adalah pengingat hidup akan lubang besar di hatinya yang tidak pernah benar-benar menutup. Dan bagi Gala, nama yang tidak sengaja terucap itu adalah awal dari obsesi baru yang jauh lebih berbahaya.

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!